Kediaman Brigjen Rayyan
"Selamat pagi Bu Anala ..." sapa Tami yang sudah tampak segar dan memakai baju baru yang tersedia di lemari. Kebiasaan turun temurun keluarga Anala adalah ada baju baru di setiap lemari kamar tamu dengan berbagai ukuran sehingga para tamu yang lupa bawa baju ataupun pakaian dalam, tidak akan kerepotan.
"Pagi Tami ..." senyum Anala yang sedang menginstruksikan Ida di dapur.
"Ada yang bisa Tami bantu ?" tanya Tami sambil masuk dapur.
"Tolong bawa ini ke meja makan..." jawab Anala sambil memberikan dua piring berisikan potongan pepaya.
"Baik Bu Anala."
"Seiya dan ayahnya harus makan potongan pepaya setiap pagi untuk kelancaran perut ..." senyum Anala.
Tami tersenyum lebar. "Paling alami ya Bu ..."
"Yes ..."
Seiya keluar kamar sambil mengacak-acak rambutnya. "Morning wahai penghuni rumah... Baik yang kelihatan ataupun yang tidak ..."
Tami menoleh ke arah Seiya. "Memang ada hantu disini?"
"Hantu itu ada, Tami. Hanya saja tergantung situasi dan keadaannya... Kalau kamu bukan indigo dan melihat hantu, anggap saja kamu lagi apes ..." cengir Seiya yang langsung menghampiri ibunya dan mencium pipi Anala. "Pagi mamakku... Pak Rayyan masih tidur?"
Anala mengeplak bahu Seiya. "Kamu tuh kalau sama papamu kok ya ribut terus sih ..."
"Lha papa juga sering Membagongkan jadi aku hanya menambah amunisi saja ..." jawab Seiya cuek. Anala hanya menggelengkan kepalanya karena Seiya mirip dengan Eyangnya, Arkananta dan Rahmi kalau sudah menggoda Rayyan. Entah kenapa Seiya kompak dengan eyang Kakung dan eyang putrinya itu soal Julid dan menistakan ayahnya sendiri.
"Sudah... Jangan ribut pagi-pagi sama papa kamu. Kasihan papamu baru pulang subuh tadi ..." senyum Anala sambil berjalan menuju kamar tidur mereka untuk membangunkan suaminya.
Seiya hanya nyengir.
"Kak Seiya ... Ini pepayanya..." panggil Tami.
"Eh, aku kan lebih muda dari kamu Tami. Panggil nama saja lah biar enak ..." ucap Seiya sambil duduk di kursi makan.
"Tapi ..."
"Udah... Santai saja Tami ..." jawab Seiya yang segera mengambil potongan pepaya dan memasukkan ke dalam mulutnya.
***
Polda Metro Jaya Jakarta
Alfie, Shea dan Yudho sudah tiba di kantor ayah Alfie yang terlihat lengang karena hari ini hari Minggu. Ketiga remaja akhir itu tampak sabar menunggu di depan kantor Irjen Dean Thomas yang terkunci sambil menunggu semua pada datang.
"Shea, kata Alfie ketemu dosen pembimbing kamu?" tanya Yudho sambil ngemil Cheetos.
"Hah ! Dosen jelangkung !" umpat Shea. "Padahal aku ya takut jelangkung..."
Alfie dan Yudho menoleh ke arah Shea yang duduk diantara mereka berdua.
"Kamu ? Takut ?" Alfie menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Eh serem tahu ! Dia itu lebih serem dari Chucky atau Anabelle... Karena bisa memanggil yang lebih serem dari pak Longga dan Pocong boy ..."
"Bahkan Shea sampai sekarang takut badut gara-gara ada hantu badut macam film IT nya Stephen King's..." senyum Yudho.
"Oh kasus waktu kamu SMP ya? Yang badut dibunuh dengan sengatan lebah ..." celetuk Alfie yang dijawab anggukan Shea.
Waktu SMP, Shea didatangi hantu badut yang cukup seram membuat dirinya menjadi phobia badut atau Coulrophobia adalah jenis fobia spesifik di mana pengidapnya merasakan ketakutan mendalam terhadap badut. Berbeda dengan citra badut yang dianggap lucu bagi sebagian besar orang, di mata pengidap fobia ini, badut merupakan sosok yang sangat menyeramkan.
Tubuh badut itu membengkak hingga membuat Shea ketakutan. Kasus badut itu dibantu Lachlan dan Nareswari untuk dipecahkan bersama dengan Dean Thomas dan Rayyan yang ternyata kasusnya tidak sepele. Si badut itu berselingkuh dengan istri sahabatnya dan si suami pun membunuhnya dengan sengatan lebah karena tahu si pebinor memiliki alergi sengatan lebah atau disebut Hipersensivitas akut atau alergi akibat sengatan tawon dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik yang dapat menimbulkan efek ke berbagai organ sampai menyebabkan kematian.
Yudho yang saat itu baru berteman dengan Shea, bersama Alfie, berusaha membuat gadis itu tidak mengalami ketakutan setiap saat akibat kasus badut itu. Berkat dua sahabatnya dan terapi psikolog, akhirnya Shea bisa menekan rasa trauma serta phobia badutnya meskipun tidak seratus persen tapi setidaknya dia tidak sehisteris sebelumnya.
"Aku tidak mau dapat kasus badut lagi !" ucap Shea.
"Kami pastikan tidak akan ada badut datang, mbak Shea ..." ucap Longga.
"Terima kasih pak Longga..." senyum Shea membuat Yudho merapatkan tubuhnya ke Shea.
Alfie terbahak melihat Yudho masih tetap takut meskipun sudah sekian tahun bersama Shea.
"Ryuga datang nggak?" tanya Shea ke Alfie.
"Nope. Dia harus jaga di rumah sakit ... Kan sudah mau coas dia sambil buat skripsi juga..." jawab Alfie.
"Kira-kira Sasha mau ngaku nggak ya ? Secara Mbak Sisil sudah nyebrang..." gumam Shea.
Ketiga orang itu menoleh ketika mendengar suara heboh dan tak lama seorang pria paruh baya dengan gaya dandy berjalan menuju ruang kerja Irjen Dean Thomas sambil diikuti oleh polisi yang berjaga.
Alfie pun berdiri menghadapi pria itu. "Bapak mau cari siapa?" tanya putra Irjen Dean Thomas dan Rafika.
"Saya mau bertemu dengan Irjen Dean Thomas. Benarkah putri saya, Sasha, yang membunuh Sisil ?"
Alfie menoleh ke Shea dan Yudho. "Bapak ini ... Siapa?"
"Susatyo, ayah Sisil dan Sasha. Apakah benar berita itu bahwa Sasha membunuh Sisil di ruang ganti mall?"
"Benar pak. Kami mendapatkan bukti dari CCTV mall ... Saya Alfie Thomas, putra Irjen Dean Thomas..." Alfie pun mengulurkan tangannya ke Susatyo yang menyambutnya dengan jabatan tangan tegas. "Ini saudara - saudara saya, Shea de Luca dan Yudho Sardono."
"Tapi nak Alfie. Benar Sasha yang membunuh Sisil ?" tanya Susatyo lagi.
"Benar pak Susatyo."
Pria itu menoleh dan tampak Irjen Dean Thomas datang bersama Brigjen Rayyan serta Tami dan Seiya.
"Saya Irjen Dean Thomas, pak Susatyo. Ini rekan saya, Brigjen Rayyan lalu nona Tami yang nyaris menjadi korban kedua dari nona Sasha. Kita bicara di dalam" senyum Irjen Dean Thomas. "Kalian bertiga, ayo masuk."
***
Susatyo tampak lemas saat mendengar cerita dari Irjen Dean Thomas ditambah rekaman semalam yang memperlihatkan sisi jahat Sasha saat dikonfrontir arwah Sisil.
"Keponakan saya, Shea, adalah indigo, pak Susatyo. Dia yang membantu memecahkan kasus ini ... Maafkan saya pak, tapi putri bapak seorang sosiopat dan psikopat ..." ucap Irjen Dean Thomas.
Susatyo mengusap wajahnya dengan perasaan masygul karena tidak menyangka bahwa putrinya berani dan tanpa hati tega membunuh saudara kembarnya hanya karena iri.
"Ada alasan mengapa saat saya dan mantan istri bercerai... Karena Sasha sudah berusaha mencuri akta tanah saya yang ada di Bandung. Untung ketahuan... dan saya tidak tahu dia mampu berbuat apa lagi..." ucap Susatyo lelah.
"Dia membuat polis asuransi atas nama Sisil dan jika nona Sisil meninggal, maka dia yang akan mendapatkan keuntungan alias beneficiary nya. Namun pihak asuransi belum mau mengeluarkan uang itu karena pihak underwriting masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian..." ucap Brigjen Rayyan yang mendapatkan laporan dari Aiptu Steven.
"Berapa nominalnya?" tanya Susatyo.
"Hampir sepuluh milyar ... Karena nona Sasha menggunakan dollar untuk polis asuransinya."
Susatyo melongo. "Darimana Sasha mendapatkan uang untuk membayar preminya?"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Ray
Luar biasa si Sasha licik, bengis, dan sadis😡😣 Tunggu azab dari Outhor 🙏
2024-09-03
3
senja
jgn² dia jd pembunuh byaran😏
2024-05-03
1
Wahyu Nengsih
aku baru baca ceritanya soalnya baruvtau kalauvada cerita baru
cerita vkak Hana Memang selalu the best
2024-05-01
1