Setelah memberikan kedua senjata itu, Arthur pun mengeluarkan senjata miliknya, yang ia beli di toko emas, senjata yang bisa dibilang sangat curang di awal apocalypse.
Sebuah heavy sword tua, dengan bilah yang terlihat hampir rusak dengan banyaknya goresan dan retakan disana. Gagang besi yang hanya di bungkus kain tipis, terlihat akan menyakiti tangan apabila menggunakannya.
Namun, nama dari pedang tua tersebut adalah, Giant slayer. Pedang dari seorang legenda yang telah membunuh ribuan raksasa selama hidupnya, pedang legenda yang membelah raksasa hanya dengan satu tebasan.
_________
[Nama] : Giant Slayer
[Tipe] : Senjata.
[Info] : Pedang yang telah merenggut nyawa ribuan raksasa, milik seorang legenda yang rumornya dapat membelah tubuh raksasa hanya dalam sekali tebas.
[Pasif] : Ketika menghadapi musuh yang ukurannya jauh lebih besar, mendapatkan efek penetrasi ganda, peningkatan daya rusak, sekaligus meningkatkan resistensi terhadap rasa sakit.
________
Karena rata-rata zombie tingkat 2 memiliki ukuran yang melebihi manusia biasa, artinya efek dari pasif pedang tersebut akan terus aktif dan mendapat efek penetrasi ganda yang sangat berguna melawan makhluk yang memiliki kulit atau pertahanan kuat.
Arthur merasa puas, tapi entah mengapa sepertinya Evan dan Kai menunjukkan wajah sebaliknya.
"Emm, Arthur kalau kau mau kamu bisa ambil saja pedangku, aku tak masalah menggunakan senjata lama. Mungkin pedang ini akan lebih berguna jika kau yang memakainya," ucap Evan iba melihat pedang Arthur yang terlihat usang dan bisa hancur kapanpun.
Tak berhenti di situ, Kai juga ikut menawarkan senjatanya.
"Jika mau, kau juga bisa mengambil satu golokku kak. Aku juga bisa menggunakan satu golok."
"..."
"Ha? Hentikan omong kosong kalian, ayo segera pergi," Arthur mengabaikan mereka dan pergi sendiri keluar dari area perumahan mewah.
Evan dan Kai yang bingung hanya menurut dan ikut berjalan di belakang Arthur.
Saat keluar dari area perumahan, mereka sudah di sebut dengan pemandangan zombie yang wujudnya seperti zombie tingkat 1 namun ada satu hal yang berbeda.
Mulut dari zombie tersebut menyerupai sebuah corong yang cukup besar, namun memiliki tubuh kurus kering.
'itu zombie pemanggil.'
Tiba-tiba saat zombie tersebut melihat mereka bertiga, ia langsung mengeluarkan bunyi yang mirip seperti terompet namun memiliki suara yang sangat berat.
Hooooou!
Evan dan Kai yang melihat hal tersebut pun menjadi waspada, sedangkan Arthur sudah siap bertarung dari tadi.
"Hati-hati, zombie itu adalah zombie tingkat 2. Dia bisa memanggil zombie-zombie lain di sekitar," ucap Arthur memperingati Evan dan Kai.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara gemuruh yang cukup kuat dari segala arah. Hingga terlihat ratusan zombie tingkat 1 datang berbondong-bondong seperti melihat emas.
'sayang sekali, diantara mereka tak ada yang berukuran besar, aku jadi tak bisa melihat potensi penuh dari senjata ini.'
"Kalian berdua, lindungi sisi kanan dan kiri ku, sedangkan aku akan langsung menuju ke arah zombie tingkat 2 itu."
"Baik," ucap mereka berdua serentak.
Swoshh!
Arthur langsung melesat lurus menuju ke zombie pemanggil, diikuti Evan dan Kai di kedua sisinya. Menerjang ke arah para zombie!
Slashh! Slashh!~
Mereka berdua menebas dengan kuat, melindungi Arthur yang tetap melesat ke depan. Pandangan mereka benar-benar terhalang oleh banyaknya zombie yang ada.
Bahkan Arthur sendiri tak bisa melihat dimana zombie pemanggil berada sekarang.
'cih!'
Arthur pun memposisikan pedangnya menghadap kebelakang, dan sesaat kemudian mengayunkannya secara horizontal dengan kuat kedepan.
Swoshh! Brasshhhh!
Suara tebasan yang membelah belasan tubuh zombie menjadi dua bagian terdengar seperti air yang jatuh dari ketinggian. Terdengar renyah.
Tak hanya sekali Arthur terus-menerus menebaskan pedangnya seperti itu dan dengan cepat melibas semua zombie di depannya. Hingga ia bisa melihat zombie pemanggil dengan jelas.
"Jadi di situ kau."
Arthur berancang-ancang layaknya seorang pelempar lembing, namun bedanya sekarang ia akan melempar sebuah pedang besar yang sangat berat.
Namun karena kekuatan Arthur saat ini sudah jauh melebihi manusia normal, pedang seberat itu melesat lurus menembus tubuh zombie pemanggil hingga membuatnya tewas.
"Zombie yang merepotkan ..."
Beberapa saat kemudian, akhirnya seluruh zombie yang dipanggil oleh zombie pemanggil telah di bersihkan sepenuhnya. Terlihat kalau mereka bertiga sudah bermandikan cairan hitam yang merupakan darah dari para zombie.
Serta ada hal aneh yang terjadi pada golok Kai. Yaitu warna dari golok tersebut berubah menjadi merah sepenuhnya, dia juga merasa kalau tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan kuat dibanding sebelumnya.
Sepertinya itu adalah pasif dari golok milik Kai. Sedangkan Evan juga sangat puas, pedang yang ia miliki sangat mudah digunakan, ia bisa mengayunkan pedang tersebut bagaikan anggota tubuhnya sendiri karena keharmonisan dan stabilitas pedang tersebut yang sempurna.
Tak menghiraukan lagi cristal shard zombie tingkat 1, Arthur langsung menuju ke tubuh zombie pemanggil dan mengambil cristal shard nya.
"Tak perlu mengambil cristal zombie tingkat 1 lagi, itu sudah tak berguna sekarang," ucapnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, mencari zombie tingkat 2, namun tak seperti yang mereka bayangkan, zombie tingkat 2 yang mereka cari-cari ternyata sangat mudah ditemukan.
Bahkan di depan mereka saat ini, terlihat dua muscle zombie yang berada di sebuah taman, tampak tak jauh seperti muscle zombie di pusat perbelanjaan.
"Sepertinya kita sudah menemukan target selanjutnya, kalian berdua hadapi satu sisanya aku sendiri sudah cukup."
Sesaat, mereka berdua mengangguk dan langsung melesat menuju ke arah zombie tersebut.
Saat berhadapan dengan muscle zombie tersebut, tiba-tiba Arthur merasa pedangnya semakin ringan, dia pun langsung tahu kalau pasif pedang tersebut telah aktif.
Langsung saja, ia menebaskan pedangnya dengan kuat ke arah muscle zombie.
Swoshh!
Tebasan tersebut sangat kuat hingga menimbulkan suara kuat di udara, namun sayang zombie tersebut berhasil menghindari tebasan tersebut.
"Heh, meskipun besar, kau lincah seperti biasa."
Muscle zombie yang berhasil menghindari serangan Arthur pun mencoba memberikan counter attack saat posisi Arthur tak stabil menggunakan tinju kuatnya.
Wung!
Saat menyerang, Arthur yang masih dalam kondisi tak stabil itu memutar tubuhnya ke kiri menghindari pukulan muscle zombie, dan dengan kekuatan penuh, Arthur mengayunkan pedangnya vertikal dari bawah ke atas.
Slashh!
Dengan pedang sebesar itu, Arthur berhasil membelah tubuh muscle zombie menjadi 2 bagian semudah memotong tahu.
'dulu untuk menggoresnya saja sulit, namun karena pedang ini memiliki penetrasi ganda, satu tebasan sudah cukup untuk mengakhiri hidupnya,' batin Arthur puas dengan pedangnya. Itulah kenapa menjadi overgeared itu menyenangkan.
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments