Bab 18 : Ketidaksukaan Hans

"Ap-apa? Eksternal Aura?" Arkam tersentak mendengarnya. Itu tidak masuk akal baginya dan tampak benar-benar palsu. Bahkan dia saja yang dipanggil genius, kesusahan mempertahankan Eksternal Aura, tapi kutu buku itu tiba-tiba bisa menguasainya? Mustahil.

"Tidak masuk akal, kan? Itulah sebabnya aku meminta diadakan sesi sparring dengannya. Dengan begitu, aliran energi magis dari Artefak yang paling halus pun akan mudah ditangkap mata!"

Arkam masih terdiam dengan tatapan bingung saat Pionir Haynes memberi penjelasan, "Kepala keluarga sudah menyetujuinya dan bimbingan Ksatriamu terpaksa diundur sampai pengujian Eksternal Aura Arthur selesai. Kami di sini untuk memberitahumu hal itu."

"Kakek sendiri yang mengusulkannya?" Arkam mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak bisa melupakan didikan ketatnya—bahkan ketika dia membangkitkan Aura pada usia dua belas tahun, Kakeknya tidak memiliki reaksi khusus, tapi kakeknya yang kaku itu menyiapkan sesuatu seperti ini?

"Kapan?"

"Sekarang. Lapangan tanding sedang disiapkan."

Arkam tiba-tiba menyeringai tajam. "Aku tidak tahu trik apa yang coba kamu mainkan, tapi sayang sekali hal itu tidak akan berhasil. Kamu mungkin bisa menipu Kakek, tetapi tidak dengan Pionir Haynes. Aku bersedih untuk statusmu, tapi itu bagus, dengan begitu kesempatan keluargaku mengambil alih penuh kekayaan keluarga Mahesa akan naik drastis," batinnya.

***

Saat Arthur keluar dari kantor Bendahara dan hendak kembali ke ruang perjamuan, di bagian lorongnya, dia melihat sesuatu yang membuat matanya melebar. Berdiri di depan pintu masuk adalah sosok yang familiar.

"Ayah?"

Dari panggilan itu, Hans juga memperhatikannya dan berjalan mendekat. "Kemana Saja Kamu?" Dia bertanya.

"Hanya berkeliling." Arthur menjawab dengan polos sembari menahan keinginannya untuk pergi.

Hans memijat dahinya yang sakit ketika dia melihat pipi putranya itu. Dia mendengar dari para penjaga bahwa Arthur berkelahi dengan Harish, sehingga ia dihukum oleh Kepala Keluarga.

"Apa kamu barusan menemui paman dari pihak ibumu?"

Arthur kaget dan meneguk ludahnya. Rupanya, ayahnya mengetahui apa yang ia lakukan bahkan niatnya, dan dia tampak sangat tidak menyukainya. Ini sangat buruk bagi Arthur. Kepercayaan ayahnya adalah pondasi besar bagi rencana balas budi yang ia siapkan, seandainya ayahnya curiga dan menjauhinya, Arthur akan kehilangan segalanya.

Arthur mulai memutar otaknya, dia tahu dia harus melakukan sesuatu tentang masalah hubungan ayah dan anak ini.

Hans menggenggam kedua bahu Arthur, menekannya degan erat dan membentaknya, "Berhentilah!" Pembuluh darah pria itu menyala dan secara sadis melempar tubuh Arthur ke tembok.

"Dasar idiot! Matamu menjadi seperti ini hanya karena perempuan?!" Hans sangat tidak menyukai sorot mata Arthur yang sekarang, itu dipenuhi dengan kesombongan dan keserakahan, sangat jauh dari putranya yang ia kenal sangat pemurah.

Tembok biru yang menawan itu kini bercorak merah. Tubuh Arthur yang lemah langsung hancur dan dia tersandar secara menyedihkan. Hans tahu bahwa putranya terluka, tetapi dia tidak peduli. Menurutnya, lebih baik anak ini mati di tangannya daripada di tangan orang lain gara-gara matanya itu.

"Nak, dengarkan ayah. Terlalu serakah akan merusak diri sendiri!" Kesombongan dan keserakahan adalah hak bagi mereka yang kuat sedangkan Arthur sangat lemah. Dengan mata seperti itu dia hanya akan menyinggung orang lain dan memperbanyak musuh ditiap langkahnya.

"Jangan berharap sesuatu yang terlalu tinggi dan jangan memikirkan hal yang sia-sia. Aku dan ibumu sepakat tidak akan menambah anak karena memikirkan masa depanmu, tetapi apa-apaan yang kamu lakukan ini? Beraninya kamu menentangku! Terima saja bengkel besi yang akan aku wariskan sepenuhnya padamu dan berpuas dirilah!"

Arthur tertawa dengan darah yang muncrat dari mulutnya. Meski tubuh ini lemah dan memiliki kesehatan yang buruk, darah sang iblis yang melalui metamorfosis sempurna mengalir di dalamnya. Regenerasi tubuhnya terlampau cepat dan dia menjadi abadi sampai batas tertentu.

"Ayah, aku tahu itu. Keserakahan selalu berakhir dengan kehancuran diri." Arthur paham betul mengenai itu, dan jika dia tarik garis hidupnya, dia akan mendapati banyak contoh sempurna dari keserakahan yang berujung kehancuran.

"Namun, aku belajar bahwa jika aku tidak serakah, apa yang aku miliki sekarang justru akan direnggut dari tanganku. Seperti halnya apa yang akan terjadi dengan bengkel besimu itu. Apa ayah pikir ayah bisa mempertahankannya dari Paman dan Bibi?"

"Apa? Dasar anak bodoh. Apa keserakahanmu yang besar itu berasal dari rasa takut!?" Kekecewaan segera memenuhi perut Hans, dan dia merasa ingin muntah pada saat itu juga. Dia selalu mengutuk saudara dan saudarinya yang meringkuk takut kalau-kalau jatah warisannya akan diambil oleh yang lain, tetapi ternyata darah dagingnya pun menjadi pengecut seperti itu.

"Meskipun selalu diremehkan dan direndahkan, ayahmu ini tetap pewaris yang sah dan salah satu pemilik suara kuat di keluarga ini. Ayah akan mempertahankan bengkel itu dengan negosiasi mundur dari kursi ahli waris ataupun sebagai hadiah kenetralan suara! Bengkel besi itu tidak akan lepas dari genggaman kita bagaimanapun! Ketakutanmu tidak ada artinya!"

Arthur berdiri seperti mayat yang bangkit dari kubur dan memanfaatkan celah keterkejutan Hans untuk bergerak cepat kemudian menyerang titik tumpunya. Dalam waktu yang singkat, dia mengerahkan seluruh kekuatannya dan membanting Hans ke lantai. Adrenalin dan endorfin melahap habis dirinya, dan mentalnya terbakar. Karena luka fisik yang berat, dia menjadi teringat kembali dengan medan perang. Iblis amarah bangkit di dalam hatinya.

Mata merahnya menjadi dingin dan ekspresinya menunjukkan rasa haus darah yang besar. "Ketakutanku tidak ada artinya? Ayah, kepercayaan dirimu itulah yang tidak berguna!"

Hans bangkit dan menendang Arthur ke sisi lorong menuju taman. "Apa yang kamu bicarakan! Eh!?" Mata Hans terbuka lebar begitu pula dengan mulutnya. Keluarga Mahesa terkenal dengan tubuh mereka yang besar dan tenaga mereka yang kuat, meskipun dari tadi dia tidak menggunakan Aura, dampaknya seharusnya sudah cukup untuk membuat anak lemah itu terbaring berbulan-bulan di ranjangnya.

Namun, apa sebenarnya yang sedang ia lihat sekarang. Alih-alih sekarat, Arthur malah berdiri dengan tegap di sana seolah-olah tidak menerima kerusakan apapun. Adapun selain itu, benang-benang Aura yang menahan tubuh anak itu lebih mengejutkannya. Benda itu bergerak-gerak seolah-olah memiliki kehidupan sendiri dan sepertinya masing-masing dari mereka terikat di jari tangan Arthur. "Eksternal Aura? Bagaimana mungkin...."

Arthur menaruh kedua tinjunya di pinggang saat dia berkata, "Mungkin." Dengan itu dia melempar dirinya ke belakang, ke tempat benang-benang itu terikat di tiang dan menggunakannya seolah-olah ketapel. Arthur melesat bagaikan peluru dan Hans memilih untuk menerima serangannya secara langsung, toh ini adalah Arthur, apa yang bisa ia lakukan dengan tubuh kecil yang tidak terlatih itu? Paling-paling dia malah melukai dirinya sendiri.

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!