Hans berdiri dan dengan dingin berjalan ke luar sembari berkata, "Yang dikatakan Arthur benar, tidak perlu khawatir. Lagipula, kepala keluarga pasti tahu bahwa Arthur sudah pulih, ketidakhadiran Arthur di sana bisa-bisa berubah menjadi masalah pembangkangan lainnya. Ayo pergi, kereta kudanya sudah siap."
Di dalam kereta selama perjalanan menuju vila utama keluarga Mahesa, selain tatapan khawatir dari sang Ibu, Arthur juga sangat terusik dengan energi padat yang terkumpul di dalam tubuh ayahnya. Itu sangat aneh dan bertentangan dengan konsep sihir yang ia pelajari.
Sihir pada dasarnya adalah sesuatu yang liar dan berkarakteristik ledakan. Jadi, seharusnya mustahil untuk memelihara energi sihir di dalam tubuh, terlebih tentang memadatkan energi sihir. Arthur benar-benar tidak mengerti bagaimana mereka mengembangkan sihir seperti ini dan bagaimana bisa tubuh mereka dapat bertahan dari hal itu.
Tanpa diberitahu pun Arthur dapat mengerti bahwa inilah yang orang dunia ini sebut dengan nama Aura itu. Pantas saja pemilik tubuh sebelumnya begitu depresi, energi magis yang liar diserap melalui pernapasan, diedarkan melalui vena, dan dikumpulkan di area jantung. Itu sangat luar biasa.
Energi yang liar dikompres dan dimurnikan berulang kali hingga jernih dan memadat kemudian diserap oleh jaringan otot tubuh yang memberikan kekuatan manusia super, memungkinkan pertarungan jarak dekat, yang dengan begitu salah satu kelemahan besar seorang ahli sihir dapat teratasi.
Aura membuat Arthur bersemangat sekaligus dipenuhi oleh rasa takut. Seandainya aura ditemukan di Bumi, sosok yang lebih mengerikan dari Iblis Amarah mungkin akan tercipta dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Meskipun begitu, Aura tetap saja membuat hati Arthur tergerak. Dengan Aura, sangat mungkin bagi Arthur untuk tidak menyentuh sihir hitam lagi. Jadi, walaupun dia tidak mengatakannya, Aura menjadi tujuan utamanya di kehidupan kali ini.
Hans yang diperhatikan dengan teliti oleh Arthur merasa terusik dan mau tidak mau bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Arthur tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. "Maaf, aku hanya sedang memikirkan tentang bagaimana caranya menghasilkan uang dengan tanganku sendiri, itu saja."
Itu adalah jawaban yang tidak terduga. Hans mengerutkan keningnya dan dengan dingin berkata, "Berhenti memikirkan sesuatu seperti itu, pikirkan saja bagaimana kamu akan menghadapi sepupu-sepupumu di perjamuan nanti. Cobalah untuk tidak terlibat dalam masalah, jika tidak memungkinkan, buatlah dirimu dipihak yang menguntungkan."
Arthur tidak mengerti apa yang Ayahnya katakan. Ingatan pemilik tubuh sebelumnya yang ia dapatkan hanyalah bongkahan-bongkahan kecil yang tidak berurutan, dan sayangnya tidak ada satu pun yang membahas tentang sepupunya. Melihat bagaimana ibunya mencoba menenangkan ayahnya, Arthur dapat mengerti bahwa ada sesuatu yang besar terjadi di masa lalu terkait dengan sepupunya yang tidak ia ketahui.
Mahesa pada dasarnya hanyalah wilayah kecil. Jadi, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka sampai di pusat kota wilayah Mahesa yang dikelilingi oleh dinding besar yang tebal. Disinilah sebagian besar warga Mahesa tinggal. Tidak seperti area di luar dinding di mana Arthur tinggal, tempat ini jauh dari kata kumuh. Jalanan batu yang mulus, disambut oleh gerbang besar, restoran, penginapan, dan alun-alun besar yang dibuat dengan baik untuk orang-orang dapat beristirahat.
Secara khusus, mereka membangun patung kepingan koin emas di tengah alun-alun sebagai simbol keluarga Mahesa.
Tempat ini berisik, sangat berisik. Kerumunan besar orang datang dan pergi, dipenuhi dengan orang-orang yang menjual dan membeli barang. Kereta terus bergerak sampai akhirnya mereka memasuki halaman depan kastil yang penuh dengan perkebunan dan pekerja.
Saat Arthur melihat keluar, dia tidak bisa untuk tidak terpukau. Pemandangan seindah ini sangat langka di Bumi. Mereka membangun kastil di lokasi yang luar biasa baik untuk mata pengunjungnya. Luas tanahnya hampir satu hektar dengan tiga bangunan utama.
Bangunan tingkat tiga dengan dua lantai tambahan di bawah tanah yang cukup menampung persediaan makanan sebanyak lima belas ton. Sebuah kastil megah yang dikelilingi oleh pagar selebar empat ratus meter. Tempat ini adalah kediaman Penatua Arnold Al Mahesa, kepala keluarga sekaligus pendiri keluarga Mahesa.
Saat mereka turun dari kereta dan memasuki area kastil, ada begitu banyak orang dengan pakaian yang rapi dan formal sedang berbincang di halaman depan gedung sembari menyantap anggur dan cemilan yang disajikan secara terus menerus oleh para pelayan.
Sepanjang jalan, Arthur mendapati tatapan dingin dari semua orang dan pandangan yang meremehkan. Seperti yang ia kira, semua orang mengabaikan kehadiran keluarganya. Dapat dipahami. Lagipula, tidak ada gunanya berpura-pura mengenal keluarga kecil yang posisinya lemah di dalam keluarga Mahesa.
Di dalam, anggota inti keluarga Mahesa sudah berkumpul semua di ruangan tengah. Arthur sekali lagi terpukau dengan bagaimana energi magis tertanam di dalam tubuh mereka. Dia harus benar-benar belajar tentang Aura setelah ini.
Hans menatap mereka dengan dingin, saudara dan saudarinya berkumpul dengan senyum lebar di wajah mereka. Itu adalah senyum lebar yang senang usia ayah mereka bertambah hari ini dan hari yang mereka tunggu-tunggu semakin dekat. Benar, orang-orang ini adalah sekumpulan manusia serakah yang menunggu ayah mereka mati demi mendapatkan potongan daging lezat bernama Rumah Dagang Mahesa.
"Kenapa kamu terlambat!? Apa kamu pikir kamu itu seorang bintang utama, muncul paling akhir!? Cih, beginilah jika kebiasaan buruk sewaktu menjadi penari dibawa ke sana ke sini."
Arthur mengernyitkan alisnya, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba bibi ini meninggikan suaranya dengan emosinya yang meluap. Ibunya memang dibenci di keluarga ini, tetapi bukankah berlebihan sampai dia juga dijadikan objek pelampiasan stres?
Arthur tidak bisa diam saja. Jantungnya yang berdetak dan tinjunya yang terasa hangat seolah memberitahunya bahwa pemilik tubuh sebelumnya menginginkan Arthur untuk mengambil tindakan agar masalah ibunya ini diselesaikan olehnya.
Arthur dengan langkah yang tenang ingin maju menghadap bibinya dan membungkukkan tubuhnya. Namun, Ayahnya mencegahnya. Tangannya yang kasar dan berisi memegang pundaknya dan mengambil alih permintaan maafnya, "Maaf. Aku pikir kami bisa datang tepat waktu."
"Cih, dasar bodoh." Selena memalingkan wajahnya dengan jengkel. Sementara Arthur memperhatikannya dengan teliti. Wanita itu berbeda dengan yang lain. Hari sedang panas saat ini, tetapi dia memakai pakaian tebal yang seharusnya digunakan di musim dingin. Dia duduk di depan perapian dan terlihat tertekan oleh hawa dingin.
Arthur memperhatikannya lebih jauh dan akhirnya tahu apa yang salah. Pada dasarnya energi magis terbagi menjadi dua tipe, ada jenis positif dan ada juga yang negatif. Lalu, bibi ini memancarkan energi magis yang negatif dari dalam tubuhnya. "Pft." Arthur tidak bisa menahan dirinya. Wanita ini jelas memiliki aura yang jauh lebih banyak di dalam tubuhnya daripada ayahnya, tetapi dia tidak bisa mengontrolnya dengan benar sehingga energi negatif yang dingin bocor dari tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Fendi Kurnia Anggara
Up terus
2024-06-03
0