Charlie mengikuti langkah kaki Nico dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara yang mencolok. Dia melihat paket misterius yang ada di tangan Nico, membuat rasa curiga semakin memuncak.
Sudah dua Minggu Charlie mencoba memecahkan kasus kematian adiknya, Alia, tetapi hingga kini belum juga menemukan titik terang. Dalam kegelapan koridor perusahaan yang sepi, langkah kaki Nico terdengar jelas oleh Charlie.
Dia merasa seperti ada getaran aneh yang mengalir dari paket yang dipegang Nico. Wajah Charlie tampak tegang, tak ingin melewatkan satu gerak pun dari pria yang mungkin terlibat dalam kematian adiknya.
Tiba-tiba, Nico berhenti di sebuah pintu, dia melihat ke kanan dan ke kiri, seolah memastikan tak ada yang mengawasi. Begitu yakin aman, Nico membuka pintu dengan pelan dan memasuki ruangan. Charlie mengendap-endap mendekat, bersembunyi di balik dinding, mencoba menyelipkan pandangannya ke dalam ruangan. Dari celah pintu, Charlie melihat Nico membuka paket tersebut. Isinya adalah sebuah paket bewarna putih dan beberapa bungkusan kecil lainnya.
Nico memasukan benda yang ada di tangannya di dalam loker yang berbeda. Seperti benda itu di tuju atau dikirim untuk seseorang. Setelah Nico selesai pria itu keluar dan meninggalkan ruangan tersebut.
Namun, karena Charlie cukup penasaran akhirnya Charlie memutuskan untuk melihat benda itu dari dekat.
"Psikotropika? Siapa yang menggunakan obat ini? Dan untuk apa Nico meletakkannya di sini,"ketika Charlie bertanya-tanya pada diri sendiri. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arah ruangan tersebut. Charlie memutuskan untuk bersembunyi di balik pintu ruangan dan tak lama ruangan itu terbuka. Sosok wanita muda dan cantik muncul di depan loker tersebut dan segera membukanya. Ketika wanita itu berbalik Charlie terkejut melihat sosok yang dikenalnya ada di sana.
"Juwita?"gumam Charlie dengan syok. Setelah mengambil benda itu Juwita pergi meninggalkan loker tesebut. Saat itu juga Charlie mencoba berpikir keras apa yang sedang dilakukan Nico dan juga Juwita? Untuk apa mereka berdua membawa obat itu?
Malam ini, di sebuah kontrakan sederhana milik Charlie.
Di kamar tidur Charlie, papan putih terpasang di dinding tak jauh dari meja kerjanya. Berbagai foto terpampang jelas di papan tersebut, menunjukkan beberapa orang yang menjadi fokus perhatiannya.
Charlie, yang bertekad untuk mengungkap misteri kematian adiknya, Alia, mencurigai beberapa orang yang mungkin terlibat dalam kasus tersebut. Di antara foto yang tertempel, terdapat foto Pak David, Rifki, Nico, dan Juwita.
Mereka semua memiliki hubungan dengan Alia sebelum dia meninggal, dan Charlie merasa perlu untuk menggali lebih dalam tentang keterlibatan mereka. Dalam perjalanannya mengumpulkan bukti dan informasi, Charlie berusaha untuk tidak meninggalkan batu yang tak terbalikkan. Namun, hingga saat ini, Charlie belum cukup memiliki bukti kuat yang dapat mengungkapkan keterlibatan mereka dalam kematian adiknya.
Setiap hari, dia mencoba menemukan petunjuk dan menghubungkan titik-titik antara mereka, berharap suatu saat nanti ia akan menemukan jawaban yang ia cari. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan yang menyelimuti pikiran Charlie, ia terus berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan merumuskan strategi untuk menjerat mereka yang diduga terlibat.
Dalam perjuangan ini, Charlie berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan berhenti sampai kebenaran tentang kematian adiknya terungkap dan keadilan ditegakkan. Besok adalah hari di mana mereka akan bekerja di luar perusahaan Florist Entertainment. Mereka akan melakukan syuting pembuatan iklan produk kecantikan di sebuah villa yang sudah ditentukan oleh pihak perusahaan. Hal itu akan di manfaatkan oleh Charlie sebaik mungkin untuk mengungkapkan kasus kematian Alia. Karena, orang yang terlibat dalam proses syuting adalah orang-orang yang berada dalam kecurigaannya. Kecuali Pak David yang tidak akan datang pada lokasi syuting besok pagi.
_____
Semua orang sudah berkumpul di depan perusahaan. Charlie datang terlambat karena pada tadi Charlie baru saja pergi menemui Dokter Syahril meminta sesuatu kepada dokter itu hingga dia terlambat berkumpul sama rekan kerjanya yang lain.
"Akhirnya kau datang juga,"Sherli berkata. Selaku senior Sherli diutuskan untuk menemani ke empat orang itu untuk pergi ke Villa.
"Rifki kamu juga datang?"tanya Charlie yang melihat pria itu berdiri di samping mobil milik Nico.
"Pak David memintanya untuk menyusun perancangan yang akan dilakukan artis di sana nanti. Jadi, dia di minta untuk ikut,"sela Nico yang kebetulan juga sudah hadir di tempat itu. Rifki hanya tersenyum pelan dan mengangguk. Juwita berdiri dengan jenuh di samping mobil Sherli yang sesekali melihat kuku cantiknya. Hal itu juga tak luput dari pandangan Charlie. Pria ini masih memikirkan hal yang kemarin diketahui olehnya.
Sementara itu, Pak David keluar dari perusahaannya menuju tempat parkiran di mana karyawannya sudah berkumpul.
"Semua orang sudah berkumpul di sini. Jadi, segeralah berangkat. Nanti, akan ada tukang kebun di sana yang akan menunggu kedatangan kalian,"ujar Pak David setelah tiba di depan mereka semua. Villa tersebut berada di puncak Bogor. Untuk sampai ke sana mereka harus menempuh perjalanan sekitar dua jam.
Mereka semua bergegas masuk ke dalam mobil. Charlie dan Rifki naik dengan mobil yang sama. Sherli dan Juwita menggunakan satu mobil. Sedangkan, Nico membawa banyak peralatan yang diperlukan dan pria ini pergi sendiri dengan mobilnya. Dua mobil telah meninggalkan perusahaan. Kini hanya tersisa milik Charlie. Sebelum mobil Charlie meninggalkan parkiran perusahaan dia melihat Pak David yang berbicara dengan seseorang dibalik telepon genggamannya. Hal itu tentu saja membuat Charlie begitu penasaran.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kita belum berangkat?"tanya Rifki kemudian yang melihat mobil Charlie tak bergerak sedangkan yang lain telah lama pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sebentar,"jawab Charlie singkat, untuk menghindari kecurigaan Rifki terhadapnya, Charlie bergegas menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pak David, menyudahi obrolannya dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Lalu, menatap punggung mobil milik Charlie yang sudah meninggalkan tempat tersebut. Pak David menyeringai sembari menyimpan kembali handphone tersebut ke dalam saku celana.
Sepanjang perjalanan mobil Sherli nampak tenang dan begitu juga dengan Nico. Charlie masih tertinggal begitu jauh dengan kedua mobil itu. Sehingga, Charlie langsung menaikan kecepatan mobil agar bisa segera menyusul rekan-rekannya yang lain.
Handphone Rifki berdering. Panggilan dari seseorang yang tanpa diketahui namanya terus muncul dari layar handphone pria culun itu. Sesekali Charlie melirik ke arah handphone itu dan melihat Rifki yang mengabaikan panggilan tersebut.
"Kenapa tidak diangkat saja? Siapa tahu ada hal penting,"Charlie menatap Rifki. Pria itu terlihat gugup saat mendengar perintah dari Charlie, kemudian dia memilih untuk mematikan panggilan tersebut agar tak terus menerus menghubunginya.
'Siapa yang menelpon Rifki? Kenapa dia begitu gugup?'batin Charlie.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
mochamad ribut
up
2024-04-14
0
mochamad ribut
lanjut
2024-04-14
1
Alexandra Juliana
Apakah Nico pengedar narkoboy?
2024-03-12
1