Hukuman mereka ketiga orang itu masih berlangsung, di tambah dengan festival Xeros yang semakin dekat ruang osis kini di sibukkan dengan berbagai permintaan pengadaan acara dari masing-masing kelas yang sudah menumpuk tidak karuan di meja Farel dan ketua OSIS Aoi. kini ruang OSIS terlihat berantakan dengan tumpukan kertas yang memenuhi ruangan.
Tidak mau kalah sibuknya, Anggota OSIS yang lain juga sudah terpencar ke setiap bangian sekolah menangani masalah dari setiap kelas yang memiliki masalah atau bahkan konflik antar kelas.
Hari ini semua anggota benar-benar di sibukkan dengan banyaknya hal yang harus mereka tangani yang bahkan membuat osis sekalipun merasa sedikit kewalahan.
Di tempat lain di lorong sekolah, terlihat dua orang sedang berjalan beriringan melewati beberapa kelas yang nampak sibuk menyiapkan acara mereka masing-masing.
"Astaga— ini jauh lebih buruk dari tahun sebelumnya" Gumam salah seorang siswi dengan bahu yang merosot di lengan sebelah kirinya terikat pita yang menandai dirinya sebagai bagian keanggotaan OSIS
" hahaha.. benarkah?, ini belum apa-apa di bandingkan saat aku masih berada di tahun kedua" jawab seorang pria bertubuh besar yang berjalan bersamanya dengan tawa kerasnya yang khas, di bahu sebelah kirinya juga terdapat pita yang sama seperti yang di gunakan gadis itu menandakan bahwa dia juga bagian dari keanggotaan OSIS.
"Ugh— Klotum-senpai, suaramu terlalu keras." tegur gadis itu sambil mengernyitkan dahinya dengan ekspresi tidak yang buruk.
"Tapi, yah- mungkin tahun ini memang sedikit agak sibuk" lanjutnya tanpa menghiraukan keluhan juniornya sambil melihat sekitar.
***
Di kelas 1-3, Aron dan Liya sedang membantu teman sekelas mereka menyiapkan acara untuk festival Xeros yang semakin dekat.
"Bisa bantu bawakan properti yang ada di dekat jendela ke sini?" salah satu teman mereka meminta bantuan.
"Ya, tentu," jawab Liya sambil membawa sebuah kotak berisi berbagai barang.
Semua orang tampak sibuk bekerja sama dalam mendekorasi dan menghias kelas mereka. Suasana penuh semangat terlihat di setiap sudut ruangan.
"Aku tidak tahu kalau sekolah ini juga mengadakan festival. Aku kira kita hanya akan berlatih dan belajar sepanjang tahun," ucap Liya, sedikit terkejut dengan adanya festival.
"Tentu saja, sekolah tidak akan sekejam itu. Festival diadakan untuk memberi waktu istirahat pada para siswa agar kondisi mental mereka tetap baik," jawab seorang gadis yang berjalan berdampingan dengan Liya.
Gadis itu memiliki rambut merah yang diikat twintail, dihiasi dengan pita berbentuk kupu-kupu di kedua ujungnya. Matanya juga berwarna merah, seolah mencerminkan semangatnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung dengan kristal biru berbentuk oval, yang dibiarkan terjuntai di luar seragamnya.
Ketika membicarakan tentang festival, gadis itu tampak sangat bersemangat. Liya mendengarkannya dengan senang hati. Gadis itu adalah teman pertamanya sejak tiba di sekolah ini, dan ia sangat berarti baginya. Namanya adalah Vermilion, atau sering dipanggil dengan sebutan Vemy.
"Aku sangat menantikan festival ini! Akan ada begitu banyak hal seru yang bisa kita lakukan," lanjut Vemy, matanya berbinar-binar penuh antusiasme.
"Benarkah..? "
"Tentu saja!, akan ada perlombaan do bidang olahraga yang di ikuti oleh siswa terbaik dari setiap angkatan, laku akan ada banyak kios makanan yang menjual bernagai jenis makanan juga mini game. di tambah dengan acara yang di adakan setiap kelas yang masuk dalam peringkat 5 kelas terbaik dari kelas 1 sampai kelas 4 dan di akhir festival akan di adakan turnamen yang mendatangkan siswa sekolah dari koloni lain dan di malam penutupan akan di adakan acara menari di dekat api unggun. bukankah itu terdengar menyenangkan? " vemy menjelaskan apa saja yang akan ada di festival kali ini dengan sangat antusias. matanya berbinar penuh dengan kegembiraan saat menjelaskannya pada Liya.
Liya tersenyum, merasa bersyukur memiliki teman seperti Vemy di sisinya. "Terdengar menyenangkan. Sepertinya aku juga tak sabar! Ini pasti akan menjadi pengalaman pertamaku mengikuti festival yang tak akan pernah terlupakan untukku."
Mereka berdua terus mengobrol sambil bekerja, berbagi kegembiraan dan harapan untuk festival yang akan datang. Aron, yang sibuk membantu di sisi lain kelas, sesekali melirik ke arah adiknya, memastikan bahwa Liya baik-baik saja dan menikmati persiapannya.
Festival Xeros di R'Lyeh Academy memang penuh dengan antisipasi, dan semua orang bekerja keras untuk memastikan acara ini menjadi sesuatu yang benar-benar istimewa.
Di kantor OSIS, suasana yang sudah sibuk semakin riuh ketika pintu tiba-tiba dibuka dengan keras.
**Brakk...!!**
Seorang gadis dengan rambut hitam pendek dan wajah yang hampir mirip dengan Aoi Hikari masuk dengan penuh semangat. "Nee-san, aku datang untuk membantu!" serunya. Gadis itu adalah yumi Hikari, adik dari Aoi Hikari sekaligus Wakil Ketua OSIS.
Aoi, yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya, seketika menghentikan pekerjaannya dan memijat dahinya, menunjukkan ekspresi kekecewaan yang sudah sering ia tunjukkan kepada adiknya. "Hahhh... yumi, sudah aku bilang berulang kali, ketuk pintu sebelum memasuki ruangan. Kamu itu Wakil Ketua OSIS, apa kamu tahu itu?!"
yumi hanya tersenyum kecil, sedikit canggung karena dimarahi. "Maaf, Maaf. Nee-san, aku hanya terlalu semangat. Banyak yang harus dikerjakan, kan? Aku ingin segera membantu!" balasnya seakan tidak memiliki rasa bersalah.
Aoi menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Aku tahu kamu ingin membantu, tapi kamu harus lebih berhati-hati. Kita harus memberikan contoh yang baik, terutama karena kita berada di posisi penting di OSIS."
yumi mengangguk dengan penuh penyesalan, "Iya, iya, aku mengerti. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang." yumi benar-benar tidak menggubris ocehan Aoi. dia langsung duduk di meja wakil ketua yang merupakan mejanya
"hahhh. .. terserah kamu saja" Aoi sudah tidak bisa lagi berkata-kata. lelah dengan adiknya yang terlalu bersemangat sampai tidak ingin mendengar orang lain bahkan dirinya sebagai kakaknya sendiri. Aoi kembali mengurus pekerjaannya.
Aoi menatap adiknya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, ayo kita bekerja bersama. Masih banyak yang harus dilakukan sebelum festival Xeros dimulai."
Saat yumi duduk di kursinya dan mulai membaca laporan pengadaan acara kelas, suaranya langsung memenuhi ruangan.
"Heeee...!!!! Menyarankan *Bunny Girl Cafe*...? Serius, apa-apaan mereka! Mereka kira sekolah ini tempat macam apa...!!! TOLAK!!!" teriaknya dengan nada penuh amarah.
Laporan berikutnya pun tak luput dari amarahnya. "Yang ini... APA...?! Jangan bercanda! Bajingan mesum, kamu ingin membuat *maid cafe* dengan pakaian seminim itu?! Jelas DI TOLAK!!!" yumi berteriak lagi, membuat suasana di kantor OSIS semakin heboh.
Setelah menolak beberapa permintaan yang menurutnya tidak pantas, yumi akhirnya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, tampak lelah dengan semua laporan yang ia baca. "Astaga, kenapa isi permintaan mereka aneh-aneh semua sih," keluhnya sambil melirik laporan berikutnya.
Namun, saat yumi membaca laporan selanjutnya, ia tiba-tiba terdiam. Ketenangan yang tiba-tiba ini membuat Aoi penasaran. Dia menatap adiknya dengan alis terangkat, bertanya, "Ada apa, yumi?"
yumi menoleh ke Aoi dengan ekspresi bingung. "Kak, apa itu rumah hantu?" tanyanya dengan nada polos, membuat Aoi sedikit terkejut.
Aoi menatap adiknya dengan tatapan bingung sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Rumah hantu? Itu tempat di mana orang-orang mencoba menakuti pengunjung dengan hantu-hantuan, suara menakutkan, dan suasana seram. Biasanya, itu salah satu atraksi populer di festival sekolah."
yumi mengangguk pelan, mencoba memahami konsep yang baru baginya. "Oh... begitu. Tapi, kenapa orang-orang suka ditakut-takuti seperti itu? bukankah semua orang sudah ketakutan dengan makhluk urban?, "
Aoi hanya tertawa kecil. "Itu bagian dari kesenangan, yumi. Orang-orang suka tantangan dan beberapa hanya ingin bersenang-senang. bisa di katakan rumah hantu itu membuat orang merasakan takut yang menyenangkan. "
"Rasa takut yang menyenangkan? "tanya Yumi penasaran.
"hmm... bagaimana cara menjelaskannya yah.. " Aoi terdiam sejenak memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskannya
"hm.. Yumi. ada laba-laba di bahumu" ucap Aoi yang begitu tiba-tiba.
Eh....?
Hi–Hiiyyaaaa... !!!!!!!
Yumi berteriak histeris seketika. dengan panik dia segera memukul-mukul bahunya berharap laba-laba itu terhempas jatuh darinya
"ah sekarang. dia berjalan dan merayap ke punggungmu " ucapan Aoi membuat Yumi semakin panik tidak terkendali.
Yumi berlarian mengelilingi ruangan sambil berteriak histeris, sambil bergerak tangannya tidak ada henti-hentinya mengibas-ngibas tubuhnya. masih berharap laba-laba itu terkena hempasan tangannya dan jatuh meninggalkan tubuhnya.
Merasa dia tidak bisa menemukan di mana laba-laba itu berada Yumi kemudian berlari ke meja Aoi, dan segera memeluknya.
"Nee-san, tolong... tolong singkirkan laba-laba itu, " ucapnya sambil melinangkan air mata dengan penuh ketakutan.
Aoi mengusap lembut kepala yumi sambil menenangkannya "maaf, maaf, sebenarnya tidak ada laba-laba yang hinggap di tubuhmu kok yumi. " ucap Aoi menenangkan adiknya.
"Beneran? " tanya Yumi dengan mata berkaca-kaca dan hampir menangis,
"Em" Aoi. mengangguk kecil.
"dengan ini. sekarang apa kamu sudah tahu apa itu ketakutan yang menyenangkan, yumi? "
"Nee-san. jahat itu tidak ada menyenangkannya sama sekali..!!! "
"yah. tapi aku paham gambaran kasarnya. aku tidak tahu. kenapa orang mau datang ke tempat seperti itu" ucap Yumi
"Kalau kamu masih penasaran, kamu bisa coba nanti saat festival."
yumi tersenyum tipis, masih sedikit bingung tetapi akhirnya mengangguk. "mungkin aku akan datang untuk mencobanya.".
Setelah Aoi melihat jam digital di pojok kanan mejanya, dia berdiri dari kursinya yang sudah hampir setengah hari didudukinya. "Yume, aku pergi sebentar. Bisakah aku serahkan sisanya padamu?" tanyanya dengan nada tenang.
Yume menatap kakaknya dengan kebingungan. "Eh? Kenapa tiba-tiba? Kamu mau ke mana?" tanyanya, sedikit cemas.
"Hanya pergi menenangkan pikiran. Tenang saja, aku tidak akan lama. Paling lambat aku akan kembali sore nanti," jawab Aoi dengan lembut.
Yume, yang akhirnya mengerti, mengangguk dengan senyum ceria. "Oh, jadi begitu. Itu hari ini, ya... Baiklah, serahkan saja padaku, Kakak tidak perlu khawatir."
Aoi tersenyum lega. "Bagus, aku tahu kamu bisa diandalkan."
"Tentu saja! Aku ini Yume Hikari, adik dari ketua OSIS yang paling imut di dunia," balas Yume dengan bangga.
Aoi tertawa kecil mendengar adiknya. "Iya, iya. Kamu adik terimut di dunia," katanya dengan penuh kasih sayang.
Sebelum pergi, Aoi berbalik dan melihat ke arah dua orang lainnya yang masih ada di ruangan. "Farel, Evilin, aku serahkan sisanya pada kalian."
Evilin, yang terlihat kelelahan, mengangguk lemah dengan kepala bersandar di meja. "Iya, serahkan padaku," jawabnya tanpa daya.
Farel, yang duduk di dekatnya, menatap Aoi dengan sedikit kekhawatiran. "Apa kamu ingin ditemani, Ketua Aoi?" tanyanya, menawarkan diri.
Aoi menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih. Aku ingin berjalan-jalan sendirian."
Setelah memastikan semua orang sudah mengerti tugasnya, Aoi berkata, "Kalau begitu, semuanya, lakukan yang terbaik selagi aku pergi. Sekian!"
Aoi kemudian keluar dari ruangan, meninggalkan suasana tenang yang langsung terasa berbeda begitu sosok misterius dan elegannya menghilang di balik pintu baja ruang OSIS.
Evilin, yang masih terduduk di kursinya, berbisik pelan, hampir tak terdengar, "Dia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri, ya..."
Yume menatap pintu yang sudah tertutup itu dan berkata dengan sedikit terlambat, "Hati-hati di jalan, Onee-san."
Suasana di ruangan itu sejenak sunyi, menyisakan perasaan campur aduk di hati mereka yang tinggal. Mereka tahu, beban yang Aoi rasakan masih berat, dan meski mereka ingin membantu, mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa..
ketiganya melanjutkan pekerjaan mereka dengan suasana yang suram tersebut.
•••
Aoi berdiri di dekat pohon besar di tengah-tengah monumen yang disebut "makam," tempat nama-nama sorcière yang telah gugur saat bertugas diproyeksikan pada layar hologram yang melayang di atasnya. Pohon itu berdiri sebagai saksi bisu atas banyaknya perasaan yang telah diluapkan di tempat ini, baik oleh Aoi maupun mereka yang datang sebelumnya.
Dengan langkah perlahan, Aoi mendekati pohon itu. Setibanya di bawah naungannya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan pelan, mencoba meredakan segala beban yang menghimpit hatinya. "Aku pulang, teman-teman," bisiknya dengan lembut, suaranya hampir tenggelam dalam heningnya tempat itu.
Aoi memandangi layar hologram yang memancarkan nama-nama para sorcière yang telah gugur, satu per satu. Setiap nama membawa kenangan, baik yang pahit maupun yang manis, yang kini hanya tinggal dalam ingatannya. Nama-nama itu seakan berbicara, menyampaikan sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah merasakan kedalaman kesedihan dan kehilangan.
Dia dengan hati-hati meletakkan rangkaian bunga buatan yang telah dibawanya di dekat pohon itu, menambahkannya pada kumpulan bunga-bunga lain yang sudah ada sebelumnya—bukti bahwa ada orang-orang lain yang masih peduli, yang masih mengingat, yang masih merindukan.
Setelah selesai meletakkan bunganya, Aoi bersandar pada batang pohon, mendongak menatap langit-langit buatan yang memproyeksikan pemandangan langit yang indah—sebuah ironi bagi tempat yang sebenarnya dipenuhi dengan keheningan dan kehilangan.
Dia mulai berbicara pelan, seolah berbicara kepada mereka yang namanya ada di layar hologram, "Bagaimana kabar kalian di sana? Aku harap kalian dalam keadaan baik-baik saja." Aoi melanjutkan, "Kalian tahu, aku saat ini menjadi ketua OSIS. Sulit dipercaya, bukan? Selain itu, kita punya beberapa adik junior yang luar biasa tahun ini."
Aoi terdiam sejenak, membiarkan kenangan mengalir di pikirannya sebelum melanjutkan, "Mereka benar-benar luar biasa. Kenapa mereka baru muncul sekarang? Sepertinya kita sangat beruntung tahun ini, bukan begitu?" Dia tersenyum kecil, seolah bisa melihat sosok teman-temannya yang telah gugur berdiri di sekitarnya, mendengarkan ceritanya.
Dia terus bercerita tentang para siswa baru, tentang Aron dan Liya, dua murid pindahan dari permukaan yang penuh dengan bakat dan kekuatan, tetapi juga kerap kali membuatnya kerepotan. Aoi menceritakan semua hal, mulai dari kekagumannya terhadap kemampuan mereka hingga kerepotan yang harus dia tanggung akibat ulah mereka.
Tanpa disadari, rasa kantuk mulai menyerang Aoi. Perlahan, matanya tertutup, dan dia tertidur di bawah pohon itu, membiarkan tubuhnya yang lelah bersandar pada batang pohon yang kokoh. Dalam tidur yang tenang itu, dia berbisik, "Maafkan aku... jika saja waktu itu aku tidak keras kepala, mungkin nama kalian tidak akan berada di sini. aku sungguh minta maaf jika kalian mungkin akan membenciku jika kalian melihatku sekarang. Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri..dengan apa yang terjadi waktu itu. tapi aku harap kalian sudah menemukan kedamaian di sana. Will, jashim Philips, Yu, Haris Ghina, cemelia Fred, Io, dan Kousuke-sensei"
Gumam Aoi yang tertidur dalam keheningan makam itu, merasakan ketenangan sementara yang hanya bisa dia temukan di tempat ini. Meski rasa bersalah itu masih menguasai hatinya, di bawah pohon ini, Aoi merasa lebih dekat dengan teman-temannya yang telah pergi, lebih memahami dirinya sendiri, dan mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan hidup di tengah badai yang terus berkecamuk di dalam dirinya. Bagi Aoi, tempat ini adalah pelabuhan terakhir di mana dia bisa merasakan kedamaian di tengah rasa bersalah yang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Ketika Aoi terbangun, langit yang diproyeksikan di atas makam sudah berubah menjadi warna kemerahan, menandakan bahwa sore hari telah tiba. Aoi meregangkan tubuhnya, merasa lebih ringan setelah tidur singkat di bawah pohon itu. Udara sejuk sore hari membawa ketenangan yang sedikit mengusir rasa lelahnya.
Aoi memutuskan untuk kembali ke akademi. Namun, saat baru saja melangkah, dia melihat sosok yang familier—Aron, siswa kelas satu, yang tampak sibuk menatap ponselnya. Di tangan kanannya, dia memegang ponsel dengan ekspresi kesal, sementara tangan kirinya penuh dengan koper belanjaan.
"Sial, aku masih belum bisa membaca peta aneh ini," Aron bergumam kesal sambil menggeser layar ponselnya dengan kasar, tampaknya frustrasi dengan petunjuk arah yang tidak jelas.
Aoi mengamati sejenak sebelum tersenyum kecil, menyadari bahwa Aron tampaknya tersesat. Dia memutuskan untuk mendekatinya, mungkin bisa membantu, atau setidaknya menawarkan sedikit arahan.
"Aron," Aoi memanggilnya dengan tenang, suaranya lembut namun cukup untuk menarik perhatian Aron. "Kau tampak kesulitan. Perlu bantuan?"
"Oh, selamat sore ketua Aoi, kebetulan sekali kita bertemu di sini," Jawab Aron tergagap.
"ahaha. sepertinya aku tersesat dan masih belum bisa membaca peta di koloni ini. jika tidak keberatan saya terima kebaikannya menuntun saya kembali ke jalur dimana asrama berada. " lanjutnya tersenyum canggung.
Aoi tersenyum lembut mendengar Aron yang terlihat sedikit canggung. "Tentu saja, tidak masalah. Aku akan menuntunmu," jawabnya.
Dia melangkah mendekat, kemudian berjalan di samping Aron. "Koloni ini memang bisa membingungkan jika belum terbiasa," Aoi menambahkan sambil menatap jalan di depan mereka. "Apalagi kalau sedang memikirkan hal lain, peta bisa terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan."
Mereka berjalan bersama dalam suasana yang nyaman. "Jadi, kamu belanja banyak hari ini?" Aoi bertanya, melirik koper belanjaan yang Aron bawa.
"Ya, ada beberapa barang yang perlu aku beli untuk festival yang akan datang," jawab Aron, sambil sedikit mengangkat koper di tangannya. "Dan juga beberapa keperluan pribadi."
Aoi mengangguk, mengerti. "Festival Xeros memang membutuhkan persiapan yang cukup banyak. Tapi, aku yakin acara ini akan berjalan lancar."
Saat mereka melanjutkan perjalanan, Aoi menunjukkan arah yang benar menuju asrama laki-laki, sambil sesekali memberikan petunjuk tambahan agar Aron lebih mudah mengingat rute tersebut di masa depan.
Setelah bergerak naik turun dan berkelok-kelok, Akhirnya mereka tiba di persimpangan yang memisahkan jalur ke asrama laki-laki dan perempuan.
"Senior Aoi. aku sungguh berterima kasih sudah mau menunjukkan arah padaku. jika tidak bertemu denganmu, mungkin aku akan tersesat dan tidur di luar malam ini"
"Sama-sama, membantu siswa yang kesulitan juga salah satu bagian dari kegiatan OSIS. jangan terlalu di pikirkan" balas Ketua Aoi ringan
"Ah, tapi tetap saja, aku sangat berterima kasih," jawab Aron sambil tersenyum, tampak lega setelah perjalanan yang berliku-liku itu. "Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk tidak tersesat di lain waktu."
Aoi tersenyum kembali. "Itu sikap yang baik, Aron. Koloni ini memang bisa membingungkan pada awalnya, tapi seiring waktu, kamu akan terbiasa."
Mereka berhenti sejenak di persimpangan, suasana sore yang tenang menyelimuti mereka. Aoi menatap Aron sejenak, tampak mempertimbangkan sesuatu. "Oh, sebelum kita berpisah, Aron," Aoi berbicara dengan nada yang sedikit lebih serius, "Kalau kamu butuh bantuan atau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, jangan ragu untuk datang ke ruang OSIS. Kami selalu siap membantu."
Aron mengangguk dengan penuh pengertian. "Terima kasih, Ketua Aoi. Aku akan ingat itu."
Dengan ucapan perpisahan singkat, Aoi dan Aron akhirnya berpisah, masing-masing menuju asrama mereka. Aron merasa beruntung bisa bertemu dengan Aoi di saat yang tepat, sementara Aoi melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan setelah seharian yang panjang.
Setibanya di dalam kamar asramanya. Aron menaruh belanjaan dan memanggil Alice,
"kamu, di situ, bukan, alice"
sosok pelayan berambut pirang dengan seragam biru cerah dan apron putih itu muncul dari kekosongan, dengan sikap yang tenang dan anggun. Meskipun Alice memiliki reputasi mengerikan sebagai makhluk urban tingkat tinggi yang bisa merenggut nyawa puluhan sorcière, interaksinya dengan Aron terasa begitu biasa, seolah-olah mereka sudah terbiasa bekerja sama.
Alice membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. "Apa yang bisa saya bantu, Tuan Aron?" suaranya lembut, namun ada nada dingin di baliknya, menggambarkan kekuatannya yang tersembunyi.
Aron tersenyum santai, seolah-olah situasi ini bukan sesuatu yang luar biasa. "Tidak ada yang serius, Alice. Aku hanya ingin memastikan, kamu tidak akan mengacau saat hari H pelangsaan rencana kita nanti. kan?"
Alice mengangguk, wajahnya tetap tanpa ekspresi. "Tentu saja, Tuan. saya tidak akan membuat masalah dan memperburuknya."
Namun, kehadiran Alice dan kenyataan bahwa Aron bisa memanggilnya dengan begitu mudah menimbulkan pertanyaan besar: Siapa sebenarnya Aron? Dari mana dia mendapatkan kemampuan seperti itu? Dan yang lebih penting, apa tujuannya di R'Lyeh Academy?
Bagi mereka yang mengetahuinya, Aron mungkin tampak seperti siswa biasa yang berbakat, tetapi jelas ada sesuatu yang jauh lebih besar yang disembunyikan di balik sosoknya yang ramah. Apakah dia benar-benar sekutu yang dapat dipercaya, ataukah ada agenda tersembunyi yang bahkan teman-teman terdekatnya tidak tahu?
Bagi R'Lyeh Academy, yang merupakan tempat pelatihan bagi sorcière terkuat, memiliki seseorang seperti Aron di antara mereka bisa menjadi berkat atau ancaman yang belum terungkap. Satu hal yang pasti, kehadiran Aron dan kemampuan uniknya akan membawa dampak besar di masa depan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi mereka yang ada di sekitarnya.
Aron memandangi Alice, yang berdiri dengan sikap yang begitu tenang dan penuh kewaspadaan. Dia tahu bahwa di balik penampilannya yang dingin dan tenang, ada kekuatan yang luar biasa—kekuatan yang telah dia lihat dan alami sendiri. Namun, Alice selalu setia padanya, mengikuti setiap perintahnya tanpa ragu.
"Alice," Aron melanjutkan, suaranya lebih lembut kali ini, "kita sudah sampai sejauh ini, dan rencana kita sudah semakin dekat untuk terwujud. Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan."
Alice menatapnya dengan mata birunya yang tajam, seolah menembus jauh ke dalam pikiran dan niatnya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan Aron. Saya telah mempersiapkan segalanya dengan cermat. Tidak akan ada kesalahan."
Aron mengangguk, merasa tenang dengan jawaban itu. "Baiklah. Pastikan saja tidak ada yang mencurigai apa pun. Kita tidak bisa mengambil risiko sekarang."
"Seperti yang Anda inginkan," jawab Alice, lalu dia menunduk sedikit, sebelum menghilang ke dalam bayangan, kembali ke tempatnya di dalam kekosongan.
Setelah Alice pergi, Aron duduk di tepi ranjangnya, merenung sejenak. Di balik penampilannya yang santai dan sikap ramah, pikirannya berputar dengan rencana yang rumit. Di R'Lyeh Academy, banyak yang menganggapnya sebagai siswa yang berprestasi dan berbakat, tapi hanya sedikit yang tahu siapa dirinya sebenarnya—dan lebih sedikit lagi yang menyadari apa yang dia rencanakan.
Di tempat yang penuh dengan sorcière terkuat, Aron menyembunyikan kartu as-nya dengan baik. Kekuatan dan keahlian yang dia miliki bukan hanya hasil dari latihan keras, tetapi juga dari rahasia yang hanya dia dan Alice yang tahu.
Aron tersenyum tipis. Dia tahu bahwa waktu untuk bergerak semakin dekat, dan ketika saat itu tiba, dia akan siap. Namun, untuk saat ini, dia hanya perlu terus berpura-pura menjadi siswa biasa, menunggu momen yang tepat untuk membuka kartunya yang sebenarnya.
Aron menatap Alice dengan penuh keyakinan, meskipun pikirannya sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Dia tahu betul bahwa kehadiran Alice, meskipun tampak biasa dalam interaksi sehari-hari, adalah sesuatu yang jauh dari normal. Bahkan di R'Lyeh Academy, tempat yang penuh dengan sorcière dan kekuatan mistis, kemampuan Aron's untuk memanggil makhluk urban tingkat tinggi seperti Alice adalah hal yang sangat luar biasa—dan mungkin menakutkan bagi beberapa orang jika mereka mengetahuinya.
"Bagus," kata Aron setelah hening sejenak. "Aku mengandalkanmu, Alice. Hari H nanti, kita tidak boleh melakukan kesalahan. Semuanya harus berjalan sempurna."
Alice, seperti biasa, tidak menunjukkan emosi apapun. "Saya mengerti, Tuan Aron. Saya akan memastikan bahwa tidak ada hambatan dalam rencana kita."
Aron mengangguk, merasa tenang dengan jaminan Alice. Namun, di balik senyum santainya, ada banyak hal yang sedang ia sembunyikan. Dia tidak hanya berada di R'Lyeh Academy untuk belajar; ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap yang sedang ia persiapkan.
Setelah memastikan segalanya dengan Alice, Aron memutuskan untuk beristirahat. Sebelum Alice menghilang kembali ke kekosongan dari mana dia dipanggil, Aron memandang pelayannya itu dengan mata yang penuh arti. "Jaga dirimu, Alice. Dan ingat, kita hanya memiliki satu kesempatan."
Alice, dengan anggukan singkat, menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan Aron sendirian di kamar asramanya. Dia duduk di atas tempat tidurnya, merenung tentang langkah berikutnya. Meskipun segala sesuatunya tampak tenang di permukaan, di dalam hatinya Aron tahu bahwa hal besar kni akan datang.
Di sisi lain, pertanyaan tentang siapa sebenarnya Aron dan apa rencana besarnya masih terus membayangi. Satu hal yang pasti, ketika waktu yang tepat tiba, segala sesuatunya akan terungkap. Dan pada saat itu, dunia di sekitar R'Lyeh Academy mungkin tidak akan pernah sama lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments