Tubrukan terjadi. Hans dengan dingin mengayunkan tinjunya ke bawah dengan keras dan membuat putranya itu jatuh ke lantai. Arthur mencoba bangkit kembali, tetapi Hans dengan dingin menendangnya ke sisi tembok yang sama dengan yang pertama kali.
Dasar dari seni bela diri keluarga Mahesa adalah penempaan tubuh dan setiap orang menempa bagian tubuh yang berbeda dan dengan cara yang berbeda-beda pula. Hans Al Mahesa adalah seorang penempa besi, serangan ke bawah adalah keahliannya. Lucunya serangan mematikan itu justru dia gunakan kepada orang paling lemah di keluarga ini, putranya sendiri.
Hans menarik napas lega. Tubuhnya gemetar dan ada rasa hampa yang tertahan di tenggorokannya. Itu terjadi sepersekian detik, tetapi dia mungkin saja dikalahkan. Entah kebetulan atau dia memang ahli, tetapi putranya itu menyerangnya dengan seluruh kekuatannya dan secara tepat mengincar jantungnya.
Arthur menutup wajahnya dengan satu tangan. Air matanya nampak jatuh, tetapi mulutnya tertawa terbahak-bahak. "Berhenti melucu. Ayah, bengkel besi dan tambang di belakangnya adalah satu paket. Bengkel besi memang bisa mereka berikan, tetapi tambangnya tidak mungkin. Ayah, apakah kita bisa mempertahankan bengkel tanpa tambang?"
"It-itu...." Hans merasa kosong. Reaksi gila Arthur membuatnya merinding dan apa yang ia katakan membuatnya memikirkan sekali lagi seberapa berharga hak warisnya. Apakah saudaranya akan memberinya tambang besi atau justru menyingkirkannya? Ini berita yang sangat buruk untuknya.
Suara langkah kaki yang berat datang dari kejauhan dan Kepala Keluarga menunjukkan wajah marahnya. "Apa lagi kali ini!?" Dia benar-benar pusing dan bingung. Ada banyak sekali masalah yang terjadi hari ini dan semuanya berhubungan dengan satu orang, si bungsu, Arthur Al Mahesa. "Apa kau kehilangan akalmu? Apa kau ingin membunuh anakmu sendiri!?" Dia memarahi Hans.
"Ah! Hans Al Mahesa, memberi salam kepada kepala keluarga." Hans dengan gemetar memberi salamnya dan tidak berani menaikkan pandangannya lagi.
"Kau, dasar.... Huh?" Saat Arnold ingin memarahinya, Arthur bangkit, berdiri, dan memberikan salamnya dengan wajah yang tenang, "Arthur Al Mahesa, memberi salam kepada kepala keluarga." Seolah-olah tidak sedang terluka.
"Kau... baik-baik saja?"
***
Para Ksatria yang telah berlatih untuk waktu yang lama di keluarga Mahesa membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat mereka di saat Arnold dan Hans masuk. Mereka di sambut oleh pemegang kekuasan dan tamu-tamu lainnya di barisan kursi penonton.
Hidung Pionir Haynes yang sensitif merasa gatal ketika dia mencium aroma darah yang masih segar. Dia mencari sumbernya dan menemukan bau itu berasal dari putra ke tiga keluarga Mahesa, Hans Al Mahesa.
"Menarik. Pria itu yang terobsesi dengan penempaan baja tidak seharusnya terlibat dengan darah...." Pionir Haynes mengenal Hans karena pria itu cukup unik. Pria itu satu angkatan dengan putrinya, ibu dari Diana, dan dari sana, dia mengenal Hans sebagai pria yang suka berbuat onar dan terobsesi dengan pedang. Dia pria yang sangat menjanjikan sampai-sampai menarik perhatian sang putri. Namun, semuanya hancur ketika dia jatuh cinta kepada seorang penari.
"Oh, benar juga. Anak bernama Arthur Al Mahesa itu adalah anaknya dengan wanita penari itu. Yah, mari aku lihat, apakah kambing yang diberi makan herbal suci bisa melahirkan seekor Naga atau tidak." Setelah menggumamkan ini, perhatiannya kembali ke tengah lapangan, di mana Diana sedang meregangkan tubuhnya dengan semangat.
"Dasar anak nakal, apa dia sebegitu senangnya melakukan perundungan?" Pionir Haynes menggelengkan kepalanya dengan gembira. Gadis kecil itu mengingatkannya dengan putrinya di masa lalu.
Seorang ksatria di depan gerbang tampak gelisah kemudian berteriak mengumumkan, "Tuan Muda Arthur Al Mahesa, memasuki lapangan!"
Dengan itu suasana segera hening dan semua sorot mata jatuh ke langkah keras Arthur Al Mahesa. Ada yang berbeda darinya dan semua orang mau tidak mau terintimidasi oleh penampilannya.
Mata pemuda itu merah menyala, dan seolah tidak memedulikan tabib-tabib yang cemas di belakangnya, dia maju dengan tekad yang memesona. Dengan darah di seluruh tubuhnya dan sebuah peti senjata yang diseretnya, dia berdiri tegak di hadapan Diana Von Haynes yang nampaknya tidak menduga penampilan lawannya itu, Arthur berkata, "Saya, Arthur Al Mahesa, menerima tantangan Diana Von Haynes."
Semua orang meneguk ludah pahit. Penampilan pemuda itu sangat menyedihkan, tetapi dia dengan gagahnya mengatakan pernyataan seorang pejuang, yang dengan begitu dia tidak bisa mundur dari duel ini apapun keluhannya.
Di sisi penonton, pionir Haynes bertanya, "Apa itu? Mengapa dia membawa peti senjata?" Dia menaruh tatapannya ke arah Hans sekali lagi. Sekarang dia tahu asal dari bau darah pada pria itu. Dia bertanya-tanya apakah mereka baru saja bertengkar atau ada sesuatu yang lain terjadi.
"Arthur hanya memegang buku sepanjang hidupnya, dia pasti tidak tahu apa yang harus ia gunakan." Arkam Al Mahesa yang duduk di belakangnya memberikan jawaban.
Pemuda itu menatap Arthur dengan dingin. Dari bagaimana Arthur masuk saja, Arkam sudah tidak bisa mengenalinya sebagai si bungsu lagi. Dia masih si lemah yang sama, tetapi entah mengapa suasana disekitarnya terlihat berbeda dan tidak menyenangkan.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh yang lain, dan bagi Pionir Haynes yang sensitif, dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Bibir pria kuat itu mengerucut saat dia melihat Hans sekali lagi. Dia melihat pria itu banjir oleh keringat dingin dan bibirnya tidak bisa berhenti menggumamkan sesuatu.
Semula, Pionir Haynes berpikir bahwa Hans takut terjadi sesuatu kepada putranya yang lemah, tetapi pemikirannya salah besar ketika dia yang penasaran mulai mengikuti gerak bibir Hans dan membacanya. Dia mendapati bahwa Hans bergumam, "Seberapa keras pun aku berpikir, duel ini seharusnya tidak diselenggarakan. Meskipun gadis itu hebat, yang dia lawan adalah orang yang putus asa. Jika dia meremehkannya, selesai sudah."
Pionir Haynes tidak mengerti apa yang dipikirkan Hans. Namun, setelah ia perhatikan sekali lagi, bocah yang bernama Arthur itu benar terlihat seperti kehilangan akal. Dia terluka, dan tampak kelelahan, tetapi masih memaksakan tubuhnya untuk menyeret peti senjata besar itu dan berduel.
Dia tidak waras, dan tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh orang yang tidak waras. Namun, apakah dia harus mengkhawatirkan cucunya hanya karena itu? Tidak akan! Diana adalah gadis yang berbakat dan yang terbaik dalam pertarungan diantara anak seusianya. Dia sudah memiliki ratusan pengalaman berduel dengan Ksatria-ksatria Haynes. Khawatir terhadapnya sama saja dengan merendahkannya.
Pionir Haynes tidak memikirkannya lebih jauh dan kembali fokus ke arena.
Di sana, Diana, dengan sorot mata penuh percaya diri, berkata dengan nada menghina, "Lama tidak bertemu Tuan Muda, aku tak pernah berpikir kamu yang pemalu akan benar-benar datang. Seperti yang aku kira, kamu tidak cocok melakukan ini. Yah, karena kamu sudah di sini, aku hanya bisa mengatakan bahwa kamu bisa tenang, toh, aku tidak akan melakukannya dengan keras. Oh, benar. Tidak perlu lebih tepatnya, hahaha."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
abdillah musahwi
diana-diana kau terlalu sombong dan jumawa, ingat dilangit ke satu masih ada langit diatas dan jangan menilai sampul buku kalo belum membaca isinya atau melihat didalamnya
2024-11-08
2