chapter 03

suara gemuruh ledakan terdengar di dalan ruang kelas 1-3, para siswa yang ada di dalam kelas tersebut melirik ke arah ledakan itu terjadi, dari sumber ledakan itu terlihat seorang gadis yang mengarahkan telapak tangannya ke arah wajah seorang pira yang berdiri tepat di belakangnya dari balik telapak tangan tersebut keluar asap hitam yang menyebar dari sela-sela tangan.

semua siswa di dalam ruang kelas tersebut tercengang ada rasa panik, takut, dan khawatir dari ekspresi mereka saat melihat pemandangan tersebut.

sebuah suara memecah kebeningan " oi, oi, kamu serius..." suara itu berasal dari balik telapak tangan seorang anak perempuan, ada seorang anak laki-laki dengan bau hangus di sekitar wajahnya namun tidak ada luka goresan apapun pada wajah anak laki-lak tersebut yang membuat semua orang yang ada di dalam kelas kembali terkejut dan anak laki-laki itu adalah aron, kakak laki-laki dari liya dan orang yang mengarahkan tangannya ke wajahnya tidak lain adalah adiknya sendiri liya.

" kau serius mengarahkannya ke kakakmu sendiri " ucap aron sambil mengangkat tangan kirinya memegang tangan liya dan menepisnya tangannya ke samping

" berisik!, bukannya itu salahmu sendiri membuatku kaget dengan diam-diam menempelkan kaleng dingin ke pipiku "

" pembalasan, bukankah kamu bilang minummu terjatuh di jalan, kenapa sekarang ada di atas meja? " ucapnya mengarah pada botol pink dengan gambar kucing putih di tengahnya berdiri di atas meja.

" uumm.. ini... , tadi baru saja aku ada orang yang menemukan dan membawanya ke sekolah. " liya berusaha membuat alasan yang cukup meyakinkan, tapi aron kakaknya tentu sudah tahu seluk beluk dirinya, aron tahu liya berbohong.

" oh, ya... jika di lihat dengan seksama tidak ada noda debu yang menempel pada permukaan botol, tidak ada goresan akibat benturan karena jatuh dari ketinggian saat bergerak cepat,

 hmm.. ini aneh, seharusnya ada beberapa goresan kecil atau sedikit penyok pada permukaannya, bukankah seharusnya ada, b e n a r k a n liya? " tanya aron ekspresi tersenyum dengan sedikit nada yang di tekan pada kalimat terakhir.

liya yang merasa merinding karena tekanan yang di berikan kakaknya hanya bisa menelan ludah dengan penuh rasa takut. pemandangan yang liya lihat saat ini adalah sesosok setan dengan gemuruh petir yang menyambar di belakangnya yang berdri tepat di hadapannya dan sangat dekat dengannya.

" gluukk.., ah, itu, gini, itu... "

liya tergagap berusaha mencari alasan agar dia bisa keluar dari situasinya saat ini. tapi otaknya sepertinya tidak ingin bekerja sama dengannya, sekeras apapun dia memikirkannya liya tidak bisa menemukan alasan yang cocok untuk bisa membuatnya meloloskan diri dari sosok menakutkan kakaknya.

liya mencoba menghindari tatapan kakaknya dan hanya sesekali meliriknya hanya untuk membuat rasa bersalahnya semakin dalam.

aron tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menunggu jawaban adiknya dengan diam, tapi tanpa dia sadari hal itu justru membuat liya merasa semakin ketakutan.

merasa sudah tidak ada jalan keluar, liya menyerah, dia meminta maaf dan mengatakan yang sebenarnya pada kakaknya.

" maaf kak, aku hanya ingin menjahilimu, habisnya kamu tadi sempat meninggalkanku, itu membuatku kesal dan ingin membalasnya jadi aku melakukan ini, juga.... " liya maju sedikit lebih dekat dan membisikkan sesuatu kepada aron.

setelah mendengar apa yang di bisikkan liya ekspresi aron menjadi kaku sebentar sebelum kembali lagi seperti sedia kala, dia menghela nafas panjang lalu kembali berbicara dengan liya.

" hah... ya udah kali ini aja, enggak ada lagi yang lain, uangku bisa habis kalo kamu terus-menerus meminta seperti ini setiap hari " ucap aron dengan nada pasrah,

" hehehe.. makasih " balas liya dengan seringai di wajahnya.

setelah menyerahkan minuman yang liya pesan, aron dengan enggan kembali ke. tempat duduknya dia menyantap makanan yang sebelumnya dia beli di kantin tanpa menghiraukan ekspresi orang-orang di dalam kelas yang menatapnya dengan heran dan penuh tanda tanya.

aku rasa aku haris mencari kerja sampingan, aku harap ada beberapa yang bisa aku kerjakan di pulau ini yang tidak harus behubungan dengan sorcière, walaupun aku tidak yakin ada manusia biasa yang bisa bekerja dengan normal di pulau melayang ini yang berada di luar angkasa.

sambil memikirkan itu aron segera menghabiskan makanannya sebelum bel pelajaran berikutnya berbunyi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!