Senin pagi, jam pertama.
Di ruang kelas, Aron meletakkan kepalanya di atas meja dengan wajah lesu, sambil menatap layar holografik di depan kelas tempat guru sedang menjelaskan materi pembelajaran pagi ini.
Karena lapangan latihan masih dalam masa perbaikan, sekolah memutuskan untuk menggantinya dengan kelas materi, dan pelatihan lapangan akan dilakukan kembali begitu lapangan selesai diperbaiki. Aron menghela nafas, merasa menyesal. Jika dia tahu hal ini akan terjadi, dia pasti akan menahan diri untuk tidak merusak lapangan.
"Hei, Kak... kamu mengabaikan pelajaran lagi. Guru mulai melirikmu, loh," ucap Liya yang duduk di bangku sebelahnya.
Aron menegakkan tubuhnya dan berusaha fokus pada pelajaran. "Aku tahu, Liya. Hanya saja, aku merasa sedikit bosan tanpa latihan fisik. Tapi, aku akan mencoba untuk lebih memperhatikan."
Liya tersenyum dan mengangguk. "Baik, kita harus tetap fokus. Lagipula, ini kesempatan bagus untuk meningkatkan pengetahuan kita."
Aron tersenyum kembali, berterima kasih atas dukungan adiknya. Dia kemudian mencoba lebih memperhatikan pelajaran yang diajarkan, berharap waktu berlalu lebih cepat agar sekolah cepat berakhir.
Tapi apalah daya, kebosanan benar-benar menguasai Aron. Dia mulai menguap kembali sesaat setelah mencoba untuk fokus.
"Hoaaamm... Aku ngantuk banget. Kebanyakan yang mereka terangkan cuma teori. Walau aku tidak membenci pelajaran ini, tapi mereka menerangkan dengan cara yang membosankan," balas Aron.
"Yah, mau bagaimana lagi? Kita masih di semester satu tahun pertama. Kebanyakan yang dipelajari hanya teori dasar dan latihan dasar," ujar Liya.
"Yah... Bangunkan aku kalau sudah jam istirahat."
"Tunggu... Kakak, mooo..."
Sebelum Liya sempat menyelesaikan kalimatnya, Aron sudah meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja, lalu mulai tertidur di kelas.
Liya hanya bisa menghela napas sambil memandang Aron yang sudah terlelap. Dia berharap kakaknya tidak tertangkap basah oleh guru. Sebagai saudara, Liya merasa perlu menjaga Aron agar tetap berada di jalur yang benar, meskipun terkadang itu berarti membangunkannya dari tidur di kelas.
................
"Ibu..?" Aron melihat sosok wanita berusia 30an menyapanya dengan kasih sayang. Dia adalah ibu dari Aron dan Liya, sosok yang sudah tidak mungkin bisa mereka temui kembali.
"Aron, kamu sudah bangun? Bangunkan Liya, ayo kita sarapan bersama," ucap ibunya dengan senyum lembut.
Aron terbangun dari tidurnya dengan kepala terasa berat. Dia menemukan dirinya di rumah yang berubah menjadi reruntuhan. Ayah dan ibunya menghilang, meninggalkan dia dan Liya sendirian di dunia yang telah runtuh dan dikuasai oleh makhluk-makhluk urban yang siap membunuh mereka kapanpun, dimanapun.
Aron menggandeng tangan Liya erat-erat, berlari menyelamatkan diri mereka dari bahaya sambil berteriak memanggil-manggil kedua orang tua mereka, berharap mereka mendengar dan menghampirinya.
"Ayah! Ibu! Kalian di mana?!"
Aron dan Liya berlari sekuat tenaga melewati reruntuhan dan bayang-bayang makhluk mengerikan yang mengintai di setiap sudut. Mereka hanya memiliki satu sama lain untuk bertahan hidup dalam dunia yang kejam ini. Aron memeluk Liya lebih erat, berusaha melindungi adiknya dari ancaman di sekeliling mereka.
Aron tiba-tiba terbangun di kelas dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin mengalir di wajahnya. Dia sadar bahwa itu hanya mimpi buruk, kenangan yang menghantui dirinya. Liya yang duduk di sebelahnya melihat keadaan kakaknya dengan cemas.
"Kakak, kamu baik-baik saja?" tanya Liya dengan khawatir.
Aron mengangguk pelan, berusaha menenangkan diri. "Iya, aku baik-baik saja. Hanya mimpi buruk saja."
Guru di depan kelas melirik ke arah Aron, menyadari kebingungan di wajahnya. Namun, sebelum guru sempat mengatakan apa-apa, bel istirahat berbunyi, memberikan Aron sedikit waktu untuk menenangkan pikirannya.
Liya menggenggam tangan Aron dengan lembut. "Ayo, kita istirahat dulu. Aku tahu tempat yang tenang di taman."
Aron mengangguk dan mengikuti Liya keluar dari kelas, berharap bisa menghilangkan bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui pikirannya.
Saat ini keduanya tiduran di bangku taman di bawah pohon rindang yang ada di area sekolah. Aron berbaring dengan kepala di pangkuan Liya. Liya mengelus-elus kepala Aron dengan lembut dan penuh perhatian.
"Bagaimana? Apa kamu merasa lebih baik?" tanya Liya dengan lembut.
"Ya, terima kasih Liya. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan," jawab Aron sambil memejamkan matanya.
"Tentu saja, karena aku adalah adikmu yang paling mengerti dirimu," kata Liya dengan bangga.
Aron tertawa kecil mendengar jawaban Liya. "Ha ha ha, apa-apaan itu."
Liya tersenyum, senang melihat Aron kembali tersenyum. "Yah, itu karena kita selalu bersama sejak kecil. Jadi aku tahu apa yang membuatmu tenang."
Aron membuka matanya dan menatap wajah Liya. "Aku bersyukur kita selalu bersama. Dunia ini bisa sangat menakutkan, tapi kamu selalu membuatnya terasa lebih baik."
Liya membalas tatapan Aron dengan senyuman lembut. "Kita punya satu sama lain, Kak. Itu yang paling penting."
Mereka berdua berdiam diri sejenak, menikmati ketenangan di bawah pohon rindang. Kehadiran Liya di sisinya memberi Aron kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang sulit. Begitu pula dengan Liya, yang selalu merasa aman saat bersama Aron. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, hubungan mereka menjadi sumber kekuatan dan kenyamanan satu sama lain yang tak bisa tergantikan.
"Ah, iya. Aku membuatkan bekal makan siang untukmu. Apa kamu mau memakannya sekarang?" tanya Liya, menawarkan dengan senyum lembut.
Aron tersenyum, menggoda adiknya. "Selama itu yang kamu buat, aku akan memakannya."
Liya terkekeh. "Baiklah, mulai besok aku akan memasak bassilic troll."
"Apapun selain itu, kumohon," Aron mengerutkan wajahnya, setengah bercanda dan setengah serius.
Liya mengeluarkan bekal dari tasnya, membukanya untuk menunjukkan makanan yang sudah disiapkannya. "Tenang saja, aku hanya bercanda. Ini dia bekal yang sebenarnya. Aku harap kamu suka."
Aron mengganti posisinya menjadi posisi duduk dan melihat bekal yang disiapkan Liya. Bekal itu penuh dengan makanan yang tampak lezat dan beragam. "Wow, Liya, ini terlihat enak sekali. Terima kasih banyak."
"Senang kamu menyukainya, Kak," jawab Liya sambil tersenyum lebar. "Aku selalu senang memasak untukmu."
Aron mengambil sepotong makanan dan mencicipinya. "Ini enak sekali. Kamu benar-benar berbakat dalam memasak, Liya."
Liya menggeser tubuhnya agar bisa duduk lebih dekat dengan aron, lalu dia mulai mempersiapkan makanan.
"Tentu saja. Sekarang, makanlah sebelum makan siangnya dingin."
Aron melihat bekal itu dengan senyum. "Sungguh terima kasih, Liya. Kamu memang adik terbaik yang aku miliki."
Liya merasa malu sekaligus bangga mendengar pujian dari Aron pipinya sedikit memerah karena malu.
"Terima kasih, Kak. Aku akan selalu berusaha membuat makanan yang enak untukmu setiap hari" ucap Liya tersenyum cerah yang membuat aron terpesona begitu melihat senyuman adiknya itu.
Aron mulai memakan bekalnya dengan rasa syukur, sementara Liya duduk di sampingnya, mengawasi dengan perhatian. Mereka menikmati momen kebersamaan yang sederhana namun penuh kehangatan, di bawah naungan pohon rindang di taman sekolah.
Mereka berdua menikmati makan siang bersama di bawah pohon rindang. Percakapan ringan dan tawa mengisi suasana, membuat momen itu terasa sangat berharga. Keduanya menikmati kebersamaan mereka, menikmati moment kebersamaan yang hangat seperti ini dengan damai, dimana tidak akan bisa mereka rasakan jika mereka masih berada di permukaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments