Keesokan pagi nya. Aja dan Ata bangun lebih awal. Seperti biasanya mereka berdua segera melangkah menuju ke halaman belakang. Di halaman yang lumayan luas itu ada banyak berderet deret kendi kendi besar terbuat dari tanah liat yang berbaris dengan jarak tertentu, melingkar di halaman. Aja dan Ata berlari dengan telapak kaki telanjang di atas mulut mulut kendi kendi itu. Tampak sangat ringan tubuh mereka bagai melayang , dua bocah itu berlarian di atas mulut mulut kendi. Kendi kendi itu tidak ada yang berubah posisi apalagi roboh atau pecah.
Setelah selesai berlarian di atas mulut mulut kendi mereka berdua menuju ke suatu tempat. Tiba tiba...
Huppppsss..
Aja meloncat ke dalam suatu lobang di tanah dan dalam hitungan detik tubuh Aja sudah meloncat lagi naik dari lobang yang kedalamannya kira kira dua meter itu. Dan selanjutnya bergantian Ata, begitu terus mereka berdua bergantian berlatih dan berolah raga.
Sesaat kemudian tampak sosok Oma Lisbeth berlari tergopoh gopoh menuju ke tempat latihan Aja dan Ata...
“Aja ... Ata... kalian diantar sopir ya ke sekolah, jangan naik sepeda dulu. Kondisi sedang bahaya banyak pembunuhan di kota ini.” Teriak Nyonya Lisbeth yang baru saja menyaksikan berita terkini pagi hari.
Aja dan Ata yang sudah berdiri di atas tanah tidak lagi di dalam lobang itu pun saling pandang, dan selanjutnya menatap wajah Oma Lisbeth.
“Baik Oma.” Ucap mereka berdua dengan santun, keduanya memang tidak ingin membuat Sang Oma khawatir.
“Ya sudah kalian berdua sekarang pergi mandi dan cepat cepat berangkat ke sekolah.” Ucap Oma Lisbeth lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Gimana Ja?” tanya Ata sambil menepuk pundak Saudara kembarnya.
“Kamu cepat pergi mandi, aku masukkan sepeda ke dalam bagasi mobil.” Ucap Aja lalu dia segera berlari menuju ke garasi. Dia akan tetap membawa sepeda listrik nya yang sudah dia modifikasi. Sebab dua bocah itu sudah punya rencana di pagi ini.
Sementara itu di lain tempat di suatu ruang yang penyinarannya remang remang. Tampak tubuh seorang perempuan muda dengan piama tidur masih tergolek di atas tempat tidur. Dia lah Nona Elena yang tidur pulas akibat obat bius. Sesaat kemudian. Nona Elena membukakan matanya, sebab merasa tubuhnya panas, gerah akibat ruangan tidak ada mesin pendingin.
“Di mana aku.” Gumam Nona Elena sambil mengedarkan pandangan matanya di ruangan itu. Dia pun lalu mengucek ucek matanya. Dan tiba tiba dia teringat jika ada dua laki laki masuk ke dalam kamarnya. Nona Elena pun segera bangkit berdiri. Dia cek seluruh pakaian dan tubuhnya.
“Hmmm syukur .. beruntung.. mereka tidak melakukan pelecehan fisik.” Gumam Nona Elena saat melihat tidak ada, darah, legam legam dan tidak ada rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian intinya.
Sesaat kemudian...
BRAKKK
Suara pintu terbuka dengan kasar. Muncul sosok laki laki bertubuh kekar berkulit hitam. Kedua tangannya membawa paper bag.
“Haiii Nona sudah bangun? Apa Nona bermimpi indah tadi malam?” ucap laki laki bertubuh kekar itu dengan seringai senyuman di bibir nya.
“Ini baju ganti dan sarapan buat Nona. Sebentar lagi Bos Besar akan datang mengunjungi Nona.” Ucap laki laki bertubuh kekar itu sambil mengulurkan dua paper bag. Nona Elena hanya diam saja. Kini dia sudah tersadar jika nasibnya sama dengan pimpinan panitia konferensi menjadi korban penculikan.
Laki laki bertubuh kekar itu lalu menaruh dua paper bag itu dan selanjutnya keluar dari kamar tidak lupa mengunci pintu dari luar.
“Sial!” umpat Nona Elena.
Nona Elena yang perutnya sudah merasa lapar lalu membuka paper bag itu dan sesaat kemudian mata Nona Elena melotot saat melihat isi dua paper bag itu. Satu paper bag berisi makanan, minuman dan pil kontrasepsi sedang satu paper bag lagi isinya lingerie sexie berwarna merah menggoda.
“Kurang ajar! Dikira aku perempuan apa!” teriak Nona Elena dengan emosi.
Nona Elena mengedarkan pandangan matanya ke seluruh dinding dan atap ruang itu.
“Sial!” umpatnya lagi di saat dia melihat semua bangunan ruang itu sangat rapat tidak menemukan suatu bagian yang bisa digunakan untuk melarikan diri.
Sementara itu di salah satu kamar mewah. Seorang laki laki paruh baya pemilik robot monster sedang di atas tempat tidur bersama istri mudanya. Sang istri muda sedang membelai belai dadanya dalam rangka merayu agar mendapat transferan dana lebih banyak.
Tiba tiba terdengar suara dering hand phone di atas nakas meja.
“Honey.. tolong ambilkan hand phone ku...” ucap laki laki paruh baya itu yang kesulitan bangkit dari terbaringnya.
“Hah! Pasti istri gemuk kamu itu minta agar kamu segera menemui dirinya.” Ucap Sang istri muda dengan bibir cemberut akan tetapi mau tidak mau dia bangkit dari tidurnya dan turun dari tempat tidur mewah itu untuk melangkah menuju ke meja nakas.
Istri muda yang tubuhnya sexie bohay dan terbalut lingerie super minim itu segera meraih hand phone dan pandangan matanya langsung menatap layar hand phone. Ekspresi wajahnya langsung berubah tidak lagi kesal karena cemburu setelah menatap layar hand phone.
“Siapa Honey?” tanya laki laki paruh baya itu yang kini punggungnya sudah bersandar di kepala tempat tidur.
“John.” Jawab Sang istri muda sambil mengulurkan hand phone yang masih berdering.
Mendengar kata John, laki laki paruh baya itu langsung berbinar binar matanya dan bersemangat karena teringat akan Nona Elena, membayangkan wajah cantik dan aura kecerdasan di foto yang kemarin dilihatnya saja membuat burung garuda tua milik laki laki itu sudah berdiri.
“Mana ... mana....” ucap laki laki paruh baya itu dengan penuh semangat sambil mengulurkan tangannya dengan telapak menengadah.
Istri muda yang sexie bohay pun tidak curiga dan segera memberikan hand phone itu, sebab dia mengira suaminya bersemangat karena urusan proyek semata.
“Hallo.” Ucap Laki laki paruh baya itu penuh semangat, sebab semalam dia sudah mendapat laporan penculikan Nona Elena berjalan lancar dan Nona Elena sudah ditaruh di dalam ruang bawah tanah.
“Tuan, Nona Elena sudah bangun sesuai perintah Tuan, kami menunggu Tuan untuk menanyakan pass word email itu, saya coba berkali kali untuk meretas tetap saja gagal.” Suara John di balik hand phone milik laki laki paruh baya itu.
“Okey okey, aku akan segera ke sana. Ingat jangan kalian sentuh dia!” ucap laki laki paruh baya itu dengan keras. Dia lalu memutus sambungan telepon dan segera turun dari tempat tidur.
“Siapa yang tidak boleh disentuh?” tanya istri muda sexie bohay mulai curiga.
“Ahhh itu layar komputer baru...” jawab laki laki paruh baya itu dan segera melangkah menuju ke kamar mandi.
“Karya ini merupakan karya jalur kreatif “
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Nor Azlin
sebentar lagi mamous kamu pak tua kerana aja sama ata udah tau nona elina kena culik ...tunggu aja nasib mu pak tua dasar buaya tua 😂😂😂😂 lanjutkan thor semoga aja aja ata tidakk terlambat deh
2024-03-08
1