Beberapa saat kemudian, Arthur berniat kembali ke markas The Jack untuk menjemput Evan dan pergi ke suatu tempat, yang menjadi tujuan awal mereka kemari selain menjadi adapter tahap kedua, yaitu mencari sebuah markas.
Arthur sendiri sudah memiliki beberapa spot tempat yang kemungkinan bagus untuk dijadikan markas, ia sudah memikirkannya sejak berada di desa.
Arthur juga sudah mengatakannya pada Kai kalau dirinya memiliki sahabat yang saat ini menetap di suatu kelompok dan hari ini mereka akan pergi ke sana.
Saat mendengar hal itu, Kai terlihat sedikit tertekan, takut akan sesuatu.
Arthur yang menyadari hal itu langsung tahu apa yang dia khawatirkan, dan berkata,
"Tenang saja, sahabatku itu orang naif yang baik hati, tak perlu terlalu takut dia akan jijik padamu."
Mendengar ucapan kakaknya yang tahu kalau dirinya sedikit takut membuat kai sedikit malu, dan merasa tak enak karena memikirkan hal buruk tentang sahabat kakaknya.
Mereka pun langsung bergegas menuju ke arah markas The Jack yang tak jauh dari tempat mereka saat ini. Perjalanan memakan waktu kurang dari 10 menit.
Begitu tiba di perbatasan markas The Jack, Arthur langsung di sapa oleh penjaga di sana,
"Oh, kau kembali ternyata, senang rasanya tahu kau selamat."
"Aku ingin masuk membawa orang ini, apa boleh?" Tanya Arthur dengan ekspresi datar.
"Ya, tentu saja, silahkan masuk."
Setelah berhasil masuk, Arthur pun mencari keberadaan Evan, hingga ia tiba di depan gedung perkantoran dimana Aina dan ibunya berada.
'dia pasti berada di sini,' pikirnya.
Dan benar saja, saat Arthur masih berdiri di depan gedung tersebut, keluar sesosok pria yang merupakan Evan, sudah berpakaian sangat casual dengan kaos oblong dan celana pendek berwarna hitam.
"Arthur?"
"Ya ... Ini aku."
"Arthur!!!" Teriak Evan dengan semangat.
Arthur yang melihat kelakuan berlebihan sahabatnya menepuk keningnya
"Hei-hei, jangan berteriak seperti itu. Orang akan berfikir hal-hal aneh tentang kita."
"Kenapa kau begitu dingin dengan sahabatmu sendiri? Padahal aku menghawatirkan dirimu saat kau menghilang tiba-tiba tanpa mengucapkan apapun."
Mendengar ucapan Evan, membuat Arthur memajukan telinganya sambil kembali bertanya,
"Menghawatirkan siapa? Aku?"
"..."
Melihat ke wajah Arthur, Evan mengingat-ingat kembali kejadian selama ia bersama Ark, membuat Evan terdiam sedikit berkeringat,
"Emm, tidak lupakan saja. Ngomong-ngomong siapa itu?" Ucap Evan mengganti topik sambil menunjuk ke arah Kai.
"Oh, dia adalah saudara angkatku."
"Oh, saudara ang-"
"Apaa! Saudara angkat!?"
Evan berteriak hingga membuat orang-orang disekitar berhenti sambil melihat ke arah mereka.
"Bagaimana mungkin ada orang yang mau menjadi adik dari orang berdarah hitam sepertimu?"
"Ha!?"
Tiba-tiba Kai menyela pembicaraan mereka sambil sedikit menyayat kulit tangannya.
"Oh, aku tak tahu kalau Kak Arthur punya darah hitam, seingat ku dia berdarah merah, tapi jika begitu tak masalah aku juga punya darah agak hitam."
Darah merah kehitaman mengalir dari lengan Kai, membuat Evan membeku sambil melongo sangking terkejutnya.
'haduhh ... Dua anak ini benar-benar bikin orang ingin tantrum ...'
"Hei, cepat hentikan semua ini."
Tiba-tiba Arthur berkata dengan ekspresi serius dengan mata mengkilat tajam. Membuat keduanya diam seketika.
Melihat mereka berdua sudah diam, Arthur pun melanjutkan ucapannya,
"Aku kemari untuk membawamu pergi, sudah waktunya kita mencari sebuah markas, itu salah satu tujuan kita kemari kau ingat?"
Mendengar temannya, Evan memandang kebawah dengan ekspresi sedih.
"Em, maaf. Sepertinya aku tak bisa ikut denganmu."
???
Arthur bingung dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu, namun segera Evan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sudah bertekad untuk bertanggung jawab atas Aina dan ibunya, saat ini aku sedang merawat ibunya dan tak mungkin aku meninggalkan dia begitu saja karena saat ini dia masih sakit. Mungkin aku akan mengangkat Aina sebagai anak angkatku tak lama lagi."
....
Setelah Evan mengatakan hal tersebut, membuat Arthur terdiam sejenak, membuat suasana menjadi sunyi seketika.
Beberapa saat kemudian, Arthur menghembuskan nafas panjang lalu berkata,
"Apa kau benar-benar serius ingin mengangkat Aira sebagai anakmu?"
"Iya, aku bahkan sudah bicara dengan ibunya. Dia menitipkan Aira padaku," jawab Evan dengan ekspresi murung.
Namun ucapan yang sama sekali tak Evan duga keluar dari mulut Arthur.
"Bagaimana jika aku bilang, ibu Aira masih bisa hidup."
Perlahan menegakkan pandangannya, Evan melihat ke arah wajah sahabatnya yang lebih tinggi beberapa cm darinya, sambil berkata,
"B-benarkah apa yang katakan itu?"
"Ya ..."
Mendengar jawaban sahabatnya, Evan menjadi sangat lega, ia bahkan hampir menangis namun langsung mengusapnya, menunjukkan ekspresi bahagia sambil tersenyum.
"Begitu ya ... Terima kasih."
Mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam gedung, dan menemui ibu Aira, disana terlihat Aira yang sedang duduk menemani ibunya yang masih sakit. Saat melihat kedatangan Arthur, Aira langsung berdiri, dan memeluk Arthur.
"Paman Arthur! Paman kembali."
Melihat ekspresi bahagia Aira, membuat ekspresi serius Arthur mengendur. Menampakkan senyuman tipis di wajahnya.
"Kau terlihat semakin gemuk Aira, apa paman Evan memberimu banyak makanan?"
"Em, paman Evan sangat baik, dia memberi Aira dan ibu makanan yang banyak," jawab Aira tersenyum lebar.
Setelah itu, Evan pun mengajak Aira pergi keluar, sedangkan Arthur membawa ibu Aira menuju suatu ruangan di mana tak ada orang disana.
Setelah memastikan tak ada orang, Arthur menyuruh Kai untuk memberikan darahnya ke mulut ibu Aira. Hal itu membuat Kai terkejut, dia adalah setengah zombie. Bagaimana jika ibu Aira malah menjadi zombie sepenuhnya.
"Tak perlu terkejut seperti itu, dia akan baik-baik saja, percaya padaku."
Mendengar ucapan Arthur membuat Kai sedikit merasa tenang, ia tahu kakaknya tak akan berbicara seperti itu tanpa alasan yang jelas.
Dia pun menyayat telapak tangannya dan meneteskan darah ke mulut ibu Aira.
Beberapa saat kemudian, urat-urat di tubuh ibu Aira membengkak hitam, namun tak terlalu timbul, hanya seperti garis-garis hitam yang sedikit menonjol.
Beberapa saat kemudian, perlahan tubuh ibu Aira kembali normal, dan ia segera siuman tak lama lagi. Benar saja, sesaat kemudian ibu Aira benar-benar bangun dengan ekspresi bingung, tampak linglung.
???
Arthur yang juga bingung tak tahu harus mengatakan apa pun pergi dari ruangan tersebut bersama Kai, untuk memanggil Evan. Membiarkan dia yang menjelaskan segala situasi yang terjadi sekarang.
Arthur pun menemui Evan, dan menjelaskan kalau ibu Aina sudah siuman, dan masih dalam keadaan bingung.
Mendengar penjelasan Arthur, Evan pun langsung berlari masuk bersama Aina yang ia gendong. Saat masuk ke dalam ruangan tempat dimana ibu Aina berada, Evan seperti kehilangan beban di tubuhnya, terjatuh hingga duduk, merasa sangat lega.
Aina yang melihat ibunya sudah bangun pun segera memeluknya dengan erat, sambil menangis bahagia. Sudah lama ia berjuang sendiri merawat ibunya saat sedang sakit, akhirnya hari ini ia bisa melihat wajah cantik ibunya yang sehat.
Beberapa saat kemudian, di depan gedung kantor. Terlihat Arthur dan Kai yang tengah bersandar santai.
"Kak," panggil Kai.
"Hm? Apa?"
"Bagaimana kau tahu kalau darahku bisa menyembuhkan wanita itu?"
"Entahlah, aku tahu begitu saja," ucap Arthur tak mau repot-repot menjelaskan atau memberi alasan yang kompleks.
"..."
Dengan muka masam, Kai berkata,
"Kau benar-benar buruk dalam mencari alasan."
"Sudahlah, setiap orang pasti memiliki satu atau dua rahasia," jawab Arthur.
Tiba-tiba dari belakang, terlihat seorang wanita cantik berambut hitam, dengan bulu mata lentik serta tubuh yang indah. Diikuti Evan dan Aina. Tampak seperti sepasang suami istri bersama dengan buah hati mereka!
'sepertinya aku harus menyingkirkan keegoisanku kali ini.'
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments