Bab 12 : Ini Adalah Sihir!

Arthur terdiam sejenak ketika dia melihat kakeknya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pada saat inilah dia berpikir bahwa waktunya telah tiba untuk memberikan kesan kuat kepada kakeknya. Untuk tujuannya. Arthur berkata dengan jelas, "Sekarang Saya tidak ingin berdiam diri lagi."

"Apa?"

"Kakek, selama ini Saya selalu menahan diri dan mencoba menghindar, tetapi lihatlah hasilnya?" Arthur menatap dalam ke arah langit ketika dia melepaskan kepalan tangannya. Dia tersenyum dan menatap Arnold dengan air mata di sudut matanya. "Semuanya dirampas dariku." Saat Arthur mengatakan ini, dia mengumpulkan energi magis di sekitarnya.

"Arthur kau!?"

"Kakek, aku bosan selalu menjadi pihak yang lemah. Jadi, mulai sekarang, aku akan menghalalkan segala cara, menipu, meniru, menggunakan cara kotor, ataupun berkhianat. Aku akan melakukan segalanya agar tidak kalah. Tidak bisa menggunakan Aura? Tidak masalah. Aku akan membuat cara baru untuk menggerakan energi magis." Pada saat ini, perasaan di dominasi justru dirasakan oleh Arnold. Cucu bungsunya ini bukan cuma berhati dingin, tetapi jelas-jelas sudah membeku.

Selain itu, pemandangan janggal saat benang-benang Aura tipis muncul di tangan Arthur membuatnya tercengang. "Mustahil, bagaimana bisa kamu menggunakan Eksternal Aura!?"

Arthur terkekeh, "Eksternal Aura? Apa itu? Ini adalah sihir, seni menggerakkan energi magis tanpa menyerapnya terlebih dahulu ke dalam tubuh. Meski terbatas dan lemah, inilah kekuatanku dan aku akan memenangkan tiap pertarungan dengan ini!"

Arnold hanya bisa ternganga. Sihir? Apa pula itu? Apa yang ia lihat jelas-jelas sebuah seni Eksternal Aura yang luar biasa. Memberikan bentuk pada Aura saja sudah luar biasa, tapi yang dilakukan oleh anak ini justru lebih dari itu.

Arthur membentuk Aura menjadi benang yang kuat dan membuatnya bergerak seolah-olah benang-benang itu punya kehidupan mereka sendiri. Yang lebih tidak masuk akal lagi bagi Arnold adalah, seharusnya hanya mereka yang mencapai Aura bintang empat ke atas sajalah yang bisa menggerakkan Aura di sekitar tubuhnya. Sedangkan Arthur bahkan tidak memiliki setetes pun Aura di dalam tubuhnya.

"Ka-kau... darimana kau mempelajari...."

Saat Arnold menginginkan penjelasan, bel tanda penyajian hidangan jamuan makan akan disiapkan sudah berbunyi. Ini sudah waktunya bagi mereka untuk berkumpul sebentar di ruang rapat selama para pelayan mulai menyiapkan ruang makan.

Arnold tidak bisa untuk tidak menghadiri rapat ini, tetapi juga tidak ingin kehilangan jawaban Arthur. Jadi, dia memutuskan, "Kau, ikut denganku." Saat kakeknya mengatakan hal ini, Arthur tahu bahwa niat awalnya sudah berhasil.

Reaksi kepala keluarga sesuai dengan yang ia inginkan, dia sudah mengatakan ambisinya untuk menang, dan dengan sihir yang ia tunjukkan di akhir, dia bisa menarik perhatian kakeknya hanya padanya sekaligus menunjukkan dedikasinya untuk tekad pantang mengalah.

Hanya dengan beginilah Arnold akan berpikir bahwa mentalitas keras Arthur yang sekarang ini sangat cocok bagi seorang pemimpin, yang dengan begitu akan memberikan kesan baik bagi Ayahnya sebagai salah satu kandidat pewaris Keluarga Mahesa. Mendukung ayahnya adalah cara yang Arthur pikirkan untuk membalas budi pemilik tubuh sebelumnya.

Saat memasuki ruang rapat, kakeknya berkata, "Kau terimalah hukumanmu dengan berdiri di sini." Arthur pun dengan patuh berjalan ke samping pintu dan berdiri di sana dengan kedua tangan di belakang.

Saat dia menegakkan pandangannya ke depan, dia tidak bisa tidak terkejut. Pasalnya, begitu dia mengekor kakeknya masuk, semua pasang mata menatapnya dengan tajam dalam pemikiran yang sama, "Mengapa Arthur ada di sini!?"

Arthur tidak mempermasalahkannya, tetapi dia merasa cukup bersalah ketika dia melihat ayahnya memijat dahi. Pria itu pasti berpikir Arthur sudah membuat masalah besar sampai-sampai dia akan diadili di rapat kali ini.

Begitu Kepala keluarga duduk di kursinya, suasana di dalam ruangan langsung berubah dan mata buas para predator ini langsung ciut terbawa tekanan gravitasi. Arthur berpikir bahwa orang-orang ini sangat konyol, mereka semua adalah orang-orang penting yang mengepalai berbagai cabang bisnis rumah dagang Mahesa, dan mereka juga memegang cukup banyak kekuatan di wilayah ini. Namun, dihadapan Arnold, semua pencapaian dan harga diri mereka yang tinggi seolah sirna.

"Apa tekanan yang diberikan kepala keluarga sehebat itu? Rupanya bakat Ketenangan Hati jauh lebih berguna dari yang aku harapkan," batin Arthur.

Rapat kali ini tidak sama seperti sebelumnya. Rapat resmi di keluarga Mahesa selalu dimulai dengan suasana yang sangat tegang. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang pertemuan yang megah, duduk di sekitar meja panjang berlapis kain merah yang mewah.

Kepala keluarga menyilangkan tangannya, sekarang dia benar-benar nampak seperti seorang pria tua yang berwibawa bukan lagi seorang kakek yang mengkhawatirkan masa depan anak cucunya. Dia duduk di ujung meja dan melihat tajam ke arah semua orang.

Kepala Keluarga dengan suara berat berkata, "Kita semua tahu mengapa kita berkumpul di sini. Pemilihan putra mahkota akan segera datang, dan kita harus memutuskan Pangeran mana yang akan kita dukung. Pemerintah pusat telah mendukung Pangeran Pertama. Namun, Pangeran Kedua dan Pangeran Ketiga dikonfirmasi telah memutuskan untuk bekerja sama melawan mereka. Sekarang, mari kita bicarakan ini dengan bijak, menurut kalian apa yang sebaiknya kita lakukan?"

Tarem Al Mahesa membuka suaranya terlebih dahulu dan berkata, "Kita semua tahu bahwa keluarga kerajaan selama ini sangat mementingkan garis keturunan yang murni. Saya ragu sang Raja akan memilih pangeran yang lahir dari selir. Sebagai tambahan, Pangeran Pertama memiliki kharisma yang luar biasa. Dia dapat dengan mudah memenangkan hati rakyat. Jadi, Saya tidak yakin pondasi kuat yang dimiliki pangeran pertama dapat dihancurkan."

Hans Al Mahesa bertanya dengan serius padanya, "Apa maksudmu cara satu-satunya bagi pihak lain untuk maju adalah dengan cara menusuk secara langsung?"

Tarem menganggukkan kepalanya. Posisi Pangeran Pertama terlalu kuat, tetapi pangeran kedua dan ketiga juga tidak berniat untuk mundur, pertumpahan darah mungkin tidak dapat dihindari di kerajaan Colin ini.

"Tidakkah menurut kalian ada cara lain seperti pengekangan paksa? Bisakah mereka melakukannya dengan cara ini tanpa menusuk langsung?" Kepala keluarga bertanya.

"Sepertinya itu tidak mungkin. Pemerintah pusat sudah bergerak cepat dengan memusatkan kekuatan militer mereka di istana." Selena Al Mahesa menepisnya.

Kepala keluarga menghela napas berat, jika perang benar-benar terjadi, rencana dagang yang sudah mereka siapkan untuk beberapa bulan ke depan terpaksa mereka lemparkan ke tempat sampah. Jalur-jalur dagang juga akan ditutup dan mereka juga harus bersiap diserang oleh bangsawan yang berdiri di sisi politik yang berseberangan.

"Apa ini? Pemilihan Putra Mahkota? Militer? Apa mereka sedang membicarakan tentang politik?" Arthur menganggap ini sangat konyol. Semua yang mereka bicarakan hanyalah tentang siapa yang harus mereka pilih.

Arthur juga merasa kecewa. Rapat resmi keluarga dagang seharusnya mendiskusikan strategi manajemen untuk menghadapi perubahan kepemimpinan dan menalar masa depan sembari mencari celah keuntungan. Itulah yang biasa dilakukan di keluarga Arthurian dalam situasi seperti ini.

Episodes
1 Bab 01 : Iblis Amarah
2 Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3 Bab 03 : Rumah Bordil
4 Bab 04 : Salah Sangka
5 Bab 05 : Terlalu Jauh
6 Bab 06 : Kontrak
7 Bab 07 : Sistem
8 Bab 08 : Orang Tua Arthur
9 Bab 09 : Aura
10 Bab 10 : Pahlawan
11 Bab 11 : Sandiwara
12 Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13 Bab 13 : Pendapat
14 Bab 14 : Hitungan
15 Bab 15 : Aliran Uang
16 Bab 16 : Tamu Agung
17 Bab 17 : Pionir Haynes
18 Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19 Bab 19 : Goyah
20 Bab 20 : Duel
21 Bab 21 : Pil Kehidupan
22 Bab 22 : Melawan Pahlawan
23 Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24 Bab 24 : Teritorium
25 Bab 25 : Hasil Duel
26 Bab 26 : Konstelasi Muda
27 Bab 27 : Wanita Misterius
28 Bab 28 : Anvil Emas
29 Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30 Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31 Bab 31 : Pertaruhan
32 Bab 32 : Mustahil Menang
33 Bab 33 : Bengkel
34 Bab 34 : Kontrak Kerja
35 Bab 35 : Generasi
36 Bab 36 : Kertas Toilet
37 Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38 Bab 38 : Kuda Perang
39 Bab 39 : Kesetiaan
40 Bab 40 : Keserakahan
41 Bab 41 : Mata Dewa Perang
42 Bab 42 : George Trailer
43 Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44 Bab 44 : Keserakahan Arthur
45 Bab 45 : Barang Bukti
46 Bab 46 : Novel
47 Bab 47 : Sastra Erotis
48 Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49 Bab 49 : Lembaga Hukum
50 Bab 50 : Rasa Iri Hati
51 Bab 51 : Hak Cipta
52 Bab 52 : Fitnah
53 Bab 53 : Korban
54 Bab 54 : Tumbal
55 Bab 55 : Cincin
56 Bab 56 : Selesai
57 Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58 Bab 58 : Kediaman Barat
59 Bab 59 : Penerus
60 Bab 60 : Bakat Baru
61 Bab 61 : Negosiasi
62 Bab 62 : Tiga Serangan
63 Bab 63 : Potensi
64 Bab 64 : Nomor Enam
65 Bab 65 : Divine Hand Strike
66 Bah 66 : Situasi Panas
67 Bab 67 : Bintang Sembilan
68 Bab 68 : Efek Samping
69 Bab 69 : Salah Makan?
70 Bab 70 : Pengajaran
71 Bab 71 : Surat Kabar
72 Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73 Bab 73 : Penjahat Terburuk
74 Bab 74 : Dikodekan
75 Bab 75 : Parasit
76 Bab 76 : Shirley Dawn
77 Bab 77 : Penghuni Hutan
78 Bab 78 : Ledakan
79 Bab 79 : Kota Elves
80 Bab 80 : Janji
81 Bab 81 : Mata Merah
82 Bab 82 : Raja
83 Bab 83 : Penghuni Ilegal
84 Bab 84 : Jus
85 Bab 85 : Respon Picik
86 Bab 86 : Aristokrat
87 Bab 87 : Rasa Ragu
88 Bab 88 : Hukuman
89 Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90 Bab 90 : Ritual
91 Bab 91 : Koin Emas
92 Bab 92 : Supreme Spirit
93 Bab 93 : Sendawa
94 Bab 94 : Emas
95 Bab 95 : Bangsa Idiot
96 Bab 96 : Defiania
97 Bab 97 : Hasrat
98 Bab 98 : Puiff
99 Bab 99 : Bar
100 Bab 100 : Palsu
101 Bab 101 : Blackthorn
102 Bab 102 : Nasib
103 Bab 103 : Murka Elves
104 Bab 104 : Malaikat Maut
105 Bab 105 : Variabel
106 Bab 106 : Berbeda
107 Bab 107 : Sidang
108 Bab 108 : Kantung
109 Bab 109 : Hantu
110 Bab 110 : Tetes Terakhir
111 Bab 111 : Efek Samping
112 Bab 112 : Jormungandr
113 Bab 113 : Wadah
114 Bab 114 : Skoll Dan Hati
115 Bab 115 : Bola Air
116 Bab 116 : Claymore
117 Bab 117 : Dewa Iblis
118 Bab 118 : Kejatuhan
119 Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120 Bab 120 : Arthurian Merlin
121 Bab 121 : Perang Hutan
122 Bab 122 : Segel
123 Bab 123 : Akar
124 Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125 Bab 125 : Terminal Lucidity
126 Bab 126 : Jantung
127 Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128 Pengumuman S2!
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 01 : Iblis Amarah
2
Bab 02 : Arthur Al Mahesa
3
Bab 03 : Rumah Bordil
4
Bab 04 : Salah Sangka
5
Bab 05 : Terlalu Jauh
6
Bab 06 : Kontrak
7
Bab 07 : Sistem
8
Bab 08 : Orang Tua Arthur
9
Bab 09 : Aura
10
Bab 10 : Pahlawan
11
Bab 11 : Sandiwara
12
Bab 12 : Ini Adalah Sihir!
13
Bab 13 : Pendapat
14
Bab 14 : Hitungan
15
Bab 15 : Aliran Uang
16
Bab 16 : Tamu Agung
17
Bab 17 : Pionir Haynes
18
Bab 18 : Ketidaksukaan Hans
19
Bab 19 : Goyah
20
Bab 20 : Duel
21
Bab 21 : Pil Kehidupan
22
Bab 22 : Melawan Pahlawan
23
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
24
Bab 24 : Teritorium
25
Bab 25 : Hasil Duel
26
Bab 26 : Konstelasi Muda
27
Bab 27 : Wanita Misterius
28
Bab 28 : Anvil Emas
29
Bab 29 : Bimbingan Ksatria
30
Bab 30 : Kemarahan Seorang Penyihir
31
Bab 31 : Pertaruhan
32
Bab 32 : Mustahil Menang
33
Bab 33 : Bengkel
34
Bab 34 : Kontrak Kerja
35
Bab 35 : Generasi
36
Bab 36 : Kertas Toilet
37
Bab 37 : Pihak Yang Memimpin
38
Bab 38 : Kuda Perang
39
Bab 39 : Kesetiaan
40
Bab 40 : Keserakahan
41
Bab 41 : Mata Dewa Perang
42
Bab 42 : George Trailer
43
Bab 43 : Pengadilan Pertunangan
44
Bab 44 : Keserakahan Arthur
45
Bab 45 : Barang Bukti
46
Bab 46 : Novel
47
Bab 47 : Sastra Erotis
48
Bab 48 : Efek Kupu-kupu
49
Bab 49 : Lembaga Hukum
50
Bab 50 : Rasa Iri Hati
51
Bab 51 : Hak Cipta
52
Bab 52 : Fitnah
53
Bab 53 : Korban
54
Bab 54 : Tumbal
55
Bab 55 : Cincin
56
Bab 56 : Selesai
57
Bab 57 : Hadiah Bermasalah
58
Bab 58 : Kediaman Barat
59
Bab 59 : Penerus
60
Bab 60 : Bakat Baru
61
Bab 61 : Negosiasi
62
Bab 62 : Tiga Serangan
63
Bab 63 : Potensi
64
Bab 64 : Nomor Enam
65
Bab 65 : Divine Hand Strike
66
Bah 66 : Situasi Panas
67
Bab 67 : Bintang Sembilan
68
Bab 68 : Efek Samping
69
Bab 69 : Salah Makan?
70
Bab 70 : Pengajaran
71
Bab 71 : Surat Kabar
72
Bab 72 : Menelan Atau Ditelan
73
Bab 73 : Penjahat Terburuk
74
Bab 74 : Dikodekan
75
Bab 75 : Parasit
76
Bab 76 : Shirley Dawn
77
Bab 77 : Penghuni Hutan
78
Bab 78 : Ledakan
79
Bab 79 : Kota Elves
80
Bab 80 : Janji
81
Bab 81 : Mata Merah
82
Bab 82 : Raja
83
Bab 83 : Penghuni Ilegal
84
Bab 84 : Jus
85
Bab 85 : Respon Picik
86
Bab 86 : Aristokrat
87
Bab 87 : Rasa Ragu
88
Bab 88 : Hukuman
89
Bab 89 : Pemanggilan Spirit
90
Bab 90 : Ritual
91
Bab 91 : Koin Emas
92
Bab 92 : Supreme Spirit
93
Bab 93 : Sendawa
94
Bab 94 : Emas
95
Bab 95 : Bangsa Idiot
96
Bab 96 : Defiania
97
Bab 97 : Hasrat
98
Bab 98 : Puiff
99
Bab 99 : Bar
100
Bab 100 : Palsu
101
Bab 101 : Blackthorn
102
Bab 102 : Nasib
103
Bab 103 : Murka Elves
104
Bab 104 : Malaikat Maut
105
Bab 105 : Variabel
106
Bab 106 : Berbeda
107
Bab 107 : Sidang
108
Bab 108 : Kantung
109
Bab 109 : Hantu
110
Bab 110 : Tetes Terakhir
111
Bab 111 : Efek Samping
112
Bab 112 : Jormungandr
113
Bab 113 : Wadah
114
Bab 114 : Skoll Dan Hati
115
Bab 115 : Bola Air
116
Bab 116 : Claymore
117
Bab 117 : Dewa Iblis
118
Bab 118 : Kejatuhan
119
Bab 119 : Empathy Of Sylvana
120
Bab 120 : Arthurian Merlin
121
Bab 121 : Perang Hutan
122
Bab 122 : Segel
123
Bab 123 : Akar
124
Bab 124 : Inkarnasi Pohon Dunia
125
Bab 125 : Terminal Lucidity
126
Bab 126 : Jantung
127
Bab 127 : Tidak Ada Artinya (End)
128
Pengumuman S2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!