Pagi-pagi Milly sudah mengetuk kamar Malik dan tanpa menunggu ijin sang pangeran, gadis itu pun masuk dengan cueknya. Gadis itu melihat Malik masih bergelung dengan selimut tanpa pakaian. Milly sudah terbiasa melihat para pria di tim basket, baseball... Sepupunya yang good looking tanpa pakaian, jadi biasa saja.
Gadis itu membuka gorden yang besar hingga matahari pagi menyinari kamar maskulin itu. Milly memeriksa semua obat yang ada di meja rias satu persatu dan menghela nafas panjang karena tidak ada satu yang diminum.
Milly menoleh ke arah pangeran yang terbangun akibat sinar matahari menimpa wajah tampannya. Gimana mau sembuh sih si Bambang Gentolet satu itu!
"Siapa sih yang membuka tirai !" omel Malik dengan bahasa Arab.
"Aku !" jawab Milly gagah.
Malik menoleh ke arah Milly yang berdiri dengan bersedekap dan memasang wajah judes.
"Siapa yang memberikan hak kamu masuk ke dalam kamarku ?" bentak Malik tanpa perduli dirinya berusaha bangun dengan kondisi tanpa baju memperlihatkan bulu-bulu di dada hingga ke perutnya.
"Ibumu !" balas Milly dengan juga membentak.
"Kamu tidak berhak membentak aku!"
"Dan kamu boleh ?! Dasar pria chauvinist ! Dengar ya ... Gelar kamu dan gelarku sama ! Sama-sama pangeran, sama-sama putri. Jangan bawa-bawa gelar karena kamu juga makan nasi kebuli !" balas Milly sambil menghampiri Malik yang menutup tubuhnya dengan selimut. "Bagaimana lengan kamu masih tetap ada massa ototnya sementara kakimu tidak kamu latih? Apa kamu sudah pasrah lumpuh ? Apa kamu tidak mau ... Addduuuhhh !"
Lagi-lagi Milly tersandung karpet dan jatuh diatas kasur Malik dengan posisi diatas tubuh pangeran itu. Keduanya saling berpandangan dan Malik mendorong tubuh Milly dan gadis itu langsung berusaha berdiri.
"Ehem ... Karpetmu di tempat yang salah ..." ucap Milly sambil membenarkan celana jeans dan kaosnya.
"Apakah kamu selalu ceroboh seperti ini? Yakin kamu dokter ? Berlisensi? Yakin wisuda kamu?" sindir Malik sambil berusaha menetralisir degup jantungnya. Damn ! Gadis ini wangi sekali.
"Eh aku lulusan Harvard Medical School lho... Tidak percaya?" Milly mengambil ponselnya dan memperlihatkan ke Malik. Ijazah, transkrip nilai dan acara wisudanya yang lagi-lagi dia tersandung kabel dan nyaris jatuh kalau tidak dipegang oleh salah seorang dosennya.
"Aku tidak yakin kamu seorang dokter karena sangat Clumsy !"
"Kita buktikan tiga bulan ini. Kalau kakimu bisa bergerak, berarti aku dokter yang benar !" tantang Milly. "Namun pertama-tama, apakah kamu mau pipis ?"
Malik mendelik. "Apa?"
"Kalau mau pipis, aku bantu ..."
"Tidak usah !" potong Malik cepat.
"Ke kamar mandi ..." lanjut Milly. "Aku bantu kamu duduk ke kursi rodamu ..."
Malik menatap Milly datar. "Kamu sudah mandi ?"
"Sudah dong ..." Milly berjalan ke walk in closet Malik dan mengambil sebuah kaos yang nyaman. "Pakai ini dan akan aku bantu kamu ..." ucapnya sambil menyerahkan kaos itu ke Malik.
"Tidak perlu ! Ada Mustafa yang akan membantu aku ..." jawab Malik sambil menerima kaos dan berusaha bangun untuk duduk lalu memakai kaosnya.
"Mustafa diluar, aku panggilkan..." Milly pun berbalik dan hendak memanggil asisten Malik.
"Hei cewek Clumsy !" panggil Malik.
Milly berbalik. "Apa pangeran sombong ?"
"Memang apa yang hendak kamu lakukan nanti ?"
Milly tersenyum smirk. "Rahasia ..."
Malik memicingkan matanya sebal.
***
Milly menunggu di kamar Malik sampai pria itu selesai membersihkan tubuhnya dengan dibantu Mustafa. Gadis itu mencatat obat-obatan yang ditujukan oleh dokter istana ke Malik namun tidak diminumnya. Milly bersyukur itu obat baru semua dan tidak ada yang harus dia buang apalagi masih bersegel.
Malik pun keluar mengenakan kaos dan celana training karena Milly akan segera memulai terapi.
"Tuanku, sarapannya?" tanya Mustafa.
"Dibawa kesini saja. Sekalian punya Dokter Bradford..." pinta Malik yang sudah duduk di kursi rodanya.
"Baik tuanku..." Mustafa membungkuk hormat dan keluar dari kamar Malik.
Milly lalu menghampiri Malik dengan berusaha tidak tersandung. Yang benar saja dua kali berturut turut jatuh diatas pangeran sombong itu ! Bikin malu ! batin Milly.
"Boleh aku pegang kaki kamu?" tanya Milly sambil duduk bersila di depan kaki Malik.
"Tanpa kamu minta ijin pasti kamu pegang juga kan?" sindir Malik ke Milly yang sudah memegang kakinya.
"Aku suka kalau pasienku pengertian..." senyum Milly. Gadis itu memegang kaki Malik dengan lembut. "Apakah kamu merasakan sesuatu ?"
"Jika aku merasakan tanganmu, aku terasa..." jawab Malik.
Milly mengangguk. "That's a good sign..." Milly memijat kaki Malik. "Sudah banyak kehilangan massa otot. Harus diterapi agar massanya kembali ..."
"Apa yang hendak kamu lakukan?"
Milly mulai memijat pelan lalu mengerakkan kaki itu perlahan. "Apakah sakit?"
Malik menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu menjadi dokter saraf dan mengambil spesialisasi fisioterapi?"
"Karena di keluarga aku tidak ada yang mengambil itu. Rata-rata dokter bedah, dokter syaraf tapi khusus otak, dokter ortopedi dan Traumatologi, dokter obgyn, dokter gigi, dokter anak ... Aku hanya mengambil bidang yang berbeda..." jawab Milly yang masih serius menerapi kaki Malik.
"Ayahmu seorang dokter kan?"
Milly mengangguk. "Dokter spesialis bedah, Mamoru Bradford... Meskipun ada banyak nama belakangnya tapi Daddy tidak memakainya ... Coba kamu gerakan sendiri kakimu ..."
Malik pun berusaha menggerakkan kakinya namun tetap kakinya tidak mau bergerak. Keringat mulai muncul di kening Malik dan Milly masih menatap kondisi kaki pria itu.
"Tidak mau gerak, dokter Clumsy..." ucap Malik dengan sedikit terengah-engah.
"Mulai sekarang kita mengembalikan massa otot kedua kaki kamu. Mumpung belum terlambat..." Milly mendongakkan wajahnya ke Malik. "Apakah kamu tidak rindu balapan lagi, pangeran sombong?"
"Aku sedikit trauma menyetir mobil..."
"Coward ! Chicken ( pengecut )... Tok, petok petok petok..." ejek Milly.
"Aku bukan chicken, dokter Clumsy !" pendelik Malik.
"Prove it ! Buktikan kamu bukan ayam, bukan pengecut... Kita bekerja keras ya!" senyum Milly.
Malik tertegun melihat wajah Milly. Bibirnya tersenyum tapi matanya galak.
"Tuanku, sarapan anda dan dokter Bradford..." ucap Mustafa bersama dengan pelayan sambil mendorong kereta makan.
Milly pun bangun dari duduk bersilanya tapi sejenak dia memegang bahu Malik. "Aduh, semutan... semutan..."
Mustafa dan para pelayan terkejut melihat bagaimana Milly dengan santainya seperti itu. Namun mereka juga tahu, dokter fisioterapi pangerannya juga keturunan bangsawan jadi mereka sama.
Malik hanya diam dan menyesapi harum tubuh Milly. Gadis ini pakai parfum apa sih?
"Apakah ada mashed potatoes, Mustafa?" tanya Milly sambil berjalan ke belakang Malik untuk mendorong kursi roda pangeran itu.
"Ada dokter..." jawab Mustafa.
"Asyik !"
Diam-diam Malik mencatat makanan favorit Milly di otaknya. Mashed potatoes? Sangat sederhana sekali princess...
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
lilis suryana
seru thor, pas baca sambil senyum ngehalu /Chuckle//Chuckle/
2024-11-08
1
Nanik Kusno
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak terus Thor....sambil bayangin kedua bocah bangsawan tengil itu ...
2024-07-24
1
Sistiningsih Ika Dewi
awalnya kyk tom & jerry,,,,, berikutnya terserah author deh,,,,,
2024-05-24
1