“Enggak tahu kenapa,” ucap ibu Chole sambil melangkah buru-buru menuju kamarnya, tanpa bisa menyembunyikan kegelisahannya lagi.
“Apa lagi ...?” lembut pak Helios yang memang jadi tertinggal. Mereka baru sampai rumah. Namun sebelumnya, mereka sengaja mengantar Aqwa kepada orang tuanya. Bocah itu ketiduran sejak di perjalanan. Terlebih, Aqwa memang akan jadi mirip orang sakit di setiap bocah itu berinteraksi berlebihan dengan mahkluk tak kasatmata.
Ibu Chole berangsur menghela napas pelan seiring ia yang menoleh sekaligus menatap sang suami.
“Kan sudah Papa bilang. Papa yang comblangin Hyera dan El. Minggu depan mereka ijab kabul dulu. Resepsinya nyusul tiga bulanan lagi. Karena Papa ingin resepsi yang berkesan.”
“Apalagi biar bagaimanapun, ini akan menjadi resepsi pernikahan terakhir dari anak kita,” ucap pak Helios sambil mengunci pintunya kamarnya.
“Paling nanti, ... sekalian nyun.at Aqwa. Kalau anak angkat kesayangan kita juga pengin sunat, ya sekalian saja biar punya dia habis!” Pak Helios yang masih menyikapi dengan santai, mengakhiri ucapannya dengan tersenyum geli.
Ibu Chole mengembuskan napas panjang, melalui mulut. Kemudian, ia yang berhenti melangkah, berangsur fokus menatap kedua mata suaminya. “Firasat Mama enggak enak.”
“Mengenai mamanya El, ... dari kita di mobil, sejak Aqwa menjelaskan jejak masa lalu mamanya El, loh Pa,” lirihnya.
“Yang akan menikah dengan Hyera itu, El. Nanti Papa didik El, ... percaya ke Papa, El bisa.” Pak Helios menepuk-nepuk pelan pipi ibu Chole menggunakan kedua tangannya.
“Selebihnya biar menjadi bagian dari pendewasaan Hyera. Nanti kita sama-sama bimbing. Yang penting diarahkan, pelan-pelan. Mereka pasti ngerti,” lanjut pak Helios. “Jangan lupa perjuanganmu untuk membuatku seperti yang sekarang. Enggak ada yang menyangka, kan? Sementara El—”
“Malah lebih serem yang kayak El, Pa. El terlalu lembut, dia sabar banget! Tipikal yang gampang bikin baper. Para lakors pasti langsung sibuk ngintilin dia!” sergah ibu Chole geregetan sendiri jika sudah membahas wanita perebut pasangan orang. Termasuk kepada ibu Ami, sebenarnya ia juga was-was.
Pak Helios berangsur menggeleng tegas. “Enggak ... yang begitu agak sulit sih. Soalnya kalau Papa lihat, El itu kagum banget ke Hyera.”
“Terus mengenai materi. Sepertinya, El juga belum mapan.” Ibu Chole menunduk sedih.
“Nanti biar Elmer turun urus dua restoran bareng Hyera. Sementara untuk tempat tinggal, jika memang belum ada, ... beli rumah subsidi juga enggak ada salahnya,” ucap pak Helios.
“Mas Brandon saja masih hidup bahkan sangat bahagia, meski dia dan keluarga kecilnya, tinggal di rumah subsidi. Yang begini-begini bakalan bikin mereka punya banyak pengalaman sekaligus kenangan indah.”
“Sekelas Hasan yang clengean saja, bisa sampai punya pikiran buat hidup sederhana. Dia tanam-tanam di halaman, masak bareng istrinya.”
“Intinya, tinggal di rumah subsidi yang meski dianggap sempit, itu jauh lebih baik ketimbang mereka tinggal menumpang.”
“Kalau mau egois, Papa cukup minta mereka buat tinggal di sini. Namun jika itu yang terjadi, mereka pasti jadi kurang punya cerita buat mengisi lembaran hubungan mereka.”
“Ibaratnya, setelah anak-anak menikah, ... rumah kita ibarat vila yang akan sigap menampung mereka. Mereka membawa keluarga mereka, buat liburan keluarga,” tutup pak Helios sambil tersenyum hangat.
Kedua mata ibu Chole yang menatap sendu kedua mata pak Helios, menjadi berkaca-kaca. “Sedahsyat ini yah, ketakutan orang tua kepada nasib anak-anaknya.”
“Sepertinya, Allah memang sengaja menciptakan rasa dahsyat itu, untuk para orang tua!” ucap pak Helios mendadak melow.
Keesokan harinya, di sekitar pukul delapan malam, Elmer datang ke rumah Hyera. Sebelumnya, mereka memang sempat janjian. Namun karena Hyera sempat kecewa di janjian mereka yang kemarin, Hyera tak melakukan persiapan spesial.
Hyera yang memakai masker dan rambut panjangnya dicepol asal, baru sampai di lantai bawah kediaman orang tuanya. Bertepatan dengan itu, dari ruang depannya dan itu merupakan ruang tamu utama, malah ada Elmer. Elmer yang melangkah mengikuti pak Helios, langsung bengong khas orang syok. Seperti biasa, pria itu akan memandangi Hyera dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Aduh ... ini aku harus gimana? Kabur enggak mungkin, ... maju pun makin malu-maluin! Ah, si Om El. Kok kenal kamu jadi bikin aku kayak punya sawan!” batin Hyera masih berdiri di tempat tanpa bisa menyudahi kegelisahannya.
“Nah, ini orangnya,” ucap pak Helios sambil mengawasi Hyera juga. “Sayang, masker kamu aman, kan? Papa pengin ngobrol bareng kamu dan El!” lanjutnya.
“Mmm ....” Hyera mengangguk-angguk sambil menghindari tatapan Elmer. Ia menggunakan kedua jemari tangannya untuk menutupi wajahnya. Ia sengaja melakukannya untuk membatasi pandangan Elmer yang masih sibuk mengawasinya.
“Ya sudah, sini,” sergah pak Helios membimbing Hyera maupun Elmer ke sofa yang ada di ruang keluarga.
Suasana kediaman pak Helios memang jadi sangat sepi. Karena saudara Hyera sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun satu hari sebelum Elmer dan Hyera ijab kabul, semuanya akan kembali datang.
“Pakai masker saja masih cantik banget!” ucap Elmer berbisik-bisik kepada Hyera.
Hyera yang mendengar bisikan Elmer, langsung batuk-batuk lantaran tersedak ludahnya sendiri. “Setelan pabrik Om El memang begini mungkin ya?” batinnya.
“Ayo duduk,” lembut Elmer berusaha menu tun Hyera tanpa benar-benar menyentuhnya.
Hyera sengaja memilih duduk di sofa tunggal sebelah sofa tunggal pak Helios duduk. Elmer yang awalnya mengira Hyera akan duduk di sofa panjang, agar mereka bisa duduk bersebelahan, memilih duduk di sofa tunggal persis di depan pak Helios.
Pak Helios yang masih menangkap gelagat canggung Hyera, refleks tersenyum. Namun, ia segera memulai pembicaraan mereka. Ini mengenai obrolan yang sebelumnya sudah pak Helios bahas dengan sang istri.
“Hyera, ... kamu tidak apa-apa, kita tinggal di rumah subsidi? Namun kalau boleh jujur, konsep yang papa kamu berikan, memang akan bikin kita jadi pasangan mandiri. Karena kalau bisa, saya juga tidak mau bergantung kepada siapa pun, bahkan itu kepada orang kita!” lembut Elmer sambil menatap Hyera penuh keseriusan.
Hyera terdiam sejenak.“ Tinggal sendiri di ru.ah subsidi yang kebanyakan mungil. Kok seru, ya?” batin Hyera.
“Yang penting jangan tetanggaan sama Hasan. Soalnya tadi, papa sempat bahas Hasan juga. Enggak kebayang kalau aku beneran tetanggaan sama si Hasan!” ucap Hyera yang kemudian menunduk dalam.
Mendapati itu, diam-diam pak Helios maupun Elmer, kompak menahan senyum. Memang semudah itu meyakinkan Hyera. Asal dilakukannya penuh kelembutan. Insya Allah, Hyera pasti mau!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
sherly
betul tu Helios...dah nikah yg mandirilah biar bisa merasakan smuanya..
2024-07-29
1
Nurmalina Gn
setuju banget pak Helios.
biarkan rumah tangga anak2 tumbuh dengan perjuangan yg kuat,
dengan begitu mereka memiliki pondasi yg kokoh dalam rumah tangga.
kemandirian mereka akan menjadi kekuatan utk saling mencintai dan menjaga hati.
2024-03-28
1
Santi
Nolak tetanggaan sma Hasan,tahu2nya emng jdi tetangga ya,,hihihihi
2024-03-27
1