"Kau tertawa!?" Selena menggertakkan giginya dan dengan marah mengarahkan niat membunuhnya pada Arthur. "Apa menurutmu situasi ini lucu dan pantas untuk ditertawakan!?" Dengan begini, semua mata yang terfokus pada ibunya kini beralih padanya.
Arthur terkejut pada awalnya dengan bagaimana energi magis yang liar di sekitar mulai menekan tubuhnya. Tanpa rapalan dan tanpa kendali, Arthur benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya bibinya melemparkan sihir dominasi padanya. Meski begitu, dominasinya begitu lemah, dan tidak berefek pada mental Arthur.
Dia pernah bertarung dengan tujuh Dewa, tidak masuk akal baginya untuk termakan oleh rasa takut pada tingkatan ini. Selain itu, bakat Ketenangan hati menstabilkan detak jantungnya."Saya tidak tertawa, tuh," jawab Arthur datar.
"Apa!? Beraninya kamu berbohong...." Selena berdiri dari tempat duduknya dan hendak melakukan sesuatu, tetapi dihentikan oleh Nahel, "Sudah, hentikan. Semua orang berpengaruh di wilayah ini sedang berkumpul di sini, jangan membuat keributan," tegasnya.
"Tapi anak ini...."
"Siapa yang ribut-ribut di rumahku!?" Suara keras yang menggema datang dari bagian dalam kastil.
Serentak, semua orang tertegun dan mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Arnold Al Mahesa ada di sana, berdiri dengan keangkuhannya. Dari kehadirannya, semua orang menundukkan kepalanya dan mengatur suara napasnya, terkecuali Arthur yang menatap kakeknya dengan jantung yang berdebar kencang.
Kuat, sosok yang berdiri dihadapannya ini adalah sosok pejuang yang kuat. Itu adalah kesan pertama yang muncul di benak Arthur. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, kakeknya adalah yang terkuat di keluarga Mahesa dan diseluruh wilayah Timur Laut. Seorang ksatria aura bintang enam tahap akhir, atau jika di Bumi mungkin setara dengan penyihir kelas Aristokrat. Kelas kelima dari sembilan.
Dialah Arnold Al Mahesa, figur legendaris di wilayah Timur Laut. Sosok yang menjadi sumber ketakutan besar bagi anak-anaknya. Tentu saja hal yang mereka sangat takuti sebenarnya adalah uang yang dimilikinya atau dalam arti lain mereka takut dengan keserakahan mereka sendiri. Mereka takut tidak bisa mewarisi uang tersebut, mereka takut bagiannya diambil oleh saudara mereka yang lain, dan mereka takut tidak dapat mempertahankan gelar bangsawan di nama mereka.
Hari ini adalah hari yang cukup menyegarkan bagi Arnold, setidaknya sampai keributan terjadi di antara keturunannya yang selama ini ia jaga dan bela dengan segenap jiwanya. Mereka bertengkar, berteriak, dan tampak congkak sebelum dia datang. Namun, lihatlah mereka sekarang. Leher mereka mengerucut selayaknya seekor kura-kura.
Mengecewakan, sangat mengecewakan. Bagi Arnold, putra dan putrinya sangat membuatnya kecewa. Oleh karena itu, dia tidak memutuskan kepada siapa dia akan mewariskan keluarga Mahesa dan mulai berharap bahwa cucu-cucunya tidak mengecewakannya.
Saat Arnold hendak pergi, dia terkejut dengan Arthur yang memandangnya langsung seolah tanpa tekanan. Dia memusatkan tekanan padanya, tetapi pemuda itu tetap bergeming pada tempat ia berdiri. Melihat ini Arnold tersenyum dan membatin, "Lihatlah anak ini? Apa pengalaman melihat jurang maut membuatnya menjadi seberani ini sekarang? Menarik, semua cucu-cucuku memang menarik, hahahaha!"
Arnold berjalan ke depan Arthur dan berkata padanya, "Pergilah ke halaman belakang kastil. Semua saudaramu berkumpul di sana." Arthur mengangguk dan mengikuti seorang pelayan yang memandunya ke halaman belakang.
Di halaman belakang kastil.
"Huh?"
Seorang pria berbadan besar dengan rambut pirang keriting dan baju besi ringan sedang bersandar ke dinding ketika dia menyadari seseorang yang ia kenal masuk ke lapangan pelatihan kastil.
Anak laki-laki ini adalah Harish Al Mahesa, cucu tertua keluarga Mahesa yang baru saja lulus dari akademi ksatria. "Mengapa sampah itu ada di sini?" Harish menggosok matanya, bertanya-tanya apakah dia sedang berhalusinasi atau tidak. Di depan gerbang belakang kastil berdiri seorang laki-laki yang mirip dengan idolanya. Mata merah menyala yang menjadi salah satu ciri khas kakeknya, kepala keluarga Mahesa.
"Arthur!?" Dia mendengus. Mengabaikan kejengkelannya yang semakin besar, dia perlahan mendekati Arthur yang mengabaikannya. Saat jarak semakin dekat, mata birunya yang tajam bersinar dan bibirnya membentuk seringai.
"Hey, Arthur." Harish menyapa, tetapi Arthur hanya menatap kosong ke arah lapangan latihan, membuat pria itu marah besar.
"Beraninya kamu mengabaikanku!" Harish mengangkat tinju besarnya ke kepala Arthur seperti orang gila. Namun, Arthur hanya menatapnya, bergerak sedikit, seolah mengabaikan bahaya yang akan segera datang.
Sejak Arthur diperkenalkan padanya, Harish sangat membencinya. Dia marah karena Arthur sangat mirip dengan idolanya yakni kakeknya sewaktu masih muda. Dia sangat mengidolakan Arnold Al Mahesa sampai-sampai dia mencoba meniru gaya berpakaian dan gaya bertarungnya. Melihat Arthur memiliki mata merah itu dia tidak bisa untuk tidak merasa dengki.
"Mari kita lihat berapa lama kamu bisa terus bersikap sombong seperti itu dihadapanku... Eh!?" Tinju Harish tersentak ke depan dengan suara yang lembek dan teredam. Hal ini sangat aneh baginya. Tinjunya jelas-jelas mengenai tubuh kurus dan lemah Arthur, tetapi mengapa bocah ini baik-baik saja?
Salah satu hal yang ditiru oleh Harish dari Arnold adalah tinju bajanya, dia bekerja keras dan melatihnya dengan baik sampai pada titik dapat menghancurkan batu gunung dengan tinju tanpa Aura. Dia bahkan diakui oleh kakeknya atas pencapaian ini. Namun, ada apa dengan anomali barusan? Si lemah ini menahan tinjunya?
Harish mencoba menyerangnya kembali, tetapi hasilnya tetap sama bahkan terasa lebih buruk. "Apa ini? Kali ini kamu menghindarinya? Serangan secepat itu? Ada yang tidak beres, padahal kau nggak cepat... rasanya aneh sekali."
Arthur dengan diam menghembuskan napasnya dan memegangi pipinya yang pedas akibat pukulan pertama yang tidak cukup cepat ia redam.
Sebelumnya, begitu Arthur memasuki lapangan pelatihan, matanya terpaku pada para pemuda dan sekelompok penjaga yang sedang berlatih dan bertanding. Namun, di antara mereka, seorang pria tampan dengan kulit putih dan mata biru yang jernih menarik perhatiannya.
"Sialan, bahkan di dunia ini pun, ada orang yang terlahir sebagai Pahlawan." Arthur melontarkan kata-kata itu seperti makanan busuk.
Pria yang memegang pedang ganda itu mengingatkannya dengan Pahlawan Cahaya, Raymoon Stuart, seorang pria yang mengaku sebagai sahabatnya, orang yang membuatnya menyerah untuk berjalan di jalur sihir pada awalnya, dan sosok yang memaksanya masuk ke gua pengasingan.
Mereka tampak persis sama dari bentuk tubuh hingga bagaimana tatapan matanya, tetapi dia berbeda dengan Raymoon Stuart yang tampak polos, pria itu penuh dengan rasa bangga diri.
Meski begitu, rasa jengkel masih tidak tertahankan di perutnya. Pahlawan, putra keberuntungan, protagonis dunia, atau apapun sebutan orang tentang mereka. Yang jelas, mereka semua memiliki kemampuan untuk berkembang secara pesat dan memiliki bakat tak tertandingi di bawah langit.
Dulu, Merlin menyerah berjalan di jalur sihir karena ketimpangan bakat di antara mereka. Lalu, ketika keluarga Arthurian dimusuhi oleh tujuh Dewa, Merlin tahu bahwa dia akan berhadapan dengan Raymoon sekali lagi.
Merlin tahu dengan baik bahwa dengan kemampuannya saat itu tidak mungkin bisa menang melawan Raymoon yang bahkan sudah dianugerahi kekuatan suci oleh para Dewa. Merlin pada akhirnya masuk ke gua pengasingan untuk memikirkan cara untuk berhadapan dengannya. Pada akhirnya dia sampai pada kesimpulan untuk menggunakan otoritas para Demon, musuh alami para Dewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments