Arthur terdiam sejenak ketika dia melihat kakeknya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pada saat inilah dia berpikir bahwa waktunya telah tiba untuk memberikan kesan kuat kepada kakeknya. Untuk tujuannya. Arthur berkata dengan jelas, "Sekarang Saya tidak ingin berdiam diri lagi."
"Apa?"
"Kakek, selama ini Saya selalu menahan diri dan mencoba menghindar, tetapi lihatlah hasilnya?" Arthur menatap dalam ke arah langit ketika dia melepaskan kepalan tangannya. Dia tersenyum dan menatap Arnold dengan air mata di sudut matanya. "Semuanya dirampas dariku." Saat Arthur mengatakan ini, dia mengumpulkan energi magis di sekitarnya.
"Arthur kau!?"
"Kakek, aku bosan selalu menjadi pihak yang lemah. Jadi, mulai sekarang, aku akan menghalalkan segala cara, menipu, meniru, menggunakan cara kotor, ataupun berkhianat. Aku akan melakukan segalanya agar tidak kalah. Tidak bisa menggunakan Aura? Tidak masalah. Aku akan membuat cara baru untuk menggerakan energi magis." Pada saat ini, perasaan di dominasi justru dirasakan oleh Arnold. Cucu bungsunya ini bukan cuma berhati dingin, tetapi jelas-jelas sudah membeku.
Selain itu, pemandangan janggal saat benang-benang Aura tipis muncul di tangan Arthur membuatnya tercengang. "Mustahil, bagaimana bisa kamu menggunakan Eksternal Aura!?"
Arthur terkekeh, "Eksternal Aura? Apa itu? Ini adalah sihir, seni menggerakkan energi magis tanpa menyerapnya terlebih dahulu ke dalam tubuh. Meski terbatas dan lemah, inilah kekuatanku dan aku akan memenangkan tiap pertarungan dengan ini!"
Arnold hanya bisa ternganga. Sihir? Apa pula itu? Apa yang ia lihat jelas-jelas sebuah seni Eksternal Aura yang luar biasa. Memberikan bentuk pada Aura saja sudah luar biasa, tapi yang dilakukan oleh anak ini justru lebih dari itu.
Arthur membentuk Aura menjadi benang yang kuat dan membuatnya bergerak seolah-olah benang-benang itu punya kehidupan mereka sendiri. Yang lebih tidak masuk akal lagi bagi Arnold adalah, seharusnya hanya mereka yang mencapai Aura bintang empat ke atas sajalah yang bisa menggerakkan Aura di sekitar tubuhnya. Sedangkan Arthur bahkan tidak memiliki setetes pun Aura di dalam tubuhnya.
"Ka-kau... darimana kau mempelajari...."
Saat Arnold menginginkan penjelasan, bel tanda penyajian hidangan jamuan makan akan disiapkan sudah berbunyi. Ini sudah waktunya bagi mereka untuk berkumpul sebentar di ruang rapat selama para pelayan mulai menyiapkan ruang makan.
Arnold tidak bisa untuk tidak menghadiri rapat ini, tetapi juga tidak ingin kehilangan jawaban Arthur. Jadi, dia memutuskan, "Kau, ikut denganku." Saat kakeknya mengatakan hal ini, Arthur tahu bahwa niat awalnya sudah berhasil.
Reaksi kepala keluarga sesuai dengan yang ia inginkan, dia sudah mengatakan ambisinya untuk menang, dan dengan sihir yang ia tunjukkan di akhir, dia bisa menarik perhatian kakeknya hanya padanya sekaligus menunjukkan dedikasinya untuk tekad pantang mengalah.
Hanya dengan beginilah Arnold akan berpikir bahwa mentalitas keras Arthur yang sekarang ini sangat cocok bagi seorang pemimpin, yang dengan begitu akan memberikan kesan baik bagi Ayahnya sebagai salah satu kandidat pewaris Keluarga Mahesa. Mendukung ayahnya adalah cara yang Arthur pikirkan untuk membalas budi pemilik tubuh sebelumnya.
Saat memasuki ruang rapat, kakeknya berkata, "Kau terimalah hukumanmu dengan berdiri di sini." Arthur pun dengan patuh berjalan ke samping pintu dan berdiri di sana dengan kedua tangan di belakang.
Saat dia menegakkan pandangannya ke depan, dia tidak bisa tidak terkejut. Pasalnya, begitu dia mengekor kakeknya masuk, semua pasang mata menatapnya dengan tajam dalam pemikiran yang sama, "Mengapa Arthur ada di sini!?"
Arthur tidak mempermasalahkannya, tetapi dia merasa cukup bersalah ketika dia melihat ayahnya memijat dahi. Pria itu pasti berpikir Arthur sudah membuat masalah besar sampai-sampai dia akan diadili di rapat kali ini.
Begitu Kepala keluarga duduk di kursinya, suasana di dalam ruangan langsung berubah dan mata buas para predator ini langsung ciut terbawa tekanan gravitasi. Arthur berpikir bahwa orang-orang ini sangat konyol, mereka semua adalah orang-orang penting yang mengepalai berbagai cabang bisnis rumah dagang Mahesa, dan mereka juga memegang cukup banyak kekuatan di wilayah ini. Namun, dihadapan Arnold, semua pencapaian dan harga diri mereka yang tinggi seolah sirna.
"Apa tekanan yang diberikan kepala keluarga sehebat itu? Rupanya bakat Ketenangan Hati jauh lebih berguna dari yang aku harapkan," batin Arthur.
Rapat kali ini tidak sama seperti sebelumnya. Rapat resmi di keluarga Mahesa selalu dimulai dengan suasana yang sangat tegang. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang pertemuan yang megah, duduk di sekitar meja panjang berlapis kain merah yang mewah.
Kepala keluarga menyilangkan tangannya, sekarang dia benar-benar nampak seperti seorang pria tua yang berwibawa bukan lagi seorang kakek yang mengkhawatirkan masa depan anak cucunya. Dia duduk di ujung meja dan melihat tajam ke arah semua orang.
Kepala Keluarga dengan suara berat berkata, "Kita semua tahu mengapa kita berkumpul di sini. Pemilihan putra mahkota akan segera datang, dan kita harus memutuskan Pangeran mana yang akan kita dukung. Pemerintah pusat telah mendukung Pangeran Pertama. Namun, Pangeran Kedua dan Pangeran Ketiga dikonfirmasi telah memutuskan untuk bekerja sama melawan mereka. Sekarang, mari kita bicarakan ini dengan bijak, menurut kalian apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Tarem Al Mahesa membuka suaranya terlebih dahulu dan berkata, "Kita semua tahu bahwa keluarga kerajaan selama ini sangat mementingkan garis keturunan yang murni. Saya ragu sang Raja akan memilih pangeran yang lahir dari selir. Sebagai tambahan, Pangeran Pertama memiliki kharisma yang luar biasa. Dia dapat dengan mudah memenangkan hati rakyat. Jadi, Saya tidak yakin pondasi kuat yang dimiliki pangeran pertama dapat dihancurkan."
Hans Al Mahesa bertanya dengan serius padanya, "Apa maksudmu cara satu-satunya bagi pihak lain untuk maju adalah dengan cara menusuk secara langsung?"
Tarem menganggukkan kepalanya. Posisi Pangeran Pertama terlalu kuat, tetapi pangeran kedua dan ketiga juga tidak berniat untuk mundur, pertumpahan darah mungkin tidak dapat dihindari di kerajaan Colin ini.
"Tidakkah menurut kalian ada cara lain seperti pengekangan paksa? Bisakah mereka melakukannya dengan cara ini tanpa menusuk langsung?" Kepala keluarga bertanya.
"Sepertinya itu tidak mungkin. Pemerintah pusat sudah bergerak cepat dengan memusatkan kekuatan militer mereka di istana." Selena Al Mahesa menepisnya.
Kepala keluarga menghela napas berat, jika perang benar-benar terjadi, rencana dagang yang sudah mereka siapkan untuk beberapa bulan ke depan terpaksa mereka lemparkan ke tempat sampah. Jalur-jalur dagang juga akan ditutup dan mereka juga harus bersiap diserang oleh bangsawan yang berdiri di sisi politik yang berseberangan.
"Apa ini? Pemilihan Putra Mahkota? Militer? Apa mereka sedang membicarakan tentang politik?" Arthur menganggap ini sangat konyol. Semua yang mereka bicarakan hanyalah tentang siapa yang harus mereka pilih.
Arthur juga merasa kecewa. Rapat resmi keluarga dagang seharusnya mendiskusikan strategi manajemen untuk menghadapi perubahan kepemimpinan dan menalar masa depan sembari mencari celah keuntungan. Itulah yang biasa dilakukan di keluarga Arthurian dalam situasi seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments