Sherli yang gemetar menahan amarah melemparkan kotak itu ke lantai dengan keras. "Siapa yang berani melakukan ini?!" teriaknya. Rifki dan Charlie yang ikut melihat isi kotak itu seketika terkejut, ekspresi wajah mereka berubah menjadi pucat. Di dalam kotak itu, terdapat beberapa foto Alia dan juga Kang Dadang yang baru saja meninggal beberapa hari lalu. Rifki menjauhkan kotak itu dengan kakinya, mata berkaca-kaca.
"Ini pasti bukan kebetulan. Ada yang sengaja mengirimkan kotak ini ke kita," kata Rifki dengan suara lirih. Charlie mengangguk, wajahnya tampak murung.
"Tapi siapa? Siapa yang mau melakukan teror seperti ini?" tanyanya dengan rasa penasaran. Nico, yang baru saja turun dari kamar tidurnya, segera bergegas ke teras villa saat mendengar suara teriakan rekan kerjanya. Dengan langkah cepat, Nico menghampiri mereka dan menatap kotak itu dengan ekspresi terkejut.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berteriak?" tanya Nico penasaran. Sherli menunjuk ke arah kotak dengan air mata menggenang di matanya.
"Lihat itu, Nico! Ada yang mengirimkan kotak ini ke kita. Isinya foto-foto Alia dan Kang Dadang yang meninggal beberapa hari lalu. Ini pasti sengaja, tapi kita tidak tahu siapa yang melakukannya." Nico merasa jantungnya berdegup kencang, ia merasa takut namun penasaran.
"Kita harus mencari tahu siapa yang melakukan ini. Kita tidak bisa diam saja, kita harus melindungi semua orang di sini dan orang-orang di sekitar kita," ucap Nico dengan tegas, wajahnya memancarkan keberanian meski dalam hati ia merasa takut.
"Mencari tahu? Pihak kepolisian saja belum menemukan bukti yang memberatkan pelaku!"ucap Sherli dengan tegas menatap ke arah Charlie penuh dengan kecurigaan.
"Kenapa Anda menatap Saya?"Charlie bertanya dengan nada ketus saat tak suka dengan tatapan tajam dari pandangan Sherli.
"Di sini hanya kamu anak baru dan karyawan yang pertama kali ikut kami. Sebelumnya, belum pernah terjadi hal-hal seperti ini di mana pun kami ditugaskan untuk bekerja. Ini bukan sekali atau dua kali, selama aku bekerja di perusahaan itu aku tak pernah mendapatkan berita yang buruk seperti,"Sherli berkata sembari melipatkan kedua tangan di dada.
"Jadi, Anda menuduh Saya untuk hal ini? Bagaimana kalau seandainya orang yang lama bekerja yang melakukan hal ini?"tanya Charlie balik dan menatap tajam Sherli. Lalu, melemparkan pandangannya ke arah Nico. Seakan Nico merasa terjebak dengan ucapan Charlie barusan. Ekspresi wajahnya berubah.
Sejak awal bertemu. Charlie sangat curiga dengan Nico, seorang pria bekerja di perusahaan swasta dan memiliki gaji yang cukup. Kenapa harus bekerja sampingan sebagai orang pengedar obat terlarang dan kini Juwita ikut terlibat.
"Apa yang terjadi? Bukankah kita belum bisa syuting kalau masalah Kang Dadang belum kelar?"tanya Juwita dengan raut wajah masam menatap semua orang yang berdiri di teras villa.
Nico memberikan kotak yang ada di tangannya kepada Juwita.
"Akh!"Juwita menepis kotak tersebut dengan perasaan yang begitu ketakutan. Isi kotak itu berhamburan ke lantai teras dan membuat semua orang menatap gelagat Juwita yang penuh dengan kepanikan dan kecemasan.
"Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"Charlie langsung maju dan bertanya guna untuk mendapatkan jawaban dari Juwita. Tetapi, wanita itu tak memberi komentar apapun. Nico menatap Juwita dengan tajam, dari sorotan matanya memberi peringatan agar Juwita tak menceritakan apapun tentang kerja sama mereka.
"A-Aku nggak apa-apa! Aku akan ke kamar,"Juwita berbalik dan pergi meninggalkan mereka semua.
"Aku akan melihatnya!"Nico berkata dengan pergi meninggalkan mereka juga. Lepas kepergian dua orang itu. Ketiga mereka saling pandang satu sama lain menatap ke arah ke mana Nico dan Juwita pergi barusan.
"Aneh! Apa sebelumnya mereka begitu dekat?"tanya Charlie yang penasaran.
"Entah, aku juga tidak tahu. Tetapi, keduanya tak pernah memiliki hubungan apapun. Nico dan Juwita hanya rekan kerja biasa. Nico adalah atasan Juwita dan Juwita bawahannya,"Sherli berkata dengan suara yang ketus. Setelah melihat tak menemukan jawaban apapun Charlie memilih meninggalkan teras untuk menyusul Nico dan Juwita.
"Rifki, kamu bereskan tempat ini ya. Aku mau ke kamar dulu, pagi-pagi sudah bikin mood berantakan,"Sherli berkata dengan sinis dan meninggalkan Rifki sendiri di teras. Sembari mengangguk dan menunduk, Rifki menatap sinis ke arah Sherli seraya menyeringai terlihat sudut bibir yang terangkat satu sebelum kemudian Rifki berjongkok dan membereskan semua kotak beserta isinya itu.
Juwita dan Nico terdengar seperti orang sedang berdebat satu sama lain di dalam kamar Juwita. Raut wajah Juwita nampak cemas dan dia bersikap begitu frontal.
"Sudah ku katakan aku tidak mau terlihat dalam masalah apapun. Berhenti untuk meminta ku melanjutkan mengedar obat itu. Aku tidak mau melakukan itu lagi. Kamu tahu seluruh karyawan dan rekan kita akan curiga,"Juwita berkata dengan suara lantang yang membuat Nico segera membungkam mulut Juwita.
"Pelankan suaramu! Kamu mau yang lain mendengarkannya?"ucap Nico dengan suara pelan, sesekali menatap ke arah pintu yang terbuka. Di balik pintu Charlie berdiri dan menguping pembicaraan mereka berdua. Charlie mengepalkan tangannya. Dia perlu waktu lama untuk menjebak Nico. Tetapi, kali ini dia benar-benar harus bertindak dan tak membuang waktu lagi.
Prang!
Vas bunga yang ada di belakang Charlie terjatuh mengejutkan Juwita dan Nico yang saat ini berada di dalam kamar yang sama.
"Stt! Aku akan melihat!"Nico berkata Juwita mengangguknya. Nico mengintip ke arah luar dan tak ada satupun di sana. Hanya ada kucing dan vas bunga yang jatuh. Nico menghela napas leganya dan berbalik menemui Juwita. Nico menutup pintu kamar tersebut.
Hal yang tak pernah dibayangkan oleh semua orang adalah Nico dan Juwita memiliki hubungan asmara seperti suami istri. Hari itu untuk membujuk Juwita kembali, Nico terpaksa menyalurkan hasratnya kepada Juwita dengan begitu mesra dan manja untuk membuat wanita itu luluh akan perkataannya.
Charlie yang berdiri tak jauh dari tempat itu bisa mendengar setiap gerakan dan desahan yang keluar dari mulut Juwita dan Nico. Charlie mengepalkan tangannya dan sekarang tahu apa hubungan keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments