"A-apa!? Kucing? Bagaimana bisa dia menjadi sebesar itu?"
"Sudah aku bilang kan, itu adalah mutasi yang jarang terjadi. Mungkin dia adalah zombie spesial tingkat 1 paling kuat."
"Kalau begitu kenapa kau malah bersikeras melawannya? Baru saja kau mengatakan tentang menjadi lebih kuat, tapi kau malah ingin bunuh diri?"
"Justru itu, karena aku ingin menjadi lebih kuat, maka aku akan melawannya. Kau tenang saja, aku tak begitu bodoh hingga akan melawannya tanpa persiapan."
Arthur pun masuk ke salah satu rumah, dan mencapai tempat yang sekiranya aman. Di sana ia duduk bersila dan memakan cristal shard dari zombie rusa.
Sedangkan Evan di suruh oleh Arthur untuk berkeliling desa, mencari zombie untuk mengasah kemampuan bertarungnya.
"Hahh, aku gugup sekali, ini pertama kalinya aku akan bertarung tanpa ada Arthur di sampingku. Ya, setidaknya saat ini aku menggunakan senjata yang layak," ucapnya berkeliling sambil membawa sebuah golok.
Setelah berkeliling beberapa saat, akhirnya ia menemukan zombie-zombie normal yang sama seperti di villa.
Dengan percaya diri, Evan pun langsung melesat ke depan ke arah para zombie.
Cakk!
Evan menebaskan goloknya ke arah leher zombie, namun ternyata hanya memotong setengah leher saja. Dan hal buruk terjadi, golok yang ia gunakan tersangkut di leher zombie.
"Sial."
Zombie itu pun langsung mengayunkan tangannya ke arah wajah Evan.
Cratt!
Wajah Evan tergores oleh kuku zombie, untung saja dia sudah kebal dengan virus, jika tidak mungkin ia akan berubah menjadi zombie juga.
Buakk!
Karena kesal Evan menendang zombie tersebut hingga terjatuh kebelakang, dan golok Evan pun langsung lepas, tak menunggu lebih lama, Evan langsung mengayunkan goloknya sekali lagi ke arah leher zombie tersebut.
Slashh!
Terpotong! Akhirnya dia membunuh zombie tersebut.
Namun, jauh di depannya masih terlihat banyak zombie yang harus ia lawan. Tak merasa takut sedikitpun, Evan pun melesat ke arah mereka semua.
...
Hingga ia tiba di pinggiran desa, dari samping ia mencium bau sangat busuk yang merupakan bau dari zombie. Evan pun langsung berlari menghampiri bau busuk tersebut dan ia menemukan zombie yang sangat aneh.
Zombie tersebut memiliki dua kepala berekspresi buruk dengan tubuh bungkuk berwarna hitam, baru kali ini ia menemukan zombie yang memiliki tubuh aneh seperti itu.
'apa aku harus menyerangnya?' batin Evan bersembunyi di balik sebuah rumah.
Ia takut kalau zombie tersebut ternyata zombie kuat, dirinya juga sudah terluka di beberapa bagian, namun setelah memikirkannya beberapa kali, ia pun memberanikan diri untuk maju.
'ayolah Evan, kau ingin bertambah kuat kan? Lagipula lawanmu hanya zombie bungkuk yang pendek.'
Evan pun melesat ke depan zombie tersebut dan mengayunkan lengannya.
...
"Shhhh ... Huftttt."
Arthur pun membuka mata setelah beberapa menit, dan menghembuskan nafas panjang. Terasa hidup kembali dengan tubuh yang sudah berkeringat seperti biasa.
Ia pun membuka pintu dan keluar dari rumah, membawa 2 golok miliknya.
'Evan belum juga kembali?'
Arthur pun memiliki firasat buruk, dan pergi mencari Evan. Di jalan ia banyak menemukan mayat-mayat zombie normal berserakan dengan luka seperti tebasan golok.
'ini pasti perbuatan Evan.'
Dia pun terus mengikuti jejak-jejak yang Evan tinggalkan dan sampailah Arthur di pinggiran desa.
'hm? Bau busuk yang kuat. Ini bukan bau zombie biasa.'
Arthur pun berlari ke arah bau tersebut, dan ia sungguh terkejut kali ini, karena ia melihat zombie hitam berkepala dua yang sudah mati dengan organ dalamnya keluar, seperti ditarik paksa.
Namun bukan itu yang membuat ia terkejut, melainkan seorang pria yang tergeletak di tanah dengan tangan kanan penuh dengan darah, dan tubuh babak belur serta golok yang sudah patah.
"I-ini ..." Arthur terkejut.
'ini adalah two-headed zombie, zombie spesial bertipe kekuatan yang jauh lebih kuat dibanding rusa tadi.'
"Hei Arthur, Apa zombie yang barusan aku kalahkan termasuk zombie kuat?" Tanya Evan yang sudah tergeletak di tanah namun tetap tersenyum.
Mendengar ucapan sahabatnya, sudut bibir Arthur sedikit naik, lalu ia berkata,
"Ya, zombie itu sangat kuat. Lebih kuat dari rusa yang tadi aku lawan."
"Hahaha! Begitu ya, jadi ini adalah zombie terkuat yang pernah kita temui sejauh ini ... Aku sudah bertambah kuat kan?"
"Ya, aku akui kau melebihi ekspektasi ku kali ini."
"B-baguslah kalau kau mengakuinya ..."
Tiba-tiba Evan pun pingsan tak sadarkan diri, mungkin karena terlalu lelah, mengingat luka di lengannya tidak separah itu.
Arthur pun membawa Evan ke tempat yang aman, dan membalut luka yang ada di lengannya dengan kain di rumah tersebut agar menghentikan pendarahan.
...***...
Waktu berlalu dengan cepat, hingga malam pun tiba.
"Seharusnya kucing itu sudah menunjukkan diri," ucap Arthur yang sudah berjaga di luar.
Dengan tenang namun tetap waspada Arthur mengawasi sekitar dengan dua golok yang sudah siap di tangannya.
Tak lama, suara auman macam terdengar sangat keras menggelegar di seluruh desa.
Mendengar hal itu, Arthur pun semakin waspada, dan sesaat kemudian, muncul sesosok kucing hitam dengan corak merah di dahi hingga dadanya, juga memiliki badan yang besar nan tinggi dari atap rumah.
"Jadi kau benar-benar muncul."
"Grrrrrrr!"
"Kenapa? Kau marah karena aku membunuh semua makanan cadangan mu?"
Brakk! Swoshh!
Kucing tersebut melesat dengan kuat hingga meretakkan tanah menuju lurus ke arah Arthur dan mengayunkan kaki depannya yang memiliki cakar sebesar dan setajam pisau kecil. Dengan sigap, Arthur menghindar kesamping dengan cepat, dan menebaskan goloknya dengan kuat. Sebuah counter attack yang sempurna.
Srashh!
Namun karena tebalnya kulit kucing tersebut membuat tebasan nya tak terlalu dalam dan hanya memberikan goresan saja. Arthur pun langsung melangkah kebelakang untuk menjaga jarak.
Namun, secara tidak terduga kucing tersebut bergerak sangat cepat, dan sesaat sudah berada di depan Arthur dan menyerangnya.
Buakk! Brakk! Brakk!
Diserang oleh makhluk sebesar itu, membuat Arthur terpental cukup jauh hingga menabrak pinggiran rumah.
Setelah di serang oleh makhluk tersebut Arthur sadar kalau perbedaan kekuatan masih cukup jauh, secara fisik maupun kecepatan.
Namun di tengah-tengah pertarungan, Arthur malah teringat memori masa lalunya.
...
Terlihat seorang pria tua berambut putih panjang yang diikat kebelakang, memegang sebuah katana berdiri di hadapan Arthur, terlihat berwibawa.
"Guru! Tolong buat saya menjadi lebih kuat. Saya benar-benar lemah dan tak bisa melakukan apa-apa, aku bahkan tak bisa membunuh zombie tingkat 2." ucap Arthur sambil membungkuk.
"Tak ada hal hebat yang tercipta secara instan di dunia ini, semua ada prosesnya. Aku hanya bisa mengajarkan apa yang aku tahu padamu, apakah kamu bisa menjadi lebih kuat dengan cepat atau tidak, itu tergantung bakatmu."
"Apakah hanya karena saya tidak berbakat ..."
"Nak, sebenarnya kau tak memiliki bakat untuk menguasai sesuatu yang rumit sepertiku, aku gagal menjadi gurumu karena mengangkat murid yang tak cocok dengan teknikku.
Jadi sebagai seorang guru, aku akan memberikan saran, entah kau menerimanya atau tidak, tapi kuasai lah satu hal yang dianggap sederhana dan latihlah hingga kau mencapai tahap yang tak bisa diraih orang lain dengan menjadi yang terbaik disana.
Jika kau kalah dalam suatu hal, maka buat lawanmu tak bisa menggunakan kelebihannya dan buat dia bertarung di kelebihanmu."
...
Teringat memori masa lalunya yang menjadi titik balik hidupnya, Arthur tersenyum tipis. Ia pun berdiri dan membuang salah satu goloknya.
"Hahh, bagaimana aku bisa lupa dengan cara bertarung lamaku."
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments