“Pantas ... pantas Papa melarang om El membiarkanku tinggal bersama keluarganya.”
“Beres ijab kabul, jika memang kami ingin istirahat dengan leluasa, kami dipersilakan tinggal di rumah kami. Malahan ibaratnya, memang pihak kami yang menyiapkan masa depan pernikahanku dan om El.”
Dalam diamnya, Hyera tengah merenung. Hyera duduk di pinggir tempat tidur di tengah suasana kamar yang sudah remang. Hyera hanya menyisakan lampu nakas di sebelahnya sebagai satu-satunya sumber penerangan di sana.
“Apakah papa memang sudah tahu semuanya? Malahan, sepertinya papa sengaja menjadikan pernikahan kami untuk menolong om El. Papa ingin om El keluar dari keluarganya yang cukup toxic. Apalagi mamanya. Astaghfirullah.”
“Awalnya, mungkin papa belum ada kepikiran begitu. Namun setelah kejadian aku dan om El, papa yang cukup tahu watak om El, sengaja menjadikannya sebagai calon suamiku. Kemudian seperti biasa, papa melakukan semuanya dengan cepat. Dari syarat om El boleh menikahiku, sebelum akhirnya papa memberi om El restu.”
“Ini masuk akal. Terus, keluarganya gimana? Aku enggak mungkin meminta mereka buat berubah. Aku juga enggak mungkin memutus hubungan mereka.”
“Nanti pelan-pelan kamu bahas dengan El. Soalnya setelah menikah pun, El bakalan Papa tarik buat urus usaha kita,” ucap pak Helios ketika Hyera sengaja menemuinya. “Biar saudara perempuannya enggak terus-menerus mempermasalahkan posisinya di perusahaan mereka.”
“Cobaan rumah tanggaku, ternyata keluarga suami,” ucap Hyera sambil menunduk dalam.
“Kamu pasti bisa. Anak Papa kan hebat-hebat. Termasuk kamu,” lembut pak Helios sambil membingkai lembut kedua wajah Hyera menggunakan kedua tangannya.
Hyera berangsur menatap kedua mata pak Helios. “Jujur ya, Pa. Baru tahu secuil kisah om El, ... aku sudah sedih banget. Pokoknya kasihan banget tuh orang. Apalagi orangnya pendiam, sabar banget!”
“Memang sudah mulai sayang, kan?” lembut pak Helios yang langsung membuat Hyera kikuk.
Hyera tersipu malu dan memang masih gengsi mengakui perasaannya kepada Elmer. Ia berangsur memeluk sang papa sebelum akhirnya minta digendong, diantar ke kamar.
“Pa ....” Hyera merengek manja.
“Enggak usah takut. Yang namanya orang dewasa memang harus menikah. Sementara untuk keluarga El, ... Papa yakin mereka juga akan menjadi bagian dari kedewasaan kamu,” ucap pak Helios. “Sudah bertemu jodoh yang baik. Apa kamu maunya sama yang suka mem.aksa sama pamer harta orang tua?”
“El, sudah bisa bikin kamu nyaman, kan? Harusnya sih sudah karena penilaian Papa termasuk ke jodoh anak-anak Papa, enggak pernah salah,” lembut pak Helios.
Pernyataan pak Helios barusan, membuat Hyera merasa sedih. Hyera jadi menangis haru sekaligus terisak sedu. Namun sebisa mungkin, ia berusaha menyudahinya. “Besok malam, ... kami boleh tidur di sini dulu, kan, Pa?”
“Tentu saja boleh. Kalau kamu mau tinggal di rumah orang tua El pun, justru lebih baik. Asal jangan lama-lama saja. Takutnya iman kamu kurang kuat dan kamu kelepasan taringmu!” ucap pak Helios yang kali ini sengaja bercanda.
“Tapi Pa ....” Tersedu-sedu, Hyera bertanya, “Kalau om El lebih membela apalagi memilih keluarganya ketimbang ke aku. Aku harus bagaimana?”
“Enggak mungkin. El sayang banget ke kamu. Pasti sebelum mengambil keputusan, El bakalan mengambil jalan tengah tanpa menyaki.ti kalian,” yakin pak Helios.
Setelah melangkah agak lama, suasana jadi sepi. Baik pak Helios maupun Hyera yang digendong, kompak diam. Namun setelah pak Helios menoleh ke sebelah kiriya selaku keberadaan wajah sang putri, nyatanya Hyera malah tertidur.
Pak Helios menurunkan Hyera dengan hati-hati.
“Bisa jadi, ini kesempatan terakhir Papa nyelimutin kamu. Karena mulai besok, kamu sudah jadi istri orang. Namun insya Allah, dia juga sayang banget ke kamu,” lembut pak Helios sambil membelai wajah maupun kepala Hyera penuh sayang.
Ketika pak Helios sangat dekat dengan putri-putrinya, ibu Chole juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan anak laki-laki mereka.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan penuh kehangatan. Sinarnya menyinari pagi ini lebih hangat dari pagi sebelumnya. Para wanita di kediaman pak Helios hampir beres dengan rias wajah mereka. Kerena mereka termasuk Hyera, memang melakukannya setelah beres shalat subuh.
Acara ijab kabul yang nantinya hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, akan dilangsungkan di kediaman pak Helios. Tampak saudara laki-laki Hyera yang sudah rapi dan memakai batik lengan panjang. Mereka tengah mengasuh anak masing-masing karena para istri masih belum beres rias.
Suasana rumah yang memang megah juga tak luput dari hiasan bunga-bunga segar. Janur kuning sebagai tanda hajat orang Jawa, juga melengkung di gerbang rumah. Nuansa yang begitu asri sungguh siap menjadi saksi.
Ketika akhirnya mobil jumputan untuk Elmer datang, satpam yang sudah paham, segera menyambut. Elmer membawa tiga rombongan mobil. Selain itu, Elmer juga tak mengemudi sendiri. Elmer sengaja dijemput oleh Hasan dan Rain, sesuai arahan pak Helios dan keluarga mereka.
Elmer memakai pakaian pengantin Jawa warna putih, lengkap dengan blangkon. Yang dengan kata lain, Hyera juga memakai pakaian pengantin berwarna sekaligus motif senada. Dan di kamarnya, Hyera yang baru keluar dari kamar mandi, memang baru saja memakai pakaian pengantinnya secara lengkap. Pakaian yang juga membuat penampilannya makin pangling.
“Deg-degan banget ya Allah. Napas saja mirip angin tornado,” batin Hyera yang kemudian memberanikan diri menatap sang mama.
Di hadapan Hyera, sang mama yang sudah memakai nuansa putih gading, berkaca-kaca menatapnya. Namun bisa Hyera sadari, di balik cadarnya, sang mama sudah tersenyum haru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Pak Ojan menjadi MC nya ya
2024-03-18
2
Firli Putrawan
blm dtg rombongan pa ojan sm yg dr kampung
2024-03-15
0
ERNY TRY SANTY
hrs kak..biar rame ketawa berjamaah,di acara nikahan Hyera 😂
2024-03-15
0