Zoya masuk jeba.kan Chelline.
Niat hati mendatangi kamar hotel yang Chelline maksud untuk melanjutkan rencana sekaligus misi mereka kepada Hyera. Yang ada Zoya justru menyesal seumur hidup. Tak semata karena tua bang.ka yang menyek.ap Chelline di sana, melec.ehkan dan berulang kali memperlakukan Zoya maupun Chelline layaknya buda.k s.eks. Karena fatalnya, kejadian itu sampai direkam layaknya film dewa.sa.
Rekaman tersebut juga yang membuat Chelline dan Zoya tak ubahnya menelan buah simalakama. Melawan apalagi kabur, video mereka disebar. Bertahan dan membiarkan tubuh mereka dipakai suka-suka dan tak jarang diikat bahkan diborgol, juga tidak lebih baik.
“C—Chelline ... aku benar-benar menyesal sudah berurusan dengan kamu!” batin Zoya. Air matanya sudah habis karena apa yang ia dapatkan dari si tua bang.ka, dirasanya sudah sangat lama. Zoya yakin, ia yang jadi kehilangan naf.su makan, sudah ada dua atau tiga hari di sana.
“Gara-gara kamu, aku jadi bud.ak se.ks tua bang.ka tak beradab ini. Harga diriku benar-benar hancu.r. Karena dia bahkan menjadikanku model video de.wasa. Dia mendapatkan banyak untung karena videoku langsung laris diunduh! Ba.jingan kamu Chelline!” batin Zoya benar-benar emosi. Terlebih sampai detik ini, ia masih tidak memakai paka.ian. Kedua tangan diikat ke punggung ranjang tempat dirinya berbaring, sementara di depan kedua kakinya sudah dihiasi kamera. Kamera tersebut merekam menjadi video, dan hasilnya tak hanya menjadi bahan agar Zoya tun.duk. Karena video-video yang dihasilkan juga dijual oleh si tua bangk.a.
Di tempat berbeda, Elmer baru saja memarkir mobilnya. Kali ini, ia terpaksa memarkir mobilnya di depan rumah tetangga yang belum dihuni. Terbilang agak jauh dari depan gerbang rumah bersamanya dengan Hyera. Sebab persis di depan rumah bersamanya dengan Hyera, ada truk. Beberapa sofa mulai diturunkan dari truk.
“Tadi kayak lihat mobilnya om El?” batin Hyera berusaha melongok ke luar area rumahnya, dari teras keberadaannya.
“Harusnya enggak salah dengar,” lirih Hyera yang memang sudah hafal suara mobil calon suaminya.
Hyera masih sibuk mengatur perabotan dan memang baru diturunkan dari truk yang mengantar. Berbeda dari dua hari lalu, kali ini ia ditemani oleh kakak perempuannya. Karena ibu Chole masih harus mengurus keperluan acara ijab kabul. Jadi, memang dibagi-bagi tugas.
Rasa penasaran Hyera yang sibuk memastikan kebenaran kedatangan Elmer, akhirnya terbukti. Sebab di depan sana, Elmer yang memakai kemeja abu-abu disingsing hingga siku, membawa masing-masing dua kantong besar, di kedua tangannya. Dunia Hyera langsung tidak baik-baik saja. Dunianya seolah menjadi berputar lebih lambat, sementara jantungnya jadi berdegup lebih keras.
“Oke, ... sepertinya ini tanda bahwa jiwa dan ragaku sudah mengenalinya sebagai calon suami,” batin Hyera menyambut kedatangan Elmer dengan senyuman. Sebab yang bersangkutan juga sudah tersenyum. Meski senyum Elmer cenderung masih senyum tipis malu-malu.
Yang Hyera tahu, Elmer membawa makanan maupun minuman dari restorannya. Ia berangsur menghampiri. Niatnya ingin membantu Elmer, meski sebenarnya hanya basa-basi agar tidak terlalu gugup. Namun lagi-lagi, Elmer tidak mengizinkannya.
“Sudah lama, ya?” tanya Elmer.
“Belum ada satu jam,” balas Hyera belum berani menatap kedua mata Elmer.
“Terus si Hasan, belum pulang apa gimana? Sepi,” ucap Elmer yang kemudian memastikan waktu melalui arloji. Di arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya, waktu sudah pukul setengah lima sore.
“Sudah jam segini, masih terang banget,” lanjut Elmer yang kemudian memberikan satu kotak khusus kepada Hyera. Itu merupakan makanan pesanan Hyera dan sampai dikasih nama ‘Non Hyera’.
“Ringan banget loh, isinya apa saja, sih? Apa jangan-jangan, kamu diet?” heran Elmer yang memang tidak bisa untuk tidak perhatian.
“Ya enggak diet. Aku memang sudah biasa banyak makan buah, sayur, sedikit nasi, sedikit daging, banyak ikan,” jelas Hyera sambil meletakan kotak makanan miliknya di meja. Itu merupakan meja pesanannya, tapi belum dimasukan ke dalam rumah.
“Berarti terbiasa diet?” lembut Elmer.
“Bukan diet, Om. Melainkan hidup sehat,” rengek Hyera meyakinkan.
“Pantes, kemarin si Hasan bilangnya gitu,” balas Elmer lagi dan tanpa ia sadari, mulai banyak bicara. Ia bahkan jadi menahan tawa ketika Hyera merengek sebal kepadanya hanya karena ia menuduh calon istrinya itu diet.
“Om jangan percaya kata-kata Hasan, maupun yang namanya Rain. Bahaya,” rengek Hyera.
Namun dengan enteng, Elmer berkata, “Kalau begitu, nanti dua orang tadi, bisa sekalian diajak kolab!”
Hyera yang awalnya marah, jadi tertawa bahagia sambil mengguncang gemas sebelah lengan Elmer. Kemudian, Elmer sengaja memanggil semua karyawan yang mengantar perabotan di sana, untuk makan dulu.
“Enggak nanti saja kalau sudah beres, Om? Biar enggak bolak-balik kerja,” ucap Hyera sambil meminum segelas es lemon tea—nya. Es yang juga Elmer bawa dari restoran Hyera.
Keluarga Hyera memang memiliki banyak usaha dan salah satunya di bidang kuliner. Semua anak orang tua Hyera dimodali restoran maupun rumah makan, kecuali anak angkat yang bernama Ojan. Karena Ojan memang artis terkenal dan pendapatannya fenomenal, tapi bakatnya meminta warisan.
“Enggak apa-apa. Pekerja seperti mereka gampang capek sekaligus laper. Apalagi enggak setiap hari mereka bisa makan lebih dari sekali. Enggak semua klien juga sampai kasih mereka makan,” ucap Elmer mendadak melow. Kemudian, sambil menatap Hyera ia berkata, “Aku pernah kerja jadi kuli hampir satu tahun. Jadi aku paha. kondisi mereka!”
Hyera yang awalnya sibuk menyedot lemon tea, langsung bengong.
“Kan sebelum ikut papa, hidupku beneran susah,” yakin Elmer.
“Kayaknya sampai sekarang juga masih susah deh. Soalnya pasti enggak mudah hidup di keluarga yang bukan sepenuhnya keluarga kandung. Mama kamu saja sampai diguna-guna. Ya meski memang mama kamu yang salah,” batin Hyera yang tak mungkin mengatakannya karena memang tidak berani.
Tak lama kemudian, mereka benar-benar makan bersama. Hyera dan Elmer kembali duduk bersebelahan di sofa yang belum dilepas plastik pengamannya, sementara Calista—kakak perempuan Hyera, duduk di sofa tunggal. Calista duduk agak jauh dari kebersamaan Hyera dan Elmer.
“Masa cuma makan itu? Mana ada tenaga. Gizi pun kayaknya kurang,” lirih Elmer yang kemudian menyiapkan satu sendok makanan miliknya, kemudian berusaha menyuapkannya kepada Hyera.
“Dari SMP, Hyera sudah diet, Om. Jarang banget makan nasi dalam porsi wajar,” ucap Calista yang memang cenderung sibuk dengan ponsel.
“Soalnya dari semuanya, tubuh aku yang paling subur, Mbak!” balas Hyera yang memang lebih terdengar sebagai bentuk protesnya.
“Lain sama yang lain. Makan banyak, timbangan tetap dan emang enggak jadi daging. Sementara aku, makan nasi satu sendok, jadi daging satu kilo!” lanjut Hyera yang memang langsung membuat dua orang yang ada di sana, refleks menertawakannya.
“Sudah, ... sudah. Kamu harus makan nasi. Jangan jahat ke diri sendiri. Tubuh kamu juga butuh nasi!” ucap Elmer berusaha membuat Hyera menerima suapan darinya.
“Sudah, makan saja, Dek. Punya suami, otomatis ada yang urus. Soalnya kalau kami, bahkan papa mama nasehatin kamu, yang ada kami nangis karena kamu nasehatin balik!” ucap Calista masih menahan tawa.
Karena Hyera tak mau menyinggung apalagi menyakiti Elmer, Hyera pun menerima suapan dari calon suaminya.
“Makan yang banyak,” lembut Elmer malah jadi semangat menyuapi Hyera.
“Jangan banyak-banyak, Om!” protes Hyera yang tanpa ia sadari, sudah mulai manja kepada Elmer.
“Oke, ... kamu yang makan, aku yang dapat daging!” ucap Elmer yang jadi ikut tertawa lantaran Calista mendadak tertawa gara-gara ucapannya barusan.
“Siapa yang makan, siapa yang dapat daging,” ucap Calista di sela tawanya.
Hyera yang tetap menerima suapan Elmer, jadi makin kikuk.
***
Aku harus nulis yang seperti apa? Cara nulis gimana? Aku nulis juga ngikutin peraturan loh. Temen editor sama orang penerbitan saja sampai bingung sama komentar seperti di SS. Aku down, sudah beberapa pembaca di NT intinya gini. Moga masih bisa lanjut nulis ya. Urus kesibukan dunia nyata dulu 🙏🙏🙏🙏😭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Fafia Cinta Kasih
tulisan ny dah bagus, gampang dpahami kok.
2024-12-27
1
Sandisalbiah
aku mikirnya jgn kan buat jd penulis.. lha wong ngetik komenan aja typo berlomba pengen eksis sampai nongol semua..konon lagi para penulis.. yg harus menunjukan apa yg ada di angannya, bentuk hayalanya dlm wujut kata² yg di susun jd cerita dlm bentuk tulisan... semua org bisa menghalu tp tdk semua org bisa menjadikan kehaluannya itu jd sebuah karya.. krn menulis juga ada ilmunya.. ada aturannya dan gak semua org faham akan hal itu.. intinya.. semua karya kk Rositi itu keren² dan masalah penulisan itu bentuk iktiar dr sang penulis buat memudahkan jalan agar hasil karyanya bisa segera lolos revisi itu mah sah² aja, toh niatnya itu agar pembaca bisa segera terpuaskan dgn kelanjutan cerita yg buat penasaran kan?? what ever lha.. kk Ros, yg penting kk tetep sehat, semangat dan karya²nya selalu sukses dan berkesan di hati para readers ..SEMANGAT KAKAK...
2024-07-31
0
Rosmazita Imah
ignore it sis. commen yg x membina dan x bermanfaat. saya pembaca dari malaysia pun boleh faham jalan ceritanya. x kan org indo sendiri x faham.
2024-06-24
1