“Aku deg-degan,” lirih Hyera yang kemudian melirik Elmer. Di sebelahnya, Elmer yang awalnya memimpin langkah, juga langsung menatapnya.
Hari ini menjadi hari kunjungan Hyera ke orang tua Elmer. Mereka harus melakukannya hari ini juga karena besok menjadi hari keduanya menjalani ijab kabul. Di kurun waktu yang begitu singkat dan mereka gunakan untuk mempersiapkan persiapan pernikahan, baik Elmer maupun Hyera, sama-sama mulai merasa dekat.
“Apa yang kamu khawatirkan padahal yang saya lihat bahkan mungkin juga orang lain, ... kamu sempurna?” lembut Elmer menatap Hyera sungguh-sungguh.
“Hah ...? Jadi, di mata Om, aku gitu?” lirih Hyera agak terkejut.
Elmer yang masih menatap Hyera, mengangguk-angguk. “Setidaknya, kamu jauh lebih beruntung dari yang lain.”
“Iya juga sih ... aku beruntung,” ucap Hyera yang mendadak terdiam dan merenung. “Biasanya di balik keberuntungan, ... orang-orang akan mempertanyakan luka yang membuat orang itu menjadi beruntung. Papa mama bahkan percaya, proses selalu membuat seseorang membangun kebahagiaan. Ibaratnya, ... jangan melihat seseorang dari yang sekarang. Lihatlah proses mereka hingga bisa seperti sekarang,” batin Hyera.
“Jangan terlalu dipikirkan,” lembut Elmer sengaja menyudahi kekhawatiran Hyera. Sebab di matanya, diamnya Hyera karena tengah berpikir serius.
Elmer tengah berusaha membuat calon istrinya nyaman. Meski tidak banyak bicara apalagi menuntut, tangan kanan Elmer berangsur menahan sedikit punggung Hyera. Elmer berusaha merangkul tanpa benar-benar menyentuh Hyera. Takut Hyera merasa tidak nyaman jika ia sampai menyentuhnya secara berlebihan. Bahkan meski sebelumnya, mereka sudah melakukan hubungan sangat jauh.
Rumah orang tua Elmer dan itu rumah pak Alandra dengan istri pertamanya, tidak lebih mewah dari rumah orang tua Hyera. Malahan, bangunannya terbilang sudah tua. Hanya saja, rumah dengan tiga lantai dan halamannya cukup luas tersebut, terbilang mewah ketimbang rumah di sekitarnya.
Seorang satpam sudah membantu Hyera membawa parcel buah terbilang sangat besar. Sementara tangan kanan Elmer membawa dua karton yang sebelumnya Hyera tenteng. Semua itu merupakan bawaan Hyera untuk orang tua Elmer.
“Enggak usah lepas sepatumu,” lirih Elmer sambil membiarkan kedua kakinya melepas sepatu pantofel hitam yang dikenakan.
Hyera menatap aneh calon suaminya. Bagaimana bisa, Elmer melarangnya melepas alas kaki, sementara Elmer saja melepas sepatunya?
“Eh, ... enggak usah dilepas,” lembut Elmer kembali menegur Hyera lantaran Hyera malah bergegas melepas sepatu flat warna merahnya.
“Lah, ... Om saja lepas sepatu. Masa aku enggak? Yang ada nanti aku dianggap enggak sopan,” lirih Hyera. Karena meski ia terlahir di keluarga berada, untuk urusan sopan santun, Hyera tetap dididik keras. Apalagi ketika Hyera masih belasan tahun dan sedang bandel-bandelnya. Hyera layaknya anak pada kebanyakan. Hyera sempat tidak diberi uang jajan dalam kurun waktu cukup lama, akibat kesalahannya.
Ternyata keluarga Elmer yang di sana, sangat segan kepada Hyera. Ibu Anna selaku istri pertama pak Alandra, juga meminta Hyera untuk tidak melepas alas kaki. Alasannya agar kaki Hyera tidak kot.or, padahal semuanya tidak memakai alas kaki. Bukan hanya Elmer saja yang perhatian. Karena orang tua Elmer, termasuk saudara Elmer, juga sangat perhatian kepada Hyera.
Pak Alandra sampai tidak pergi kerja hanya demi menyambut kedatangan Hyera, dan ibu Anna sebut sebagai calon menantu kesayangan mereka. Akan tetapi alih-alih bahagia, kenyataan tersebut malah membuat Hyera jadi tidak nyaman. Karena yang Hyera mau, mereka cukup bersikap sewajarnya. Bagi Hyera, apa yang ia terima di sana, justru tidak wajar. Mirip hubungan toxi.c, yang membuatnya disayang-sayang, hanya karena status sosialnya.
Di sana, Elmer merupakan satu-satunya anak laki-laki. Karena kedua kakak sekaligus kedua adik Elmer, merupakan perempuan. Kenyataan tersebut pula yang membuat Hyera berpikir. Jangan-jangan efek belum punya anak laki-laki, di masa lalu, pak Alandra memiliki hubungan dengan ibu Ami, hingga lahirlah Elmer? Banyak kan, orang berpikir pic.ik seperti pak Alandra. Hanya karena yang ada belum bisa memberinya anak laki-laki, dia bersikap seenaknya!
“Alhamdullilah, selama ini aku tumbuh di lingkungan keluarga yang hangat. Soalnya di sini, mereka terkesan banget harus menahan luka. Mereka memang di sini, mereka bahkan mengobrol dan tersenyum, tapi pikiran dan hati mereka entah di mana?” batin Hyera berusaha menyatu dengan keluarga Elmer.
Sampai detik ini, Hyera masih duduk di sebelah Elmer. Namun, Hyera juga terus dirangkul oleh ibu Anna. Sebelah tangan kanan Hyera selalu digenggam erat oleh wanita cantik itu.
“Iya, ketimbang ibu Ami mamanya om El, ibu Anna beneran jauh lebih cantik. Lihat saja, saudara perempuan om El juga cantik-cantik. Ini bukti bahwa kecantikan ibu Anna memang alami. Memang pak Alandra yang enggak bersyukur sih. Sudah punya istri cantik, masih saja bikin perk.ara. Hm, ... bismillahirrahmanirrahim. Semoga yang begitu jauh-jauh dari rumah tanggaku,” batin Hyera agak terkejut ketika jemari tangan Elmer tak sengaja menyenggol dan memang nyaris menimpa punggung jemari tangan Hyera yang tidak digenggam ibu Anna.
Gugup dan canggung, Hyera maupun Elmer rasa detik itu juga. Di tengah kenyataan mereka yang kompak makin deg-degan, Elmer nekat menggenggam sebelah tangan Hyera.
“Hmmm, tetap saja gugup,” batin Hyera berusah menghindari kontak mata bahkan sekadar melirik Elmer. Hyera khawatir, jika ia sampai melakukannya, efek gugupnya makin parah.
***
Beres dari rumah pak Alandra, Hyera dibawa Elmer menemui ibu Ami. Ibu Ami masih tinggal di tempat khusus. Namun, wanita berkepala pelontos itu tampak jauh lebih sehat. Ibu Ami bahkan jadi sering tersenyum dan mulai banyak bicara.
“Kalau besok kalian ijab kabul, terus Mama bagaimana? Mama pengin ikut,” rengek ibu Ami. Ia menatap sedih kedua wajah di hadapannya.
Elmer yang duduk di sebelah Hyera, kali ini terang-terangan menggenggam tangan kanan Hyera. Elmer menyimpan tangan kanan Hyera yang ia genggam menggunakan kedua tangannya, di pangkuan. Elmer tahu, Hyera sudah mulai tidak nyaman. Apalagi sedari awal datang, bukannya menanyakan kabar Hyera, yang ibu Ami bahas malah pakaian, perhiasan, tas, dan juga sepatu Hyera yang diyakini wanita itu berharga mahal. Termasuk juga mengenai kulit maupun rambut Hyera dan di mata ibu Ami sangat indah—sempurna. Ibu Ami yakin, kenyataan itu karena perawatan rutin nan mahal yang Hyera jalani.
“Sabar, ... Hyera. Mungkin ini bagian dari cobaan rumah tangga kamu. Yang penting, Om El tetap tanggung jawab ke kamu. Yang penting, ... Om El tahu batas dan kewajibannya ke kamu!” batin Hyera menguatkan dirinya sendiri. Apalagi di sebelahnya, Elmer sudah lebih dulu melakukannya, kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sandisalbiah
semoga keluarga Elmer bukan keluarga toxic yg penuh kepuraan alias pura² baik di depan Hyera krn setatus Hyera ya..
2024-07-31
0
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
waiitttt!!! jadi elmer ini anak tengah?
trus ngapain pake selingkuh hanya karena gak punya anak laki? kan sebelum selingkuh , alandra baru punya anak dua ,trus alasan mau punya anak laki jadi selingkuh? trus setelah dapat itu ...ngapain punya anak lagi, malah dua pula.
yang adik elmer itu anaknya siape? alandra dengan istri pertama atau atau ibunya elmer?
gw gak ngerti jalan cerita keluarganya gmn sebenarnya...kek berbelit banget. tinggal inti aje alandra selingkuh karena suka sama ami trus lahirlah elmer, gak usah pake sebut keturunan mau laki" kalau pada ujungnya aja alandra punya anak lagi dua dibawah elmer.
apa dya masih mau cari anak laki lagi? kalo gak dapat lagi? selingkuh lagi😪
2024-03-27
0
Sarti Patimuan
Hyera punya dua ibu mertua
2024-03-18
0