Bab 19 : Goyah

Tubrukan terjadi. Hans dengan dingin mengayunkan tinjunya ke bawah dengan keras dan membuat putranya itu jatuh ke lantai. Arthur mencoba bangkit kembali, tetapi Hans dengan dingin menendangnya ke sisi tembok yang sama dengan yang pertama kali.

Dasar dari seni bela diri keluarga Mahesa adalah penempaan tubuh dan setiap orang menempa bagian tubuh yang berbeda dan dengan cara yang berbeda-beda pula. Hans Al Mahesa adalah seorang penempa besi, serangan ke bawah adalah keahliannya. Lucunya serangan mematikan itu justru dia gunakan kepada orang paling lemah di keluarga ini, putranya sendiri.

Hans menarik napas lega. Tubuhnya gemetar dan ada rasa hampa yang tertahan di tenggorokannya. Itu terjadi sepersekian detik, tetapi dia mungkin saja dikalahkan. Entah kebetulan atau dia memang ahli, tetapi putranya itu menyerangnya dengan seluruh kekuatannya dan secara tepat mengincar jantungnya.

Arthur menutup wajahnya dengan satu tangan. Air matanya nampak jatuh, tetapi mulutnya tertawa terbahak-bahak. "Berhenti melucu. Ayah, bengkel besi dan tambang di belakangnya adalah satu paket. Bengkel besi memang bisa mereka berikan, tetapi tambangnya tidak mungkin. Ayah, apakah kita bisa mempertahankan bengkel tanpa tambang?"

"It-itu...." Hans merasa kosong. Reaksi gila Arthur membuatnya merinding dan apa yang ia katakan membuatnya memikirkan sekali lagi seberapa berharga hak warisnya. Apakah saudaranya akan memberinya tambang besi atau justru menyingkirkannya? Ini berita yang sangat buruk untuknya.

Suara langkah kaki yang berat datang dari kejauhan dan Kepala Keluarga menunjukkan wajah marahnya. "Apa lagi kali ini!?" Dia benar-benar pusing dan bingung. Ada banyak sekali masalah yang terjadi hari ini dan semuanya berhubungan dengan satu orang, si bungsu, Arthur Al Mahesa. "Apa kau kehilangan akalmu? Apa kau ingin membunuh anakmu sendiri!?" Dia memarahi Hans.

"Ah! Hans Al Mahesa, memberi salam kepada kepala keluarga." Hans dengan gemetar memberi salamnya dan tidak berani menaikkan pandangannya lagi.

"Kau, dasar.... Huh?" Saat Arnold ingin memarahinya, Arthur bangkit, berdiri, dan memberikan salamnya dengan wajah yang tenang, "Arthur Al Mahesa, memberi salam kepada kepala keluarga." Seolah-olah tidak sedang terluka.

"Kau... baik-baik saja?"

***

Para Ksatria yang telah berlatih untuk waktu yang lama di keluarga Mahesa membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat mereka di saat Arnold dan Hans masuk. Mereka di sambut oleh pemegang kekuasan dan tamu-tamu lainnya di barisan kursi penonton.

Hidung Pionir Haynes yang sensitif merasa gatal ketika dia mencium aroma darah yang masih segar. Dia mencari sumbernya dan menemukan bau itu berasal dari putra ke tiga keluarga Mahesa, Hans Al Mahesa.

"Menarik. Pria itu yang terobsesi dengan penempaan baja tidak seharusnya terlibat dengan darah...." Pionir Haynes mengenal Hans karena pria itu cukup unik. Pria itu satu angkatan dengan putrinya, ibu dari Diana, dan dari sana, dia mengenal Hans sebagai pria yang suka berbuat onar dan terobsesi dengan pedang. Dia pria yang sangat menjanjikan sampai-sampai menarik perhatian sang putri. Namun, semuanya hancur ketika dia jatuh cinta kepada seorang penari.

"Oh, benar juga. Anak bernama Arthur Al Mahesa itu adalah anaknya dengan wanita penari itu. Yah, mari aku lihat, apakah kambing yang diberi makan herbal suci bisa melahirkan seekor Naga atau tidak." Setelah menggumamkan ini, perhatiannya kembali ke tengah lapangan, di mana Diana sedang meregangkan tubuhnya dengan semangat.

"Dasar anak nakal, apa dia sebegitu senangnya melakukan perundungan?" Pionir Haynes menggelengkan kepalanya dengan gembira. Gadis kecil itu mengingatkannya dengan putrinya di masa lalu.

Seorang ksatria di depan gerbang tampak gelisah kemudian berteriak mengumumkan, "Tuan Muda Arthur Al Mahesa, memasuki lapangan!"

Dengan itu suasana segera hening dan semua sorot mata jatuh ke langkah keras Arthur Al Mahesa. Ada yang berbeda darinya dan semua orang mau tidak mau terintimidasi oleh penampilannya.

Mata pemuda itu merah menyala, dan seolah tidak memedulikan tabib-tabib yang cemas di belakangnya, dia maju dengan tekad yang memesona. Dengan darah di seluruh tubuhnya dan sebuah peti senjata yang diseretnya, dia berdiri tegak di hadapan Diana Von Haynes yang nampaknya tidak menduga penampilan lawannya itu, Arthur berkata, "Saya, Arthur Al Mahesa, menerima tantangan Diana Von Haynes."

Semua orang meneguk ludah pahit. Penampilan pemuda itu sangat menyedihkan, tetapi dia dengan gagahnya mengatakan pernyataan seorang pejuang, yang dengan begitu dia tidak bisa mundur dari duel ini apapun keluhannya.

Di sisi penonton, pionir Haynes bertanya, "Apa itu? Mengapa dia membawa peti senjata?" Dia menaruh tatapannya ke arah Hans sekali lagi. Sekarang dia tahu asal dari bau darah pada pria itu. Dia bertanya-tanya apakah mereka baru saja bertengkar atau ada sesuatu yang lain terjadi.

"Arthur hanya memegang buku sepanjang hidupnya, dia pasti tidak tahu apa yang harus ia gunakan." Arkam Al Mahesa yang duduk di belakangnya memberikan jawaban.

Pemuda itu menatap Arthur dengan dingin. Dari bagaimana Arthur masuk saja, Arkam sudah tidak bisa mengenalinya sebagai si bungsu lagi. Dia masih si lemah yang sama, tetapi entah mengapa suasana disekitarnya terlihat berbeda dan tidak menyenangkan.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh yang lain, dan bagi Pionir Haynes yang sensitif, dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Bibir pria kuat itu mengerucut saat dia melihat Hans sekali lagi. Dia melihat pria itu banjir oleh keringat dingin dan bibirnya tidak bisa berhenti menggumamkan sesuatu.

Semula, Pionir Haynes berpikir bahwa Hans takut terjadi sesuatu kepada putranya yang lemah, tetapi pemikirannya salah besar ketika dia yang penasaran mulai mengikuti gerak bibir Hans dan membacanya. Dia mendapati bahwa Hans bergumam, "Seberapa keras pun aku berpikir, duel ini seharusnya tidak diselenggarakan. Meskipun gadis itu hebat, yang dia lawan adalah orang yang putus asa. Jika dia meremehkannya, selesai sudah."

Pionir Haynes tidak mengerti apa yang dipikirkan Hans. Namun, setelah ia perhatikan sekali lagi, bocah yang bernama Arthur itu benar terlihat seperti kehilangan akal. Dia terluka, dan tampak kelelahan, tetapi masih memaksakan tubuhnya untuk menyeret peti senjata besar itu dan berduel.

Dia tidak waras, dan tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh orang yang tidak waras. Namun, apakah dia harus mengkhawatirkan cucunya hanya karena itu? Tidak akan! Diana adalah gadis yang berbakat dan yang terbaik dalam pertarungan diantara anak seusianya. Dia sudah memiliki ratusan pengalaman berduel dengan Ksatria-ksatria Haynes. Khawatir terhadapnya sama saja dengan merendahkannya.

Pionir Haynes tidak memikirkannya lebih jauh dan kembali fokus ke arena.

Di sana, Diana, dengan sorot mata penuh percaya diri, berkata dengan nada menghina, "Lama tidak bertemu Tuan Muda, aku tak pernah berpikir kamu yang pemalu akan benar-benar datang. Seperti yang aku kira, kamu tidak cocok melakukan ini. Yah, karena kamu sudah di sini, aku hanya bisa mengatakan bahwa kamu bisa tenang, toh, aku tidak akan melakukannya dengan keras. Oh, benar. Tidak perlu lebih tepatnya, hahaha."

Terpopuler

Comments

abdillah musahwi

abdillah musahwi

diana-diana kau terlalu sombong dan jumawa, ingat dilangit ke satu masih ada langit diatas dan jangan menilai sampul buku kalo belum membaca isinya atau melihat didalamnya

2024-11-08

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!