Bab 13 : Pendapat

Nahel Al Mahesa memiliki pendapat yang berbeda, dia berkata, "Menurut Saya kita juga harus memperhatikan sudut pandang yang lainnya juga. Saat ini, di ibu kota Colin, lebih dari sejuta orang berkumpul di luar pagar istana. Situasi tidak aman yang ditimbulkan dari perpecahan ini memancing kemarahan masyarakat. Terlepas dari adanya provokator, karena pemerintah melibatkan barisan tentara bersenjata dalam masalah ini, kekacauan semakin menjadi-jadi. Saya yakin pemerintah pusat juga akhirnya sadar akan hal ini."

Semua yang ada di sana meneguk ludah mereka dengan kekhawatiran. Nahel berbicara dengan berbelit-belit dan tidak secara langsung menampilkan inti kata-katanya. Sayangnya, hal ini tidak disukai oleh Kepala Keluarga. Dia yang semula tenang kini menjadi marah. "Terus apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Pemerintah pusat akan tumbang? Apa kamu yakin!?"

Nahel menjawab dengan kepala tertunduk, "Pangeran kedua adalah seorang ahli siasat yang mumpuni dan Pangeran Ketiga memiliki pengaruh besar di militer. Jadi, maksudku mungkin...."

"Mungkin!?" Kepala Keluarga semakin tidak senang. Pendapat yang berisi keraguan tidak dapat diterima sama sekali. "Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Tentu saja itu mungkin akan terjadi atau mungkin tidak. Apa kamu pikir orang-orang yang duduk di sini dengan senang hati akan mendengarkan cerita fiksimu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi!?"

Rapat berlangsung dengan suasana yang sangat dingin. Semua orang merenungkan pilihan sulit ini, dan tahu betapa pentingnya keputusan mereka. Namun, tidak ada yang berani memberikan jawaban yang pasti.

Setelah diskusi yang panjang, kepala keluarga akhirnya memberi isyarat agar semua orang pergi, kecuali cucu termudanya yang masih berdiri di sana. Kepala keluarga tidak berharap banyak dari Arthur karena dia dihadirkan sebagai hukuman dan untuk mengikat penjelasan darinya.

Arnold kemudian dengan nada yang agak sinis bertanya, "Baiklah, kau, kutu buku yang mengembangkan apa itu namanya tadi? Sihir? Apa pendapatmu tentang masalah ini?"

Arthur dengan tenang menjawab dengan pertanyaan, "Kakek, apa Pangeran kedua dan ketiga ingin naik tahta?"

Arnold dengan malas menganggukkan kepalanya. Masing-masing dari mereka membangun relasi yang baik dengan beberapa keluarga berpengaruh dan beberapa orang pemegang kekuasaan. Pangeran kedua contohnya, dia dengan cerdik berhasil mengambil Asosiasi Pejuang dan Menara Obat sebagai pendukung kuatnya.

Namun, saat pemerintah pusat memutuskan mendukung Pangeran Pertama secara penuh, beberapa hubungan relasinya terputus dan memaksa Pangeran Kedua untuk bekerja sama dengan Pangeran Ketiga yang menguasai sebagian besar kekuatan militer.

"Kalau begitu, tidak mungkin bagi mereka untuk bekerja sama."

"Apa? Mengapa tidak mungkin?"

"Kek, jika pihak mereka menang, apa akan ada dua Raja di kerajaan ini?"

"Haha, kau berbicara seperti anak kecil. Mana ada kerajaan yang memiliki dua...." Arnold semula menganggap apa yang dikatakan oleh Arthur sangat lucu, tetapi kemudian dia menyadari kesalahannya. Itu bukanlah perkataan polos tanpa alasan, melainkan sebuah pemikiran yang muncul dari melihat langsung ke arah keserakahan manusia.

Saat Arnold tenggelam dalam keadaan bimbang, Arthur melanjutkan, "Kakek, memilih di antara para Pangeran bukanlah solusi yang bijaksana. Ketiganya pasti memiliki ambisi untuk menjadi raja, dan itu akan memicu konflik di masa depan mau atau tidak mau."

Arnold cukup terkejut dengan kata-kata bijak dari cucu termuda ini. Dia dengan jelas menilai bahwa Arthur adalah seseorang yang penuh ambisi dan emosi terakhir kali, tetapi rupanya anak ini juga bisa berpikir dengan kepala dingin. Dia pun mulai mendengarkan dengan lebih serius.

"Saran Saya, kita tidak perlu memilih satu kubu di antara mereka. Kita bisa mendekati ketiganya sekaligus dan menjalin hubungan yang kuat dengan baik. Lagipula, masing-masing dari ketiganya memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi Putra Mahkota. Kakek, jangan lupakan ini. Keluarga kita memperoleh kebangsawanan lewat perdagangan. Dengan berhubungan baik dengan semua pihak, kita bisa memastikan masa depan keluarga kita."

Kepala Keluarga tertunduk dengan mata melotot, dia cuman bisa menganggukkan kepalanya tanpa penentangan. Kemudian dia sedikit tertawa ketika menyadari bahwa dia yang berkuasa sedang diceramahi oleh anak kecil yang bahkan belum cukup umur untuk masuk ke Akademi. "Kau benar. Ini adalah solusi yang paling baik. Kita tidak perlu terlibat dalam persaingan mereka. Kita akan mendekati mereka dengan hati-hati dan menjaga kepentingan keluarga kita."

Arnold tersenyum dengan sangat puas dan dia sangat menyukai kata-kata Arthur tentang keluarga mereka yang pada dasarnya adalah keluarga pedagang. Orang-orang bahkan anaknya sendiri berpikir bahwa alasan kesuksesan keluarga Mahesa terus berkembang karena tanah yang subur dan sumberdaya yang melimpah, tapi kesuksesan Mahesa sesungguhnya berasal dari bisnis. Jadi, mereka malah memfokuskan diri dalam peningkatan kekuatan militer alih-alih memikirkan perkembangan jalur dagang.

Arnold diam-diam merasa lega dan bahkan mulai melihat Arthur sebagai penopang kuat keluarga Mahesa di generasi berikutnya.

"Duduk dan beristirahatlah." Arnold memberi izin ketika dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan tiga amplop resmi beserta kertas, tinta, dan pena. Saat dia ingin menulis surat untuk ketiga Pangeran dia berhenti sejenak saat pemikiran untuk menguji Arthur muncul di benaknya.

"Arthur, kau bilang kalau hal terbaik bagi kita adalah berdiri di sisi netral, 'kan? Jadi, sebagai kakekmu, aku harus mempercayaimu dan mencoba berteman dengan ketiganya, 'kan?"

"Ya, meskipun pihak Pangeran Pertama lebih unggul. Kita tetap harus berdiri di garis batas, bukan karena itu yang paling aman, tetapi karena kita keluarga dagang. Kita akan menutup akses dagang kita kepada mereka untuk sementara waktu ini, khususnya persenjataan. Lalu, katakan bahwa keluarga Mahesa kita berharap situasi Negara yang berbelit ini berakhir dengan baik. Untuk sementara waktu, kita bisa mengalihkan jalur dagang kita ke tempat lain seperti Negara tetangga atau Kekaisaran Suci. Bahkan jika keuntungan akan mengecil, itu lebih baik daripada gudang penuh yang membuat penjarah meneteskan liur."

Keyakinan, mengenalkan masalah, menempatkan solusi, tidak terpengaruh oleh tekanan, dan memberi alasan yang masuk akal. Arnold merasa sangat senang saat mendengarnya. Sosok seperti inilah yang dia harapkan sebagai pewarisnya. Namun, di sisi lain dia juga merasa sedih. Arthur bagaimanapun adalah yang termuda sekaligus yang terlemah, tidaklah mudah membuatnya naik.

"Baiklah aku sudah mendengarnya. Pergilah dan nikmati perjamuannya. Aku akan memanggilmu lagi nanti."

Arthur berdiri, menundukkan kepalanya, dan keluar dari ruangan dengan seringai puas di wajahnya. Di sisi lain, Arnold menghela napas berat, andai saja Arthur bukan si bungsu, dia tanpa ragu akan memberinya dukungan penuh. "Yah, cucuku yang lain juga tidak terlalu buruk," pikir Arnold. Dia kemudian memikirkan sesuatu yang lain.

Dia berteriak, "Apa ada seseorang di luar?" Setelah itu, pintu terbuka dan seorang penjaga muncul. "Ya, Tuan Kepala Keluarga."

"Katakan pada Harish kalau aku ingin menemuinya sekarang.'

"Baik."

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!