Anak-anak itu, yang kini sudah berusia 13 tahun, melanjutkan perjalanan mereka yang tampaknya tiada akhir. Sudah tiga tahun berlalu sejak kematian kakek tua mereka, dan mereka kini melakukan perjalanan bersama tanpa tujuan yang jelas, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
"Kakak, apa kamu lapar?" tanya gadis dengan rambut berwarna pink, yang kini sudah tampak lebih dewasa dan kuat.
"Ya, ayo. Kita berburu bahan makanan dulu, setelah itu mengolahnya untuk makan malam," jawab anak laki-laki itu dengan senyum tipis, berusaha menyemangati adiknya.
Mereka bergerak cepat, menyusuri reruntuhan kota yang penuh dengan bahaya. Mereka telah terbiasa dengan kondisi ini, dan kerja sama mereka semakin kuat. Dengan kemampuan supernatural yang mereka miliki, mereka mampu mengatasi berbagai rintangan dan ancaman yang menghadang.
Mereka tiba di sebuah bangunan tua yang tampak cukup aman. Dengan hati-hati, mereka masuk ke dalam, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Di dalam, mereka menemukan beberapa kaleng makanan yang tersisa dan beberapa botol air yang tampak masih layak untuk diminum.
"Ini lumayan, kak. Kita bisa membuat sup dari ini," kata gadis itu dengan senyum kecil.
"Bagus, ayo kita cari tempat yang aman untuk memasaknya," jawab kakaknya.
Mereka mencari tempat yang tersembunyi dan mulai menyiapkan makanan. Dengan api kecil yang mereka buat dari sisa-sisa kayu, mereka mulai memasak sup sederhana. Bau makanan yang lezat mulai menguar, memberikan sedikit kenyamanan di tengah-tengah kehidupan yang keras ini.
Sambil menunggu sup matang, mereka duduk bersebelahan, berbicara tentang kenangan bersama kakek mereka dan tentang harapan masa depan. Meskipun dunia di sekitar mereka penuh dengan kegelapan, mereka tetap memiliki keberanian untuk terus melangkah maju.
"Suatu hari nanti, kita pasti akan menemukan tempat yang aman dan damai, di mana kita bisa hidup dengan tenang," kata anak laki-laki itu dengan keyakinan.
"Ya, kakak. Aku percaya itu," jawab gadis itu sambil menggenggam tangan kakaknya erat-erat.
Mereka terus menikmati momen kebersamaan diantara mereka bedua dengan penuh rasa syukur.
**8 Tahun Setelah Kecelakaan**
Kakak beradik itu kini berusia 14 tahun. Selama satu tahun terakhir, makanan mulai menipis. Manusia dihadapkan pada pilihan untuk berburu daging monster demi bertahan hidup atau saling membunuh dan mengambil persediaan dari orang lain.
Mereka lebih memilih berburu monster karena berkat buku jurnal harian yang kakek tua itu tinggalkan, mereka memiliki pengetahuan minimal tentang monster apa saja yang dapat dikonsumsi.
"Buku ini sangat berguna. Aku tidak menyangka kakek akan menulis semua ini," ucap anak laki-laki itu sambil memegang buku jurnal kakek mereka.
"Ya, dia memang terlihat seperti orang aneh yang selalu bersemangat menulis apapun yang ditemukannya. Tapi, berkat itu kita jadi sangat berterima kasih padanya," sahut gadis itu, mengingat dengan hangat kenangan tentang kakek mereka.
Dengan buku jurnal itu, mereka dapat mengidentifikasi monster yang aman untuk dikonsumsi dan menghindari yang beracun. Pengetahuan ini telah menyelamatkan hidup mereka berulang kali. Mereka juga belajar tentang pola perilaku monster, yang membantu mereka dalam berburu dan bertahan hidup.
Di tengah perburuan, anak laki-laki itu menunjukkan halaman dalam jurnal yang menjelaskan tentang monster tertentu yang bisa dijadikan makanan bergizi. "Lihat ini, jika kita bisa menemukan monster ini, kita akan punya cukup makanan untuk beberapa minggu," katanya dengan antusias.
Gadis itu mengangguk, merasa lega dengan pengetahuan yang mereka miliki. "Baiklah, kita harus bekerja sama seperti biasa untuk makanan lezat yang akan datang," katanya sambil meneteskan air liur dari mulutnya.
"Air liurmu mengalir deras tuh, pft. Kamu terlihat bodoh saat membahas makanan," ucap anak laki-laki itu saat melihat wajah bodoh adiknya yang meneteskan liur dari mulutnya yang sedikit terbuka.
"Hmm... apa yang kamu ucapkan, kakak jahat," ucapnya cemberut sambil menggembungkan pipinya.
Anak laki-laki itu hanya tertawa kecil sambil mengusap kepala adiknya. "Ayo, kita mulai berburu. Semakin cepat kita mendapatkan makanan, semakin cepat kita bisa makan," katanya dengan semangat.
Menurut buku jurnal yang kakek itu tinggalkan. Mereka mengetahui bahwa monster-monster yang ada di dunia saat ini berasal dari buku-buku cerita fiktif dan orang-orang menyebutnya sebagai makhluk urban.
kakek itu juga mengelolakan makhluk urban ke beberapa tingkatan,
Tingkat rendah adalah monster-monster yang masih menyerupai hewan yang ada di dunia nyata.
Tingkat menengah adalah monster yang menyerupai manusia dengan beberapa tambahan anggota tubuh yang menakutkan seperti tanduk fi kepala atau ekor di bagian belakang tubuh juga yang berukuran raksasa setinggi 3 meter atau lebih itu di klasifikasi sebagai makhluk urban tingkat menegah.
Lalu ada tingkat tinggi, mereka adalah manusia. berasal dari buku-buku dongeng dan cerita dengan pikiran dan sikap dan sifat yang sepenuhnya berbeda dari ceritanya di jurnal juga di tulis jika bertemu dengan tingkat ini maka larilah karena mereja tidak bisa di bunuh dengan cara apapun yang bisa membunuh makhluk urban tingkat rendah dan menengah
Gadis itu melihat buku jurnal yang kakek tinggalkan dengan rasa hormat dan kekaguman. "Kakek benar-benar luar biasa. Semua informasi ini sangat berharga," katanya.
Anak laki-laki itu mengangguk setuju. "Ya, kakek benar-benar luar biasa. Berkat jurnal yang dia tulis, kita bisa memahami apa yang kita hadapi dan bagaimana cara bertahan hidup," katanya sambil menatap langit yang tertutup awan abu-abu. Anak laki-laki itu mengingat kembali momen kebersamaan mereka dengan kakek tua itu yang sudah tidak bisa lagi mereka rasakan. “Terima kasih, kakek," gumamnya dengan suara pelan.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari tempat mereka sebelumnya, kedua bersaudara itu akhirnya tiba di tempat berburu mereka.
Sarang Basilisk Troll, makhluk urban tingkat menengah yang dituliskan dalam buku jurnal sebagai makhluk urban yang bergizi.
"Yang bisa menjatuhkannya lebih dulu, dia yang dapat bagian terbanyak," ucap anak laki-laki itu sambil menerjang maju masuk ke dalam sarang Basilisk Troll.
"Jangan mengatakannya saat kamu sudah berlari lebih dulu. Itu curang namanya," ucap adiknya yang bergegas menyusul masuk ke dalam sarang mengikutinya.
Di dalam sarang, mereka menemukan Basilisk Troll yang setinggi 5 meter terlihat besar dan mengerikan. Dia mempunyai ekor seperti bunglon dan sayap kelelawar raksasa sepanjang 2 mater yang ada di bagian belakang tubuhnya.Mata makhluk itu bersinar merah dalam kegelapan, dan giginya yang tajam
Walaupun di dalam sarangnya gelap namun kedua saudara itu bisa melihat dengan jelas meskipun minim pencahayaan. Kedua bersaudara itu berhenti sejenak, menyesuaikan diri dengan situasi sebelum memulai serangan.
" Baiklah. Ayo kita mulai berburunya" ucap anak laki-laki itu mengambil gerakan untuk mulai menyerang dengan kedua tangannya.
" aku mengandalkanmu untuk serangan jarak dekannya. kak. " ucap gadis itu sambil mengambil jarak dari bassilic troll dan mengarahkan tangan kananya ke depan dengan telapak tangan terbuka.
" begitu juga denganku, jangan sampai seranganmu meleset " ucap anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu segera maju. Dia memukul kaki dari basilic trol itu dengan tangan kanannya sekuat tenaga membuat gelombang angin yang cukup kencang untuk menerbangkan debu di bawah kaki mereka dan mengubahnya menjadi asap debu.
Bassilic troll yang merasa kesakitan dengan pukulannya seketika menjadi marah, dia berusaha memukul anak laki-laki itu dengan tinju besarnya,l. Tapi dengan gerakan cepat anak itu mengambil langkah mundur menghindari pukulan dan membuat jarak di anara mereka berdua.
" Gyaahh.. tulangnya sekeras baja apa?!. tanganku sampai bergetar saat memukulnya " ucap anak laki-laki itu sambil mengibaskan tangan kanannya.
"kalau begitu bagaimana dengan yang ini" gadis itu mengeluarkan kemampuan supernaturalnya. Dia mengendalikan bebatuan yang ada di sana membentuknya menjadi beberapa tombak batu dan melesatkannya ke arah basilic troll yang ada di hadapannya.
Tombak-tombak batu itu melesat dengan cepat ke bassilic troll dan menancap dengan sempurna di bahu, siku perut dan lutut dari bassilic troll.
KKRRR....
Bassilic troll meringis kesakitan dan tidakl lama kemudian tubuhnya jatuh berlutut ke tanah karena lututnya sudah tidak bisa lagi menopang bagian atas tubuhnya yang besar. meskipun sudah di serang sebegitu parahnya bassilic troll itu belum mati
Bassilic troll itu mencoba untuk berdiri namun usahanya sebentar lagi akan menjadi kesia-sian.
"Kakak. sekarang! "setelah melancarkan hujan tombak batu ke bassilic troll. gadis itu sekali lagi menggunakan kemampuan supernaturalnya. Dia mulai memanipulasi batu-batu yang ada di sarang bassilic troll.
Gadis itu mengumpulkan batuan ke satu tempat. merapatkan dan menyatukannya lalu membentuknya menjadi tombak batu seukuran gedung 3 lantai.
Anak laki-laki itu segera mengambil tombak batu raksasa itu. membawa dengan kedua tangan dan melompat setinggi yang dia bisa sambil mengarahkan tombak itu ke arah bassilic troll yang mencoba untuk berdiri
Anak laki-laki yang masih melayang di udara sambil membawa tombak batu yang besar dan panjangnya dua hingga tiga kali lipat dari tubuhnya segera melemparkannya ke bassilic troll.
Tombak itu segera melesat ke kepala bassilic troll, dengan sempurna tombak batu raksasa itu menancap ke kepala bassilic troll hingga menembus kepalanya membuat bassilic troll itu mati. Tubuhnya jatuh ke belakang karen gaya kinetik yang di hasilkan dari lemparan tombak anak laki-laki tersebut.
Sarang itu kini menjadi sunyi dengan mayat Basilisk Troll yang tergeletak di tanah, dan kedua bersaudara itu bersandar di bebatuan tak jauh darinya.
"Hah... hah... hah... Nah, kita berhasil!" seru gadis itu dengan kegembiraan.
"Ya, kita berhasil," jawab anak laki-laki itu sambil tersenyum puas. "Mari kita bawa hasil buruan kita ini dan nikmati makan malam yang enak."
Saat mereka sedang beristirahat, asyik memikirkan apa saja yang bisa mereka buat dengan hasil buruan mereka, sebuah suara manusia selain mereka berdua terdengar dari kegelapan.
"Kekekeke. Bisakah kalian berbagi dengan paman-paman ini?" sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Sekelompok pria dewasa dengan wajah jahat keluar dari kegelapan dan mengepung kedua saudara itu. Setiap anggota kelompok itu membawa senjata tajam dan senjata api. Dari ekspresi wajah mereka saja sudah terlihat jelas niat jahat dan niat membunuh mereka.
Salah satu pria itu mendekat dengan senyum mengejek. "Anak-anak kecil seperti kalian sebaiknya tidak bermain di tempat berbahaya seperti ini. Sekarang, berikan semuanya atau kalian akan menyesal," ucapnya sambil mengarahkan senjatanya pada kedua saudara itu.
"Kakak, apa yang harus kita lakukan? Aku sudah lelah setelah pertarungan dengan Basilisk Troll tadi," ucap gadis itu sambil memeluk lengan kiri anak laki-laki itu dengan erat.
Anak laki-laki itu memeluk adiknya dengan erat. "Tenanglah. Kamu istirahat dulu. Biarkan aku yang mengurusnya," dia memukul ringan bagian belakang kepala gadis itu dan membuatnya tertidur.
...•••...
"Hwwmm..." Gadis itu terbangun dengan dirinya sudah berada di luar sarang, dan ada perapian di dekatnya.
Merasa bingung dengan perubahan yang tiba-tiba begitu dia membuka mata, dia melirik kesana-kemari mencari keberadaan anak laki-laki itu.
Apa yang terjadi?
Kenapa aku bisa berada di luar sarang Bassilic Troll?
Kemana perginya para kelompok bandit itu?
Dimana kakak, kenapa aku belum melihatnya?
Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepalanya. Kebingungan yang dirinya alami segera mereda begitu melihat sosok yang dia kenal.
"Oh, kamu sudah bangun. Ayo makan. Aku sudah mengolah dagingnya," ucap anak laki-laki itu sambil memberikan satu tusuk sate daging Bassilic Troll pada gadis itu.
Gadis itu menerima tusuk sate itu dengan ragu-ragu. "Kakak, apa yang terjadi? Bagaimana kita bisa keluar dari sarang itu?"
Anak laki-laki itu tersenyum tenang. "Jangan khawatir. Aku berhasil mengurus mereka. Sekarang yang penting adalah makan dan mengisi tenaga kita."
Gadis itu mengangguk, masih sedikit bingung tetapi merasa lega karena mereka selamat. "Terima kasih, Kakak. Kamu selalu melindungiku."
"Sama-sama. Lagipula sudah sewajarnya bagi seorang kakak untuk melindungi adiknya yang imut dari bahaya," j
"Hehehe.. aku mencintaimu. kakak"
"Ya. aku juga menyayangimu. "
Jawab anak laki-laki itu menghibur gadis di depannya. Di samping api unggun yang memberi kehangatan pada keduanya Mereka berdua menikmati makanan mereka dengan senang hati.
......................
Di asrama perempuan R'Lyeh Academy, di salah satu kamar asrama, seorang gadis cantik berambut pink membuka matanya perlahan. Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela, menerangi ruangan dengan sinar hangat.
Mm... Mimpi...?" gumam gadis itu sambil memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.
"Sudah berapa lama aku tidak bermimpi, yah..?"
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, mencoba mengingat detail dari mimpi yang baru saja dialaminya. Ada rasa nostalgia yang kuat, seolah-olah mimpi itu mengingatkannya pada sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang sudah lama terkubur di dalam ingatannya.
"Ah, mimpi itu..." pikirnya, menatap keluar jendela dengan mata yang masih setengah terpejam. "Ufufufu... itu momen yang sudah lama sekali. Tapi, kenapa tiba-tiba aku memimpikan hal yang sudah lama terjadi?"
Gadis itu berdiri, mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk memulai hari barunya di R'Lyeh Academy.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya dipikirkan. Mungkin aku hanya cukup lelah dengan banyaknya hal yang terjadi selama beberapa waktu dekat ini, lalu mimpi itu datang untuk menghibur mental yang lelah," ucapnya sambil memandang gedung sekolah R'Lyeh Academy dari dalam jendela kamarnya.
Ia tersenyum tipis, mencoba mengalihkan pikirannya dari mimpi yang mengganggu. "Hari ini adalah hari baru," bisiknya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mulai melakukan peregangan ringan pada tubuhnya sebelum bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
Saat gadis itu berada di kamar mandi, di atas meja kecil yang dekat dengan kasur terlihat perangkat tablet yang masih menyala. di dalam perangkat itu terlihat suatu desain kasar sebuah gaun yang di desain dengan tangannya sendiri.
selesai membasuh diri dan berganti pakaian piyama ke seragam sekolah gadis itu memandang cermin di depannya.
Dari pantulan cermin itu terlihat sesosok gadis cantik berambut pink yang masih setengah basah dengan pupil mata hitam, wajah yang imut dan chabi, senyum yang ceria. mengenakan seragam sekolah dengan besser hitam dan kemeja putih bagian dalam dan dasi yang sama seperti bessernya, menggunakan rok pendek berwarna hitam dengan pola garis-garis merah tua, serta suasana ceria yang selalu gadis itu keluarkan, membuatnya tampak luar biasa.
"Yosh, ayo berangkat, aku sudah tidak sabar bertemu dengan kakak. " ucapnya berjalan keluar asrama.
R'Lyeh Academy, Ruang OSIS.
Dua siswa laki-laki dan satu siswi berdiri di depan meja. Di balik meja, siswi tahun ketiga itu menatap tajam melalui mata merah ruby yang menyipit. Sosok yang duduk itu memiliki pandangan yang dingin, tajam, dan tegas. Mata merah ruby dan rambut panjang berwarna hitam yang terurai memancarkan rasa anggun dan misterius yang menyertai setiap pandangannya. Dia adalah ketua OSIS R'Lyeh Academy, Aoi Hikari, kakak dari Yumi Hikari, siswa kelas dua tahun pertama.
“Aron, Liya, Farel, kalian adalah siswa tahun pertama yang melakukan pelanggaran dengan menyelinap turun ke permukaan tanpa adanya izin resmi. Jadi, apa kalian punya pembelaan?"
“Aku meminta mereka berdua untuk melatihku," gumam Farel.
“Akulah yang menyarankan untuk melakukan pertarungan nyata untuk mengevaluasi hasil latihannya," tambah Aron.
“Aku yang memutuskan rencananya. Permukaan dulunya adalah tempat tinggal kami, jadi kami berpikir mungkin tidak masalah jika kami turun sekali lagi. Lagian, kami lebih mengenal permukaan daripada kebanyakan orang di koloni ini. Jadi, bukankah tidak masuk akal jika kami dihukum hanya karena pergi ke tempat yang kami kenali seperti rumah sendiri?" cibir Liya dengan wajah cemberut.
"Hah..." Aoi menghela napas panjang sambil mengernyitkan dahinya, mendengar keterangan dari ketiganya.
"Aku mengerti alasan kalian, tapi aturan tetaplah aturan. Melanggar peraturan bisa membahayakan keselamatan kalian dan orang lain," kata Aoi dengan suara tegas. "Namun, aku juga menghargai semangat kalian untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan. Oleh karena itu, aku akan memberikan kalian hukuman yang setimpal, tapi juga kesempatan untuk belajar dari kesalahan ini."
Aoi berhenti sejenak, mempertimbangkan apa yang akan dia katakan selanjutnya. "Kalian akan menjalani tugas tambahan selama sebulan, membantu dalam kegiatan OSIS dan menjadi contoh bagi siswa lainnya. Selama melakukan tugas OSIS kecuali Farel, Aron juga adiknya Liya tidak di perbolehkan menggunakan Sorcière. Selain itu, kalian juga akan diberikan pelatihan khusus di bawah pengawasan langsung dari kami. Dengan begitu, kalian bisa mengasah kemampuan kalian dengan cara yang lebih aman dan terstruktur."
Aron, Liya, dan Farel saling bertukar pandang, kemudian mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa meskipun mereka mendapatkan hukuman, mereka juga diberikan kesempatan untuk tumbuh dan belajar dari kesalahan mereka.
"Baiklah, terima kasih, Ketua Aoi," kata Aron dengan suara tegas. "Kami akan menjalani hukuman dan pelatihan ini dengan sungguh-sungguh."
Aoi mengangguk, merasa puas dengan respons mereka. "Bagus. Sekarang, kembali ke kelas kalian dan persiapkan diri untuk tugas tambahan yang akan kalian jalani mulai besok."
Ketiga siswa itu kemudian keluar dari ruang OSIS dengan perasaan lega.
"Ahaha... setidaknya kita tidak mendapat hukuman yang berat," ucap Liya sambil tertawa kering.
"Ya, kamu benar," balas Aron.
"Aku sungguh minta maaf karena melibatkan kalian berdua ke dalam masalah ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf," ucap Farel dengan nada penuh penyesalan.
Aron merangkul Farel. "Apa yang kamu katakan? Kamu tidak perlu meminta maaf pada kami berdua. Justru berkatmulah kami mendapat pengalaman sekolah yang menyenangkan," kata Aron, meyakinkan Farel untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri dan agar dia berhenti meminta maaf pada mereka.
"Itu benar," tambah Liya. "Berteman dengan teman yang seumuran, melakukan pelanggaran, membuat masalah di sekolah, dihukum oleh pihak sekolah, dan banyak lagi adalah apa yang kami berdua ingin lakukan sejak lama. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, Farel. Kami berterima kasih padamu karena membuat kami mengalami kehidupan sekolah yang menyenangkan."
Farel tersenyum lemah, merasa sedikit lebih baik dengan dukungan dari Aron dan Liya. "Terima kasih, kalian berdua. Aku merasa beruntung memiliki teman seperti kalian."
Aron dan Liya tersenyum, merasa lega bahwa Farel tidak lagi merasa bersalah. Ketiganya berjalan bersama menuju kelas, siap menghadapi tugas tambahan yang telah ditetapkan oleh Ketua Aoi dan penuh semangat untuk menyambut petualangan sekolah mereka yang akan datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments