Setelah mengatakan hal itu, Arthur pun pergi meninggalkan kelompok tersebut, di ikuti Evan dan Kai dibelakangnya.
"Arthur, kenapa kau malah ingin menyebarkan informasi seperti itu?" Tanya Evan.
"Hm? Apa kau takut?" Jawab Arthur melirik ke arah Evan.
"B-bukan begitu, tapi akan gawat jika ada 4 kelompok besar yang mengincar kita. Lagi pula kita hanya 3 orang saja."
"Kalau begitu satu orang satu kelompok, sedangkan sisanya aku sendiri sudah cukup."
"..."
"Kau serius?"
Melihat temannya yang tak percaya diri seperti itu membuat Arthur sedikit kesal.
"Hahh, dengar ya, kalian itu sudah jauh lebih kuat dibanding para raja itu, bahkan jika kalian di adu satu lawan satu dengan para raja, kalian tetap akan menang.
Lagipula adapter kemarin sore bisa apa, sedangkan kau sedari awal apocalypse sudah menjadi adapter. Jadi jangan takut. Kau kira mereka akan datang ke mari dengan mudah? Jika bergerak ramai-ramai mereka pasti akan menghadapi banyak zombie tingkat 2 dalam perjalanan, mungkin memang bisa, namun butuh waktu, dan saat hal itu terjadi, kita sudah mencapai adapter tahap kedua."
Mendengar penjelasan Arthur yang cukup masuk akal, membuat mereka berdua menjadi tenang. Lagi pula ada Arthur di samping mereka, tak ada yang perlu ditakutkan.
Mereka pun terus berburu zombie tingkat 2 hingga beberapa hari kemudian.
...***...
Jauh di tengah kota.
Terlihat sosok pria muda berumur sekitar 21 tahun berambut hitam kusut dengan tubuh kurus, duduk di sebuah kursi di lantai teratas sebuah bangunan. Di kedua sisinya terlihat dua orang berjas yang memiliki badan besar, terlihat kuat!
Sedangkan, di depannya terlihat empat orang yang terlihat cukup berpengaruh duduk di kursi dengan meja bundar. Terlihat menghormati sosok yang ada di depan mereka.
Mata sayu, dengan pupil berwarna biru matang yang sekilas membentuk sebuah lambang di matanya. Berdiri menggunakan sebuah tongkat penyangga seakan-akan ia tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Menciptakan suatu kesan tertentu saat seseorang melihatnya.
'the order kah ... Siapa mereka? Anomali atau variabel? Teman atau lawan? Kelompok yang menarik, tiba-tiba muncul begitu saja, mengungkapkan kalau mereka memiliki 'raja' terkuat diantara para raja lain,' pikirnya.
"Aku dengar ada kelompok yang baru ini terdengar ... Kalau tak salah, namanya The Order," ucapnya lirih pada orang-orang yang duduk didepannya.
"Menurut kalian bagaimana? Sebagai orang yang memiliki julukan 'raja' apakah kalian tertarik?"
Mendengar ucapan pria yang terlihat lemah itu, membuat ke empat orang yang ternyata merupakan para 'raja' mengerutkan keningnya, merasa tak nyaman.
"Hm, jadi kalian memang tertarik ya ... Kalau begitu, untuk mencegah variabel tak di inginkan, Fist king. Kau urus kelompok itu dengan baik. Aku yakin dengan kemampuanmu," ucap pria tersebut menunjuk salah seorang dihadapannya.
Salah seorang yang memiliki perawakan sangar dengan rambut merah panjang, tubuh besar berotot, dan yang paling menonjol darinya adalah sebuah gauntlet merah yang melekat di kedua lengannya.
...
Sedangkan di markas, Arthur sedang membeli beberapa perlengkapan dari trader. Membeli sejumlah perlengkapan seperti sebuah armor transparan yang lentur, sebuah sarung tangan untuk menahan beban pedangnya agar telapak tangannya tidak terluka, dan beberapa ramuan penyembuhan. Terlihat mempersiapkan untuk pertarungan yang sulit.
Setelah membeli semua barang yang ia butuhkan, Arthur pun memakai armor, dan sarung tangan yang baru ia beli. Terasa sangat nyaman, dan tak mengganggu sama sekali. Arthur tersenyum puas dengan item yang ia beli.
'bagaimana pun, pribahasa 'ada harga ada kualitas' masih berlaku di dunia ini, apalagi ... Armor ini memiliki kemampuan aktif yang sangat berguna di pertempuran,' batinnya setelah mencoba perlengkapan barunya.
Tak lupa, Arthur membelikan dua armor juga untuk Evan dan Kai, meskipun tak sebagus miliknya.
Setelah itu Arthur pergi menemui Evan dan Kai, dan berkata kalau dirinya berniat menembus tahap kedua hari ini juga, dan dia membutuhkan bantuan kedua rekannya itu.
"Kau akan pergi mencari Unique tingkat 2?" Tanya Kai.
Arthur pun menjawab dengan senyum tipis diwajahnya.
"Tentu saja mau apa lagi? Aku sudah terlalu lama berada di tahap pertama."
Mendengar hal itu, Evan pun menjadi bersemangat.
"Kalau begitu aku ju-"
Saat Evan sedang berbicara, Arthur langsung melanjutkan, memotong ucapan Evan.
"Kita tak bisa bersama-sama menembus tahap kedua, karena prosesnya akan memakan waktu kurang lebih 4 hari, selama itu aku tak akan bisa bergerak," jelasnya.
Mendengar hal itu, wajah ceria Evan pun luntur, terlihat kecewa. Namun segera mengerti setelah mendengar ucapan Arthur.
"Yah, bukan berarti kalian tak akan menembus tahap kedua, namun kita akan melakukannya bergantian. Tak ada yang tahu jika orang-orang yang menyebut diri mereka 'raja' itu akan datang menyerang saat kita sedang dalam proses penyerapan."
"Tak ada salahnya bersiap siaga. Juga aku ada sesuatu untuk kalian, anggap saja sebagai jaga-jaga jika ada sesuatu yang buruk yang mengharuskan kalian bertarung mati-matian."
Arthur pun memberikan armor yang ia beli kepada mereka berdua. Tak seperti miliknya yang tembus pandang, armor yang Arthur belikan untuk mereka memiliki wujud fisik, yang tampak seperti armor zaman kerajaan.
Mengambil armor tersebut, mereka berdua pun langsung memakainya. Arthur yang melihatnya pun sedikit menyindir.
"Kalian terlihat seperti ksatria zaman bahala sekarang."
Evan yang merasa disindir pun melirik Arthur dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu bahala?"
"Maksudku kau terlihat seperti para prajurit saat peperangan zaman dulu."
"Aku tak peduli dengan penampilannya, tapi apakah armor ini benar-benar kuat kak?" Tanya Kai sambil mengetuk logam tipis yang melindungi tubuhnya.
Sudut bibir Arthur sedikit terangkat mendengar ucapan Kai, ia pun langsung menendang Evan dengan kuat hingga ia terpental dan terjatuh di semak-semak yang ada di depan perumahan.
"Argh ... Arthur, kenapa kau menendang ku? Itu sakit tahu," eluh Evan sambil bangun.
"Sakit?" Tanya Arthur singkat.
"Ya, itu sa-"
Tiba-tiba Evan sadar kalau dirinya sama sekali tak merasakan sakit di tempat yang Arthur serang.
"Eh? Tidak sakit?"
"Setidaknya armor itu bisa menahan serangan muscle zombie hingga terasa seperti dipukul manusia biasa. Jika yang memukul manusia ... Mungkin tak akan terasa sama sekali."
...
Blarrr!
Semburan api menembus tubuh zombie tingkat 2, menampakkan sesosok pria dengan sepasang gauntlet merah terbakar oleh api di tangannya, terlihat mirip dengan warna rambutnya yang terurai panjang.
Dibelakangnya, terlihat puluhan orang yang memakai pakaian dari suatu seni bela diri, memiliki warna merah dengan corak naga api di punggungnya mencerminkan kekuatan dari pemimpin mereka. Semua orang itu tak lain adalah bawahan dari sosok yang disebut-sebut sebagai Fist king.
"Kita harus cepat menuju ke bagian luar kota!" Teriak Fist king.
Namun, sesaat setelah ia berkata seperti itu, terlihat gerombolan zombie tingkat 1, bercampur dengan zombie tingkat 2 di sekitar mereka. Depan, belakang, samping, benar-benar terkepung sepenuhnya.
Fist king yang melihat hal itu pun menjadi sedikit muram, mengutuk kelompok The order yang menyebabkan mereka harus melewati semua ini.
Wushhh!
Api di lengannya semakin kuat dan besar, hingga terlihat seperti membakar kedua lengannya.
"Kemarilah, jika mau mati ..."
Bersambung>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments