Festival Xeros semakin dekat, dan persiapan sudah mencapai setengah jalan. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, semua pelajaran dihentikan sejak hari pertama persiapan. Seluruh siswa sibuk menghias dan menyiapkan acara yang akan digelar saat festival tiba.
Di salah satu sudut ruangan kelas, Liya tampak kesulitan memasang kain berwarna gelap ke langit-langit. “Kakak... Bantuin dong,” pinta Liya sambil berusaha menjaga keseimbangannya di atas meja.
Aron, yang sedang memindahkan tiang penyangga ke sudut ruangan, melirik ke arah Liya dengan alis terangkat. “Bukannya kamu bisa terbang saja? Kenapa harus meminta bantuanku?”
Wajah Liya langsung memerah. “Itu... Aku nggak mau rokku terlihat. Rok ini cukup pendek, kalau aku terbang, mereka bisa terlihat,” jawabnya dengan malu-malu, matanya menghindari pandangan Aron.
Aron tiba-tiba terdiam, memahami maksud Liya. Wajahnya pun sedikit memerah seiring kesadarannya yang baru muncul. “Iya, yah... Benar juga,” gumamnya, seolah baru saja menyadari sesuatu yang sangat penting.
Dengan cekatan, Aron membantu Liya memasang kain di langit-langit, menjaga agar mereka tetap fokus pada tugas tanpa terlalu memikirkan situasi canggung tersebut.
Saat keduanya sibuk dengan dekorasi, pintu kelas terbuka, dan Ketua OSIS, Aoi, masuk dengan langkah tenang untuk melakukan inspeksi rutin. "Halo, kalian berdua," sapa Aoi dengan suara lembut, membelakangi mereka. "Sepertinya kalian melakukannya dengan baik."
Liya dan Aron sedikit terkejut mendengar suara Aoi, tetapi segera berusaha bersikap tenang. Aron melirik sekilas ke arah Liya, yang masih sedikit canggung dengan situasi sebelumnya, namun kemudian tersenyum kecil dan menatap Aoi.
"Terima kasih, Ketua. Kami berusaha yang terbaik agar kelas kami siap untuk festival," jawab Aron sambil menurunkan tangannya setelah memastikan kain terpasang dengan baik.
Liya mengangguk setuju, meski pipinya masih agak merah. "Iya, kami ingin memastikan semuanya terlihat sempurna," tambahnya, berusaha menunjukkan semangatnya.
Aoi tersenyum tipis, menatap hasil kerja mereka dengan mata yang tenang namun penuh perhatian. "Bagus. Teruskan kerja keras kalian. Festival ini adalah kesempatan untuk menunjukkan yang terbaik dari diri kalian, jadi jangan sia-siakan." Setelah memberikan kata-kata motivasinya, Aoi melanjutkan inspeksi ke bagian lain kelas, meninggalkan Liya dan Aron yang kini merasa lebih percaya diri dengan apa yang mereka lakukan.
Meski kejadian canggung tadi masih ada di benak mereka, kedatangan Aoi memberikan pengalihan yang sempurna bagi Liya dan Aron. Mereka kembali fokus dan melanjutkan pekerjaan dengan penuh semangat, memastikan setiap detail dekorasi terlihat sempurna.
Sementara itu, di kantor kepala sekolah, suasana jauh lebih serius. Aoi baru saja menyampaikan laporan terkini mengenai persiapan festival. Setelah mendengarkan penjelasan Aoi, kepala sekolah yang duduk di balik meja kerjanya memberikan anggukan penuh penghargaan.
"Kerja bagus, Ketua OSIS Aoi. Laporannya sangat jelas. Kamu boleh kembali," ucap kepala sekolah dengan suara tenang.
Aoi membungkuk sopan. "Kalau begitu, permisi. Saya pamit undur diri," ucapnya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.
Begitu Aoi keluar, dan suasana kembali hening, kepala sekolah menghela napas panjang. Dia menekan panel yang ada di atas mejanya, yang memunculkan serangkaian laporan mengenai insiden penyerangan fasilitas rahasia yang terjadi belum lama ini.
"Haahhh... Ada apa lagi ini? Kenapa akhir-akhir ini sering terjadi masalah?" gumamnya dengan nada lelah, matanya menelusuri laporan-laporan yang membuatnya semakin khawatir. Masalah-masalah yang terus muncul menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di balik layar, sesuatu yang mungkin mengancam keselamatan sekolah dan para siswanya.
Meskipun Aoi dan yang lainnya sibuk mempersiapkan festival, kepala sekolah tahu bahwa di balik keceriaan yang akan datang, ada ancaman yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sesuatu yang mungkin membutuhkan lebih dari sekadar persiapan festival untuk dihadapi.
Kepala sekolah memutar kursinya, membelakangi meja kerja dan menghadap ke jendela besar di belakangnya. Pandangannya terarah pada pemandangan luar yang tampak tenang, namun pikirannya bergejolak oleh berbagai kekhawatiran.
"Masalah satu demi satu terus berdatangan," gumamnya pelan, suaranya dipenuhi kelelahan. "Seakan ada aroma manis yang memikat semut-semut untuk datang kemari. Apapun itu, aku harus memastikan hal ini tidak membahayakan para murid."
Dia terdiam sejenak, menatap langit yang mulai berwarna kemerahan, pertanda senja telah tiba. Di balik ketenangan yang tampak di luar, kepala sekolah merasakan ancaman yang semakin mendekat. Apa pun itu, dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat dan tegas. Keamanan murid-muridnya adalah prioritas utama, dan tidak ada yang bisa menghalanginya untuk melindungi mereka, bahkan jika itu berarti harus menghadapi ancaman yang lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Di suatu tempat yang tidak diketahui,
sebuah istana megah melayang-layang di antara garis-garis dunia, tersembunyi dari pandangan siapa pun kecuali mereka yang memiliki kekuatan yang sama mengerikannya. Istana itu berwarna putih, memancarkan cahaya dingin dan misterius, seolah-olah tidak pernah tersentuh oleh waktu atau ruang.
Di dalam istana, sebuah pemandangan yang tak terlukiskan terbentang. Sosok-sosok yang berasal dari kedalaman mimpi buruk dan dongeng-dongeng Lovecraft berdiri dengan anggun di belakang singgasana. Ada Azathoth, si buta yang kacau balau, Yog-Sothoth, yang mengetahui segala hal, dan Cthulhu, makhluk tertidur yang menunggu kebangkitannya. Di antara mereka, Shub-Niggurath, ibu dari seribu anak, dan Nyarlathotep, yang suka bermain dengan jiwa manusia, melengkapi pemandangan mengerikan itu.
Mereka semua, dengan kekuatan dan keagungan yang tak tertandingi, berdiri dengan hormat di hadapan sosok yang duduk di singgasana. Sosok ini berjubah hitam pekat, wajahnya tersembunyi di balik topeng yang tak bercelah, memberikan aura misteri dan kekuasaan yang melampaui imajinasi. Tak ada yang berani menatapnya langsung, apalagi menentang otoritasnya.
Dia adalah pemimpin, pencipta, dan penguasa mereka. Makhluk-makhluk yang mengerikan itu, yang mungkin dianggap sebagai dewa oleh yang tak terhitung jumlahnya, menyembahnya dengan penuh penghormatan, seolah-olah dialah yang telah melahirkan mereka dari kekosongan dan kekacauan yang abadi. Suasana di dalam istana itu penuh dengan kekuatan yang bisa menghancurkan alam semesta dalam sekejap, namun di sana, di hadapan sosok berjubah itu, semua kekuatan tersebut tunduk dan terdiam.
Dalam keheningan yang mencekam, hanya terdengar suara lembut namun tegas dari sosok berjubah itu, memerintahkan mereka yang di sekitarnya. Setiap kata yang diucapkannya menjadi hukum, tak terbantahkan, membawa takdir yang tak terelakkan bagi mereka yang berada di dunia bawah yang fana.
Sosok itu adalah penguasa dari segala kekuatan gelap yang ada, dan istananya adalah pusat dari segala hal yang mengancam di balik bayangan alam semesta. Apa yang dia rencanakan, hanya waktu yang akan mengungkapkannya, tetapi satu hal yang pasti: dunia di luar sana tak akan pernah lagi sama jika rencana-rencana itu terwujud.
• • •
Kapal Koloni USSA, Eden School
Di dalam gedung latihan yang dikhususkan untuk mengasah kemampuan fisik dan strategi, seorang anak remaja berambut pirang berdiri dengan penuh keyakinan. Di hadapannya, seorang lawan terbaring di tanah, mengerang kesakitan setelah dengan mudah dibanting oleh Herlan, anak remaja itu. Latihan sparing baru saja berakhir, dan sekali lagi Herlan menunjukkan keunggulannya dengan mengalahkan lawannya dalam hitungan detik.
"**Cukup!**" Suara tegas sang pengawas memecah keheningan, menandakan akhir dari sesi latihan. Herlan berdiri tegak, napasnya stabil, tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan meskipun baru saja melewati latihan intens.
"Kerja bagus, Herlan," ucap pelatih yang mengawasi dari sisi lapangan. Wajahnya menampakkan kepuasan. "Kamu adalah kebanggaan Eden School. Aku menaruh harapan besar padamu untuk memenangkan turnamen bulan depan."
Mendengar pujian tersebut, Herlan hanya mengangguk dengan tenang, matanya memancarkan keyakinan yang kokoh. "Baik, Pelatih. Saya akan buktikan kepada Anda bahwa kita adalah yang terbaik," jawabnya, suaranya penuh determinasi.
Herlan menyadari betul tanggung jawab yang ada di pundaknya. Sebagai salah satu siswa terkuat di Eden School, harapan banyak orang bergantung padanya. Turnamen yang akan datang bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga tentang menunjukkan pada seluruh koloni bahwa mereka adalah yang terbaik, bahwa Eden School telah melatih para pejuang yang siap untuk menghadapi segala tantangan.
Dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, Herlan tahu bahwa dia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Setiap gerakan, setiap strategi harus dipikirkan matang-matang. Dia adalah harapan Eden School, dan dia tidak akan mengecewakan mereka.
Saat latihan berakhir dan para siswa lainnya mulai meninggalkan lapangan, Herlan tetap tinggal sebentar, merenungi tanggung jawab besar yang telah diberikan padanya. Dia tahu, pertarungan sebenarnya belum dimulai. Tapi ketika saatnya tiba, dia akan siap—dan dia akan memastikan kemenangan ada di tangan mereka.
Herlan seorang siswa berbat dengan sorcière yang bisa dalam dua jarak yakni jarak dekat dan jarak jauh.
Dia memiliki kemampuan yang mumpuni. kontrol kekuatan yang hebat dan juga ambisi kuat untuk menjadi yang terbaik.
Herlan belum pernah kalah dalam turnamen-turnamen yang pernah dia ikuti sebelumnya. karena itulah Herlan belum pernah merasakan kekalahan sebelumnya. Tapi. Sepertinya Dia akan merasakannya kali ini.
R'Lyeh Academy.
Persiapan untuk turnamen besar yang akan diadakan bersamaan dengan festival Xeros yang di selenggarakan di R'Lyeh Academy semakin dekat. Nama-nama peserta yang akan mewakili setiap angkatan telah diumumkan, menandakan awal dari persaingan yang penuh sportifitas. Dari ratusan siswa yang mendaftar, hanya 40 siswa terpilih yang dianggap layak untuk bertanding di ajang bergengsi ini.
Peserta yang dipilih terdiri dari 15 siswa kelas satu, berasal dari kelas 1-1 hingga 1-5. Mereka adalah bintang-bintang baru yang telah menunjukkan bakat luar biasa dalam berbagai aspek, baik itu kekuatan fisik, kecerdasan, atau keahlian dalam seni bertarung. Bersama mereka, ada 15 siswa kelas dua dari kelas 2-1 hingga 2-5, yang telah melewati berbagai ujian berat di tahun pertama mereka dan kini siap menunjukkan perkembangan dan kematangan mereka. Terakhir, 10 siswa kelas tiga dari kelas 3-1 dan 3-2 melengkapi daftar peserta, membawa pengalaman dan keterampilan yang lebih matang, siap untuk membuktikan diri mereka sebagai yang terbaik.
Namun, tidak semua siswa diizinkan untuk ikut serta. Anggota OSIS, dewan keamanan sekolah, dan organisasi lain yang bertugas menjaga ketertiban dan keamanan tidak diperbolehkan untuk ambil bagian dalam turnamen ini. Keputusan ini dibuat agar selama festival berlangsung, ada pihak yang bertanggung jawab memastikan keamanan dan kelancaran acara.
Keputusan ini mungkin mengecewakan bagi beberapa siswa yang tergabung dalam organisasi tersebut, terutama mereka yang ingin membuktikan kemampuan mereka di arena. Namun, mereka mengerti bahwa tugas mereka dalam menjaga keamanan festival sama pentingnya dengan kemenangan di turnamen. Mereka tahu bahwa tanpa adanya penjagaan yang baik, festival yang seharusnya menjadi ajang kegembiraan bisa berujung pada kekacauan.
Turnamen ini akan menjadi ajang pembuktian bagi para peserta yang terpilih, dan bagi mereka yang tidak bisa ikut serta, tugas mereka menjaga keamanan akan menjadi kontribusi penting untuk kesuksesan festival. Semua siswa, baik yang bertanding maupun yang menjaga ketertiban, ataupun yang menyelenggarakan sebuah acara berusaha memberikan yang terbaik demi membawa kehormatan bagi R'Lyeh Academy.
Kapal koloni ASIA. Gedung Pemerintahan
Di dalam sebuah ruangan yang remang-remang, cahaya redup dari layar besar menjadi satu-satunya penerangan. Di sekitar meja panjang, para petinggi pemerintahan duduk dengan serius, tatapan mereka terpaku pada sosok yang muncul di layar. Sosok itu adalah seorang pria misterius yang telah menyerang salah satu fasilitas rahasia mereka beberapa hari lalu. Dengan memakai nama legendaris "H. P. Lovecraft," pria itu berhasil mengambil kembali karya tulisnya yang berupa buku dongeng horor Cthulhu dari dalam gudang pustaka Galileo, sebuah tempat yang selama ini dijaga dengan ketat.
Semua orang yang hadir di ruangan itu tahu betapa pentingnya buku tersebut, bukan hanya sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai objek yang mengandung rahasia dan kekuatan yang tak terduga. Ketegangan terasa di udara, setiap orang menunggu penjelasan mengenai kejadian ini dan tindakan apa yang akan diambil selanjutnya.
Seorang pria berdiri di ujung meja, dikenal sebagai Sang MC, yang bertugas memimpin pertemuan ini. Dia menghela napas, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan sebelum akhirnya membuka mulut dan memulai diskusi.
"Sebelumnya, terima kasih atas kehadiran kalian semua di sini hari ini," ucapnya dengan nada formal, meskipun kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. "Kita tidak punya waktu untuk berlama-lama, jadi mari kita langsung masuk ke topik utama yang akan kita bahas hari ini."
Ia menekan sebuah tombol pada panel di depannya, dan layar besar di hadapan mereka memperbesar tampilan sosok yang telah menyerang gudang pustaka Galileo. "Seperti yang sudah kalian ketahui, beberapa hari yang lalu, gudang pustaka Galileo diserang oleh sosok misterius ini. Ia menyebut dirinya 'H. P. Lovecraft,' dan berhasil mengambil kembali salah satu buku terpenting dari koleksi kita—buku yang selama ini kita jaga dengan sangat ketat."
Ruangan itu sunyi sejenak, setiap orang tampak merenung, memikirkan konsekuensi dari apa yang baru saja mereka saksikan. Sang MC melanjutkan, "Kehadiran sosok ini, serta fakta bahwa dia mampu menembus keamanan kita yang seharusnya tak tertembus, menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah ini hanya permulaan? Apa tujuan sebenarnya dari 'H. P. Lovecraft' ini? Dan yang paling penting, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah hal ini terjadi lagi?"
Pertemuan ini jelas akan menjadi panjang, penuh dengan diskusi intens dan mungkin beberapa keputusan yang sulit. Bagi para petinggi yang duduk di ruangan itu, ini bukan hanya masalah keamanan, tetapi juga mempertaruhkan kredibilitas dan kelangsungan sistem yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Mereka harus bertindak cepat dan tepat, sebelum sosok misterius ini menimbulkan kerusakan yang lebih besar lagi.
"Apa tujuan dia?, Aku rasa dia tidak mungkin datang hanya untuk sekedar mengambil kembali karyanya. bukan? " salah seorang petinggi mengangkat tangan dan bertanya pada MC.
Mc mendengar pertanyaan yang di ajukan itu dengan cermat, dia lalu membalas pertanyaan yang di ajukan padanya " menurut laporan yang di terima dari pihak yang sempat berkontak secara langsung di tempat kejadian. Mengatakan jika kedatangannya ke sini untuk mencari sosok yang di sebut "Ratu" sayangnya pihak laij tidak memberikan detail lebih lanjut. membuat kita tidak dapat mengetahui siapa sosok yang di sebut "Ratu" oleh mereka. " jawab MC dengan jelas.
"Ratu? " semua orang yang ada di sana memikirkan pertanyaan yang sama, siapa yang mereka sebut ratu itu?, seperti apa dia? dan bagaimana bisa ada di sini? di dalam kapal koloni ini? bagaimana bisa mereka membawa masuk sosok berbahaya seperti itu? "
Kegaduhan kecil mulai terdengar di antara para petinggi yang duduk di ruangan tersebut. Pertanyaan tentang "Ratu" yang disebutkan oleh sosok misterius itu menyebar cepat, menimbulkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran. Suara bisik-bisik memenuhi ruangan, sementara beberapa dari mereka mencoba mencari jawaban dari laporan dan catatan yang ada.
Seorang pria yang duduk lebih dekat ke ujung meja, dengan tampilan berwibawa, mengangkat tangannya untuk meminta ketenangan. "Ini tidak masuk akal," katanya, suaranya berat dan tegas. "Bagaimana bisa seseorang, atau sesuatu, yang disebut sebagai 'Ratu' berada di dalam kapal koloni ini tanpa sepengetahuan kita? Apakah kita telah lengah selama ini? Dan apa hubungannya dengan H. P. Lovecraft?"
Semua orang menoleh ke arah MC, menunggu jawaban lebih lanjut. Sang MC menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga ketenangannya. "Pertanyaan yang sangat valid. Hingga saat ini, kita belum memiliki informasi yang cukup untuk mengidentifikasi siapa atau apa 'Ratu' ini. Namun, laporan yang kita terima mengindikasikan bahwa sosok ini diyakini memiliki kekuatan yang sangat besar, sehingga membuat H. P. Lovecraft dan entitas yang sejenisnya mencarinya dengan sangat gigih."
Seseorang di ujung lain meja, seorang wanita dengan penampilan yang sangat serius, membuka suara. "Apakah mungkin 'Ratu' ini adalah sorcière tingkat tinggi yang belum kita sadari? Mungkin salah satu dari murid kita? Atau seseorang yang bersembunyi di antara mereka?"
MC mengangguk, mengakui kemungkinan tersebut. "Itu adalah salah satu teori yang sedang kita pertimbangkan. Namun, sampai kita memiliki informasi yang lebih konkret, kita tidak bisa menyimpulkan apapun. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperketat pengawasan kita terhadap semua aktivitas yang mencurigakan di kapal ini. Kita tidak bisa membiarkan ancaman seperti ini berkembang tanpa pengawasan."
Ruangan itu kembali sunyi, suasana menjadi lebih tegang. Pertemuan ini tidak hanya membahas serangan yang baru terjadi, tetapi juga menyadarkan mereka akan ancaman besar yang mungkin sudah berada di dalam R'Lyeh academy tanpa mereka sadari. Mereka harus bergerak cepat dan efisien untuk mengidentifikasi 'Ratu' ini, serta memastikan bahwa kapal koloni ini tetap aman dari ancaman luar maupun dalam.
"Jika “Ratu” yang dia sebutkan berada di sini. Bukankah itu artinya Lovecraft akan muncul kembali di dalam koloni Asia ini untuk bisa menemui ratu itu?, Lalu, mengaoa kita tidak menghadapinya begitu dia menemui “Ratu” itu, bukankag dengan begitu kita bisa menghemat sumber daya yang kita keluarkan? " sebuah celetukan ringan dari salah satu anggota petinggi pemerintahan, Seorang pemuda berusia kisaran 22 tahun yang terlihat dengan pakaian yang serampangan dengan jas yang terbuka. rambut acak-acakan dan kaki yang di taruh di atas meja baru saja membuat Semua yang ada di sana menyadari hal yang paling penting.
Sebuah keheningan singkat melanda ruangan ketika semua mata tertuju pada pemuda itu. Beberapa dari mereka tampak kaget, sementara yang lain merenungkan saran tersebut dengan serius. Meski penampilannya terlihat serampangan dan santai, ide yang dia lontarkan memiliki logika yang kuat.
MC yang berada di tengah ruangan, menatap pemuda tersebut dengan sorot mata yang penasaran. "Pendekatan yang cukup berani," katanya pelan, "Tapi juga penuh risiko. Jika kita menunggu hingga Lovecraft menemui 'Ratu' itu, kita mempertaruhkan keamanan seluruh koloni. Terlebih lagi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat mereka bertemu."
Salah satu petinggi lainnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, mengangguk setuju. "Benar, kita tidak tahu seberapa kuat atau berbahaya 'Ratu' ini. Jika mereka bergabung, kekuatan mereka bisa menjadi ancaman yang jauh lebih besar daripada yang kita hadapi sekarang. Kita tidak bisa mengandalkan asumsi bahwa kita bisa menangani mereka begitu saja."
Namun, pemuda itu mengangkat bahunya, seakan tak peduli dengan kecemasan yang melanda ruangan. "Mungkin. Tapi sejujurnya, kita juga tidak tahu di mana mereka berada saat ini. Jika kita terus mencari tanpa petunjuk yang jelas, kita hanya akan membuang-buang waktu dan sumber daya. Setidaknya dengan menunggu, kita memiliki peluang untuk memukul sekali dan selesai."
Salah seorang petinggi yang lebih tua, yang duduk di ujung meja, akhirnya membuka suara dengan suara berat yang mencerminkan kebijaksanaannya. "Ada kebijaksanaan dalam kedua pendekatan ini. Kita harus siap dengan rencana untuk menghadapi Lovecraft jika dia muncul kembali, namun kita juga tidak boleh lengah dalam mencari tahu lebih lanjut tentang 'Ratu'. Kita harus meningkatkan pengawasan dan mempercepat penyelidikan. Jika kita bisa menemukan 'Ratu' sebelum Lovecraft, maka kita mungkin memiliki kesempatan untuk mengontrol situasi."
"Lalu dari mana kita akan melakukan pengawasan? " anggota lainnya kwmbali bertanya.
"kemudian di jawab oleh Pria yang lebih tua itu "hmm... kita akan segera mengadakan Xeros festival, ada kemungkinan "ratu" dan lovecraft akan ada di sana memgingat semakin banyak keramaian yang datang saat mencari seseorang semakin besar peluang kamu menemukannya" jawabnya.
Pria yang sebelumnya bertanya itu melanjutkan " kalau begitu. mengawasi R'Lyeh Academy adalah pilihan mengingat acara itu di selenggarakan di sana, akan ada peluang mereka akan muncul di sana"
MC mengangguk, sepertinya puas dengan kesimpulan tersebut. "Baik, kita akan segera mengimplementasikan rencana ini. Tim investigasi akan diperkuat dan ditugaskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang 'Ratu'. Sementara itu, kita akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi Lovecraft jika dia muncul kembali. Mari kita pastikan bahwa apa pun yang terjadi, kita harus melindungi koloni ini. "
"Rapat di bubarkan! " Dengan satu kalimat itu yang keluar dari MC, rapat pun di bubarkan, Ada beberapa anggota yang pergi dari ruangan dan ada yang tinggal.
Rapat itu berakhir dengan suasana yang tegang namun penuh tekad. Para petinggi mulai bergerak, baik yang keluar dari ruangan untuk mengurus tugas masing-masing, maupun yang tetap tinggal untuk mendiskusikan lebih lanjut rencana mereka. Semuanya tahu bahwa apa yang sedang mereka hadapi jauh dari sederhana, namun tak satu pun dari mereka bisa membayangkan betapa rumit dan berbahayanya situasi ini akan menjadi.
Festival Xeros di R'Lyeh Academy, yang seharusnya menjadi momen kegembiraan dan perayaan, kini membawa bayangan gelap dari sesuatu yang lebih besar. Sementara para siswa sibuk dengan persiapan, menghias sekolah, dan merencanakan berbagai acara, mereka tidak sadar bahwa ada rencana-rencana lain yang sedang berjalan di belakang layar. Rencana yang tidak hanya akan mempengaruhi festival, tetapi juga nasib mereka sendiri.
Lovecraft, dengan kekuatan misteriusnya dan obsesinya terhadap "Ratu," akan segera kembali. Dan pemerintah, dengan segala kekuatan yang mereka miliki, siap untuk menangkapnya dan menggali rahasia yang disembunyikan di dalam koloni ini. Semua pihak memiliki tujuan masing-masing, dan semuanya akan bertemu di satu titik: Festival Xeros.
Tapi bagaimana semua ini akan berakhir? Apakah Festival Xeros akan tetap menjadi perayaan yang diinginkan oleh para siswa, atau akan berubah menjadi pertempuran sengit antara kekuatan yang jauh lebih besar dari mereka? Apakah Lovecraft akan berhasil menemukan "Ratu" yang dia cari, atau pemerintah akan menghentikannya sebelum itu terjadi? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang menunggu untuk terungkap, sesuatu yang akan mengguncang seluruh koloni?
Hanya waktu yang akan menjawabnya. Satu hal yang pasti, saat hari festival tiba, semua mata akan tertuju pada R'Lyeh Academy, di mana tiga rencana besar ini akan saling bertemu dan menentukan nasib mereka yang terlibat.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments