Baru memasuki area ijab kabul, Elmer sudah deg-degan. Tubuhnya panas dingin menahan gugup. Apalagi hampir semua mata sudah langsung memperhatikannya. Selain itu, kini juga bukan menjadi ijab kabul pertamanya. Karena sebelumnya, ia juga pernah melakukannya dengan Zoya. Meski karena sederet kekurangan yang Zoya tudingkan kepadanya, pernikahan mereka berakhir dengan perceraian.
“Haaaaiii!” Seorang pria tua berusaha mengagetkan Elmer, tapi malah terjatuh menggelundung akibat kain jarit yang dipakai. Blangkon di kepalanya sampai terlempar hingga kepalanya yang mulai botak, jadi kelihatan.
Kenyataan jatuhnya pria itu juga yang jauh lebih membuat Elmer terkejut, daripada mendadak disapa dengan suara keras. Hampir semuanya yang sempat terkejut, jadi tertawa. Namun karena terlalu khawatir, Elmer sengaja menghampiri kemudian membantunya bangun.
“Daddy ih, ... mirip anak paud!” ujar Rain mengambil alih. Membuat Elmer tak jadi membopong pria tua yang memang tidak lah lain pak Ojan.
“Daddy penasaran banget sama calon ipar Daddy lh, Rain. Walah sekali lihat ... tubuhnya mirip gapura kabupaten! Tegap begini, ... selera Hyera mirip sama seleranya mami brokoli. Sukanya yang tegap-tegap mirip gapura kabupaten,” ucap pak Ojan sambil memijat asal lengan, dada, maupun punggung Elmer.
Elmer yang sudah sampai jongkok, jadi menahan senyumnya. Padahal baru saja, ia bertanya-tanya. Siapa pria tua yang Rain panggil daddy di hadapannya. Karena dari tampang saja, keduanya tidak mirip.
“El, ... kamu pasti bingung, saya siapa?” ucap pak Ojan sambil berusaha duduk. Ia tak lagi mengeluh kesakitan akibat sakitnya.
“Saudaranya Hyera yang mana lagi?” batin Elmer. Di hadapannya, pak Ojan sudah duduk sila di lantai.
“Perkenalkan, kalau mas Brandon kembaran sama mas Boy. Saya ini kembarannya mas Aqwa. Eh, maksudnya kembaran bapaknya Aqwa,” ucap pak Ojan, benar-benar serius sambil mengangsurkan tangan kanannya. Ia siap menjabat tangan kanan Elmer.
“Maksudnya, kembaran yang lahir duluan, ya, MBAH?” balas Elmer dengan jujurnya sambil menyalami tangan kanan pak Ojan yang ia panggil “Mbah”. Ia menyalami tangan pak Ojan dengan sangat takzim.
Rain, Hasan, dan juga pak Helios yang baru datang, langsung tertawa dan memang menertawakan pak Ojan. Apalagi sejauh ini memang sangat jarang yang memanggil pak Ojan mbah, meski panggilan tersebut memang mendukung. Mengingat usia maupun penampilan pak Ojan memang sudah memasuki era sepuh.
“Sini, El. Mbah Ojan itu,” ucap pak Helios di sela tawanya. Ia berusaha menuntun Elmer untuk bangun.
“Papi ... kok malah panggil aku mbah juga!” rengek pak Ojan dan pak Helios makin menertawakannya.
“Udah, biarin saja. Si Ojan memang gitu. Efek IQ dia triliunan Celsius, jadi cara berpikirnya bisa bikin emosi orang panas dingin,” ucap pak Helios sambil menuntun Elmer untuk menyalami sekaligus berkenalan dengan anggota keluarganya yang sudah ada di sana.
Ketika Elmer sudah langsung pak Helios bimbing mengenal keluarganya, rombongan ibu Chole sengaja menyambut rombongan keluarga Elmer.
“Papanya anak-anak memang paling paham cara melakukan pendekatan ke orang asing termasuk menantu. Lihat saja si Elmer, sudah langsung klop dan panggil ke papanya anak-anak saja, sudah Papa," batin ibu Chole.
Di dalam kamar, Hyera yang awalnya sibuk bercermin menggunakan cermin pink, terusik oleh kehadiran saudara perempuannya. Mereka siap memboyongnya ke lokasi ijab kabul. Namun ternyata, yang menuntunnya itu saudara laki-lakinya.
Air mata haru tumpah membanjiri pipi setiap dari mereka. Hingga Hyera jadi tersedu-sedu. “Ini aku mau menikah loh, bukan mau transmigrasi. Kok malah ditangisi! Nanti make up aku luntur!” rengek Hyera.
Boy menjadi orang pertama yang menghampiri kemudian memeluk Hyera. Ia yang mewarisi sifat lembut sang mama, memeluk Hyera sangat lama. Kemudian baru Kim, dan terakhir Brandon. Sementara Calista dengan telaten mengelap air mata mereka menggunakan tisu kering.
Hyera berpikir, dirinya akan jalan dan hanya dikawal. Namun ternyata, Kim membopongnya. Para ponakan sampai heboh menyoraki Hyera.
“Ini beneran harus ada adegan begini? Ih aku malu ih!” ucap Hyera heboh berbisik-bisik.
“Kalau Hyera masih protes, lempar saja ke kebun sawit dekat rumahku Mas!” sergah Brandon yang memang paling irit bicara maupun ekspresi.
Hyera ngakak dan langsung diam ketika dengan perhatiannya, Boy meminta Kim untuk melempar Hyera ke kandang buaya saja.
“Biar jauh lebih bermanfaat kan? Tulang-tulangnya pun bisa bikin kenyang para buaya!” yakin Boy dan membuat yang lain sibuk menahan senyun.
Kedatangan rombongan Hyera sudah langsung menyita perhatian mereka yang ada di lantai bawah. Ketika akhirnya sampai di anak tangga terakhir, Hyera diturunkan dengan sangat hati-hati. Para kakak perempuan termasuk kakak ipar, segera merapikan pakaian Hyera. Kemudian, giliran si kembar Boy dan Brandon yang mengapit Hyera dari kanan kiri. Hyera mendekap keduanya dan siap diantar hingga meja Elmer menunggunya.
Suasana yang sudah dihiasi iringan musik gamelan khas Jawa, menjadi makin takzim atas kedatangan Hyera. Semua mata makin fokus kepada Hyera. Hyera yang kepalanya disanggul, memakai aksesori sanggul lengkap. Dari cunduk mentul, gunungan, chentung, termasuk juga dengan paes. Rangkaian bunga melati juga membuat penampilan Hyera makin anggun. Hingga mereka apalagi Elmer yang baru melihat, sampai tidak bisa berkata-kata.
“Hari-hari biasa saja sudah seanggun itu. Sekarang ... aku sampai tidak bisa berkata-kata,” batin Elmer yang berangsur bangun lantaran Hyera nyaris ada di hadapannya. Ia sengaja menarikan kursi di sebelahnya dan memang untuk Hyera.
Akan tetapi, pak Ojan yang sudah menyertai Hyera, malah duduk di tempat duduk Hyera. Kenyataan tersebut pula yang membuat suasana jadi heboh oleh jeritan dan juga tawa.
Elmer yang sempat syok dan turut tertawa, berangsur menuntun Hyera untuk duduk di tempat duduknya.
“Loh, berati kamu berharap saya yang menikahi Hyera?” todong pak Ojan dan langsung membuat Elmer bingung.
Ekspresi bingung dari Elmer juga yang membuat pak Ojan tidak tega. “Nggak tega aku Pi. Polos banget mirip masa mudaku,” ucap pak Ojan yang berangsur meninggalkan tempat duduknya.
“Berarti kamu mengakui kalau sekarang, kamu sudah tua, Jan?” tanya pak Helios yang memang sudah duduk di sana. Karena biar bagaimanapun, ia akan menjadi wali pernikahan Hyera.
Alih-alih menjawab, pak Ojan malah terbahak. Sementara yang terjadi pada Elmer dan Hyera, Elmer kembali menuntun Hyera duduk ke posisi semula.
“Deg-degan banget, padahal baru digandeng,” batin Hyera belum berani sekadar melirik kedua mata Elmer. Namun dari penampilan Elmer, bisa Hyera pastikan bahwa calon suaminya terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Karena memang tidak beda dengan Elmer yang begitu mengaguminya, sebenarnya setelah hubungan mereka mendapat restu dari pak Helios, Hyera yang mulai mengawasi Elmer dengan saksama, juga jadi mengagumi Elmer.
“Baru menggandeng, tapi sudah sangat deg-degan,” batin Elmer berangsur duduk di kursinya. Kini ia sungguh siap menjalani tahap selanjutnya dan itu ijab kabul. “Semoga ini yang terakhir. Ya Allah, izinkan kami bahagia. Hamba tidak berharap muluk-muluk. Cukup satukan kami dengan komitmen untuk terus bersama-sama hingga akhir, meski terkadang akan ada perselisihan kecil,” batin Elmer.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Dewi Muchay
ya ampun disamakan Ama gapura
2024-07-25
1
Sarti Patimuan
Semoga Hyera dan Elmer bisa menjadi pasangan samawa
2024-03-18
1
Raden Roro Natasya
duuh kok jd ikutan deg deg an juga ya.... semoga lancar ijab kabul nya
2024-03-18
0