Tak-tak-tak-tak!
Zombie tersebut berlari dengan cepat ketangga menuju ke arah Arthur dan Evan.
"Mundur," ucap Arthur.
Saat zombie tersebut sudah cukup dekat, Arthur pun langsung mengibaskan sarung bantal yang sudah terisi dengan kaca.
Pruakk!
Zombie tersebut langsung terjatuh terlentang, dan Arthur pun langsung menebas lehernya menggunakan pisau pemotong tulang dengan keras beberapa kali sampai benar-benar terputus.
Cratt! Crattt! Tuss!
Kepala Celina menggelinding di tangga hingga kelantai satu. Evan yang melihat hal tersebut pun tak bisa menahannya lagi dan memuntahkan apa yang ia makan tadi.
Sedangkan Arthur langsung membelah dada zombie tersebut, menemukan sebuah kristal transparan yang dulu dinamai Cristal Shard.
Arthur pun langsung mengambil kristal tersebut dan memasukkannya kedalam tas miliknya.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang cukup ramai, sepertinya para zombie disekitar sedang berlari kemari. Langsung saja Arthur menyeret Evan yang masih mual, berlari kembali menuju ke kamar sebelumnya.
Tak lama, suara langkah kaki tersebut semakin terdengar jelas. Menandakan mereka sudah semakin dekat. Sambil berlari, Arthur mengambil sebuah botol alkohol dan segera memanjat keatas lagi.
"Hahh-hahh ... Lelah sekali."
"Sudahi lelah mu, dan ambil lampu tidur yang kau bawa."
Evan pun dengan sigap mengambil lampu tidur yang ia bawa kemarin, dan menyerahkannya ke Arthur.
Arthur pun menyalakan lampu, dan menebas baterai yang ada di bagian bawah lampu tersebut. Alhasil baterai tersebut berasap dan bisa meledak kapan saja.
Sesaat kemudian, terdengar suara keras dari bawah mereka, yaitu di kamar. Benar saja, para zombie masuk paksa ke dalam kamar dan berkumpul di balkon, tahu kalau Arthur dan Evan berada di atap.
Arthur yang melihat para zombie berkumpul pun langsung melemparkan botol alkohol ke para zombie sekaligus lampu tidur yang sudah berasap.
Blarrr!
Meskipun tak meledak, lampu tersebut memercikkan sedikit api yang akhirnya membakar para zombie.
Meskipun secara fisik, pendengaran maupun pengelihatan zombie tersebut cukup bagus, namun dia sangat rentan terhadap api. Api menjadi ide yang cukup efektif untuk membunuh zombie.
Namun sesaat kemudian Arthur berteriak pada Evan,
"Menjauh lah!"
Arthur pun menjauh dan tiarap, begitu juga dengan Evan. Tiba-tiba zombie yang terbakar meledak dengan kuat secara bersamaan menyebabkan kamar dan balkon villa benar-benar hancur.
Yah, itu adalah efek buruk dari penggunaan api kepada zombie, memang efektif untuk membunuh, namun zombie akan meledak setelahnya.
Kerugian yang selanjutnya adalah cristal shard yang ada di dalam tubuh zombie akan ikut hancur mengingat cristal shard adalah barang yang cukup berharga saat ini.
Evan yang melihat hal tersebut cukup terkejut,
"D-dia meledak? Bagaimana kamu tahu kalau zombie itu akan meledak?" Ucapnya terkejut.
"Aku melihatnya menggembung dan seperti akan meledak tadi," ucap Arthur beralasan, sebenarnya itu semua adalah informasi yang ia dapatkan dulu.
Arthur pun kembali berbicara,
"Balkon sudah meledak, para zombie tak akan bisa naik kemari, jadi kita akan aman untuk sementara waktu. Aku akan melakukan sesuatu, kau harus menjagaku," ucap Arthur sambil mengeluarkan sebuah Cristal Shard transparan.
Evan yang kebingungan pun hanya mengiyakan ucapan Arthur, mengingat zombie juga tak akan bisa kemari.
Arthur pun segera mencari tempat, dan bersila di sana. Selanjutnya, ia pun menelan cristal shard yang ia miliki secara utuh. Membuat Evan melongo melihatnya.
Sesaat setelah Arthur menelan cristal shard, ia langsung memejamkan mata, terlihat seperti sedang bermeditasi. Pada awalnya, ia terlihat baik-baik saja, namun 10 menit kemudian, hal yang mengerikan terjadi pada Arthur.
Pembuluh darah yang ada di tubuhnya membengkak berwarna hitam hingga timbul, seperti ia akan berubah menjadi seorang zombie. Dilihat dari ekspresi wajah Arthur, ia sepertinya sedang kesakitan, namun tetap fokus.
Evan cukup khawatir akan keadaan Arthur, ia khawatir Arthur akan berubah menjadi seorang zombie karena sekarang pembuluh darahnya benar-benar terlihat menghitam.
Hingga 1 jam kemudian, pembuluh darah Arthur berangsur kembali menjadi normal, Arthur juga mengeluarkan banyak sekali keringat dalam proses tersebut. Tak lama, ia pun membuka mata dengan tatapan puas.
"Hahh ... Bagus, sekarang aku sudah menjadi seorang adapter tahap pertama," ucap Arthur sambil merasakan kekuatan mengalir di tubuhnya.
Menoleh ke arah Evan, ia terlihat bengong, tak mengerti dengan apa yang Arthur katakan.
"Lihat ini ..."
Swoshh! Brakk!
Arthur mengayunkan tinjunya ke arah beton, dan secara mengejutkan, beton yang Arthur pukul terlihat beberapa retakan.
"B-bagaimana kau melakukan hal itu?"
"Kau ingat cristal yang aku makan tadi? Itulah yang membuat kekuatanku seperti ini. Sekarang aku juga tak perlu khawatir akan terinfeksi virus zombie."
"T-tapi bagaimana kau tahu benda itu bisa digunakan seperti itu, kau tadi benar-benar terlihat akan berubah menjadi zombie."
"Emm, rahasia."
"..."
"Sudahlah, itu tak penting, sekarang mari dapatkan satu untukmu, setelah itu ... Baru kita akan pergi dari sini."
Setelah itu, Arthur mengambil sarung bantal yang di dalamnya ada pecahan kaca. Ia pun memukuli sarung tersebut untuk membuat kaca yang ada di dalamnya halus.
"Sebenarnya kau ingin membuat apa dari pecahan kaca itu?"
"Hm? Ini untuk memudahkan berburu zombie. Kau tahukan kalau zombie itu cukup cepat. Sebenarnya ada cara untuk membuat mereka lambat. Yaitu dengan membuat mereka buta.
Jika kita memiliki flash bang mungkin akan lebih bagus, tapi berhubung tak ada, jadi aku akan menggunakan pecahan kaca ini. Apa kau tahu betapa sakitnya jika pecahan kaca yang terlihat seperti serbuk ini masuk ke mata?"
"..."
Evan hanya diam mendengar jawaban Arthur, dia tak tahu Arthur tahu semua itu dari mana, selama wabah zombie terjadi, ia selalu ada di sampingnya, seharusnya informasi yang Arthur dapatkan sama dengan yang ia tahu. Tapi kenyataanya jauh berbeda, Arthur seperti sudah mengetahui wabah zombie ini dengan cukup baik, dia bahkan tahu cara meningkatkan kekuatan dan membangun imunitas.
Hal itu membuat Arthur terlihat seperti pernah hidup di wabah zombie yang sama sebelumnya.
Tak lama, Arthur pun selesai menghaluskan pecahan kaca menjadi sebuah serbuk.
"Baiklah, mari turun kebawah," ucapnya.
Mereka pun turun kebawah, melewati lubang balkon yang sudah meledak itu. Jika pada awalnya Arthur sangat berhati-hati kali ini dengan pedenya ia berjalan di dalam villa tanpa mengendap-endap.
Bukan karena sombong, namun karena ia memang tahu apa yang dia lakukan, setelah menjadi adapter tahap 1, fisik, indra, dan instingnya jauh melampaui manusia bahkan seorang atlet sekalipun.
Jadi ia bisa merasakan jika ada zombie di sekitar dengan menggunakan indra penciumannya. Zombie adalah mayat hidup, tentu memiliki bau busuk yang menyengat, namun terkadang bau tersebut tak dapat di cium karena tempat sekitar yang memang sudah berbau busuk. Seperti Villa ini, yang berbau anyir dari darah busuk, sangat tercium.
Mereka pun terus berjalan dan menuruni tangga, bau busuk semakin tercium. Dan saat mereka tiba di lantai satu, lagi-lagi Evan merinding melihat mayat, daging, darah berserakan dimana-mana sudah seperti sampah.
Namun hal yang dilakukan Arthur selanjutnya benar-benar mengejutkan, dia tiba-tiba berteriak dengan keras sambil menyuruh Evan untuk memojok ke tembok.
Karena teriakan Arthur, tak lama para zombie pun berbondong-bondong berlari ke tempat mereka berada.
"Arthur, kau sudah gila ..." Ucap Evan mendengar langkah kaki zombie yang terdengar rusuh, jauh lebih banyak dari yang pertama tadi.
Sesaat kemudian, satu persatu zombie mulai terlihat. Tak berbasa-basi, Arthur dengan dual knife di tangannya melesat dengan berani ke arah kumpulan para zombie. Melempar kantong yang berisi serbuk kaca ke atas, sehingga serbuk tersebut jatuh ke bawa mengenai para zombie.
Benar saja, setelah mata para zombie terkena serbuk tersebut, mereka menjadi buta dan tak lagi berlari, hanya jalan sempoyongan mengikuti suara yang mereka dengar karena buta.
Melihat hal tersebut membuat Evan terkesan, zombie-zombie tersebut benar-benar menjadi sama seperti yang ada di film-film apocalypse.
Karena para zombie terlihat sudah sangat lambat, Evan juga ikut maju, berniat membantu Arthur. Mendatangi salah satu zombie, Evan menendangnya dengan kuat hingga zombie tersebut terjatuh, dan dengan pisau yang dia bawa Evan menusuk-nusuk leher zombie tersebut dengan hati-hati agar tak sampai terkena gigitan nya.
Darah hitam terciprat bersamaan dengan pisau Evan yang menusuk leher zombie hingga membasahi tangan dan bajunya. Setelah membunuh satu zombie, Evan pun melihat ke arah Arthur sambil berkata,
"Aku juga tak akan kalah darimu."
"..."
Arthur hanya tersenyum mendengarnya.
Wushh! Slashh! Slashh!
Arthur melesat menebas kan pisau pemotong tulang ke arah leher para zombie, jika tadi ia membutuhkan beberapa kali tebasan, sekarang ia hanya butuh sekali tebas untuk memisahkan kepala zombie dari tubuhnya.
Bermandikan cairan darah berwarna hitam, Arthur terus menerus mengayunkan lengannya, bergerak dengan lincah, menghindar dan menyerang dengan sempurna, ia bahkan terlihat seperti sedang menari di tengah-tengah kumpulan zombie sambil bermandikan darah.
Dalam waktu 2 menit, total Arthur sudah membunuh puluhan zombie sedangkan Evan hanya bisa melongo melihatnya. Merasa malu dengan apa yang ia katakan sebelumnya.
"Aku tarik ucapanku tadi ..."
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments