Sudah satu minggu berlalu sejak Farel memulai latihan bersama Aron dan Liya. Awalnya, dia berpikir mengapa mereka mengajarkan kembali pelatihan dasar padanya. Namun, sekarang dia mengerti alasan di baliknya.
Farel merasa lebih kuat dan percaya diri. Dia beranggapan bisa menghadapi sendirian beberapa makhluk urban tingkat menengah yang biasanya membutuhkan sorcière tingkat general atau tiga lebih rank kapten. Bagi seorang letnan seperti dirinya, mengalahkan makhluk urban peringkat menengah biasanya adalah hal yang mustahil atau sangat sulit.
Suatu pagi, Farel berdiri di depan cermin di kamar asramanya, melihat dirinya sendiri. Ada perubahan yang jelas—baik fisik maupun mental. Otot-ototnya lebih terbentuk, dan sorcière-nya terasa lebih responsif.
Dia keluar dari kamarnya dan bertemu Aron dan Liya di ruang latihan. Aron tersenyum melihat Farel. "Kamu terlihat lebih percaya diri sekarang, Farel," ujarnya.
"Terima kasih, Aron. Dan Liya, terima kasih juga. Aku mengerti sekarang mengapa kalian mengajarkanku dari awal lagi. Semua pelajaran dasar itu membentuk fondasi yang kuat," jawab Farel.
Liya mengangguk. "Benar. Tanpa fondasi yang kuat, kekuatanmu tidak akan stabil. Sekarang, kita bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Kita akan menghadapi makhluk urban sungguhan."
Aron memasang wajah serius. "Latihan ini akan lebih berat dan berbahaya, tapi ini adalah langkah yang perlu diambil jika kamu ingin mencapai level yang lebih tinggi. Kami akan ada di sana untuk mendukungmu, tapi sebagian besar pertarungan akan menjadi tanggung jawabmu sendiri."
Farel mengangguk, merasa siap. "Aku siap. Ayo kita lakukan ini."
Mereka bertiga meninggalkan ruang latihan dan menuju ke gedung adminitrasi agar mendapat izin turun ke permukaan agar bisa mengahadapi makhluk urban sesungguhnya.
biasanya administrasi tidak akan mengijinkan siswa untuk turun ke permukaan tanpa di dampingi oleh guru dengan minimal rank letnan kolonel untuk turun ke permukaan, tapi yah yang mengajukan permintaan adalah Aron, siswa yang kemampuannya sudah di akui langsung oleh kepala sekolah. jadi, mereka mendapat sedikit hak istimewa.
walau begitu, pihak administrasi masih tetap mengirimkan pendamping yang mereka siapkan sendiri untuk bisa mengawasi ketiganya. kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk.
sosok kekar. tinggi dan besar berdiri di hadapan ketiga siswa itu, dia memancarkan aura yang bisa membuat orang ketakutan, tidak seperti Farel yang sempat terkejut dan sedikit takut dengannya. di hadapan dua bersaudara itu sosok itu lebih seperti paman yang menyenangkan.
"hallo semuanya. aku Grhaham, melihat siswa yang bersemangat seperti kalian benar-benar menarik kembali masa mudaku, Hahaha.. " ucap grhaham yang adalah pendamping yang pihak administrasi siapkan untuk mendampingi mereka bertiga
"senang bertemu denganmu kembali paman graham. " Aron menyapa Grhaham dengan sopan.
"senang bertemu denganmu, paman graham, paman terlihat sehat " ucap Liya menyapa
" oh, itu kalian berdua, senang melihat kalian sudah terbiasa dengan kehidupan baru kalian dan bahkan sudah memiliki teman" balas Grhaham pada kedua saudara itu.
Farel yang masih merasa agak canggung, berusaha menenangkan diri. Dia mengikuti Aron dan Liya yang sudah akrab dengan Grhaham. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Grhaham," ujar Farel dengan hormat.
Graham kemudian mengalihkan pandangannya kepada Farel yang masih tampak gugup.
Grhaham tertawa besar dan menepuk bahu Farel dengan penuh semangat. "Jangan terlalu formal, nak! Panggil saja aku Grhaham. Kita semua di sini untuk belajar dan tumbuh bersama."
"Dan kamu pasti Farel. Jangan khawatir, aku di sini untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Kita akan turun ke permukaan dan menghadapi makhluk urban sungguhan. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menguji kemampuanmu."
" Jadi, paman yang akan menjadi pendamping kami kali ini?"tanya Liya.
"Iya, aku sendiri sedikit terkejut ketika mendengar laporan jika ada siswa yang ingin turun ke permukaan tanpa memiliki pendamping, tapi sepertinya aku menger sekarang setelah mengetahui jika yang meminta adalah kalian berdua"
"padahal sebelummya kami sudah hidup di permukaan cukup lama, kenapa pihak administrasi masih harus mengirim pendamping, kami berdua bahkan jauh lebih berpengalaman dari kebanyakan orang-orang yang ada di sini " gerutu Liya dengan pipi yang menggembung di sertai nada cemberut.
Grhaham tersenyum mendengar gerutuan Liya. "Memang benar kalian berdua sudah berpengalaman, tapi peraturan tetaplah peraturan. Administrasi hanya ingin memastikan semuanya berjalan dengan aman. Lagi pula, ini adalah kesempatan baik untuk belajar lebih banyak dan mengembangkan kemampuan kalian."
Aron menepuk bahu Liya dengan lembut. "Kita harus menghormati peraturan, Liya. Lagipula, kehadiran Grhaham akan membantu kita jika terjadi sesuatu yang tak terduga."
Liya menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."
Grhaham mengangguk setuju. "Itu semangat yang baik, Liya. Sekarang, mari kita menuju permukaan dan mulai misi kita."
Mereka berempat berjalan menuju kapal yang akan membawa mereka ke permukaan. Farel merasa gugup tetapi juga bersemangat. Ini adalah kesempatan besar untuk membuktikan dirinya dan menguji kemampuan yang telah dia kembangkan selama seminggu terakhir.
Setelah perjalanan singkat, mereka tiba di permukaan. Pemandangan di luar berbeda dari lingkungan akademi yang teratur dan aman. Di sini, alam liar dan kota-kota yang rusak oleh pertempuran dengan makhluk urban menciptakan suasana yang penuh ketegangan dan kewaspadaan.
Grhaham memimpin kelompok mereka dengan tegas. "Kita akan mulai di area yang relatif aman, lalu perlahan bergerak ke zona yang lebih berbahaya. Tetap waspada dan selalu perhatikan sekeliling kalian."
Aron, Liya, dan Farel mengikuti Grhaham dengan hati-hati. Meskipun area pertama yang mereka masuki tampak tenang, mereka tahu bahwa bahaya bisa muncul kapan saja.
Saat mereka berjalan, Farel mencoba memanfaatkan semua yang telah dia pelajari selama seminggu terakhir. Setiap suara dan gerakan di sekitarnya dia perhatikan dengan seksama.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Grhaham segera memberi isyarat agar mereka berhenti dan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. "Diam dan tenang. Sesuatu mendekat," bisiknya.
Dari balik reruntuhan, mereka melihat sosok besar dan menyeramkan muncul. Seekor makhluk urban dengan tubuh besar dan berotot, menyerupai manusia tetapi dengan fitur yang menakutkan dan memancarkan aura kegelapan. Itu adalah salah satu makhluk urban peringkat menengah yang sering disebut sebagai "Goliath."
Farel merasa jantungnya berdegup kencang, tetapi dia mencoba tetap tenang. Ini adalah saatnya untuk membuktikan kemampuannya.
Grhaham memberi tanda kepada Aron dan Liya. "Ingat rencana kita. Aron, Liya, kalian siapkan serangan penyergapan. Farel, fokus pada kelemahan yang telah kita pelajari. Serang dengan tepat dan cepat."
Dengan hati-hati, mereka menyusun posisi dan bersiap menghadapi makhluk urban tersebut. Grhaham memberi aba-aba, dan dalam hitungan detik, pertempuran pun dimulai.
Dengan cepat Grhaham Aron. Farel, serta Liya berlari keluar dari tempat persembunyian memancing Goliath untuk menghadapinya, Kemampuan sorcière Grhaham memungkinkannya menyerap serangan yang di terimanya dan mengubahnya menjadi 25% daya tahan untuk sementara, membuatnya cocok untuk menjadi garda depan.
Ghraham segera menahan pukulan dengan kedua tangannya yang di silangkan walau dia sedikit terdorong mundur. tapi. itu berhasil membuat sedikit celah untuk Aron melancarkan serangan.
Aron segera mendekati goliath dan dia yang sudah berada cukup dekat dengan goliath segera melancarkan pukulan ke arah tulang kering yang ada pada kakinya.
Krrrkk...
Suara tulang yang retak terdengar dari arah pukulan itu, kaki goliath segera kehilangan massanya membuat goliath jatuh ke tanah dan menghentikan pergerakannya, Aron bergegas mundur menjauh dari Goliath sebelum dia tertimpa tubuh raksasa Goliath.
Liya mengambil kesempatan ini untuk memanipulasi struktur sel Goliath, merusak organ dalamnya secara langsung. Goliath mengeluarkan suara mengerikan saat merasakan serangan internal tersebut. Sementara itu, Farel mengamati setiap gerakan Goliath, mencari titik lemah yang bisa dia manfaatkan.
Farel lalu mengarahkan revolvernya dan menembakkan beberapa peluru yang mengenai titik-titik strategis di tubuh Goliath. Tembakan tersebut membuat makhluk itu semakin melemah dan tidak bisa melawan dengan efektif.
Graham terus berada di garis depan, menyerap serangan balik dari Goliath dan mengurangi efeknya, memungkinkan tim lainnya untuk melancarkan serangan secara lebih efektif. Dengan kerja sama yang solid dan strategi yang matang, mereka akhirnya berhasil melumpuhkan Goliath.
Goliath terjatuh ke tanah dengan suara gemuruh, tubuhnya yang besar menghempas permukaan dengan keras. Mereka semua terengah-engah, tetapi tidak ada waktu untuk bersantai.
"Kerja bagus, semuanya," ujar Graham sambil mengatur napasnya. "Ini hanya awal. Kita harus tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan serangan lain."
Aron menepuk bahu Farel. "Kamu melakukannya dengan baik. Terus seperti itu dan kamu akan semakin kuat."
Liya tersenyum pada Farel. "Ya, kamu mulai menunjukkan kemampuanmu. Tapi jangan lengah, kita masih dalam misi."
Farel mengangguk, merasa lebih percaya diri. "Terima kasih. Aku akan terus berusaha."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, memasuki area yang lebih berbahaya dan penuh dengan makhluk urban.
"Tetap saja. bukankah sedikit aneh ada goliath di arena itu? " sambil menghabisi makhluk urban tingkat rendah dengan santai Liya bertanya pada Aron.
"ya. biasanya Makhluk tingkat menengah awal tidak akan ada di dekan sini. tapi, kenapa bisa ada goliath di area itu?, Paman grhaham apa kamu tahu sesuatu? "balas Aron bertanya pada Grhaham.
Graham, yang sedang mengamati sekeliling dengan waspada, mengangguk perlahan. "Aku juga merasakan keanehan ini. Goliath seharusnya tidak berada di area seperti ini. Ini sangat tidak biasa."
"Biasanya, Goliath lebih sering muncul di wilayah yang lebih dalam dan berbahaya. Keberadaannya di sini bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres," tambahnya sambil menghancurkan makhluk urban tingkat rendah yang mendekat.
"Apakah mungkin ada sesuatu yang menarik mereka ke sini?" tanya Farel, mencoba memahami situasinya.
"Hal itu mungkin saja," jawab Graham. "Bisa jadi ada sumber energi yang tidak biasa atau mungkin ada makhluk urban yang lebih kuat yang memanipulasi makhluk-makhluk lain untuk bergerak ke arah tertentu."
Liya mengerutkan kening, berpikir keras. "Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati. Ini bisa menjadi lebih berbahaya dari yang kita perkirakan."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih waspada, setiap indra mereka waspada terhadap kemungkinan ancaman yang lebih besar. Perjalanan mereka membawa mereka lebih dalam ke wilayah yang jarang dijelajahi, di mana mereka menemukan tanda-tanda lebih lanjut dari aktivitas makhluk urban yang tidak biasa.
Mereka tiba di sebuah area yang terlihat seperti bekas medan pertempuran, dengan reruntuhan dan bekas serangan yang menghiasi sekeliling. Jejak makhluk urban tingkat tinggi terlihat jelas di sekitar mereka.
"Ini semakin aneh," kata Aron, memeriksa bekas jejak dengan cermat. "Kita harus menemukan sumber dari semua ini."
Graham mengangguk setuju. "Tetap waspada. Kita mungkin akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih kuat dan berbahaya di sini."
"Hey, bukankah jejak ini lebih mirip jejak telapak kaki ketimbang sesuatu yang lain?" ucap Farel sambil meneliti jejak yang tercetak di tanah.
"Kamu benar, ini lebih mirip jejak manusia ketimbang monster," balas Liya seraya mengamati dengan seksama.
Sementara mereka sibuk mengidentifikasi jejak tersebut, Graham melihat sesosok anak kecil berlari cepat di dekat mereka. Merasa penasaran, Graham bergegas mendekatinya.
Anak itu masuk ke dalam gedung yang hampir roboh, di mana Graham menemukan seorang gadis kecil berusia 12 tahun mengenakan jubah merah.
"Hey, di sana bahaya! Jangan bergerak, aku akan segera mendekat!" ucap Graham dengan khawatir.
Namun, sebelum Graham bisa melangkah lebih jauh, sosok mamusi dengan bulu yang menutupi tubuhnya, berkepala serigala, menyerangnya dari bayang-bayang.
GRRBNKK...
Suara keras itu memancing Aron, Liya, dan Farel untuk bergegas menuju sumber suara.
"Suara apa barusan?!" ucap ketiganya begitu mereka tiba di lokasi di mana Graham berada.
Mereka melihat Graham sedang bergulat dengan manusia berkepala serigala, dalam posisi yang kurang menguntungkan dengan Graham tertekan dari atas.
Tanpa ragu, Liya segera menggunakan gelombang kejut untuk mengusir manusia berkepala serigala tersebut dari atas tubuh Graham, membantu mengamankan situasi.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Aron sambil membantu Graham bangkit berdiri.
"Graham melanjutkan, "Saat kalian sibuk dengan jejak di sekitar, aku melihat siluet hitam berlari cepat menuju gedung ini. Aku mengeceknya dan melihat seorang anak perempuan berusia 12 tahun berdiri di tengah... Namun, saat aku hendak menunjuk tempat dia berada, sosok itu sudah menghilang."
Mereka berempat melihat ke sekeliling, mencoba memahami apa yang terjadi.
"Apakah kalian sedang mencariku?" suara seorang anak kecil terdengar di tempat itu, membuat keempat orang tersebut segera menoleh ke arah sumber suara.
Mereka melihat seorang gadis berusia 12 tahun dengan tubuh mungil, berambut keemasan dan bermata hijau zamrud, mengenakan jubah bertudung berwarna merah menyala.
Graham, Aron, Liya, dan Farel saling bertukar pandang, sedikit terkejut dengan kehadiran anak perempuan ini di tengah-tengah tempat yang penuh bahaya seperti ini.
anak itu duduk di tepian reruntuhan lantai dua dengan kaki yang melayang-layang, tidak ada rasa takut di matanya yang akan anak usia 12 tahun pancaran jika mereka berada di tempat seperti ini.
"Ne.. Ne.. Kakak, mau main sama aku?" ucap gadis itu sambil tersenyum lebar.
"Bermain? Ini bukan waktunya bermain! Diam di sana, aku akan menyusul dan menyelamatkanmu. Jangan terlalu banyak bergerak," seru Farel, bersiap untuk segera bergerak menyelamatkan gadis tersebut. Namun, gerakannya segera dihentikan oleh Aron.
"Tunggu, Farel. Ada yang aneh dengan gadis itu," kata Aron dengan nada waspada, tatapannya tak lepas dari sosok gadis yang duduk di reruntuhan. "Tidak mungkin anak seumurnya bisa berada di sini dengan santai."
Liya, yang juga merasa ada yang tidak beres, mulai mempersiapkan diri dengan gelombang kejutnya, siap menghadapi apapun yang mungkin terjadi. Graham juga bersikap siaga, menyadari bahwa situasi ini jauh dari biasa.
"Apa yang akan kita mainkan?" tanya Aron pada gadis itu, mencoba mengendalikan situasi.
"Hehe... Kakak mau bermain," gadis itu tertawa kecil. "Ayo semuanya, ada kakak-kakak yang mau bermain. Anjing yang bisa membuat mereka tumbang lebih dulu, bakalan jadi anjing baik," ucapnya dengan gembira sambil mengarahkan tangannya ke atas.
Seketika itu juga, sekelompok manusia berkepala serigala mulai mengepung Aron dan yang lainnya.
"Aturan bermainnya simple kok. Siapa yang bertahan dia yang menang. Nah... Kak, ayo kita main," ucap gadis itu dengan senyum lebar yang tak menyenangkan.
"Siap-siap! Mereka datang dari semua arah!" seru Grhaham, mengencangkan cengkeramannya pada senjatanya.
Liya segera mempersiapkan gelombang kejutnya, mata birunya berkilat penuh fokus. Farel mengangkat revolvernya, bersiap untuk menghadapi serangan yang datang. Aron, tetap tenang di tengah situasi, menilai keadaan dengan cepat.
"Farel, fokus pada yang datang dari depan. Liya, pastikan tidak ada yang mendekat dari belakang. Grhaham dan aku akan menangani sisanya," Aron memberikan instruksi dengan suara tegas. "Kita harus bertahan dan mencari celah untuk menyerang balik."
Mereka segera bekerja sama melawan manusia berkepala serigala itu, bertindak sesuai dengan instruksi Aron. Sementara itu, gadis kecil tersebut hanya memandang mereka sembari bersenandung dan tersenyum bahagia.
Meskipun sebenarnya sangat mudah bagi Aron dan Liya untuk keluar dari situasi ini, mereka memutuskan untuk menahan diri agar pelatihan ini memberikan tantangan yang sebenarnya untuk Farel.
Namun, keberuntungan tampaknya tidak berpihak pada mereka hari ini. Aron tidak menyangka akan bertemu dengan makhluk urban tingkat tinggi, yang menjelaskan mengapa Goliath ada di area yang seharusnya menjadi habitat makhluk urban peringkat rendah.
Dan lebih buruk lagi, itu adalah makhluk urban paling merepotkan menurut Aron dan Liya, yang memiliki kemampuan mind control. Gadis berjubah merah dari dongeng, The Little Red Riding Hood, yang sebenarnya bernama Ruby.
"Ini lebih buruk dari yang kukira," gumam Aron, sambil melirik ke arah Ruby yang tampak senang melihat kekacauan yang dia ciptakan.
"Kita harus hati-hati. Ruby bukan hanya sekedar anak kecil. Dia bisa mengendalikan pikiran," bisik Liya pada Farel.
Farel menelan ludah, merasa tekanan yang sangat besar. Namun, dia tahu ini adalah saatnya untuk membuktikan dirinya. Dengan revolvernya yang siap, dia menargetkan manusia berkepala serigala yang mendekat.
"Farel, tetap fokus! Jangan biarkan dia mengalihkan perhatianmu!" Aron memperingatkan.
Mereka bertarung dengan gigih, memastikan untuk tidak memberi celah bagi makhluk-makhluk tersebut. Grhaham, dengan kekuatan dan daya tahan luar biasanya, menahan serangan frontal, sementara Aron dan Liya menutup sisi-sisi mereka, memberikan dukungan pada Farel yang berada di tengah-tengah.
Ruby terus bersenandung, tampak menikmati pemandangan di depannya. Namun, tatapan matanya menunjukkan sesuatu yang lebih gelap dan dalam.
"Aron, kita perlu strategi. Kita tidak bisa terus begini," ujar Grhaham sambil menahan serangan lain.
"Setuju. Kita harus menghentikan Ruby dulu. Dia yang mengendalikan semuanya," jawab Aron.
"Liya, bisa kau ganggu konsentrasinya?" tanya Farel.
Liya mengangguk, "Akan kucoba."
Dengan kekuatan gelombang kejutnya, Liya mengarahkan serangan ke arah Ruby, berharap bisa mengganggu konsentrasinya dan menghentikan kendali pikirannya. Farel, yang telah mempelajari gerakan lawan, menargetkan dengan lebih presisi, memberikan tembakan-tembakan akurat yang melemahkan makhluk-makhluk itu.
Begitu gelombang kejut menghantam Ruby, dia hanya sedikit teralihkan, namun kendali pikirannya terhadap para manusia serigala masih belum terputus.
"Oh, tiba-tiba saja ada angin sejuk yang mengarah padaku," ucap Ruby dengan santai.
Farel, merasa putus asa, mengarahkan tembakan ke arah Ruby. Peluru itu tepat bersarang di kepalanya, tetapi makhluk urban itu tidak mati. Ruby tertawa kecil, menatap mereka dengan mata berkilauan penuh kecerdikan.
Aron segera memberi tahu Farel, "Makhluk urban peringkat tinggi hanya bisa dibunuh sesuai dengan ceritanya. Artinya, Ruby hanya bisa dibunuh jika dia dilahap oleh manusia serigala, sesuai dengan dongengnya, The Little Red Riding Hood."
Farel, terengah-engah, mengangguk. "Jadi kita harus membuat manusia serigala itu menyerangnya?"
"Tepat sekali," jawab Aron. "Liya, bisakah kau membuat ilusi yang bisa memancing serigala itu untuk menyerang Ruby?"
Liya berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Bisa, tapi aku butuh waktu." dengan Sorcièrenya yang bisa memanipulasi partikel dan element, dengan partikel cahaya yang bisa dia manipulasi dan bersama partikel dan element lainnya sangat mudah bagi liya untuk membiat ilusi yang terlihat nyata.
Aron mengarahkan pandangannya pada Grhaham. "Tahan mereka selama mungkin. Kita perlu membuka celah untuk Liya."
"Serahkan padaku," jawab Grhaham dengan tegas, kembali berdiri di depan, siap menahan serangan.
Liya mulai memusatkan konsentrasinya, menggunakan sorcière-nya untuk menciptakan ilusi yang akan memancing serigala-serigala itu. Sementara itu, Aron dan Farel berusaha mengalihkan perhatian Ruby dan manusia serigala, membuat mereka sibuk agar tidak mengganggu Liya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Liya berhasil menciptakan ilusi seorang gadis kecil yang tampak lebih menarik perhatian para serigala. Ilusi itu bergerak cepat, berlari ke arah Ruby, yang masih tersenyum percaya diri.
Manusia serigala, terpengaruh oleh ilusi, mulai berbalik dan mengejar gadis kecil itu. Ruby, yang menyadari ada sesuatu yang salah, mencoba memperkuat kendalinya, tetapi terlambat. Salah satu manusia serigala yang terdekat langsung melompat ke arahnya, gigi-giginya mengincar leher Ruby.
"Bagus, teruskan!" teriak Aron, memberikan semangat pada timnya.
Serangan manusia serigala itu mengenai Ruby dengan tepat. Ruby yang terkejut mencoba melawan, tetapi akhirnya jatuh ke tanah dengan manusia serigala itu mengoyak tubuhnya. Kendali pikiran yang dia miliki pun terputus, dan semua manusia serigala lainnya segera berhenti bergerak, kehilangan arahan.
Ruby mengeluarkan teriakan terakhir sebelum tubuhnya hancur, sesuai dengan dongengnya.
Aron, Liya, Grhaham, dan Farel terengah-engah, tetapi lega. Mereka berhasil mengatasi tantangan yang sangat berbahaya ini.
"Luar biasa, kalian semua," ucap Grhaham, tersenyum. "Kalian bekerja sama dengan sangat baik."
Farel, masih dalam keadaan shock, mengangguk. "Aku tidak pernah membayangkan kita bisa mengatasi ini."
Aron menepuk bahunya. "Ini semua karena kita bekerja sebagai tim. Dan kau, Farel, kau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa."
Liya, yang juga tersenyum, menambahkan, "Ya, kita berhasil. Sekarang, mari kita kembali dan melaporkan ini. Kita perlu istirahat."
Mereka meninggalkan area itu dengan hati yang lega, mengetahui bahwa mereka telah melewati salah satu ujian terberat dalam hidup mereka, dan menjadi lebih kuat karenanya.
Mereka berempat segera kembali ke kapal untuk kembali ke pangkalan yang ada di permukaan bumi sebelum kembali ke koloni yang ada di luar bumi.
Mereka berempat segera kembali ke kapal untuk kembali ke pangkalan yang ada di permukaan bumi sebelum kembali ke koloni yang ada di luar bumi.
Grhaham tinggal di pangkalan yang ada di permukaan, jadi saat dia berada di kapal koloni itu adalah saat dia sedang ingin berbelanja. Dia dihubungi kantor administrasi karena nomornya diketahui oleh pihak administrasi yang mengetahui hubungan baik dirinya dengan Aron dan Liya. Jadi, pertemuan mereka hanya kebetulan yang tidak disengaja. Setelah mengantar ketiganya menuju Elevator yang langsung menuju kapal koloni, Grhaham dan ketiganya berpisah.
Kini, setibanya ketiga orang itu di dalam kapal koloni, Aron, Liya, dan Farel sudah disambut oleh tujuh Dewan OSIS R'Lyeh Academy yang menunggu mereka di depan pintu keluar gedung administrasi.
Seorang gadis berambut coklat pendek yang terlihat seperti sekretaris OSIS lalu membacakan sesuatu melalui perangkat yang dia bawa.
"Aron, siswa kelas 1. Siswa pindahan yang kemampuannya sudah diakui kepala sekolah. Pelanggaran yang dilakukan: menyelinap menuju permukaan bumi tanpa izin pihak sekolah."
"Liya, siswa kelas 1, siswa pindahan. Hadir bersama dengan Aron, hubungan keluarga, kakak beradik. Sorcière: manipulasi partikel dan elemen. Pelanggaran: menyelinap turun ke permukaan tanpa memiliki izin dari sekolah."
"Farel De Hult, siswa kelas 1, keturunan dari keluarga Hult. Sorcière: Observator. Pelanggaran: menyelinap turun ke permukaan tanpa memiliki izin dari pihak sekolah."
"Dengan ini, ketiganya diberi hukuman, yaitu memasuki kelas kedisiplinan selama 1 minggu."
Aron menghela napas panjang. "Sepertinya kita tidak bisa menghindari hukuman ini."
Liya hanya tersenyum kecut. "Setidaknya kita belajar banyak dari pengalaman ini."
Farel, yang merasa bersalah, mengangguk. "Aku minta maaf. Semua ini terjadi karena aku."
Aron menepuk bahunya. "Jangan khawatir, ini adalah keputusan bersama. Kita semua bertanggung jawab."
Dewan OSIS memandang mereka dengan tegas. "Semoga hukuman ini bisa menjadi pelajaran bagi kalian. Disiplin adalah kunci keberhasilan di R'Lyeh Academy."
Ketiganya hanya bisa mengangguk, menerima nasib mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments