'dulu, saat guruku mengatakan hal itu padaku, aku bertanya-tanya apa kelebihanku? Apa yang harus aku latih? Apa ada hal yang selalu ada di pertarungan yang bisa menjadi kelebihanku?'
Dan setelah beberapa tahun aku mencari, jawaban dari apa yang selalu ada di dalam pertarungan adalah 'celah'.
Lalu apa yang bisa aku latih untuk memanfaatkan celah? Jawabannya adalah serangan 'counter'.
Lalu bagaimana cara menciptakan celah?'
Swoshh!
Kucing hitam melesat dan melompat ke arah Arthur berniat menggigit kepalanya.
Arthur dengan tenang memegang erat golok dengan kedua tangannya, lalu memutar tubuhnya ke kiri, sedikit menunduk.
Dan jawaban dari cara untuk menciptakan celah adalah, Dodge.
Dengan kontrol tubuh sempurna tanpa melangkah sedikitpun, Arthur menghindari gigitan Kucing hitam dan berada tepat di bawah lehernya hingga terciptalah sebuah celah.
Arthur pun menebaskan goloknya ke atas sekuat tenaga, ke arah leher kucing yang masih mengambang di udara.
"Full counter!!!"
Crashhhh!
Dalam kejadian sepersekian detik, Arthur berhasil memotong leher kucing hitam bahkan saat dirinya masih dalam posisi menyerang di udara.
Bruakk!
Badan kucing hitam tersebut pun menabrak rumah yang ada di depannya, sedangkan kepalanya menggelinding di tanah.
"Satu-satunya makhluk yang tak bisa kucari celahnya adalah si bajingan manekin itu."
Arthur pun mengambil cristal yang ada di dalam tubuh kucing tersebut, dan kembali ke rumah dimana Evan berada.
...
Krekkk!
Suara pintu terbuka.
Memperlihatkan Arthur yang penuh darah dengan luka cakaran membentuk 3 garis diagonal di dada kanan hingga perut sebelah kiri. Darah terus mengalir dari luka tersebut membasahi bajunya.
"A-arthur? Kau terluka?" Ucap Evan yang baru saja siuman.
"Akhirnya kau sadar sialan. Sepertinya kau tidur pulas sekali ya ..." Ucap Arthur langsung duduk menyandar di tembok dengan dada penuh dengan darah.
"T-tunggu sebentar, aku ambilkan kain."
Evan pun mengacak-acak lemari baju dari pemilik rumah tersebut dan menemukan sebuah selendang. Evan pun memberikan sebuah selendang, dan kaos pada Arthur.
Arthur pun membuka bajunya, lalu membersihkan luka di dadanya, dan menutupnya dengan selendang dengan erat. Untungnya saat menjadi adapter luka akan jauh lebih cepat sembuh dibanding sebelumnya, karena saat menjadi adapter, mereka bisa dibilang menjadi manusia super.
Setelah menutup lukanya menggunakan selendang, Arthur pun memakai kaos yang Evan berikan.
"Nih, cristal shard dari zombie yang kau kalahkan. Itu bisa mempercepat penyembuhan mu. Aku akan pergi ke kamar lainnya."
"Mau apa?"
"Mempercepat penyembuhan."
Arthur pun pergi ke kamar lainnya, dan mengeluarkan Cristal berwarna ungu kehitaman, langsung saja, ia memakan cristal tersebut.
...
Satu Minggu kemudian...
Terlihat Arthur yang sudah melepas selendang yang ia gunakan untuk menutup luka di dadanya dan saat ini mengenakan kaos, jaket kulit berwarna coklat, dan celana jeans serta sepatu trekking yang ia temukan di sebuah rumah didesa.
Luka yang di berikan oleh Blood Night Cat juga sudah tertutup sempurna, bahkan keadaanya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Karena ia sudah hampir menerobos dan menjadi adapter tahap kedua!
'hanya tinggal mendapatkan jantung dari unique zombie tingkat 2 aku akan menerobos ke adapter tahap kedua,' batin Arthur.
Selama satu Minggu ini, mereka hanya berkeliling berburu zombie dan berlatih meningkatkan kekuatan secara perlahan dengan cristal shard, meskipun dalam satu Minggu ini mereka tak menemukan zombie spesial.
Mereka juga berlatih tanding setiap hari untuk mengasah skill bertarung, terutama Evan yang tak memiliki dasaran bertarung. Namun ia sudah setengah jalan untuk menjadi adapter tahap kedua.
"Sepertinya sudah saatnya untuk pergi lebih dalam ke kota."
"Apakah kita akan ke tengah kota?"
"Tidak, lihat ini, saat berkeliling di rumah-rumah, aku menemukan peta kota, mari bagi kota ini menjadi 3 bagian, bagian hijau, kuning, dan merah. Tengah kota merupakan daerah merah dan belum waktunya kita untuk kesana. Sedangkan kita sekarang berada di area hijau dimana ini adalah pinggiran kota.
Kita akan pergi meninggalkan pinggiran kota dan masuk ke area yang lebih padat yaitu bagian kuning pertengahan antara area hijau dan merah."
"Hmm, jadi begitu... Tapi apa yang akan kita lakukan?"
"Target utama tentu saja untuk bertambah kuat, namun kali ini kita akan mencari sebuah markas tetap."
"Begitu ya ... Baiklah, kita juga punya persediaan yang cukup."
Mereka pun bersiap-siap peralatan mereka sudah sepenuhnya berbeda, dari ransel yang merupakan ransel yang jauh lebih besar, senjata yang terawat, hingga pakaian yang hangat, jauh lebih siap dibanding sebelum datang ke desa ini.
Setelah bersiap, mereka pun memulai dengan jalan kaki seperti biasa menuju area yaang lebih padat di dalam kota.
Setelah 3 km berjalan, Arthur dan Evan menemukan jalan menuju ke arah tol, dan mereka pun masuk ke sana. Seperti biasa banyak sekali mobil-mobil yang sudah rusak dan hancur, ada juga beberapa zombie normal di sekitar tol.
Namun bisa di habisi dengan mudah oleh mereka berdua. Berjalan melalui jalan tol, membuat perjalanan menjadi semakin singkat. Dan setelah 2 jam berjalan. Mereka pun tiba di area bagian kuning.
Terlihat gedung-gedung tinggi yang tak mereka lihat di pinggiran kota. Namun pemandangan di sini sama atau lebih buruk dari pinggiran kota, dimana bau busuk dan anyir darah jauh lebih menyengat.
Berjalan melewati bangunan-bangunan besar, Arthur dan Evan melihat banyak orang yang bersembunyi di gedung-gedung tersebut , mereka tampak kurus dan tak terawat, terlebih tatapan mereka semua seperti orang yang sudah menerima kematian mereka. Terlihat sangat menyedihkan!
Saat masuk lebih dalam lagi, mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang membawa beberapa senjata seperti pedang dan tombak, juga perisai terlihat sedikit lebih baik dibanding milik Arthur.
"Siapa kalian?" Ucap seorang pria berambut coklat pendek.
"Kalian sendiri siapa?" Tanya balik Arthur.
"Kami dari kelompok White Union."
"White union? Nama yang naif."
"Apa katamu? Sembarangan sekali kamu berbicara, apa kau tahu berapa orang yang terselamatkan karena kelompok kami?"
"Maksudmu orang-orang di dalam gedung-gedung itu? Kau berfikir sudah menyelamatkan mereka?"
"Tentu saja! Jika bukan karena kelompok kami, mereka sudah tewas."
Mendengar hal tersebut Arthur tak sanggup menahan tawanya.
"Bhahahahaha!"
"Menyelamatkan? Lihatlah tatapan dan tubuh mereka? Sudah seperti orang yang menerima kematian bukan? Kalian bukan menyelamatkan namun menyiksa mereka, orang yang awalnya bisa mati dengan tenang, namun dengan embel-embel 'menyelamatkan', kalian membiarkan mereka melihat dan merasakan penderitaan itu jauh lebih lama lagi hingga akhirnya mereka mati."
"A-apa kau bilang?"
"Kau mau menentang? Coba lihat, mereka bahkan tak terlihat seperti manusia yang masih hidup, apa itu cara kalian 'menyelamatkan' mereka?"
"Minggir, aku tak mau berurusan dengan orang naif seperti kalian. Jika ada yang menghalangi, bersiaplah untuk berlumuran darah."
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments