Beberapa hari setelah insiden kecil di mana makhluk urban peringkat menengah sempat menyusup ke R Lyeh Academy dan membuat kekacauan ringan, keadaan di R'Lyeh Academy mulai stabil, dan pembelajaran berlangsung seperti biasa.
Dalang dari kekacauan ini adalah Peri Tidur, yang berasal dari salah satu buku dongeng yang belum dinetralkan. Menurut penyelidikan, peri itu berasal dari dongeng Peter Pan, lebih tepatnya dari kisah sebelum dongeng Peter Pan dimulai. Peri Tidur menjadi debu peri karena keserakahan manusia.
Karena dongengnya sudah lama hilang dan terlupakan serta tidak ada lagi yang mengingatnya, seharusnya dia tidak bisa lagi muncul di dunia nyata. Namun, beberapa hari lalu, dia muncul kembali di dunia nyata.
Para penyelidik lalu menyimpulkan bahwa ada entitas yang mereka sebut "Si Lidah Perak" yang berusaha membuat dongeng Peri Tidur muncul kembali. Hanya saja, "Si Lidah Perak" itu belum dapat diidentifikasi siapa dan di mana dia berada, serta apa tujuannya melakukan semua ini.
Kehadiran "Si Lidah Perak" menimbulkan pertanyaan besar dan kekhawatiran di kalangan pihak berwenang. Identifikasi dan penangkapan orang tersebut menjadi prioritas utama untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Sementara itu, di R'lyeh Academy, .
langkah-langkah keamanan tambahan diambil untuk mencegah kebocoran buku dongeng lainnya yang mungkin menyebabkan kekacauan serupa. Pengawasan ketat diterapkan dalam hal ini, dan upaya dilakukan untuk mendeteksi dan menanggulangi ancaman potensial dengan cepat guna mencegah terulangnya kejadian ini.
Di tempat lain.
Di ujung tiang yang ada di sebuah atap bangunan gedung tertinggi yang ada di distrik pusat yang ada di Blok paling ujung, terlihat sosok semi trasparan berdiri di ujung tiang itu dengan mudah seakan keseimbangan atau gravitasi tidak berpengaruh padanya. Dia yang berdiri di gedung paling tinggi memandangi pemandangan di kota futuristik yang ada bawah kakinya dengan senyum bengkok.
Tatapannya lalu terarah pada Sebuah bangunan sekolah R'Lyeh Academy yang j terletak di tengah distrik pusat.
Sosok itu mulai menggerekkan bibirnya mengucapkan satu suku kata dengan nada yang hampir tidak bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
" Ketemu "
Setelah itu, sosok itu menghilang begitu saja seperti angin yang berhembus tanpa ada satupun orang yang tahu ataupun memperhatikan keberadaannya. sejak awal.
Di kelas di tengah pelajaran yang berlangsung. Aron dan Liya yang sedang duduk di bangku mereka masing-masing dan sedang memperhatikan pelajaran seketika merasa hawa dingin yang tajam yang menjalar dari punggung mereka yang berada tepat dari belakang keduanya.
"" Ini...Niat membunuh?! "" pikir keduanya bersamaan.
Aron juga Liya dengan cepat menoleh ke belakang bersamaan, saat mereka menoleh ke belakang tidak siapa-siapa di belakang keduanya.
Mereka sempat merasakan Niat membunuh yang kuat dan tajam yang diarahkan pada kedunya beberapa saat lalu dan sempat membuat keduanya waspada sepenuhnya seketika. Tapi, kini keduanya dibuat kebingungan dengan hilangnya niat membunuh itu secata tiba-tiba
Aron dan juga Liya yang tidak ambil pusing segera mengabaikannya. karena keduanya juga tidak tahu dari mana asalnya dan tidak ada tindakan Lanjutan dari pihak lain yang mengarahkan niat membunuhnya sehingga membuat mereka berdua tidak ada alasan untuk mempermasalahkannya lebih jauh. Jadi mereka memutuskan untuk mengabaikannya untuk saat ini dan fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.
Pelajaran terus berlanjut seperti biasa.
Hari-hari damai berlalu begitu saja, tanpa terasa sudah tiga bulan sejak Aron dan Liya tiba di sini. Hari-hari damai yang begitu mereka idamkan sejak lama, saat ini bisa mereka rasakan dengan penuh makna.
Tidak ada penyesalan atau kekecewaan di hati keduanya saat memutuskan untuk berpindah ke tempat ini. Aron menikmati pekerjaan paruh waktunya walaupun hanya sekadar menjaga perpustakaan dan membantu pengunjung jika diperlukan.
Sementara itu, Liya berkeliling distrik, membeli apa pun yang dia inginkan dengan uang dari rekening Aron. Uang tersebut diperoleh Liya sebagai hadiah karena membantu Aron selama beberapa waktu lalu.
Sementara Liya berkeliling kota dan menguras isi rekeningnya, Aron hanya bisa murung sambil meletakkan wajahnya di atas meja, tatapannya kosong seperti ikan mati yang kehilangan semangat hidup.
"Ha... ha... ha... tabunganku... ha... ha... ha..." Aron berusaha tertawa mencibir dirinya sendiri.
"Kenapa wajahmu begitu murung, Aron?" seorang pria menghampiri meja tempat Aron duduk.
Aron mengangkat kepala, menoleh ke arah pria yang memanggilnya.
"Oh, ternyata kau, Dreasth. Bukan apa-apa, hanya saja sepertinya aku akan makan mie cup untuk beberapa bulan ke depan," ucap Aron sambil tersenyum masam, memikirkan nasib perutnya dalam beberapa bulan mendatang.
"Uwah... kenapa kamu bisa masuk ke dalam kondisi keuangan yang begitu mengerikan? Apa kamu baru kalah taruhan?" tanya Dreasth, terkejut.
"Yah, bisa dibilang begitu," ucap Aron yang tidak ingin Dreasth mengetahui alasan sebenarnya bahwa semua uangnya habis karena janji kepada adiknya.
"Oh, begitu. Itu masa sulit untukmu, kawan," ucap Dreasth sambil menepuk bahu Aron dengan keras, memasang senyuman yang membuat Aron ingin memukul wajahnya saat itu juga.
"Omong-omong, kenapa kamu kemari? Apa kamu butuh sesuatu di perpustakaan?" tanya Aron.
Aron tahu jika Dreasth tidak akan ke sini jika tidak ada alasan yang penting. Jika dia ke perpustakaan, itu mengartikan dia membutuhkan informasi dari makhluk urban tertentu yang sudah tercatat di sini.
"Oh, iya, benar juga. Aku ingin meminjam buku dongeng dari dongeng Little Red Riding Hood."
"Digital atau buku fisik?" tanya Aron.
"Digital. Buku fisik terlalu berisiko untuk rusak jika tidak ditangani dengan baik. Apalagi jika rusak, harus membayar denda yang tidak masuk akal," jawab Dreasth.
"Baiklah, tunggu sebentar..." Aron lalu mulai mengoperasikan layar digital yang mengambang di depannya.
Aron mulai mengirim data tentang dongeng Little Red Riding Hood ke perangkat milik Dreasth. Setelah transfer data selesai, Aron bertanya pada Dreasth.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan dengan data itu?"
"Ada misi yang mengharuskan kami turun ke permukaan bumi untuk memburu makhluk urban Si Tudung Merah yang sempat terlihat tiga hari lalu."
"Oh. Cerita dari dongeng Little Red Riding Hood? Bukankah dia hanya gadis kecil? Kenapa kalian memburunya?" tanya Aron keheranan.
"Si Tudung Merah dalam cerita itu mungkin tampak seperti gadis kecil, tetapi di dunia nyata, makhluk urban ini jauh lebih berbahaya. Dia memiliki kemampuan manipulasi pikiran, terutama pada hewan sejenis serigala, dan kekuatan fisiknya juga luar biasa. Jika tidak dihadapi dengan benar, dia bisa menimbulkan kekacauan yang besar," jelas Dreasth dengan serius.
Aron mengangguk, menyadari betapa seriusnya situasi ini. "Itu... bukankah cukup berbahaya?"
"Itulah mengapa dia harus ditangani secepat mungkin. Jika tidak, dia mungkin akan menemukan pangkalan kita yang ada di permukaan bumi dan membuat kekacauan di sana sebelum akhirnya tiba di sini," kata Dreasth .
"Hmm... itu pengambilan keputusan yang bagus. Jadi, kapan misi itu dilakukan?" tanya Aron.
"Akhir pekan ini. Ada apa memangnya kamu bertanya begitu?" ucap Dreasth penasaran.
"Ya, aku hanya ingin tahu apakah ada yang bisa aku bantu. Mungkin ada informasi tambahan yang bisa aku berikan atau persiapan lain yang bisa kubantu," ujar Aron.
Dreasth tersenyum dan menepuk bahu Aron lagi, kali ini dengan lebih lembut. "Terima kasih, Aron. Saat ini, informasi yang kamu berikan sudah sangat membantu. Jika kami membutuhkan bantuan tambahan, aku akan menghubungimu."
"Baiklah, pastikan kalian berhati-hati. Si Tudung Merah bukan lawan yang mudah," balas Aron.
Setelah Dreasth pergi, Aron duduk kembali di mejanya, merenungkan informasi baru yang diperolehnya. Makhluk urban dari dongeng yang dianggap remeh ternyata bisa menjadi ancaman besar di dunia nyata. Hal ini membuat Aron semakin menyadari betapa pentingnya peran perpustakaan dalam menyimpan dan menyediakan informasi yang krusial bagi keamanan mereka.
Aron berharap misi ini berjalan lancar dan Si Tudung Merah bisa ditangani sebelum menimbulkan lebih banyak masalah. Dengan perasaan campur aduk, dia kembali fokus pada tugasnya,
Aron berharap misi ini berjalan lancar dan Si Tudung Merah bisa ditangani sebelum menimbulkan lebih banyak masalah. Dengan perasaan campur aduk, dia kembali fokus pada tugasnya.
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa tampilan cahaya pagi yang disimulasikan di dalam kapal koloni kini telah berubah menjadi tampilan sore hari dengan warna oranye yang ditampilkan di langit-langit.
Melihat jam pada ponselnya, Aron mulai merapikan mejanya. Setelah memastikan tidak ada orang di dalam ruang perpustakaan, Aron mengunci ruang perpustakaan dan keluar gedung.
Aron melangkah pulang menuju asrama laki-laki. Namun, sebelum pulang, dia berencana untuk pergi ke minimarket. Saat dia hendak masuk, Aron teringat bahwa nomor ID rekeningnya masih dibawa Liya, membuatnya tidak bisa menggunakan ID banknya sebelum Liya mengembalikan ID bank miliknya.
Mengingat hal itu membuat Aron frustrasi. Dia lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke minimarket, memutar badannya, dan langsung berjalan pulang menuju asrama tanpa mampir ke mana pun lagi.
Setibanya di asrama, Aron duduk di tepi tempat tidurnya, merenungkan kejadian hari itu. "huh.. Bagaimana bisa Liya selalu membuatku berada dalam situasi sulit seperti ini?, apa karena aku terlalu memanjakannya? " gumamnya sambil melepaskan sepatu dan bersiap untuk mandi. Setelah mandi, Aron merasa sedikit lebih segar meskipun perasaannya masih campur aduk.
Malam itu, Aron memutuskan untuk menghubungi Liya dan memintanya mengembalikan nomor ID rekening. Dia mengetik pesan singkat namun tegas, berharap Liya segera membalas.
"Liya adikku, bisa tolong kembalikan nomor ID bank pada kakakmu ini. jika seperti ini terus, kakakmu ini bisa mati kelaparan T_T."「 kirim 」
Setelah mengirim pesan, Aron merebahkan dirinya di tempat tidur, berharap Liya segera merespon. Dia menatap langit-langit kamar yang menampilkan simulasi malam berbintang, berusaha menenangkan pikiran sebelum akhirnya tertidur.
Keesokan harinya.
Aron terbangun karena bunyi notifikasi dari ponselnya. Aron lalu melihat isi ponselnya yang itu adalah pemberitahuan dari bank tempatnya menaruh aset miliknya.
[ Transfer kepemilikan ID berhasil, Pemilik sebelumnya Liya telah mentransfer Nomer ID bank 33356648 kepada anda, karena nomer ini sudah melakukan transfer kepemilikan dalam waktu yang berdekatan, jika ingin melakukan transfer kepemilikan ulang bisa di lakukan setelah jeda waktu 6 bulan berlalu ]
Aron menghela napas lega, merasa sedikit lebih tenang mengetahui bahwa Liya telah mengembalikan ID rekeningnya. "Setidaknya sekarang aku bisa membeli makanan tanpa khawatir," pikirnya sambil tersenyum tipis. Dia bangkit dari tempat tidur, bersiap untuk menjalani hari baru dengan perasaan yang lebih ringan.
Saat Aron bersiap untuk pergi, dia memikirkan rencana Dreasth dan misi yang akan mereka lakukan akhir pekan ini. Dia berharap semuanya akan berjalan lancar dan bahwa mereka bisa menangani Si Tudung Merah sebelum dia menimbulkan lebih banyak kekacauan.
Setibanya Aron Di ruang kelas 1-3, Dia melihat Liya yang ternyata sudah tiba duluan. beberapa kali Liya melirik dan membuang muka saat Aron tiba.
Melihat tingkahnya yang Aneh aron bertanya padanya.
" Ada apa?, apakah kamu mendapat masalah kemarin? "
Liya yang sepertinya belum siap menghadapi. obrolan dengan Aron sempat sedikit terkejut.
" Ti.. Tidak, Aku tidak mendapat masalah apapun kok " Balas liya sambil melambaikan kedua tangannya dan tersenyum mencurigakan.
" Lalu kenapa kau bertingkah aneh barusan? "
" be.. be.. bertingkah aneh?, siapa yang bertingkah aneh, itu mungkin hanya perasaanmu saja " Jawab Liya dengan sedikit tergagap di awal.
Aron mengangkat alis, tidak yakin dengan jawaban Liya. "Benarkah? Karena kamu terlihat sangat aneh pagi ini."
Liya tertawa canggung. "Kamu benar-benar berlebihan, Kak. Mungkin kamu masih setengah tertidur," katanya mencoba mengalihkan perhatian.
Aron memutuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh. "Baiklah, kalau kamu bilang begitu. Tapi ingat, aku selalu di sini kalau kamu butuh bantuan," ucap Aron dengan nada lebih lembut.
Liya mengangguk, tampak lega bahwa Aron tidak menekan lebih jauh. "Terima kasih, Kak."
Setelah itu, Aron duduk di bangkunya. Tidak lama kemudian, pelajaran jam pertama dimulai.
Pelajaran pagi berlangsung dengan lancar, dan setelah istirahat makan siang pertama selesai, kelas praktik dimulai.
Semua siswa kelas 1 berkumpul di area lapangan yang sudah diperbaiki. Sebelumnya, area lapangan hancur akibat pertarungan simulasi yang diadakan Aron dan Liya. Sekarang mereka berdua dilarang mengikuti kegiatan praktik apapun yang diadakan di kelas praktik, kecuali absen kehadiran saat kelas praktik.
Aron dan Liya berdiri di pinggir lapangan, mengamati teman-teman sekelas mereka yang sedang bersiap untuk sesi latihan. "Yah, begitulah. Setidaknya kita masih dapat poin kehadiran," Aron berusaha menghibur diri.
Liya tertawa kecil. "Benar juga. Mungkin kesempatan ini bisa jadi waktu istirahat ekstra buat kita."
Aron tersenyum, walau hatinya sedikit berat karena tidak bisa ikut serta. Dia tahu hukuman itu adil mengingat kerusakan yang mereka sebabkan, namun tetap saja dia merasa sedikit kecewa. "Bagaimana kita bisa gunakan waktu ini untuk menganalisis kekuatan teman-teman kita. Ini bisa berguna kalau kita nanti butuh bekerja sama dalam misi," usul Aron.
Liya mengangguk setuju. "Ide bagus, Kak. Lagipula, pengamatan adalah kunci untuk memahami kelemahan/kekuatan mereka serta bisa di gunakan untuk membuat strategi yang lebih baik dan efisiens."
Mereka berdua pun fokus mengamati teman-teman mereka yang sedang berlatih, memperhatikan setiap gerakan dan teknik yang digunakan. Meski tidak terlibat langsung, mereka tetap berusaha memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.
Di saat semua murid sedang berlatih, pandangan Aron terfokus pada seseorang yang juga berada di lapangan tersebut. Tidak seperti yang lain yang berlatih berpasangan, dia berlatih sendirian di lapangan yang agak jauh dari kerumunan.
"Aku ke sana sebentar," ucap Aron pada Liya.
Melihat itu, Aron berjalan mendekatinya. Saat dia berjalan memasuki lapangan, para murid segera menghentikan latihan mereka, semua pandangan tertuju padanya. Namun, Aron mengabaikannya dan tetap berjalan menghampirinya.
Aron berdiri di hadapan seorang remaja laki-laki seusianya. Wajah polos remaja itu berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang penuh tekad, serta tangan yang dipenuhi guratan karena latihan keras yang dia jalani, menarik perhatian Aron.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aron pada remaja itu.
"Di lihat pun sudah jelas kan? Aku sedang berlatih. Apa yang kamu, seorang yang diakui kepala sekolah sebagai siswa yang hebat, inginkan dariku yang seorang siswa biasa?" ucap remaja itu dengan nada tidak senang.
hmm~~
Aron tersenyum tipis, menyadari ketidaksenangan dalam suaranya. "Aku hanya penasaran. Kamu terlihat sangat tekun berlatih sendirian. Aku ingin tahu apa yang mendorongmu begitu keras."
Remaja itu menatap Aron sejenak sebelum menjawab. "Aku punya alasan sendiri. Mungkin kau tidak akan mengerti, tapi aku ingin menjadi lebih kuat. Ada sesuatu yang ingin aku capai."
Aron mengangguk mengerti. "Aku menghargai tekadmu. Tapi, tekad tanpa kemampuan hanyalah omong kosong belaka."
mendengar perkataan Aron yang menghinanya, kerutan marah terlihat pada wajah remaja itu. Dia ingin menyangkal. perkataan Aron tapi sayangnya apa yang Aron itu katakan adalah kebenaran, membuatnya tidak bisa menyangkal perkataan Aron dan itu membuat dia tambah kesal dengan dirinya sendiri karena tidak memiliki kemampuan yanh cukup.
"Apa maumu?!" ucapnya dengan nada kasar.
"Sederhana, Aku ingin kamu ikut dalam pelatihanku, aku akan melatihmu dan menjadikanmu lebih kuat dari dirimu yang sekarang." Ucap Aron dengan percaya diri.
"A.. apa, kamu mau melatihku. kenapa?, apa yang kamu inginkan dariku !?" ucapnya tidak percaya.
" Aku sedikit tertarik dengan kemampuan yang ada dalam dirimu" ucap Aron menjelaskan.
"Oh, Jadi kamu tertarik dengan kemampuanku, Lalu... "
"Apakah ini salah satu caramu untuk menyingkirkan saingan yang kau anggap berbahaya?, rendahan sakali jika kamu berpikir seperti itu" balasnya,
" Aku tahu orang-orang sepertimu pasti akan melakukan hal rendahan seperti ini, berpura-pura mengakui kemampuan lawan yang mungkin menjadi ancaman bagimu di masa depan lalu jika ada kesempatan berpura-pura berteman dengannya kemudian menusuknya dari belakang, bukankah begitu?! "
Dia sepertinya memang sangat tidak menyukai Aron, hal ini bisa terlihat jelas dari tatapan permusuhan yang dia perlihatkan pada Aron begitu Aron mendekatinya..
Tapi, Aron tidak menggubris tatapan permusuhan itu sama sekali, seakan itu tidak berpengaruh baginya, Aron lalu terus melanjutkan percakapan dengannya tanpa mempedulikan kesukaan lawan bicaranya terhadap dirinya.
namun. itu tidak berlaku untuk Liya, dia sudah bersiap untuk menguraikan partikel remaja yang baru saja menghina kakaknya itu dan membuatnya menghilang untuk selamanya, tapi sebelum itu terjadi kakaknya menghentikannya.
" Hentikan itu Liya, ini bukan di permukaan bumi, nonaktifkan sorsèremu sekarang juga." ucao Aron tegas pada adiknya.
Liya yang merasa kecewa dan sedikit ketakutan dengan nada dingin Aron yang baru saja dia dengar segera menuruti perkataan Aron dan menonaktifkan kemampuan sorsèrenya.
Aron lalu berbalik dan kembali berbicara dengan remaja di hadapanya.
" Suka atau tidak, kamu dan aku itu sama, kamu ingin lebih kuat untuk bisa menggapai tujuanmu dan aku bisa mengabulkan keinginanmu itu, dan aku butuh orang-orang sepertimu untuk bisa mencapai tujuanku, bukankah itu sebuah kesempatan untukmu agar menjadi lebih kuat?, "
"Jika kamu memang tertarik, datanglah ke sini sepulang sekolah, Aku akan menunggu jawabanmu "
Setelah mengatakan itu, Aron berbalik dan berjalan kembali ke pinggir lapangan. Liya menatapnya dengan rasa ingin tahu saat dia mendekat.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Liya cemberut sambil menggembungkan pipinya.
"Dia memiliki tekad yang kuat. Aku hanya ingin memberinya sedikit dorongan," jawab Aron.
" Tapi sikapnya itu padamu membuatku kesal, Kenapa kamu tidak membiarkan aku membunuhnya saja dan justru menghentikanku " ucap Liya dengan nada yang terlihat masih kesal.
" Lalu apa setelah itu?, apa yang akan terjadi setelah kamu membunuhnya?, apa yang akan kepala sekolah katakan? pernahkan kamu berpikir seperti itu? "
"Ta tapi dia... "
"lagipula sikap kasar yang orang itu miliki adalah karena iri dengan kemampuanku dan selalu menyalahkan dirinya sendiri karena kelemahannya, terlepas dari dua hal itu dia orang yang baik "
Liya tersenyum tipis. "Kamu selalu punya cara untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain, Kak."
Aron mengangguk. "Setiap orang punya alasan mereka sendiri. Kita hanya perlu menghargai perjuangan mereka."
Saat Aron mengobrol santai dengan liya notifikasi ponsel yang ada di sakunya berbunyi.
Aron mengambil. ponselnya dan melihat ada pesan di dalamnya, dia kemudian membuka isi pesan itu dan membacanya.
tidak lama kemudian, tangan kiri Aron mencengkram kuat bahu Liya.
" Kakak?, Ap, Apa yang kamu lakukan, peganganmu agak sedikit menyakitkan " ucap liya yang memberi tahu jika dia sedikit kesakitan karena bahunya yang di pegang dengan kuat.
" Hey.. Aku mau tanya, Apa kamu bisa menjawabnya dengan jujur, L I Y A " ucap Aron dengan nada yang marah tapi berusaha dia tekan agar tidak sampai meledak.
" A.. A.. Apa yang ingin kamu tanyakan , kak? "balas Liya merasa ketakutan.
"Aku tahu jika tiga bulan kemarin itu adalah dimana kamu menagih janjiku padamu tapi, bukankah ini terlalu berlebihan? Apa kamu tahu kenapa saldoku bisa cuma tersisa 0 Digital credit, apa aja yang kamu beli kemarin? "
Saat Aron mengatakan itu, di situlah Liya teringat jika dari tiga bulan lali dia menggunakan uang Aron untuk bersenang-senang dan membeli semua hal yang dia inginkan dan butuhkan sampai-sampai dia tanpa sadar menghabiskan 300.000 Digital credit yang ada di dalam ID Bank milik Aron hanya dalam waktu 3 bulan yang harusnya uang segitu bisa membuat orang hidup selama 3 tahun tanpa bekerja dan makan mewah.
Liya hanya tersenyum ke arah Aron.
"Maaf, Aku kelewatan belanja hehe~~" ucapnya sambil tersenyum polos.
mendengarnya. Aron sekeika jatuh pingsan.
" tunggu, Kakak, KAKAK! "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments