Bab 10 : Pahlawan

"Kau tertawa!?" Selena menggertakkan giginya dan dengan marah mengarahkan niat membunuhnya pada Arthur. "Apa menurutmu situasi ini lucu dan pantas untuk ditertawakan!?" Dengan begini, semua mata yang terfokus pada ibunya kini beralih padanya.

Arthur terkejut pada awalnya dengan bagaimana energi magis yang liar di sekitar mulai menekan tubuhnya. Tanpa rapalan dan tanpa kendali, Arthur benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya bibinya melemparkan sihir dominasi padanya. Meski begitu, dominasinya begitu lemah, dan tidak berefek pada mental Arthur.

Dia pernah bertarung dengan tujuh Dewa, tidak masuk akal baginya untuk termakan oleh rasa takut pada tingkatan ini. Selain itu, bakat Ketenangan hati menstabilkan detak jantungnya."Saya tidak tertawa, tuh," jawab Arthur datar.

"Apa!? Beraninya kamu berbohong...." Selena berdiri dari tempat duduknya dan hendak melakukan sesuatu, tetapi dihentikan oleh Nahel, "Sudah, hentikan. Semua orang berpengaruh di wilayah ini sedang berkumpul di sini, jangan membuat keributan," tegasnya.

"Tapi anak ini...."

"Siapa yang ribut-ribut di rumahku!?" Suara keras yang menggema datang dari bagian dalam kastil.

Serentak, semua orang tertegun dan mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Arnold Al Mahesa ada di sana, berdiri dengan keangkuhannya. Dari kehadirannya, semua orang menundukkan kepalanya dan mengatur suara napasnya, terkecuali Arthur yang menatap kakeknya dengan jantung yang berdebar kencang.

Kuat, sosok yang berdiri dihadapannya ini adalah sosok pejuang yang kuat. Itu adalah kesan pertama yang muncul di benak Arthur. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, kakeknya adalah yang terkuat di keluarga Mahesa dan diseluruh wilayah Timur Laut. Seorang ksatria aura bintang enam tahap akhir, atau jika di Bumi mungkin setara dengan penyihir kelas Aristokrat. Kelas kelima dari sembilan.

Dialah Arnold Al Mahesa, figur legendaris di wilayah Timur Laut. Sosok yang menjadi sumber ketakutan besar bagi anak-anaknya. Tentu saja hal yang mereka sangat takuti sebenarnya adalah uang yang dimilikinya atau dalam arti lain mereka takut dengan keserakahan mereka sendiri. Mereka takut tidak bisa mewarisi uang tersebut, mereka takut bagiannya diambil oleh saudara mereka yang lain, dan mereka takut tidak dapat mempertahankan gelar bangsawan di nama mereka.

Hari ini adalah hari yang cukup menyegarkan bagi Arnold, setidaknya sampai keributan terjadi di antara keturunannya yang selama ini ia jaga dan bela dengan segenap jiwanya. Mereka bertengkar, berteriak, dan tampak congkak sebelum dia datang. Namun, lihatlah mereka sekarang. Leher mereka mengerucut selayaknya seekor kura-kura.

Mengecewakan, sangat mengecewakan. Bagi Arnold, putra dan putrinya sangat membuatnya kecewa. Oleh karena itu, dia tidak memutuskan kepada siapa dia akan mewariskan keluarga Mahesa dan mulai berharap bahwa cucu-cucunya tidak mengecewakannya.

Saat Arnold hendak pergi, dia terkejut dengan Arthur yang memandangnya langsung seolah tanpa tekanan. Dia memusatkan tekanan padanya, tetapi pemuda itu tetap bergeming pada tempat ia berdiri. Melihat ini Arnold tersenyum dan membatin, "Lihatlah anak ini? Apa pengalaman melihat jurang maut membuatnya menjadi seberani ini sekarang? Menarik, semua cucu-cucuku memang menarik, hahahaha!"

Arnold berjalan ke depan Arthur dan berkata padanya, "Pergilah ke halaman belakang kastil. Semua saudaramu berkumpul di sana." Arthur mengangguk dan mengikuti seorang pelayan yang memandunya ke halaman belakang.

Di halaman belakang kastil.

"Huh?"

Seorang pria berbadan besar dengan rambut pirang keriting dan baju besi ringan sedang bersandar ke dinding ketika dia menyadari seseorang yang ia kenal masuk ke lapangan pelatihan kastil.

Anak laki-laki ini adalah Harish Al Mahesa, cucu tertua keluarga Mahesa yang baru saja lulus dari akademi ksatria. "Mengapa sampah itu ada di sini?" Harish menggosok matanya, bertanya-tanya apakah dia sedang berhalusinasi atau tidak. Di depan gerbang belakang kastil berdiri seorang laki-laki yang mirip dengan idolanya. Mata merah menyala yang menjadi salah satu ciri khas kakeknya, kepala keluarga Mahesa.

"Arthur!?" Dia mendengus. Mengabaikan kejengkelannya yang semakin besar, dia perlahan mendekati Arthur yang mengabaikannya. Saat jarak semakin dekat, mata birunya yang tajam bersinar dan bibirnya membentuk seringai.

"Hey, Arthur." Harish menyapa, tetapi Arthur hanya menatap kosong ke arah lapangan latihan, membuat pria itu marah besar.

"Beraninya kamu mengabaikanku!" Harish mengangkat tinju besarnya ke kepala Arthur seperti orang gila. Namun, Arthur hanya menatapnya, bergerak sedikit, seolah mengabaikan bahaya yang akan segera datang.

Sejak Arthur diperkenalkan padanya, Harish sangat membencinya. Dia marah karena Arthur sangat mirip dengan idolanya yakni kakeknya sewaktu masih muda. Dia sangat mengidolakan Arnold Al Mahesa sampai-sampai dia mencoba meniru gaya berpakaian dan gaya bertarungnya. Melihat Arthur memiliki mata merah itu dia tidak bisa untuk tidak merasa dengki.

"Mari kita lihat berapa lama kamu bisa terus bersikap sombong seperti itu dihadapanku... Eh!?" Tinju Harish tersentak ke depan dengan suara yang lembek dan teredam. Hal ini sangat aneh baginya. Tinjunya jelas-jelas mengenai tubuh kurus dan lemah Arthur, tetapi mengapa bocah ini baik-baik saja?

Salah satu hal yang ditiru oleh Harish dari Arnold adalah tinju bajanya, dia bekerja keras dan melatihnya dengan baik sampai pada titik dapat menghancurkan batu gunung dengan tinju tanpa Aura. Dia bahkan diakui oleh kakeknya atas pencapaian ini. Namun, ada apa dengan anomali barusan? Si lemah ini menahan tinjunya?

Harish mencoba menyerangnya kembali, tetapi hasilnya tetap sama bahkan terasa lebih buruk. "Apa ini? Kali ini kamu menghindarinya? Serangan secepat itu? Ada yang tidak beres, padahal kau nggak cepat... rasanya aneh sekali."

Arthur dengan diam menghembuskan napasnya dan memegangi pipinya yang pedas akibat pukulan pertama yang tidak cukup cepat ia redam.

Sebelumnya, begitu Arthur memasuki lapangan pelatihan, matanya terpaku pada para pemuda dan sekelompok penjaga yang sedang berlatih dan bertanding. Namun, di antara mereka, seorang pria tampan dengan kulit putih dan mata biru yang jernih menarik perhatiannya.

"Sialan, bahkan di dunia ini pun, ada orang yang terlahir sebagai Pahlawan." Arthur melontarkan kata-kata itu seperti makanan busuk.

Pria yang memegang pedang ganda itu mengingatkannya dengan Pahlawan Cahaya, Raymoon Stuart, seorang pria yang mengaku sebagai sahabatnya, orang yang membuatnya menyerah untuk berjalan di jalur sihir pada awalnya, dan sosok yang memaksanya masuk ke gua pengasingan.

Mereka tampak persis sama dari bentuk tubuh hingga bagaimana tatapan matanya, tetapi dia berbeda dengan Raymoon Stuart yang tampak polos, pria itu penuh dengan rasa bangga diri.

Meski begitu, rasa jengkel masih tidak tertahankan di perutnya. Pahlawan, putra keberuntungan, protagonis dunia, atau apapun sebutan orang tentang mereka. Yang jelas, mereka semua memiliki kemampuan untuk berkembang secara pesat dan memiliki bakat tak tertandingi di bawah langit.

Dulu, Merlin menyerah berjalan di jalur sihir karena ketimpangan bakat di antara mereka. Lalu, ketika keluarga Arthurian dimusuhi oleh tujuh Dewa, Merlin tahu bahwa dia akan berhadapan dengan Raymoon sekali lagi.

Merlin tahu dengan baik bahwa dengan kemampuannya saat itu tidak mungkin bisa menang melawan Raymoon yang bahkan sudah dianugerahi kekuatan suci oleh para Dewa. Merlin pada akhirnya masuk ke gua pengasingan untuk memikirkan cara untuk berhadapan dengannya. Pada akhirnya dia sampai pada kesimpulan untuk menggunakan otoritas para Demon, musuh alami para Dewa.

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!