Bab 20 : Duel

Arthur memejamkan matanya dan menenangkan napasnya. "Apa Arthur yang dulu berteman dengan gadis imut ini?" Dia tidak mengerti. Bagaimana bisa dia selalu terlibat dengan orang yang mengenalnya, tetapi tidak ada di ingatan pemilik tubuh sebelumnya.

Dari fakta ini, Arthur bisa menyimpulkan bahwa gadis ini tidak sedekat itu dengan pemilik tubuh sebelumnya. Masalahnya adalah, jika mereka tidak sedekat itu, lantas untuk alasan apa duel ini diadakan?

Arthur kemudian membuka matanya kembali. Dia tersenyum tenang. Dia akhirnya mengerti bahwa duel ini bukan dilandaskan persahabatan, melainkan sarana untuk menguji kemampuannya.

"Baiklah, cucu yang berbakti ini dengan senang hati akan menunjukkan apa yang diinginkan kakeknya." Dengan itu, dia mulai menghitung medan di sekitarnya dan memastikan tidak ada yang luput dari perhitungannya bahkan jika itu ukuran lingkar pinggang lawannya sekalipun.

Jantungnya masih membara. Tubuh sebagaimana adanya baja, keduanya akan menjadi kuat setelah dipukul dengan keras. Dalam kasus Arthur, setelah babak belur oleh Hans, semua indranya ditingkatkan ke ranah yang lebih tinggi.

Selain itu, melihat bahwa dia akan diuji oleh bocah arogan bodoh yang lemah ini membuatnya marah. Dia akan memberinya sebuah pelajaran yang tidak akan pernah hilang dari kepala Diana. Sebuah pelajaran yang dinamakan oleh orang dengan nama trauma.

Diana yang merasa Arthur menatapnya dengan mesum merasa jengkel. Dia menghentakkan kakinya ke tanah dengan kuat sembari mengumpat di dalam hati. Dia berjanji dengan dirinya sendiri akan menghajar laki-laki yang ada di depannya sekarang ini menjadi bubur.

Kepala keluarga berdiri dari kursinya, mengangkat tangannya, dan berteriak, "Mulai!" Pertempuran pun dimulai, dan Diana dengan cepat melancarkan serangan ganas. Namun, langkahnya terhenti ketika sebilah pedang melayang ke arah wajahnya. Arthur dengan pengecut melemparkan setiap senjata yang ada di dalam peti ke arah Diana.

"Apa ini!? Seberapa pengecutnya dirimu!?" Diana dengan gesitnya menghindari serangan-serangan tersebut sambil terus menahan amarahnya. Dia tidak bisa mencari celah untuk menyerang balik, Arthur secara akurat selalu mengincar wajahnya.

Diana hanya bisa bertahan sampai semua senjata dari dalam peti itu habis terlempar. Dia tidak bisa menahan amarahnya dan mengokohkan kuda-kudanya untuk menerjang dan menebas leher Arthur. Namun, pupil matanya melebar ketika kata, mati, menggema di kepalanya.

Semua rahang turun dari tempatnya. Sebelumnya, saat pisau terakhir di lemparkan oleh Arthur, suasana di sekitar pemuda itu mulai berubah ketika wajahnya menjadi keras.

Energi magis mulai ditarik dan membentuk benang-benang yang terhubung dengan masing-masing jarinya kemudian di rentangkan ke masing-masing tiang arena dan menjalinnya hingga membentuk seperti jaring laba-laba yang berpusat pada leher Diana.

Saat Diana bergerak, senjata-senjata yang tergeletak di lantai melayang ke arah lehernya, mencoba mengambil nyawanya. Untungnya, Hans yang waspada langsung merebut pedang seorang Penjaga dan memberikan tebasan kuat ke arah bawah yang memutus jaring sihir Arthur sekaligus membelah Arena menjadi dua. Sehingga senjata-senjata itu berhenti dan jatuh dengan hanya mengiris tipis leher Diana.

Semua orang tidak bisa mengatakan apapun lagi pada titik ini. Sesuatu yang tidak disangka terjadi secara cepat dan berkelanjutan. Mereka bahkan menahan napas tanpa mereka sadari. Satu-satunya hal yang terdengar saat itu hanyalah napas lega Hans setelah berhasil menghentikan sebuah tragedi.

Dengan langkah yang lemas, pria itu berbalik, menghadap kepada kepala keluarga, dan marah padanya, "Saya sudah memperingatkan Anda soal ini tadi. Arthur memang tidak memiliki pengalaman bertarung, tetapi bukan berarti Anda bisa meremehkannya! Arthur dia... dia itu adalah orang yang menguasai berbagai bahasa termasuk bahasa kuno di usianya yang baru sepuluh tahun! Apa Anda tahu apa yang biasanya kita sebut untuk seseorang seperti itu? Monster! Meskipun dia Monster yang lemah, dia masih memiliki taring yang mematikan!"

Hans tanpa sengaja memuntahkan semua kekesalannya selama ini. Sebagai ayah, dia merasa tidak boleh menaruh harapan yang tinggi untuk pencapaian anaknya. Namun, seorang ayah juga manusia, dia juga tidak bisa terus tahan melihat orang-orang selalu menjelek-jelekkan putranya karena dia menderita kelainan vena bawaan, dan mengejeknya kutu buku sembari menutup mata tentang kecerdasannya. Dia lelah dengan semua itu dan tanpa sadar meninggikan suaranya.

Arthur di arena menghembuskan napas beratnya. Saat dia mengambil alih tubuh ini, selain dari kepingan ingatan, dia juga merasakan gelombang pengetahuan sejarah dan bahasa di dalam kepalanya. Pemilik tubuh sebelumnya adalah orang yang sangat cerdas, hampir seolah dia bisa menyerap bahasa asing begitu mudah ke kepalanya. Karena mengetahui hal ini jugalah, Arthur bisa dengan bebasnya menunjukkan kekuatannya. Meskipun dia sedikit kelewatan dalam beberapa hal.

"Bagaimana mungkin... aku kalah?" Diana tidak bisa menerimanya. Dia dipandang sebagai genius dan dipuja-puja karenanya, tapi dia kalah tanpa bisa memberi perlawanan. Diana tidak berusaha mencari pembenaran atas kekalahannya, hanya saja itu masih tidak masuk akal baginya. Dia memang sudah diberitahu bahwa Arthur membangkitkan Eksternal Aura, tetapi dia tidak tahu tingkatannya akan setinggi ini.

Kontrolnya terhadap benang-benang Aura itu memang luar biasa, tetapi kecepatan aksinya juga mengesankan. Dalam hitungan detik dia membuat jaring laba-laba tanpa celah seolah-olah sudah terpasang jebakan di tempat ini sebelum duel. Padahal, Diana-lah yang menantangnya dan memilih tempat.

Pionir Haynes pun mengakuinya. Itu sangat luar biasa, khususnya kontrolnya. Eksternal Aura yang dikeluarkan Arthur sangat payah, meskipun dibuat dengan baik. Namun, anak laki-laki itu dapat memanfaatkannya untuk membuat serangan yang mematikan. Genius saja tidak cukup untuk menyebut orang sepertinya, seperti yang Hans katakan, anak itu adalah Monster yang tidak seharusnya dipermainkan.

"Begitulah menurutku, tapi... sepertinya dia belum puas." Pionir Haynes menatap ke arah kepala keluarga. Mata pria itu kosong dan menunjukkan ketidakpuasan. Dia meminta dan menyetujui duel ini untuk mencari tahu potensi Arthur, tetapi jangankan potensinya, batas kemampuannya sekarang saja tidak berhasil ia ketahui dari duel yang berakhir singkat ini.

Bukan cuma Arnold saja yang merasa ketidakpuasan, Arkam pun juga. Orang-orang mungkin kagum karena Arthur Al Mahesa, si bungsu keluarga Mahesa yang terkenal lemah, telah berhasil mengalahkan si genius dari keluarga Haynes dengan sangat cepat dan mudah. Namun, kemenangan itu terlihat seperti keberuntungan di mata Arkam.

"Kepala keluarga biarkan Saya mengujinya!"

"Baiklah."

Penerimaan permintaan tidak masuk akal itu mengejutkan semua orang. Khususnya Pionir Haynes dan Hans. "Dasar gila, anak itu jelas-jelas sudah kesulitan bernapas, dia masih ingin mengujinya?" Pionir Haynes mengerutkan keningnya.

"Kepala keluarga!?" Hans tidak bisa menerimanya. Namun, Arnold dengan dingin mengabaikan kemarahannya. Dia berkata, "Sebastian, beri anak itu pil kehidupan untuk memulihkan kondisinya. Dengan begini keluhanmu selesai, kan?"

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!