Pak Helios berdiri merenung di lantai atas yang membuatnya bisa melihat depan gerbang rumahnya maupun sekitarnya, dengan leluasa. Wajahnya begitu serius, hingga wanita bercadar hitam yang menyusulnya, jadi menatapnya penuh tanya. Hanya saja, wanita yang tak lain ibu Chole sang istri, tak berani langsung menegur.
Ibu Chole turut mengawasi apa yang tengah sang suami awasi. Tidak ada yang aneh karena di sekitar gerbang sana, tidak ada siapa-siapa. Selain itu, suasana siang ini juga tidak ada yang aneh. Matahari yang kembali terik, meski tadi sempat redup tertutup awan hitam yang mengiringi gerimis.
“Pa, dicariin cucu. Ini Papa masih nungguin Hyera pulang apa gimana? Lah, bukannya dari kemarin, Papa yang nenangin Mama. Papa bilang, orang Papa jaga Hyera yang terpaksa menginap di rumah Chelline? Papa bilang, ... Chelline sakit, makanya Hyera bantu jagain dia karena memang orang tua Chelline sedang di luar negeri?” ucap ibu Chole yang jadi uring-uringan sendiri.
“Ya sudah Mama mau susul Hyera ke rumah Chelline. Lagian, kenapa juga hape Hyera sampai enggak aktif!” uring ibu Chole lagi dan kali ini sambil melangkah pergi meninggalkan sang suami.
“Sudah, enggak apa-apa. Hyera sudah lagi di jalan,” lembut pak Helios sambil menoleh seiring ia yang juga sampai balik badan guna menatap sang istri.
“Oh ... Hyera sudah ngabarin Papa? Lewat apa?” Ibu Chole sengaja kembali menghampiri sang suami. Karena sebagai wanita yang telah melahirkan Hyera, ia sangat khawatir pada sang putri yang untuk kali pertamanya tidak pulang tanpa kabar. Akan tetapi karena sang suami memiliki banyak kaki tangan, ibu Chole masih berusaha berpikir positif. Ditambah lagi, dari sekitar pukul setengah sepuluh malam kemarin, sang suami sudah sangat sibuk meyakinkannya. Pak Helios sibuk meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.
“Coba mana buktinya kalau memang, Hyera sudah menghubungi Papa. Takutnya, Papa hanya ngadem-ngademin Mama, biar Mama enggak mondar-mandir gelisah menunggu kabar Hyera,” ucap ibu Chole sambil mengulurkan kedua telapak tangannya kepada sang suami.
Detik itu juga, pak Helios menghela napas dalam. “Memangnya, sejak kapan Papa bohong? Lagian, di keluarga kita, Mama yang jadi kepala rumah tangga. Mama yang memimpin dan atur semuanya. Papa takut bahkan tunduk ke Mama, ... mana mungkin Papa berani bohong,” ucapnya. Di hadapannya, meski sang istri masih terlihat belum yakin, wanita itu tampak berusaha menerimanya. Karenanya, ia sengaja memeluknya. Berharap, melalui pelukannya itu, ia bisa memberi ketenangan meski sedikit. Walau pak Helios juga sadar, sang istri bahkan dirinya, baru akan tenang setelah melihat Hyera secara langsung. Itu saja, Hyera wajib dalam keadaan baik-baik saja, baru mereka bisa benar-benar tenang.
“Opa ... Oma ...?” Suara cucu-cucu mereka dari luar balkon kebersamaan mereka, mengusik mereka.
Ibu Chole buru-buru keluar dari dekapan sang suami. “Kelupaan. Kan Mama punya mas Aqwa. Harusnya mas Aqwa tahu karena dia indigo!”
Mendengar ucapan sang istri, apalagi ibu Chole langsung buru-buru pergi, pak Helios juga segera menyusul. Ia melangkah cepat tak kalah dari sang istri. Hingga ia berhasil melampaui sang istri.
Ibu Chole sempat menatap aneh, gelagat sang suami, tapi karena pak Helios langsung menghampiri cucu kembar mereka—Handsome dan Hansol.
“Ayo ... ayo nonton spongebob. Katanya mau nonton sambil makan burger?” ucap pak Helios yang memang sudah mengemban kedua cucu kembarnya.
Dengan segera, Aqwa yang usianya paling tua dari semua cucu di sana, berkata, “Bukan burger, tapi Krabby Patty, Opa. Spongebob kan nyebutnya begitu.”
“Mas, ... coba, Mas bisa lihat, menerawang, onty Hyera ada di mana, enggak?” sergah ibu Chole sembari meraih sebelah tangan Aqwa. Bocah berusia enam tahun itu langsung menatapnya, tapi cenderung curi-curi pandang kepada pak Helios.
Mendapati itu, pak Helios sempat refleks menahan napas. Ia berangsur menggeleng. Aqwa yang memang bisa memberikan balasan akurat pertanyaan ibu Chole, hanya mengabarkan bahwa Hyera sedang di perjalanan. Aqwa paham kode keras dari sang opa.
Sekitar lima menit kemudian, pak Helios yang menggandeng Aqwa, keluar dari rumah. Mereka melewati setapak jalan di antara rumput hias nan hijau yang begitu menyegarkan penglihatan mereka.
“Onty Hyera memang tidak baik-baik saja, Opa. Dan aku lihat, ... sebenarnya Opa tahu.” Aqwa yang bersikap layaknya orang dewasa, menatap serius sang opa yang ia yakini sedang sangat sedih.
Aqwa yakin, sang opa sedang sangat terpukul dan itu masih berkaitan dengan keadaan Hyera. Hanya saja, pak Helios sengaja berusaha tenang agar tidak membuat yang lain apalagi ibu Chole dan Hyera sendiri, ikut sedih.
“Pria itu, ... dia orang baik. Dia tulus menyayangi onty Hyera. Nikahkan saja mereka daripada onty Hyera terus dijadikan bahan taruhan sama teman-temannya yang sangat toxic. Terlalu banyak yang iri ke onty, Opa ....”
“Apalagi meski nanti hubungan mereka tetap akan punya problem, mereka bisa melaluinya. Pria itu bisa bikin Onty nyaman banget. Karena pria itu mirip Opa,” lanjut Aqwa menutup penjelasannya. Penjelasan yang hanya ia kabarkan kepada sang opa, meski tadi justru sang oma yang meminta. Hanya saja karena Aqwa paham keadaan sang oma yang terlalu sensi.tif, Aqwa tak berniat mengabarkannya kepada ibu Chole.
“Jangan sama-samakan yang lain dengan Opa ah. Opa ini kan, tipikal pria langka. Ada, yang lebih bain dari opa?” ucap opa Helios dan langsung membuat Aqwa menertawakannya.
“Harusnya Opa senang karena onty punya jodoh yang baik. Apalagi kalau nanti onty Hyera hamil. Huh, dia bakalan tambah sayang ke onty, dan rezeki mereka pun makin naik!” lanjut Aqwa.
“Kamu ini anak indigo, tapi mirip cenayang, ya?” lirih pak Helios sambil tersenyum menatap sang cucu.
“Tapi harus tetap hati-hati sih Opa. Soalnya kalau aku lihat, di kehamilan awal, onty rawan kegugu.ran,” lanjut Aqwa dan langsung membuat pendengaran pak Helios seolah berdengung.
Dunia pak Helios seolah berhenti berputar lebih lambat. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari saku sisi celana panjangnya. Ia membuka aplikasi WA, dan mengirimkan foto Chelline ke kontak bernama Jack.
Bos Helios : Awasi dia selama 24 jam. Pastikan, kalian juga sampai menaruh beberapa CCTV untuk merekam aktifitasnya.
Jack : Siap, Bos!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Royani Arofat
meski bisa " melihat" masa depan tp ttep aja g bisa nyelametin hyera dr rudapaksa
2024-05-01
1
sepsept
aku malah takut kalau ada org yg bisa baca kayak gitu,..misal ni mau pergi aku ingin lewat jalan a, nh si anak itu komen ,enggak pokok ya kita harus lewat jalan b,..terus NNT jelasin akan ada ... ,malah horor
2024-04-02
0
Sarti Patimuan
Celline kamu salah membuat masalah dengan Hyera
2024-03-18
0