Hyera yang sengaja keramas, keluar dari kamar mandi mewahnya dengan sangat buru-buru. Wanita cantik itu terpeleset dan berakhir meringkuk di lantai, setelah sebelumnya juga sampai terbanti.ng. Handuk yang awalnya membungkus kepalanya, sampai lepas saking kuatnya ketika ia terba.nting.
“Duhhh ....”
Sakit? Tentu, tapi Hyera yang takut Elmer datang lebih cepat, berusaha susah payah untuk bangkit. Keadaannya mirip adegan film horor dan dirinya jadi hantu suster ngesot. Karena demi sampai ke meja rias, Hyera dengan rambut panjang basahnya yang tergerai, nekat ngesot.
“Ini parah, sih. Mau ditengokin karena aku ngaku kurang enak badan. Namun gara-gara dia mau datang, sakitku makin enggak karuan!” keluh Hyera sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
Beres memakai pelembab wajah maupun pelembab bibir, Hyera yang tak sengaja melihat nakasnya, mendapati layar ponselnya menyala. Ada telepon di ponselnya, dan Hyera segera memastikannya. Kebetulan, Hyera memang belum mengaktifkan dering di ponselnya. Ponselnya masih dalam keadaan senyap. Tak semata efeknya menjomblo seumur hidup dan membuat Hyera merasa tak perlu ada dering di ponselnya karena memang, tidak ada yang ia tunggu. Sebab demi menghindari sederet telepon maupun pesan dari laki-laki yang mengejarnya, Hyera memang sengaja melakukannya.
Setelah dipastikan, ternyata itu Elmer yang telepon. Namun efek Hyera terlalu gugup, Hyera sengaja melewatkan telepon dari Elmer. Hyera hanya memandangi layar ponselnya sambil duduk manis di pinggir tempat tidur.
“Kalau om El enggak sampai kirim pesan, aku baru kirim dia pesan. Pura-pura sibuk, biar enggak begitu mencolok kalau sebenarnya, aku langsung respect! Bisa dijewer aku sama papa kalau aku terlalu galak ke om El!” lirih Hyera.
Alih-alih pesan tulisan, yang Elmer kirimkan justru pesan suara. Meski sempat akan langsung menyentuh pesan suaranya, Hyera sengaja menundanya. Dan lagi-lagi, alasannya masih sama. Agar Elmer tidak tahu bahwa Hyera sudah menunggu.
“Hyera ....” Suara Elmer terdengar sangat lembut—empuk. Mirip suara pak Helios, ketika pak Helios berbicara dengan Hyera. Alasan yang juga membuat Hyera merasa nyaman kemudian tersenyum. Sebab dari gaya bicara saja, Elmer menjadi pria pertama yang sangat sopan kepadanya.
“Suara om El, sopan banget di telinga!” batin Hyera.
“Maaf ya, ... saya tidak jadi ke sana sekarang. Karena saya ada urusan mendadak. Namun insya Allah, saya usahakan sore atau malam, datang!” ucap Elmer dan langsung membuat Hyera kecewa lantaran Elmer tak mengabarkan alasan spesifik pria itu tak jadi datang.
“Saya kirim sarapan buat kamu. Kamu kalau ada apa-apa, tolong kabari saya. Kalau memang sakitmu makin tidak bisa ditahan, lebih baik ke rumah sakit saja. Mama papa, di rumah, kan?”
Pesan suara dari Elmer barusan, tak mampu merangkul hati Hyera. Hyera telanjur kecewa. Apalagi demi mempersiapkan penampilan terbaik karena tahu Elmer akan datang, Hyera sampai ngesot setelah sebelumnya sampai terban.ting-bant.ing.
“Gini nih, kalau terlalu berharap ke manusia! Jadi berpikir, kenapa aku enggak berjodoh sama malaikat saja!” kesal Hyera sambil menaruh ponselnya begitu saja di tempat tidur. Hyera terlonjak kaget lantaran tak lama dari ucapannya tadi, ada guntur dan sampai membuat kaca jendelanya turut bergetar.
“Astagfirullahaladzim ... aku sabar, ya Allah. Aku sabar!” lirih Hyera tak jadi meringkuk di tempat tidur. Ia masih terlalu syok. Namun mendadak, Hyera teringat kata-kata pak Helios yang memintanya untuk jadi wanita sabar.
“Kamu harus jadi wanita seperti mama kamu. Contoh kesabaran sekaligus ketangguhannya. Yang seperti mama kamu, yang bikin laki-laki enggak akan pernah berpaling.” Mengingat itu, Hyera jadi mengubah keputusannya. Ia yang terbiasa berkecukupan bahkan lebih dalam hal apa pun, berusaha bersabar.
Hyera memutuskan untuk membalas pesan Elmer.
Hyera : Urusan mendadak apa, Om? Semoga dilancarkan, ya 🙏
Namun meski sederet menu sarapan yang Elmer kirimkan sudah memenuhi meja makan di dapurnya, Elmer tetap belum merespons pesan balasan Hyera. Jangankan dibalas, dibaca saja, tidak.
“Gini ya ... kalau sudah dapat restu, jadinya malah terkesan menyepelekan!” batin Hyera yang jadi makin kecewa.
“Kamu pura-pura pesan makanan sebanyak ini, dan bilangnya kiriman orang, biar kamu enggak diledek Rain, yah, Dek?” tanya Boy selaku kakak Hyera.
Boy datang bersama anak kembar maupun istrinya. Namun, hanya karena Hyera membalasnya dengan lirikan sengit, Boy tak lagi menggodanya.
“Kelihatannya enak-enak banget ini,” ucap Boy. Baru juga mengambil sate telur puyuh dari bungkusnya, sang adik kesayangan selaku pemilik makanan di meja, sudah teriak.
Hyera layaknya orang kerasuka.n arwah jahat. Padahal yang Boy tangkap dari ekspresi jutek Hyera, sang adik tak mungkin memakan semua makanan yang ada di meja.
“Balikinnnn!” galak Hyera dan sukses membuat Boy takut. Boy buru-buru meletakan kembali sate telur puyuhnya.
Akan tetapi, kedatangan rombongan kakak-kakaknya bersama anak dan istri, atau suami masing-masing, tak kuasa Hyera halau. Mereka, khususnya Kim dan Brandon—kembaran Boy, langsung asal makan.
“Ah, kaliaaaan! Muntahin!” heboh Hyera.
Boy yang sebelumnya sudah kena peringatan keras Hyera, tidak bisa untuk tidak tertawa. Apalagi ekspresi Kim—kakak tertua mereka, benar-benar tak berdosa. Karena sambil bertanya apa maksud Hyera marah-marah heboh melarang makanan dimakan, Kim tetap makan apa pun yang ada di meja dan itu milik Hyera, dengan sangat santai.
“Apa sih, Dek! Makanan ya dimakan. Masa suruh dimuntahin. Lagian sebanyak ini, masa cuma kamu yang mau makan? Memangnya kamu enggak lagi diet? Tumben!” ucap mas Kim sambil mengaduk bubur ayam di mangkuk karena ia memang tim pemakan bubur ayam yang diaduk. “Enak loh ini ... Mas Aqwa, sini Papa suapin!”
Masih pagi, Hyera sudah merasakan hal-hal yang tidak ia inginkan. Pertama, mengenai Elmer yang tak jadi datang padahal Hyera sudah sampai dandan. Kedua, makanannya justru disikat oleh kakak laki-lakinya. Kedua kenyataan tersebut sudah langsung membuat mood Hyera yang tengah terganggu akibat tamu bulanan, jadi makin han.cur.
“Kumenangis ... karena makanan, kiriman kekasihku dimakan habis....” Boy sempat-sempatnya berdendang dan membuat perasaan Hyera makin tak karuan.
Kedatangan pak Helios, membuat status Hyera yang tak lagi jomlo, mengejutkan para kakaknya. Suasana di dapur yang awalnya mirip pasar karena keluarga besar sedang berkumpul, langsung senyap.
“Loh ... kok malah kalian yang makan,” ucap pak Helios sambil menatap Brandon dan Kim.
Boy yang cari aman, memang tak berani menyentuh makanan sang adik. Ia sengaja masak sendiri untuk keluarga kecilnya. Akan tetapi dari semuanya, ia menjadi yang paling sibuk tertawa.
“Ini aku dipaksa Mas Kim, Pa!” ucap Brandon cari aman. Ia buru-buru pergi sambil berusaha memunta.hkan makanan yang telanjur ia makan.
Sambil tertawa penuh kemenangan, Boy yang sedang memanggang ikan salmon berkata, “Hati-hati loh mas Brandon ... itu kalau makanannya sampai ada jampi-jampinya, nanti yang kena Mas sama Mas Kim!”
Mendengar itu, Brandon makin panik. Terlebih sejak remaja, Brandon sudah sering dikirim guna-guna.
“Kamu enggak sama Emran, kan, Dek?” tanya Calista selaku satu-satunya kakak perempuan Hyera. Sebab yang ia tahu, setelah cinta Emran selalu ia tolak dan akhirnya ia menikah dengan pria pilihannya, Emran memang jadi mengejar-ngejar Hyera.
“Bukan Mbak.” Hyera menjawab ala kadarnya. Sebenarnya ia ingin kembali ke kamar dan istirahat karena efek mens, membuat perut dan tubuhnya sakit parah. Namun ia tak mungkin melakukannya karena bersama kakak-kakaknya, sudah menjadi hal langka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Katanya gak suka dengan Elmer dan juga pernikahannya,Tapi kok ku lihat kelakuan Hyera sekarang kenapa malah seperti abegeh lagi jatuh cinta ya,Salah tingkah mulu,.😂
2025-01-27
0
Qaisaa Nazarudin
Lha ternyata Gak adek gak kakaknya ,Dua2 menolak si Emran,pasti ada sesuatu pada Emran yg bikin Hyera dan kakaknya menolak Emran ya...
2025-01-27
0
Qaisaa Nazarudin
Nah kan malah menunggu,Harusnya cuekin aja..Ini malah Hyera yg lebih salah tingkah...🤣🤣😜
2025-01-27
0