Chapter 11

Saat pulang sekolah, Aron segera bergegas ke gedung perusahaan Pioneer. Begitu Aron memasuki gedung dengan nametag resmi pegawai yang Aron dapat pagi ini melalui email, Aron segera dikenali sebagai salah satu staf perusahaan dan segera dibimbing ke tempat kejanya oleh sistem pemandu yang sehari sebelumnya sudah Aron instal di ponselku.

"Selamat pagi, apakah Anda pegawai baru yang bertanggung jawab atas perpustakaan gedung Pioneer?" Suara mekanisme robot menyambutku saat Aron berdiri di depan pintu lapis baja.

Suara itu berasal dari interkom yang terpasang di dekat pintu.

" Aku Aron, penjaga perpustakaan yang bekerja mulai hari ini. Ini kartu pegawaiku," jawabnya sambil menunjukkan ID pegawai yang ada di ponselnya ke dekat kamera yang ada di interkom itu. Setelah melAronkan scanning, pintu lapis baja itu terbuka, memperlihatkan isi di dalam ruangan tersebut yang adalah barisan rak berisi buku-buku yang selamat setelah kejatuhan umat manusia.

Aron melangkah masuk, merasa sedikit kagum dan terhormat berada di antara koleksi sejarah yang begitu berharga. Buku-buku ini bukan hanya sekadar tumpukan kertas, tetapi juga representasi dari pengetahuan dan kebudayaan yang bertahan melawan segala rintangan.

"Selamat datang, Tuan Aron," suara mekanis robot pemandu kembali terdengar. "Anda akan bertanggung jawab atas perawatan dan pengelolaan koleksi ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, silakan gunakan sistem pemandu yang sudah diinstal di ponsel Anda."

Aron mengangguk, merasa antusias dan sedikit cemas dengan tanggung jawab baruku. Mulai hari ini, perpustakaan ini akan menjadi tempat kerjanya, dan Aron bertekad untuk menjaga serta merawat koleksi yang berharga ini dengan sebaik-baiknya.

Aron berjalan ke meja tempat kerjanya, mengoperasikan layar hologram yang ada di sana, dan memasukkan informasi dirinya sebelum akhirnya Aron bisa mengakses daftar buku yang sudah terdaftar di sistem pengelolaan pusat.

Di sana, Aron mulai memeriksa daftar katalog dari buku-buku yang sudah terdaftar.

"Sejarah..., hukum..., astronomi..., budaya dan seni..., lalu ada buku pelajaran seperti matematika, dasar-dasar kimia, ilmu fisika, dan lainnya. Ada juga beberapa novel dan majalah dari penulis terkenal di masa lalu yang juga disimpan di sini. Ternyata cukup banyak hal yang disimpan di sini," gumamnya pelan sambil terus menggerakkan layar hologram di depanku.

Aron terpesona oleh berbagai macam buku yang ada di perpustakaan ini. Setiap kategori buku memiliki nilai pentingnya sendiri dan dia merasa seperti menemukan harta karun di tengah reruntuhan peradaban. Buku-buku ini adalah bukti keberadaan kita, bukti dari segala pengetahuan, kreativitas, dan sejarah yang pernah dimiliki umat manusia.

Perpustakaan ini bukan hanya sebuah tempat penyimpanan, tapi juga penjaga masa lalu dan masa depan. Aron merasa memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap buku di sini dirawat dengan baik dan tetap tersedia untuk generasi mendatang.

Setelah memeriksa daftar katalog, Aron mulai merencanakan tugas-tugasku. Aron akan memastikan setiap buku berada di tempat yang seharusnya, memeriksa kondisi fisik buku-buku, dan memastikan sistem pengelolaan digital selalu diperbarui. Pekerjaan ini mungkin tampak sederhana, tetapi Aron tahu betapa pentingnya menjaga pengetahuan ini tetap hidup.

Saat Aron sedang mengecek semua katalog buku yang terdaftar, Aron menemukan file dengan label "Keamanan Tingkat 1." Rasa penasaran langsung muncul, dan Aron mencoba mengklik file itu.

Hal berikutnya yang Aron temukan adalah sebuah kolom kata sandi yang terpampang di layar hologram tepat di depannya.

“Apa ini?” gumamnya sambil memandangi kolom kata sandi itu.

Aron berpikir sejenak, menyadari bahwa informasi ini mungkin sangat rahasia. Aron tidak diberi informasi tentang kata sandi ini saat orientasi, jadi mungkin ada protokol khusus untuk mengaksesnya. Aron mempertimbangkan apakah akan mencoba menebak kata sandi atau mencari petunjuk lebih lanjut.

"Apa mungkin ada informasi lebih lanjut di dokumen-dokumen pegawai?" pikirnya.

Dengan hati-hati, Aron kembali mengecek layar hologram, mencari petunjuk atau dokumen tambahan yang mungkin memberikan informasi mengenai akses ke file dengan keamanan tingkat tinggi ini. Aron tidak ingin membuat kesalahan yang bisa mengancam pekerjaanku atau keamanan data di perpustakaan ini.

Sambil terus mencari, Aron berusaha tetap tenang dan waspada, memastikan bahwa setiap langkah yang Aron ambil adalah langkah yang benar.

Aron juga bertanya pada sistem pemandu yang ada di ponselku.

" sistem pemandu. apa kamu tahu soal file dengan label "keaman tingkat 1" yang ada di katalog buku yang terdaftar? " tanya Aron pada sistem pemandu itu.

Sistem pemandu di ponselku merespons dengan cepat:

> Menjawab <

> File tersebut ada dalam pengolalaan pemerintah dengan tingkat keamanan paling tinggi. Mohon segera kembali dan tidak menyentuh file lebih jauh <

Mengetahui informasi ini, Aron merasa lega karena setidaknya Aron tidak secara tidak sengaja melanggar protokol keamanan yang serius. Aron kembali ke layar hologram dan keluar dari kolom kata sandi, memastikan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan masalah.

“Baiklah, sepertinya file ini terlalu berisiko untuk diakses tanpa izin yang tepat,” gumamnya pada diri sendiri.

Aron kembali fokus pada tugas utamanya, yaitu memastikan semua buku yang ada di katalog sudah terdaftar dengan benar dan melAronkan tugas-tugas lainnya sebagai pustakawan. Sambil terus bekerja, Aron berpikir untuk mendiskusikan temuan ini dengan atasannya di lain waktu, mungkin mereka bisa memberikan informasi lebih lanjut tentang akses dan prosedur yang tepat untuk file dengan keamanan tingkat tinggi seperti itu.

Dengan begitu, Aron melanjutkan pekerjaanku dengan tenang, fokus pada tugas-tugas yang memang sudah diberikan kepada dirinya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari itu, Aron mengemas barang-barangnya dan memastikan meja kerja miliknya rapi sebelum meninggalkan ruangan. Aron lalu mengunci ruang perpustakaan dengan hati-hati, memeriksa sekali lagi untuk memastikan semuanya aman sebelum pergi.

Saat berjalan keluar dari gedung Pioneer, Aron merasa puas dan sedikit lega. "Mungkin aku menyukai pekerjaan paruh waktu ini," pikirnya sambil menikmati perjalanan pulang ke asrama sekolah.

Setibanya di asrama, Aron langsung menuju kamar, meletakkan barang-barangnya dan berganti pakaian. " Hari ini terasa cukup panjang, tapi juga memberikan rasa pencapaian yang menyenangkan." ungkapnya dengan wajah yang lelah tapi ada senyuman kepuasan di dalamnya.

Aron memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum makan malam, meregangkan tubuh di tempat tidur sambil merenungkan semua yang telah terjadi sepanjang hari.

Setelah puas meregangkan tubuh, Aron bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kulkas. Aron mengambil beberapa bahan untuk memasak makan malam. Dengan teliti, Aron menyiapkan hidangan sederhana namun memuaskan, menikmati proses memasaknya sendiri.

Setelah makan malam yang memuaskan, Aron merasa kenyang dan puas. Aron segera beralih ke meja belajarku untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang diberikan oleh sekolah. Dengan fokus dan tekun, Aron menyelesaikan tugas-tugas itu satu per satu.

Saat semua pekerjaan rumah sudah tuntas, Aron merasakan kelelahan mulai menguasai tubuhku. Aron berjalan menuju tempat tidur, memejamkan mata, dan membiarkan rasa lelah membawanya ke dalam tidur yang nyenyak. Hari yang panjang dan produktif ini berakhir dengan rasa puas dan harapan akan hari esok yang lebih baik.

Di pagi hari selanjutnya.

pagi dimana matahari belum sepenuhnya bersinar. jam digital menunjukkan pukul 5.00 pagi, alarm seger berbunyi.

Titt.. titt.. titt..

suara alarm digital itu membangunkan Aron. Aron yang dalam keadaan setengah sadar segera meraih jam weker dan mematikan alarmnya

" hhwwwmm~~ Selamat pagi. " ucap Aron pada diri sendiri dengan keadaan yang masih setengah mengantuk.

Aron bergegas bangun dari tempat tidur berjalan ke kamar mandi, meninggalkan tempat tidurnya sebelum lembutnya kasur menyeretku kembali ke dunia mimpi.

Selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian piayama ke pakaian kaus jersey untuk olahraga. Aron pergi meninggalkan kamar asramanya dan pergi berolahraga joging pagi memutari kompleks asrama laki-laki yang merupakan kebiasan baru yang dia dapatkan setelah tinggal di sini.

Udara pagi yang segar memberikan semangat tambahan saat Aron memulai lari kecil di sekitar kompleks. Langkah demi langkah, Aron merasakan tubuhnya mulai terbangun sepenuhnya, Joging pagi ini juga memberikan Aron kesempatan untuk merasakan ketenangan pikiran.

setelah selesai dengan rutinitas joging pagi, Aron kembali ke asrama, membasuh dan membersihkan tubuhnya kembali yang penuh keringat dengan air hangat, membuat sarapan pagi dan mengganti pakaian jersey yang sebelumnya dia kenakan ke seragam sekolahnya.

Sesampainya di gerbang masuk R'lyeh Academy, Aron bertemu dengan Liya yang berdiri di dekat gerbang menungguku.

"Pagi, kakak," sapa Liya dengan senyuman cerah dan suasana hati yang baik.

"Pagi, tumben kamu berada di sini, ada apa? Apa ada sesuatu hari ini?" tanya Aron penasaran dan sedikit curiga.

Liya tersenyum lebih lebar, "Tidak ada yang spesial, kak. Aku hanya ingin berjalan ke sekolah bersamamu hari ini. Kita kan jarang punya waktu bersama seperti ini."

Meskipun alasannya terdengar biasa, Aron tetap curiga. Aku sangat mengenal adiknya ini; dia pasti memiliki maksud tertentu. Namun, untuk saat ini, Aron memutuskan untuk mengalir saja.

"Baiklah, ayo kita jalan bersama," balas Aron sambil tersenyum kembali. Kami pun mulai berjalan beriringan menuju kelas.

"Selamat pagi semuanya," sapa Liya begitu memasuki kelas.

Sesampainya di kelas, Aron dan Liya segera menuju meja masing-masing dan meletakkan tas berisi perangkat pembelajaran mereka di atas meja.

"Pagi, Ah. Liya, apa kamu sudah mengerjakan tugas yang diberikan kemarin?" sapa seorang gadis yang bangkunya berada tepat di depan bangku milik Liya.

"Fu fu, tentu saja," jawab Liya dengan penuh percaya diri. "Kakak, pinjam perangkatmu. Aku ingin menyalin tugasnya," tambahnya sambil mengulurkan kedua tangan kepada Aron.

"Hah, sudah kuduga pasti ada sesuatu," ucap Aron sambil mendesah. Ia kemudian mengambil perangkat pembelajaran miliknya dari dalam tas dan memberikannya kepada Liya.

Liya mengambil perangkat itu dengan senyum lebar, "Terima kasih, Kakak!, aku menyayangimu! " katanya dengan nada ceria.

Aron hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia sudah terbiasa dengan tingkah laku adiknya yang sering kali memanfaatkan situasi. Meskipun begitu, ia tidak bisa benar-benar marah pada Liya. Setelah memastikan Liya mendapatkan apa yang dia butuhkan, Aron duduk di bangkunya dan mulai mempersiapkan diri untuk pelajaran hari ini.

Saat berada di tengah pembelajaran, aron mulai merasakan kantuk pada dirinya, Rasa kantuk ini bukan datang karena pembelajaran yang membosankan tapi rasa kantuk yang datang begitu saja menghampirinya.

Ada apa ini?, kenapa hari ini aku merasa begitu mengantuk? tanya Aron di dalam kepalanya.

Aron berusaha sebaik mungkin untuk tetap sadar, mengerahkan semua tenaganya agar dirinya tetap tersadar dan tidak sampai tertidur di kelas. tapi usahanya di persulit dengan suara-suara di sekitarnya yang berubah, seolah-olah semua suara yang Aron dengar adalah lagu pengantar tidur.

Merasa jika kesadarannya akan kalah dengan kantuk, Aron segera meninju wajahnya sendiri dengan sekuat tenaga cara iti berhasil membuat kesadarannya kembali, namun tinjunya menyebabkan suara dentuman keras dari mejanya yang membuat guru seketika memperhatikannya.

" Apa ada sesuatu, Aron? " tanya guru yang sedang menerangkan di depan kelas dengan sura halusnya yang menawan. walau suara guru itu begitu memikat tapi ada sesuatu yang aneh yang Aron rasakan saat dia mendengarnya.

" Apa kamu kurang enak badan?, "

" wajahku terlihat pucat, apa perlu ibu guru buakan ijin agar kamu bisa tidak usah mengikuti pembelajaran pagi ini? "

suara-suara dari guru yang memikat iti terus terucap dari mulutnya, Aron yang mendengarnya merasa bahwa suara-suara yang dia dengar bukanlah suara biasa, suara yang Aron dengar dari guru itu terasa seperti sebuah suara yang berasal dari lantunan irama-irama pengantar tidur.

Aron yang merasa sudah tidak ada jalan lain untuk melawan rasa kantuk yang mematikan itu, dengan cepat mengambil pisau kecil yang ia sembunyikan di balik celana panjangnya. Tanpa ragu, ia menusukkan pisau itu ke kakinya, memaksakan dirinya tetap sadar dengan rasa sakit yang langsung menjalar dari luka tersebut.

"Tsk!" Guru yang melihat tindakan drastis itu mengklik lidahnya dengan kesal, ekspresi wajahnya berubah tajam dan menyingkap niat yang tersembunyi di balik sikap tenangnya selama ini. Semua murid di kelas terdiam, terkejut melihat tindakan Aron yang tiba-tiba dan drastis.

"Apa yang kamu lakukan, Aron?!" seru Liya dengan panik, segera berusaha menahan darah yang keluar dari luka kakaknya.

Aron mengerang sedikit, tapi tetap mempertahankan kesadarannya. "Ada sesuatu yang tidak beres dengan suara guru," bisiknya pada Liya. "Dia mencoba memanipulasi kita."

Guru itu, sekarang jelas-jelas menunjukkan rasa frustrasi, melangkah maju dengan niat yang lebih jelas. "Kamu sangat gigih, Aron. Namun, kamu tidak bisa melawan apa yang sudah ditentukan."

" Kau peri tidur sialan!, kamu pikir cara ini akan berhasil pada diriku" ucap Aron mengejak guru itu sambil menahan rasa sakit di kakinya.

Liya yang juga tidak terpengaruh dengan kemampuan dari guru jadi-jadian di depannya, dengan cepat, meraih perangkat komunikasi pribadinya dan mengirimkan sinyal darurat ke pihak keamanan akademi. "Butuh bantuan di ruang kelas 1-3! Guru kita berusaha memanipulasi kita!" teriaknya ke perangkat.

"Percuma saja, semua orang yang berada di area sekolah ini sudah tidak sadarkan diri dan seluruh sekolah kini sudah berada di bawah kendaliku, kalian sudah tidak memiliki kesempatan untuk memang melawanku" Guru itu berbicara dengan penuh keyakinan dengan kemenangan

Sementara itu, guru tersebut mulai menggerakkan tangannya dengan gerakan yang aneh, dan suara-suara menenangkan dari mulutnya semakin intens.

Mendengar apa yang guru itu katakan, sebuah senyum terlihat di raut wajah Aron juga Liya, Mereka mulai memandang peri tidur yang menyamar sebagai guru itu dengan tatapan dingin penuh dengan ancaman dan intimidasi superior.

" Oh, Bukankah itu bagus. Aku harus mengucapkan terima kasih padamu peri kecil sialan. Dengan begini aku tidak perlu menghapus seluruh ingatan teman-tamanku." ucap Liya dengan senyuman lebar yang menakutkan.

Peri tidur yang melihat senyuman Liya itu seketika merasakan hawa dingin menyebar, membuat tubuhnya gemetar ketakutan.

" Hey kakak, siapa yang akan mengurusnya?, aku? atau kamu? "tanya Liya pada Aron.

" Biar aku yang mengurusnya, Makhluk urban rendahan seperti ini, bisa memengaruhiku, Tentu saja aku tidak akan melepaskannya begitu saja " Jawab Aron dengan tangan yang terkepal

Aron berjalan maju, selagkah demi selagkah, membuat setiap langkah yang dia ambil penuh dengan kekuatan dan kekuatan.

Peri tidur yang melihat Aron melangkah mendekatinya, Dengan ketakutan berjalan mundur perlahan, dia terus mundur hingga menabrak dinding di belakangnya membuatnya tidak bisa lagi melangkah mundur.

" jangan mendekat! " teriak peri tidur itu yang di penuhi rasa takut.

Aron tidak menghiraukan teriakan itu dia tetap melangkah mendekati peri tidur yang telah berusaha menyerangnya itu,

Dengan penuh rasa frustrasi dan rasa takut peri itu mengeluarkan seluruh kemampuan sepenuhnya mengendalikan semua orang yang sudah tidak sadarkan diri menjadi boneka miliknya, membuat pemandangan menakutkan dimana aron terlihat seperti di kelilingi zombie dari teman sekelasnya.

"Liya, apapun yang kamu mau" ucapan singkat Aron mendapat balasan Liya.

" Kamu yang mengatakannya loh. kak, jangan melupakannya ya.. "balas Liya dengan tatapan menggoda dan senyuman nakal sambil mengusap bibir dengan lidahnya.

'sepertinya aku akan kering.. pikir Aron saat mendengar jawaban adiknya.

Liya segera menggunakan kemampuan sercère miliknya menjerat semua teman sekelasnya dengan tali yang terbuat dari baja yang ada di ruang kelas mereka menghentikan dengan paksa pergerakan mereka.

Melihat boneka-bonekanya bisa di diatasi dengan mudah, Peri itu merasa putus asa. Dia mulai memikirkan kembali mengapa dia sampai menyusup ke sini adalah agar dirinya bisa bertambah kuat dengan cara menanamkan kisahnya pada manusia dan membuat para manusia itu mengingatnya di dalam ingatan mereka yang akan membuat dirinya bertambah kuat, tapi dia tidak mengira bahwa bukan hanya rencananya yang gagal tapi dia juga harus berhadapan dengan dua sosok yang dijuluki sebagai "Anomali" oleh semua makhluk urban, ini benar-benar kesialan baginya.

Merasa tidak ada pilihan selain menyelamatkan diri, Peri tidur itu berusaha keluar dari ruangan itu, keluar dari sekolah dan pergi dari tempat ini sejauh yang dia bisa. Namun begitu dia berlari mendekati pintu ketika peri itu sudah sangat dekat dengan pintu keluar dirinya tiba-tiba saj terbentur oleh dinding tidak kasat mata yang ada di jalurnya.

apa?!, apa yang terjadi?,

saat peri itu kebingungan. Liya menjawab rasa bingungnya.

" Aaa... Tidak boleh, tidak boleh, tentu saja kamu tidak izinkan keluar dari ruangan ini, kamu yang sudah mengganggu kehidupan damaian kami, tentu saja tidak bisa keluar begitu saja kan... " ucap Liya dengan nada halus sambil memainkan rambutnya sambil memasang senyum lebar.

Peri tidur yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi kini jatuh ke tanah, dia berlutut dan meminta belas kasihan pada keduanya berharap dirinya bisa mendapat pengampunan.

"Tolong.. Tolong, ampuni aku, aku janji.. Aku janji akan segera pergi dan tidak akan muncul dan mengganggu kehidupan kalian, jadi, aku mohon tolong selamatkan dan ampuni aku "

Tidak membalas. aron segera mengarahkan tangannya yang membentuk pisau karate ke dada guru itu. menembus dadanya dan menciptakan lubang pada tubuh guru itu yang tepat berada di bagian dada.

" Emangnya aku peduli " ucap Aron dingin tidak mempedulikan satu katapun dari peri tidur itu. .

dari tangannya yang menembus dada itu tergenggam tubuh kecil yang menyerupai tubuh manusia seukuran jari telunjuk. itu adalah tubuh asli peri tidur yang mengendalikan gurunya.

Aron segera menarik tangannya dan lalu dia melemparkan apa yang dia bawa barusan kepada Liya.

Liya menerima tubuh peri itu dengan tangannya dan melemparkan ke mulutnya dan memakan peri tidur saat itu juga.

" Krrkk.. Krrk.. Rasanya kaya kumbang" ujar Liya saat memakan peri tidur.

" Aku benar-benar tidak paham dengan selera makanmu" Aron berkomentar dengan datar." jadi, bagaimana kita mengurus kekacauan ini" tambahnya.

" Gleekk.. yah, kita bisa membangunkan semua teman sekelas terlebih dahulu dan lalu membuat laporan tentang hal ini langsung ke kepal. sekolah " ujar Liya yang telah menelan peri tidur itu ke dalam perutnya.

Aron, yang sekarang merasa kelelahan karena terus menahan rasa sakit, duduk kembali di kursinya.

"aku rasa itu ide bagus, ayo kita lakukan itu" angguk Aron.

Liya mengangguk setuju, setelah semua itu mereka membangunkan semua teman sekelas mereka, membuat laporan tentang penyusupan makluk. urban pada kepala sekolah dan mendapat kompensasi yang layak dari tindakan mereka

Setelah semua kekacauan itu mereka pulang bersama walau nantinya akan berpisah di tengah jalan karena asrama keduanya yang berbeda jalur.

Dalam perjalanan pulang itu Mereka berdua sedikit mengobrol membahas apa saja yang sudah terjadi hari ini.

" Aku tidak yakin jika tidak ada seseorang di balik semua kekacauan yang terjadi hari ini, kurasa kita harus mencari tahu siapa dan apa tujuannya."

" Apa menurutmu orang itu akan mengejar kita sampai ke sini, kak? "tanya Liya

Aron lalu menjawab pertanyaan itu "Dia?, Yah, itu mungkin saja, tapi dengan luka yang dia alami saat bertarung terakhir kali dengan kita, aku rasa dia mungkin tidak akan seberani ini "ucapnya penuh pertimbangan. "yah jikapun itu memang dia. mari kita hajar kembali, kali ini benar-benar menghajarnya hingga dia menghilang sepenuhnya dari dunia " tambahnya.

Sesampainya di persimpangan jalan keduanya berpisah

" sampai jumpa, kakak, jangan lupa apa yang tadi kamu katakan " teriak Liya mengingatkan janji yang Aron berikan padanya.

" jaga dirimu, dan aku berharap kamu tidak benar-benar membuatku kering nantinya " balas Aron.

" itu, siapa yang tahu.. " ucap Liya dengan satu mata yang terkedip.sebelum dia melangkah pergi

mereka berpisah pada jalur yang berbeda jalur menuju ke asrama masing-masing.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!