Satu hal yang Elmer syukuri di acara persiapan pernikahannya. Ia dan Hyera tak hanya berdua. Mereka ditemani ibu Chole. Tak terbayang andai Elmer benar-benar hanya berdua dengan Hyera, sedangkan mereka belum Sah, Elmer tidak yakin dirinya akan baik-baik saja.
Hampir seharian menjadi sopir untuk persiapan pernikahannya, akhirnya Elmer menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang rumah KPR berlantai dua. Elmer segera turun dan sengaja membukakan pintu untuk ibu Chole lebih dulu. Karena dari awal kebersamaan, itulah yang Hyera arahkan kepadanya. Ibu Chole dulu yang dibukakan pintu mobil karena Hyera akan melakukannya.
“Ih, ... di sebelah sudah ditanami pohon jambu air, mangga, sama jambu biji kristal. Bagus banget,” lirih Hyera yang tak segan melihat-lihat.
Hyera yang kali ini memakai setelan panjang warna putih sekaligus mengikat tinggi rambutnya yang diikal gantung, tetap membuat Elmer terpesona. Malahan di beberapa kesempatan ketika tak sengaja melihat Hyera, Elmer akan diam—hanyut memandangi wajah Hyera.
“Rumah kami yang ini, kan, Ma?” ucap Hyera sambil menunjuk gerbang rumah yang ada di belakang calon suaminya.
“Iya, ... papa sudah beli ini dari kapan ya. Sudah mau lima tahun, tapi memang jarang dicek. Awalnya kan mau buat Mbak, tapi tagihannya terlalu besar. Eh kebetulan kalian butuh tempat tinggal siap huni,” ucap ibu Chole sembari mendekati gerbang rumah sebelah. Rumah yang sebelah gerbangnya dihiasi tiga pohon buah.
“Ini buah kayaknya memang tidak asing deh,” pikir Hyera jadi deg-degan. Ia terlalu tegang bahkan takut. Terlebih, sang mama sampai menekan bel gerbang sebelah rumahnya.
“Ma, ... Ma. Firasat aku jadi enggak enak deh. Aku kayak enggak asing dengan buah-buah itu,” ucap Hyera sambil buru-buru lari dan bersembunyi di belakang punggung calon suaminya.
“Ada apa?” lembut Elmer heran dengan tingkah Hyera. Hyera terkesan sengaja bersembunyi di belakang punggungnya.
“Firasatku enggak enak, Om! Takutnya di sebelah memang rumahnya si Hasan,” ucap Hyera berbisik-bisik.
Sambil tetap melongok wajah Hyera, Elmer berkata lembut, “Kata papa kamu, rumah kita memang bersebelahan dengan rumah Hasan. Biar ada rame-ramenya. Namun papa kamu meminta saya untuk tidak mengabarkannya dulu ke kamu.”
“Hah?!” refleks Hyera mendadak seperti disambar petir di siang bolong.
Hyera sungguh tidak siap jika harus bertetanggaan dengan saudara laki-lakinya yang super jail, dan terus saja memperlakukannya layaknya bayi.
“Harusnya sih seru, kan? Namun jika kamu tidak mau, nanti pelan-pelan aku nabung buat bangun apa beli rumah pribadi yang lain,” lembut Elmer.
“Bukan itu masalahnya, Om,” lirih Hyera belum apa-apa sudah ngenes. Terlebih setelah suara Hasan juga sampai terdengar dan sudah langsung berisik.
“Wah akhirnya ... sebentar lagi aku punya tetangga! S—sayang, sini. Onty Chole sama Hyera sudah datang. Calon manten sudah datang nih!” heboh Hasan. Pria tampan itu segera membukakan pintu gerbangnya.
Ketika ibu Chole menanggapi dengan ceria dan tak segan memetik jambu air di sebelah gerbang, tidak dengan Hyera dan Elmer yang jadi bertatapan.
“Bener, ... rame!” ucap Elmer sambil menahan tawanya.
Lain dengan Elmer dan bagi Hyera tidak bisa untuk tidak menertawakan kebersamaan, Hyera malah cemberut.
“Rame apaan, ... berisik iya. Ini baru satu, nanti kalau lagi kumpul, berasa lagi nonton konser atau malah pertandingan bola yang fansnya sudah garis keras,” ucap Hyera lemas, tapi Elmer malah kelepasan tertawa.
“Kak Kei ihhh, suami kamu. Jail banget ini,” rengek Hyera.
Sepanjang kebersamaan, yang namanya Hasan sungguh tidak bisa diam. Pria yang kiranya seumuran dengan kakak kembar Hyera, terus saja jail sekaligus gemas kepada Hyera. Keina yang tak lain merupakan istri Hasan, sampai menggetok kepala Hasan menggunakan gagang sapu.
Rumah Hyera dan Elmer masih kosong, belum ada barang satu pun. Keadaannya pun masih ko.tor. Hingga datangnya mereka di sana juga langsung bersih-bersih. Elmer yang bersih-bersih dibantu oleh Hasan. Elmer tak mengizinkan Hyera ikut serta. Karena jangankan kepada cecak, kecoa, dan serangga lainnya. Sekadar ke sarang laba-laba yang tak sengaja jatuh saja, Hyera kerap ketakutan mirip orang kena sawan. Sementara alasan ibu Chole tidak Elmer izinkan membantu, memang sebagai wujud rasa hormatnya. Kendati demikian, mengingat waktu yang akhirnya makin petang, Hyera tetap bantu-bantu mengepel lantai ruang depan.
“Semangat Hyera! Ngepel itu butuh tenaga! Keluarin tenaganya!” ucap Hasan yang baru beres mengepel lantai atas.
Hasan juga membawa ember pel lengkap dengan pel tongkatnya. Hyera yang telanjur kesal kepada Hasan, tak segan memu.kul tongkat pelnya ke kepala Hasan.
“Nah, kayak gitu saja!” ucap Keina sengaja memberi dukungan. Ia yang sengaja masak-masak di teras bersama ibu Chole, langsung tertawa bahagia dengan Hyera.
“Enggak sangka, bakalan seseru ini!” batin Hyera yang kemudian menoleh ke belakang.
Hyera mendengar langkah cepat yang disertai aroma parfum calon suaminya. Akan tetapi, keputusannya itu malah membuatnya nyaris linglung. Iya, melihat Elmer yang berkeringat parah dan lengan panjang sampai disingsing hingga siku—bagi Hyera, itu juga keren parah!
“Amankan jantungmu, Hyera. Jaga pandangan kamu karena tuh orang lebih berbahaya dari covid!” batin Hyera menyemangati dirinya sendiri. Terlebih sejak awal menjadi semakin dekat meski mereka memulainya dengan kecelak.aan, Elmer memperlakukannya dengan sangat baik. Lembut sekaligus penuh perhatian layaknya sekarang. Elmer langsung mengambil alih tongkat pel maupun ember yang Hyera pakai.
“Duduk ... duduk saja,” lirih Elmer.
Ibaratnya, satu sampai sepuluh, ketika suara Hasan bisa melebihi sepuluh, sejauh ini suara Elmer tidak pernah lebih dari dua.
“Semoga, selamanya tetap lembut begini,” batin Hyera sambil diam-diam mengawasi Elmer yang mengambil alih pelnya. Masih ada satu ruang kecil dan itu merupakan ruang tamu yang tengah Elmer pel. Ruangan pertama di kediamannya, setelah teras rumah.
Beres bersih-bersih, mereka tinggal makan-makan sambil istirahat. Setelah di awal kedatangan mendadak memborong alat kebersihan, kini mereka tengah membahas isi rumah.
“Tiati loh, Om! Nanti semuanya serba warna pink! Terus dikasih pernak-pernik mungil menggemaskan serba pink juga! Bisa-bisa, bentar lagi Om juga diseragami pink!” ucap Hasan yang kemudian menghabiskan sisa makanan di piringnya.
Ibu Chole dan Keina jadi sibuk menahan senyum mereka. Karena memang sudah bukan rahasia umum, bahwa Hyera sangat menyukai apa-apa serba pink. Pernak-pernik mungil berwarna pink yang Hasan maksud juga benar adanya. Yang mana, Hyera memang mewarisi kegemaran serba pink sangat feminin itu, dari ibu Chole sebelum ibu Chole menikah dengan pak Helios.
“Nanti kalau punya anak cowok pun kayaknya dipakein serba pink! Ah, mirip masa kecil Rain!” lanjut Hasan.
Kali ini, Hyera yang duduk di sebelah Elmer dan mereka duduk di tikar, tertawa. Tawa yang juga menular kepada Elmer, meski sampai detik ini, Elmer melakukannya masih dengan malu-malu. Namun ketika tatapan mereka bertemu, baik Elmer maupun Hyera jadi diam sekaligus canggung. Mereka terlalu gugup di tengah dada mereka yang jadi berdegup tak karuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sandisalbiah
kalau apa² serba pink itu mah masuk kubu si Ojan tuh 🤭🤭🤭🤭
2024-07-31
1
azka myson28
kalo baca serba pink langsung teringat ojan😀😀😀
2024-06-28
1
Royani Arofat
waaah..istri hasan keina adik keenan suaminya mbak khalisa mbak mbi - mas aidan
2024-05-02
0