Bab 05 : Terlalu Jauh

Rasa cemas menjalar dalam tubuh Kiara ketika berhadapan dengan aura yang mendominasi dari kepala keluarga Mahesa. Dengan cemas, dia menjelaskan dan menceritakan bagaimana Arthur bisa berakhir di rumah bordil dan apa yang dilakukannya di sana sampai pada pisau yang tiba-tiba menancap di dadanya.

"Tunggu. Jadi, pembunuhnya meninggalkan pisau itu begitu saja? Bagaimana dengan pisau itu? Apa ada sesuatu yang spesial?" Hans menyela penjelasan Kiara dan bertanya padanya.

Kiara merasa dadanya menjadi sesak saat semua mata orang-orang penting di tempat ini tertuju padanya. Jelas sekali bahwa semua orang sedang mengharapkan petunjuk dari pisau itu. Masalahnya adalah, pisau itu sendiri dibeli oleh Tuan Muda Arthur beberapa hari sebelumnya.

Kiara benar-benar mati kutu. Petunjuk yang ia punya hanyalah pisau yang dibeli oleh Tuan-nya sebelumnya berada di dadanya, depresi yang bersumber dari pemutusan pertunangan dengan Nona Isabella, dan perubahan sikap tuannya yang drastis. Sayangnya, semua petunjuk ini mengarah pada satu hal, yakni upaya mengeliminasi diri sendiri, dan Kiara tidak berani menyaksikan reaksi yang akan muncul jika dia memberitahu tentang ini.

Saat Kiara diam, Tabib Liam memutuskan untuk bicara menggantikannya. "Tolong izinkan Saya menjawabnya," kata Tabib Liam sambil menundukkan punggungnya. Arnold mengangguk dan memberinya izin, "Katakan," ucapnya.

"Baik, pertama-tama tolong izinkan Saya untuk mengenalkan diri. Nama Saya Liam, seorang tabib yang juga ketua dari Pendeta luar dari kekaisaran Suci." Tabib Liam memperkenalkan dirinya sembari mengeluarkan plakat perak bersinar yang memvalidasi identitasnya sebagai Pendeta luar dari kekaisaran suci.

Mendengar pengakuan ini, semua orang terkejut, tidak terkecuali kepala keluarga Mahesa. Di benua Valhalla ini ada dua negara adidaya yang mengalami perang dingin selama belasan tahun terakhir, dan kekaisaran suci Chastity adalah salah satu dari mereka. Mengakui bahwa dirinya berasal dari kekaisaran suci saja sudah cukup mengejutkan, tetapi memperkenalkan diri sebagai Pendeta Luar lebih mengejutkan lagi.

Dalam perang dingin antara Kekaisaran Suci Chastity melawan Kekaisaran Mesin Machina, jaringan informasi yang sistematis diperlukan untuk mengenyahkan informasi tidak penting dan menyerap informasi yang berguna di antara masyarakat.

Informasi yang diperlukan tentunya tidak hanya yang berasal dari negara mereka sendiri, tetapi juga negara-negara lain di seluruh penjuru benua. Jadi, sebuah kelompok yang bisa menangani informasi secara profesional harus didirikan dan Pendeta Luar adalah sebutan untuk informan dari Kekaisaran Suci.

Lalu, wanita muda ini secara tiba-tiba masuk ke dalam kediaman keluarga bangsawan kecil di negara yang kecil, dan memperkenalkan dirinya sebagai Pendeta Luar yang bertanggung jawab atas keluar dan masuknya informasi di kerajaan ini.

Dalam hal ini, hanya ada dua kemungkinan sebagai alasan mengapa dia melakukan ini, pertama karena dia gila, atau yang kedua bahwa ada hal yang jauh lebih besar di belakang kasus percobaan pembunuhan Arthur Al Mahesa.

"Seorang wanita muda yang mendapatkan kepercayaan dari kekaisaran suci?" Kepala keluarga Mahesa menatap Pendeta Liam dengan mata yang dingin. "Melihat dari bagaimana kamu dengan arogannya memperkenalkan dirimu, kamu sepertinya memegang jabatan yang cukup tinggi. Sekarang katakan padaku, Informasi macam apa yang kamu punya di sakumu tentang masalah ini."

Pendeta Liam menganggukkan kepalanya dan tanpa basa basi membuka tas kopernya untuk mengeluarkan beberapa barang dan menaruhnya di atas meja. Dua tabung sampel darah dan secarik kertas dengan tinta yang luntur. "Seperti yang kalian bisa dilihat di sini, ada dua jenis darah yang berbeda yang Saya temukan di tempat kejadian, satu normal dan satu lagi tercemar."

Perhatian semua orang menjadi sepenuhnya terfokus pada sampel darah yang menghitam. Benda itu sudah menjelaskan mengapa kekaisaran suci ingin ikut campur dalam masalah ini.

Mereka yang bahkan menaruh kata suci di nama negara mereka, tidak akan tahan melihat sesuatu yang tercemar. Kaisar mereka terobsesi untuk menguasai benua sambil memproklamasikan diri sebagai pemimpin yang paling lurus dan paling benar untuk diikuti. Cara mereka bermain sama persis seperti Kuil tujuh Dewa yang licik, serakah, dan penuh arogansi.

"Darah pada umumnya dipenuhi oleh kehangatan dan terkadang membakar karena energi dari aura mengalir bersama dengan darah, tetapi yang satu ini berbeda. Darah yang pekat dan merah gelap ini dingin dan bersifat korosif. Selain secarik kertas ini, di dalam ruangan hina itu, meski secara tipis dan samar, kami masih bisa merasakan energi kotor dari penggunaan ilmu nujum yang menjijikan." Dahi Pendeta Liam berkedut setelah dia mengatakan hal ini.

Satu pukulan yang berat dari kepala keluarga Mahesa menghantam meja dan menghancurkannya menjadi serpihan debu. Semua orang di ruangan itu melepaskan napsu membunuh yang berat tidak terkecuali Kiara yang lengannya siaga menghunuskan pedangnya.

Mata Arnold menjadi gelap ketika ia bertanya, "Berbicaralah dengan benar, apakah kekaisaran suci baru saja menuduh bahwa cucuku adalah pengguna ilmu hitam?!" Tekanan yang begitu kuat menyebar dan memenuhi ruangan rapat, kadar oksigen yang menurun membuat beberapa ketua yang lebih lemah kesusahan untuk bernapas bahkan tersungkur ke lantai seperti Kiara.

Namun, Pendeta Liam baik-baik saja. Dia bergeming dan dengan dingin menatap balik dengan santainya. Dia menggenggam plakat peraknya dan berdoa, "Semoga cahaya sang Dewi, memberi perlindungan bagi hambanya yang setia." Setelah doa singkatnya selesai, cahaya yang terang menyelimuti tubuh Pendeta Liam dan meledak ke segala penjuru, membuat sirna semua niat membunuh dam dominasi dari Arnold.

"Meski Anda sekalian yang ada di sini tidak mempercayai Dewi kami, tapi setidaknya kalian harus memiliki kepala dingin dan mendengarkan apa yang aku sampaikan dengan benar. Seandainya sesuatu yang seperti barusan terjadi sekali lagi. Dengan berat hati kekaisaran suci kami harus memasukan nama Mahesa ke dalam daftar hitam kekaisaran suci, tidak ada seorang pun di sini yang mau hal itu terjadi, bukan?"

Apa yang diucapkan oleh Pendeta Liam bukanlah ancaman, melainkan sudah sampai pada tingkat ultimatum. Mahesa hanyalah keluarga yang menguasai wilayah kecil dari kerajaan kecil, bagi kekaisaran suci melenyapkan mereka hanyalah masalah kecil. Selama alasannya ada, bahkan jika itu dibuat-buat, mereka bisa membawa pasukan Ksatria Penghakiman ke sini tanpa masalah, dan keluarga Mahesa tidak punya kesempatan untuk bertahan sedikitpun.

"Jika kalian sudah paham, aku akan melanjutkan penjelasanku." Pendeta Liam tersenyum dingin.

"Seperti yang aku Katakan sebelumnya, ada jejak penggunaan ilmu nujum di ruangan itu. Awalnya aku menduga bahwa Tuan Muda Arthur yang melakukannya, mengingat dia memiliki hobi mengumpulkan buku kuno dan tentang depresinya di mana pertunangannya akan dibatalkan karena dia lemah. Masuk akal jika dia mencoba jalur yang menyimpang untuk mendapatkan kekuatan."

Saat mendengar ini, Hans yang mengenal dengan baik putranya tidak bisa berkata apa-apa. Arthur memang menyerah untuk mempelajari aura dan berfokus memperdalam pengetahuannya. Namun, di momen-momen tententu, dia dapat melihat bahwa putranya juga masih berharap bahwa dia bisa menjadi pendekar aura agar tidak mempermalukan nama Mahesa yang tersemat padanya.

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!