Milly hanya memberikan senyuman manis ke Malik meskipun matanya tampak judes. Sangat tidak sinkron.
"Malik, ini dokter Melissa Bradford, dokter saraf khusus fisioterapi sudah berpengalaman di New York Yankees dan New York Knicks..." ucap Aisyah lembut.
"Aku tidak butuh dokter, Bu ! Apalagi cewek !" balas Malik sinis ke Milly.
"Malik, dicoba dulu... Kamu sudah hampir setahun tidak mau mencoba..."
"Bu ! Sudah ! Aku tidak mau ada dokter apalagi cewek tidak jelas macam itu ! Apa ibu yakin dia benar-benar dokter ? Bukan model ?" bentak Malik.
"Heh ! Jaga bicaramu sama ibu kamu ya, Dude !" bentak Milly kesal. Gadis itu menghampiri sambil berkacak pinggang. "Apa kamu harus berkata seperti itu sama ibu yang melahirkan kamu ?"
Aisyah melongo melihat Milly ke Malik dan baru kali ini ada seseorang yang berani membentak putranya.
"Kamu berani membentak aku ?" balas Malik yang tidak terima ada seorang gadis berani membentak dirinya. Apa dia tidak tahu siapa aku ?
"Menghajarmu aku juga bera... AAAAAHHHH !" Milly tersandung karpet dan jatuh di depan Malik dengan wajah tepat diantara sel@ngk@ngannya.
Wajah Malik langsung merah padam melihat ada kepala seorang gadis berada di pangkuannya. Aisyah memekik kecil melihat dokter itu terjatuh di depan putranya.
"Aduuuhhh dengkul akuuu..." rengek Milly sambil mengangkat wajahnya dan sedetik kemudian wajahnya memerah. "Oh ya ampun ! Maaf Dude ..."
Malik menatap galak ke Milly. "Keluar kamu ! KELUAR !"
Milly pun berdiri. "I'm sorry ... Truly ... Aku memang agak ceroboh !"
"KELUAR !" bentak Malik.
Gadis itu pun bergegas berjalan menuju Aisyah dan menatap wanita itu dengan wajah meminta maaf.
"Maaf bibi Aisyah... " ucap Milly sambil mengangguk meminta maaf lalu keluar dari kamar Malik.
Malik menoleh ke arah Milly yang keluar dan dia merasakan sesuatu berdesir di miliknya yang sudah lama tidak dia rasakan. Damn it !
"Memang dia siapa Bu ?" tanya Malik agak melunak dan berusaha menutupi rasa terkejutnya gara-gara Milly.
"Namanya Lady Melissa Carrington Bradford... Dia putri Lady Victoria Carrington dan Dokter Mamoru Bradford. Milly... Dia keponakannya Paman Gasendra Schumacher dan Damian Blair..." jawab Aisyah.
Pantas dia berani membentak aku karena sama-sama berdarah bangsawan. Malik tertegun. "Dia akan menjadi dokter aku?"
"Yes Malik. Dengar Nak, ayahmu sudah berusaha membuat kamu sembuh tapi kamunya menolak. Tolonglah, Malik. Kali ini saja. Coba diterapi oleh Milly... Dia sudah jauh-jauh datang dari New York ..." pinta Aisyah.
"Dia kan anak orang kaya... Kenapa dia memilih menjadi dokter? Syaraf dan apa ... Fisioterapi?"
Aisyah mendekati putranya. "Dia banyak bekerja dengan para atlet, Malik..."
"Pasti pacarnya banyak... Dia kan dekat dengan atlet..."
Aisyah tertawa kecil. "Milly bosan dengan atlet... Dia malah dikenal dokter galak ..."
Malik tersenyum kecut. "Well, isn't it obvious?"
Aisyah mengelus kepala putranya. "Mau ya dicoba ? Tiga bulan saja ... Gimana?"
"Nggak kelamaan?" Malik menatap wajah ibunya. "Maaf tadi aku membentaknya..."
"Tiga bulan sayang ... Oke ?" bujuk Aisyah.
"Baiklah ... Tiga bulan..."
Aisyah tersenyum senang dan mencium pucuk kepala Malik. "Terima kasih..."
***
Sementara itu di luar kamar Malik, Milly menepuk jidatnya karena tadi sudah bersikap ceroboh dan terjatuh di tengah-tengah aset pria itu.
"Duh, Milly Banyune... Kok ya jatuh tepat disitu sih ! Untung si pangeran sombong itu masih lumpuh jadi tidak bakalan bereaksi..." gumam Milly.
Suara pintu kamar dibuka membuat Milly menoleh dan tampak Aisyah tersenyum kepadanya.
"Malik mau di fisioterapi sama kamu, Milly ..."
Milly tersenyum lebar. "Alhamdulillah... Tidak jadi pulang ke New York. Mumpung koper aku belum dibongkar..."
Aisyah tertawa. "Yuk, Bibi antar ke kamar kamu..."
***
Malam harinya Milly ikut makan malam bersama dengan keluarga Al Khalifa termasuk Malik yang membuat Ajmal dan Aisyah terkejut melihat putranya mau keluar kamar, ikut makan malam bersama mereka.
"Tumben mau ikut makan malam bersama kami, Malik..." ucap Ajmal dengan wajah bahagia.
"Mau lihat seperti apa dokter yang direkomendasikan... Apakah bisa ikut manner kita..." ucap Malik sinis ke Milly yang duduk selisih dua kursi darinya.
Milly hanya diam saja berusaha menahan semua kata-kata judes yang bakalan keluar dari bibirnya.
"Dia itu keturunan Al Jordan lho Malik..." ucap Aisyah berusaha menetralisir suasana karena Malik selalu begitu jika ada dokter baru.
"Kalau memang dia keturunan Al Jordan, harusnya dia bisa berbahasa Arab dong, bukan bahasa Inggris..." sindir Malik.
"Aku bisa bahasa Arab !" balas Milly kesal tidak perduli ada beberapa anggota keluarga Al Khalifa termasuk Hisyam, adik Malik, yang penasaran dengan gadis cantik itu.
"Prove it !" ucap Malik.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim" balas Milly dengan yakin.
Malik melongo sementara Hisyam tertawa terbahak-bahak mendengar kakaknya dibacakan ayat kursi oleh Milly. Ajmal dan Aisyah berusaha untuk tidak tertawa tapi mereka tahu Malik kena batunya.
"See ! Aku bisa berbahasa Arab !" Milly menatap Malik tajam.
Rasanya Malik ingin bangun dan menjewer telinga Milly.
"Kak, kamu dianggap makhluk astral oleh Milly ..." gelak Hisyam.
Si@laaaaannn !
Milly pun duduk manis seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sudah, sudah.... Ayo kita makan dulu ..." ajak Ajmal.
Malik menoleh ke arah Milly yang asyik mengobrol dengan Laila, adik bungsunya. Awas gadis satu itu !
***
Milly membuka jendela kamar tidurnya dan melihat pemandangan kota Manama Bahrain dari lantai dua istana itu. Seperti halnya Dubai atau Doha, Manama tampak sangat indah di malam hari.
Berbeda dengan Dubai dan Doha yang ketat tentang alkohol, di Bahrain alkohol legal karena banyaknya turis. Segala sesuatunya di kota Manama juga sudah seperti layaknya di negara-negara barat, termasuk keberadaan tempat-tempat hiburan dan klub-klub malam untuk mengadakan pesta. Aturan yang diberikan kota ini juga tidak begitu ketat sehingga Manama menjadi kota yang paling banyak dan sering dikunjungi kawasan timur tengah.
"Tidak banyak berbeda di New York..." gumam Milly sambil membaca artikel tentang kota Manama dan Bahrain pada umumnya. "Masih mending Dubai deh. Hanya orang asing yang boleh beli alkohol dan harus ada lisensi selama 30 hari ... Doha, jangan ditanya. Haram !"
Milly lalu membaca laporan dokter yang merawat Malik setelah kecelakaan saat Rally.
"Bakalan berat nih ..."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Ninik Rochaini
sekali ny ngomong bhs Arab kok yg keluar ayat kursi...bener2 ngakak aq/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-24
1
lilis suryana
bisa aja thor, aku sampai ngakak ketika milli baca ayat kursi/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-11-08
1
Nanik Kusno
🤣🤣🤣🤣🤣 Milly....bener2 deh ...Malik dapat tandingan nih ..
2024-07-24
1