“Siapa pun yang mencari saya, katakan saja bahwa kalian kurang tahu. Karena siapa pun yang memiliki urusan dengan saya, apalagi yang mengaku sudah memiliki janji, mereka pasti akan langsung menghubungi saya tanpa harus mencari informasi kepada yang lain.” Pak Helios yang masih bersama Aqwa, sengaja wanti-wanti kepada sang satpam.
Sang satpam langsung mengangguk sanggup. Hingga tak lama kemudian, ia melepas kepergian punggung pak Helios yang kembali memasuki rumah megahnya sambil menggendong Aqwa.
Sekitar lima menit kemudian, mobil Hyera terpantau dari CCTV mendekati gerbang. Sang satpam segera membukakan gerbang. Mobil tak sampai dimasukkan dan diparkir tak jauh dari sebelah gerbang.
Hyera yang masih jengkel dan menyikapi Elmer dengan sangat judes, segera bangun kemudian mengambil kunci mobilnya dari hadapan Elmer. Elmer yang masih merasa sangat bersalah kepada Hyera, bergegas turun. Niatnya, Elmer ingin membukakan pintu mobil untuk Hyera—sebagai wujud rasa tanggung jawabnya. Namun selain sudah langsung dibukakan pintu oleh sang satpam, Hyera juga langsung melangkah masuk.
“Jangan izinkan dia masuk, Pak. Sampai kapan pun. Jika dia tetap memaksa, biarkan dia menunggu di luar gerbang saja!” tegas Hyera benar-benar dingin.
Meski yang Hyera maksud Elmer, satpam yang mendengar titah Hyera, tetap jauh lebih terkejut. Pria bertubuh tegap itu bahkan tampak ketakutan. Di tengah ketakutannya tersebut, sang satpam melirik sungkan Elmer sambil masuk kemudian mengunci pintu gerbangnya.
“Baiklah, aku akan menunggu di sini. Aku akan menunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan,” sergah Elmer.
Mendengar itu, langkah Hyera menjadi jauh lebih pelan. Namun, kenyataan tersebut berlangsung tidak lama. Karena selanjutnya, Hyera kembali melangkah cepat.
Suasana rumah masih ramai. Karena keempat saudara Hyera tengah berkumpul di sana. Selain sudah berkeluarga semua, saudara Hyera juga sudah memiliki anak. Kebanyakan anak dari saudara Hyera itu kembar. Jadi, kebayang betapa ramainya rumah pak Helios ketika anak dan cucunya yang masih kecil-kecil, berkumpul.
Meski suasana kini terbilang langka karena tak setiap saat mereka bisa berkumpul dalam formasi lengkap, Hyera tetap memilih memisahkan diri dari kebersamaan. Mood Hyera telanjur hanc.ur akibat kejadiaan naas yang kemarin malam ia alami. Andai pun Hyera tetap memak.sakan diri untuk bergabung, yang ada pasti semuanya kompak curiga kepadanya. Mereka akan dengan begitu mudah yakin, Hyera sedang tidak baik-baik saja.
Hyera hanya tersenyum masam dan berdalih akan langsung istirahat. “Ngantuk banget. Aku tidur sebentar dulu ya,” ucapnya sengaja mencari-cari alasan.
“Kamu sudah makan siang belum?” sergah ibu Chole yang tengah jadi rebutan cucu-cucunya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.
Karena para cucu sibuk dengan omanya, para anak dan menantu, bisa bersantai dengan leluasa. Malahan, kakak-kakak Hyera beserta pasangan masing-masing, tengah asik rujakan. Cobek besar masih dihiasi setengah bumbu rujak kacang. Andai Hyera baik-baik saja, Hyera pasti akan menjadi yang paling heboh dari semuanya.
Sementara di luar gerbang, Elmer masih berdiri tegar menerima hukuma.n yang Hyera berikan. Elmer sudah bertekad akan terus di sana sampai Hyera mau memberinya kesempatan.
Di dalam kamar, Hyera yang baru mengunci pintu kamarnya, malah menjadi deg-degan luar biasa. Karena seperti keyakinannya dan memang baru ia sadari. Di tengah keheningan yang menyelimuti, sang papa memang sudah ada di dalam kamarnya. Sang papa yang memang paling dekat dengan para anak perempuannya, termasuk Hyera, duduk menunggu di pinggir ranjang tidur.
Di kamar bernuansa pink milik Hyera, pak Helios menghujani sang putri dengan senyuman. Senyuman yang perlahan juga menjadi diwarnai dengan air mata. Sebab Hyera yang tetap bungkam, malah tersedu-sedu. Hyera bersimpuh dan memeluk erat kedua kaki pak Helios.
Sambil menahan sesak yang luar biasa di dadanya dan sampai membuatnya tak bisa berkata-kata. Sebenarnya, Hyera ingin meminta maaf kepada papanya. Hyera ingin menceritakan semua yang terjadi kemarin malam, antara dirinya dan Elmer. Kejadian yang sangat membuatnya hancur sekaligus hi.na. Hanya saja, ia sungguh tidak sanggup. Terlebih, diamnya pak Helios yang malah berusaha menenangkannya sambil memeluknya hangat, membuat Hyera curiga. Bahwa jangan-jangan, papanya yang memiliki banyak mata-mata, sudah tahu?
“Papa minta maaf.” Sebenarnya, pak Helios juga tak sanggup untuk sekadar berkata-kata. Hanya saja pak Helios sadar, terpuruknya dirinya akan makin menghancu.rkan sang putri.
Setelah percobaan ucapannya tetap tak menghasilkan suara. Dan malah air matanya makin sibuk berjatuhan sementara ia juga samai sesenggukan, pak Helios sengaja membenamkan bibirnya di punggung kepala Hyera.
“Ya Allah ... demi apa pun aku makin yakin, bahwa Papa memang sudah tahu!” batin Hyera.
“Jangan terus menyalahkan dirimu. Berhentilah memikirkan dosa dan segala dampak buru.k dari apa yang kamu alami. Apalagi kamu tidak pernah menginginkan itu terjadi. Kamu korban, hingga Papa mau. Ketimbang memikirkan yang lain, tolong pikirkan kewarasanmu. Pikirkan mental dan pastikan, jangan jadikan itu sebagai trauma.”
“Urusan dosa, biar Papa saja yang menanggungnya. Karena andai bisa memilih, kamu pasti tidak akan melakukannya. Ditambah lagi, Papa percaya, kamu tidak akan mengulanginya!”
Mendengar penjelasan di tengah tangis dari sang papa barusan, dada Hyera makin sesak. Hyera berangsur memberanikan diri untuk menatap sang papa.
Setelah membingkai wajah Hyera menggunakan kedua tangan, pak Helios berkata, “Jangan pernah mengatakannya jika itu hanya membuatmu terluka!”
“Yang Papa minta, ... cukup ceria sekaligus bahagia. Karena kedua hal ini menjadi hal paling mahal yang tidak akan pernah bisa dibeli, sampai kapan pun!” lanjut pak Helios.
Hati Hyera terenyuh. Hyera sungguh tidak menyangka, sang papa akan merangkulnya dengan sangat hangat. Keceriaan dan kebahagiaan Hyera, menjadi yang paling utama untuk pak Helios. Akan tetapi, satu hal yang membuat Hyera tercengang. Ini mengenai permintaan pak Helios yang lain. Permintaan yang terbilang menjadi harapan terbesar pak Helios juga, dan masih berkaitan dengan Elmer.
“Menikahlah dengan Elmer. Papa pastikan, dia bisa dipercaya. Dia bisa membahagiakanmu. Kamu juga bisa memiliki rumah tangga manis seperti kakak-kakakmu. Ingat, ... dia enggak sepenuhnya salah!”
“Pa—”
“Daripada kamu terus dikelilingi fitnah. Karena di luar sana begitu banyak yang ingin melihatmu terpu.ruk, Hyera.”
“Aku enggak mau menikah, Pah!”
“Kamu enggak boleh bilang begitu! Kamu harus tetap menikah! Papa percaya Elmer, dia bisa menjagamu menggantikan Papa!”
Hyera yang masih menatap sang papa, mendadak gamang. Kebenciannya kepada Elmer saja, masih berkembang dengan sangat cepat. Mau jadi apa jika dirinya juga sampai menikah dengan Elmer? Benarkah mereka akan memiliki rumah tangga bahagia seperti kakak-kakak Hyera layaknya anggapan pak Helios? Hyera rasa, itu mustahil.
Di luar sana, suasana yang awalnya cerah, perlahan kembali dikuasai mendung dan berakhir hujan. Kendati demikian, Elmer tetap bertahan. Diam-diam, pak Helios mengawasi. Hingga sore, malam, bahkan subuh, di tengah cuaca yang berubah-ubah dan kerap dihiasi hujan deras, Elmer masih menunggu di depan gerbang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kamu gak cerita,Papa kamu tau kok apa yg terjadi pada mu,Temen lucknut mu itu hanya tunggu waktunya aja bom meletus dari papa mu..
2025-01-27
0
Nartadi Yana
nunggu terus apa nggak sholat
2024-12-14
0
Rosmiati Ros
itu namanya bijaksana, toh elmer juga di jebak sama zoya
2024-08-27
0