“Om El, ... berjanjilah kepadaku. Bahwa Om tidak akan pernah ke club malam lagi, apa pun alasannya.”
“Andai itu untuk pekerjaan, aku lebih suka Om membatalkannya.”
“Atau setidaknya, Om wajib mendiskusikannya denganku.”
“Termasuk urusan minum, tolong kalau bisa jangan.”
“Awalnya mungkin memang sulit, tapi jika Om sudah terbiasa, Om pasti bisa.”
“Apa pun nanti, tolong bicarakan ya.”
“Pelan-pelan, kita pasti bisa.”
Itulah yang semalam Hyera katakan kepada calon suaminya, lewat telepon. Hyera yang memang tidak bisa tidur, sengaja menelepon Elmer.
“Iya, ... saya akan ingat dan sebisa mungkin menjalankan semua yang kamu minta,” balas Elmer.
“Om jangan salah paham, ya. Aku begini karena aku peduli ke Om,” balas Hyera.
“Iya, saya tahu. Kamu memang sebaik itu dan saya bisa merasakannya. Saya bahkan bisa merasakan, bahwa kamu mulai menyayangi saya,” balas Elmer.
“Iya, Om. Jujur, aku memang sudah mulai sayang ke Om. Aku ingin, Om tahu mengenai ini. Karena memang ada kan, yang suka penasaran dan selalunya ingin tahu secara langsung dari pasangannya?”
“Termasuk kamu?” sergah Elmer masih dengan suara sangat lembut.
Hyera yang mendengarnya dari balik selimut sambil terus meringkuk, jadi tersipu. “Iya ....”
“Saya juga sayang banget ke kamu. Kadang saya masih sulit percaya, kok bisa kamu yang bagi saya masya Allah, mau sama saya,” ucap Elmer.
“Dari semua kekurangan yang ada dalam diri saya, kegagalan saya di pernikahan sebelumnya, menjadi hal yang membuat saya merasa tidak pantas bersanding dengan kamu,” ucap Elmer. “Saya tidak akan membahas kekayaan saya. Karena jujur saja, saya memang tidak punya apa-apa. Karena semua fasilitas yang saya miliki saat ini murni dari papa saya. Jadi, jika sewaktu-waktu semuanya diambil, saya juga tidak bisa menahannya. Saya bicara begini karena saya tahu, kamu bukan wanita yang menjadikan harta dan materi sebagai hal utama dalam hidup kamu.”
“Yang penting, kalau aku sampai diambil, Om wajib berjuang. Jangan biarin aku diambil begitu saja,” balas Hyera yang kemudian berkata, “Enggak apa-apa di pernikahan sebelumnya, Om gagal. Yang penting di pernikahan kita, Om enggak gagal.”
“Lagian alasan Allah memisahkan setiap pasangan memang Allah sengaja akan menggantinya dengan yang lebih baik. Om percaya, kan?” lanjut Hyera.
“He’um! Karena sekarang, saya sedang merasakannya!” balas Elmer.
Obrolan romantis tadi malam, dan tanpa direncanakan mendadak menghiasi ingatan Hyera maupun Elmer, mengiringi ijab kabul yang tengah keduanya jalani.
“Tiap ada acara, bahkan acara kita yang jadi tuan rumah, ... jita jadi kang foto sama kang video ya Mas. Jangankan ikut kefoto dan kevideo, icip-icip makanan saja, kita enggak ada waktu. Tuh lihat prasmanan penuh makanan gitu, sementara perutku makin sibuk dangdut koploan!” bisik Rain kepada Adam sang kakak. Mereka tengah mengabadikan momen sakral antara Hyera dan Elmer.
Dalam satu helaan napas, Elmer mengucapkan lafal ijab kabul dengan jelas sekaligus lantang. Di sebelahnya, Hyera yang tertunduk nelangsa, mendadak bengong. Hyera menatap tak percaya Elmer. Ia terlalu terpesona.
Tidak ada yang tidak menitikkan air mata, apalagi keluarga Hyera. Sekelas Brandon yang minim ekspresi saja sampai berlinang air mata. Apalagi Boy sang kembaran dan memang penuh kelembutan. Semuanya menangis haru, dan mereka menjadi sangat emosional. Namun dengan segera, mereka termasuk orang tua Hyera, menghapus air mata mereka. Mereka menggantikan tangis haru di wajah mereka dengan senyum bahagia.
Ketika semua orang di sana kompak berucap, “Alhamdullilah, Sah!” Hyera yang awalnya hanyut memandangi wajah Elmer dari samping, langsung terjaga.
“Alhamdullilah, sah! Masya Allah, ... sekarang aku beneran sudah jadi istri om El!” batin Hyera yang segera melakukan doa-doa setelah ijab kabul. Kemudian, setelah acara doa-doa selesai, Hyera segera menyalami tangan kanan Elmer dengan sangat takzim.
“Ya Allah, semoga kami jadi keluarga samawa!” batin Hyera.
“Dug ... dug ... dug!” Jantung Elmer benar-benar berisik hanya karena ia akan menc.ium kening Hyera dan itu di hadapan semua orang. Ibarat mesin jika sudah seperti keadaan jantung Elmer, biasanya memang mendekati ru.sak.
Saking gugupnya, kedua tangan Elmer tak hanya berkeringat dingin. Sebab kedua tangan bahkan tubun Elmer memang sampai gemetaran. “Bismillahirrahmanirrahim! Alhamdullilah, Zoya. Karena syarat dari kamu, kini aku mendapatkan istri spek bidadari. Bersamanya, semuanya serba dilancarkan tanpa syarat-syarat seperti ketika aku ingin bersamamu. Namun tanpa syarat dari kamu, mungkin aku tidak akan pernah sebahagia sekarang. Tentu, ... tentu aku sangat berterima kasih,” batin Elmer yang memberanikan diri untuk membingkai wajah Hyera menggunakan kedua tangannya. Di hadapan semuanya, ia memberanikan diri untuk menc.ium kening Hyera.
Detik itu juga sorak sorai pecah di sana. Pak Ojan, Rain, Hasan, dan juga Anjar menjadi dalangnya. Akibat kenyataan tersebut, bukan hanya Hyera yang salah tingkah. Karena Elmer bahkan lebih parah.
“Yang lama Om, ... yang lama! Ini mau diabadikan dulu!” seru Rain masih belum bisa menyudahi tawanya.
“Ini kembang apinya sudah boleh dinyalain, kan, Pi?” heboh pak Ojan.
“Pimpin doa lagi dulu, baru pesta kembang api, Jan!” sergah pak Helios masih sibuk mengelap air matanya menggunakan tisu kering. Selain itu, ia yang sudah ditemani sang istri juga sampai sesenggukan.
Hyera jadi terdiam sedih memandangi keadaan orang tua maupun saudara-saudaranya. Semuanya menangis haru dan tampak khawatir atas pernikahannya.
Tanpa Hyera sadari, di sebelahnya, sang suami menjadi memperhatikannya. Elmer yang yakin sang istri tengah bersedih, sengaja meraih sebelah tangan Hyera. Elmer bermaksud menangkan Hyera. Meski karena ulahnya juga, Hyera jadi kembali tersedu-sedu. Hyera yang membalas genggaman tangan Elmer menggunakan kedua tangannya, sampai agak membenamkan wajahnya di punggung kokoh milik suaminya.
Ketika Elmer dan Hyera mulai menepi dari kesedihan sekaligus rasa haru, ponsel Elmer tak hentinya berdering. Telepon masuk dari pak Taya selaku papanya Zoya menjadi alasannya. Elmer sempat melihatnya. Elmer takut, telepon masuk yang terus membuat ponselnya berdering, merupakan kabar dari mamanya. Namun ternyata itu dari pak Taya dan membuatnya kembali fokus dengan acara makan-makan di ijab kabulnya.
Sesi sungkem dan foto-foto sudah selesai. Kini, semuanya tengah dimanjakan dengan makanan yang memenuhi prasmanan. Namun gara-gara pak Ojan, anak-anak yang sedang disuapi para pengasuhnya, mendadak bubar. Anak-anak kompak mengejar pak Ojan karena pria tua berperilaku anak-anak itu, membawa kembang api.
“Jangan jauh-jauh, Jan. Nanti nyangkut apalagi ngo.torin rumah tetangga, kamu dimarahin.” Pak Helios sampai mengomel.
“Hyera,” lirih Elmer yang meski tengah mengambil makanan di sebelah Hyera, masih sempat mengawasi setiap keluarga Hyera, khususnya pak Ojan.
Tanpa bersuara, Hyera yang sedang mengambil sayur untuk pecel, menatap Elmer dengan tatapan berikut senyum yang benar-benar manis. Saking manisnya sang istri, Elmer sampai lupa alasannya memanggil.
“Kenapa?” lembut Hyera yang jadi tersipu lantaran dari cara suaminya menatapnya, pria yang belum lama ia kenal itu, sangat terpesona kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sandisalbiah
bersama Hyera bisa jatuh cibra berkali² ya El..??
2024-07-31
0
sherly
smoga bahagia selalu kalian...
2024-07-29
0
lizah meon
/Rose//Rose//Rose/
2024-04-21
1