Happy Ending-02

Alia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, tubuhnya pucat pasi. Charlie, dengan mata yang sembab dan wajah penuh kekhawatiran, mengikuti perawat yang mendorong ranjang Alia menuju ruang operasi.

Charlie menunggu dengan cemas di luar ruangan operasi. Sebelum dokter itu keluar Charlie tidak bisa duduk ataupun berdiri dengan tenang. Dia terlihat begitu gelisah dan kekhawatiran terpancar sempurna dari raut wajah Charlie.

Pintu ruang operasi terbuka setelah 15 menit kemudian. Charlie langsung menghampiri sang dokter dan bertanya. Dokter itu menggelengkan kepalanya. Charlie mencengkram kuat kerah kemeja sang dokter dengan netra yang memerah. Puncak amarahnya sudah di ubun-ubun.

"Apa maksud, Dokter? Katakan dengan jelas!"pinta Charlie dengan tangan masih mencengkram kuat kerah kemeja dokter tersebut.

Dokter itu berusaha melepaskan tangan Charlie. Dokter itu terlihat begitu tenang meskipun dia tahu Charlie tak akan melepaskannya.

"Saya perlu bicara dengan Anda. Saya harap Anda bisa mengendalikan emosi, Anda. Saya di sini dokter bukan pelaku, jadi tolong hargai profesi saya,"dokter itu berkata dengan tegas dan berlalu pergi. Charlie mengikutinya dari belakang hingga sampai di ruangan dokter tersebut.

Dokter Syahril adalah dokter ahli forensik yang tadi menangani korban di ruang operasi. Dokter Syahril meminta Charlie untuk mengizinkan pihak rumah sakit untuk melakukan otopsi terhadap korban.

"Tidak!"Charlie menolak. Tetapi, Dokter Syahril berusaha untuk membujuknya. Karena, Dokter Syahril sangat yakin jika Alia tak melakukan bunuh diri melainkan dibunuh oleh seseorang ataupun beberapa orang yang terlibat di dalam kasus tersebut.

"Tuan, Anda harus mengizinkan kami untuk melakukan otopsi. Jika tidak, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dan dialami oleh korban sebelumya,"ujar Dokter Syahril. Akhirnya, Charlie setuju untuk memberikan izin kepada pihak rumah sakit untuk melakukan otopsi terhadap korban. Bahkan, Charlie menunjukkan identitasnya kepada Dokter Syahril. Agar Dokter Syahril mau membantunya untuk mengusutkan masalah tersebut hingga tuntas.

"Baiklah. Saya setuju,"Dokter Syahril dan Charlie berjabat tangan, kemudian Charlie bangkit dari tempat duduknya untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Malam itu, langit tampak mendung dan gelap, menambah kesan mencekam di sekitar apartemen tempat Alia tinggal. Charlie menggenggam erat kunci apartemen adiknya itu, berharap bisa menemukan petunjuk tentang kejadian naas yang menimpa adiknya.

Sesampainya di apartemen, suasana sepi dan sunyi menyelimuti setiap sudut. Charlie menelan ludah ketakutan, tapi tekadnya untuk mencari kebenaran lebih besar dari rasa takutnya. Dengan langkah pelan dan hati-hati, dia membuka pintu apartemen Alia.

Begitu masuk ke dalam kamar, Charlie mengamati setiap jengkal ruangan dengan teliti. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat dingin, namun matanya tetap fokus mencari bukti yang mungkin terlewat. Kamar itu terlihat bersih, rapi, dan seolah-olah tak pernah ada kejadian buruk yang terjadi di sana.

Charlie berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar, mengingat adiknya yang lompat dari lantai atas apartemen itu. Dia menunduk dan menghela napas panjang, berusaha menenangkan perasaannya yang kacau. Dalam hatinya, dia berjanji akan menemukan kebenaran di balik kematian adiknya, apapun yang terjadi.

Tiba-tiba, Charlie melihat sesuatu yang mencurigakan di sudut ruangan. Sebuah lembaran kertas yang tergeletak di bawah meja. Dengan hati berdebar kencang, dia meraih kertas itu dan mulai membaca isinya. Mungkin saja, inilah bukti yang selama ini dia cari untuk mengungkap misteri kematian adiknya.

Namun, yang Charlie temukan itu hanyalah sebuah catatan nota pembelanjaan di sebuah toko perhiasan. Tetapi, seingat Charlie, Alia tak memiliki uang sebanyak itu untuk membeli sebuah perhiasan senilai ratusan juta untuk dikenakan olehnya. Alia, adalah seorang mahasiswa magang yang masih belajar di sebuah universitas. Nominal di nota itu bukan barang yang sanggup dibeli olehnya. Charlie pun menyimpan kertas itu ke dalam saku celananya. Charlie yakin itu bukan milik adiknya.

Keesokan paginya, atas bantuan Dokter Syahril, Charlie mengadakan acara pemakaman untuk sang adik. Terlihat tak ada yang datang baik dari pihak perusahaan ataupun teman magang yang sama dengan Alia. Pihak kampus pun tak hadir pada acara itu. Jelas-jelas berita kematian Alia karena bunuh diri sudah muncul di halaman utama berita di mana-mana. Sungguh, hal ini membuat Charlie harus berpikir keras untuk mengungkapkan semua hal yang begitu janggal dan tak masuk akal.

Charlie kembali ke apartemen Alia. Dia mengeluarkan kunci miliknya yang di simpan untuk membuka pintu apartemen Alia.

Apartemen tersebut terletak di lantai atas sebuah gedung pencakar langit di tengah kota yang sibuk. Tempat ini seolah-olah menjadi simbol kesendirian Alia di tengah keramaian.

Saat memasuki ruang tamu, suasana hening dan suram menyelimuti setiap sudut. Hanya cahaya redup yang datang dari luar melalui jendela kaca yang besar, menciptakan bayangan yang memanjang di lantai dan dinding. Dinding-dinding apartemen dipenuhi dengan foto-foto kenangan Alia, tetapi kebahagiaan yang tampak di wajahnya dalam foto-foto itu sudah tidak ada lagi di dunia nyata.

Di sudut ruangan, terdapat piano berwarna hitam yang sudah lama tidak tersentuh. Debu menumpuk di permukaannya, menandakan bahwa musik yang pernah mengisi ruangan ini telah lama menghilang. Di kamar Alia, tirai jendela tertutup rapat, memberikan kesan gelap dan tertekan.

Di atas tempat tidur yang masih rapi, tergeletak secarik surat yang menjadi pesan terakhir Alia sebelum dia mengakhiri hidupnya. Di lantai, seutas tali tampak tergeletak, saksi bisu atas peristiwa tragis yang terjadi di apartemen ini.

"Jangan pernah menyesal dan mencari tahu. Ini adalah keinginanku, keinginan ku untuk pergi dan meninggalkan semuanya."

Charlie meremas surat itu. Pesan itu ditulis oleh Alia. Tetapi, terlihat begitu jelas jika itu bukan hasil tangan Alia. Charlie membuka sebuah laci di mana catatan sekolah Alia ditemukan. Charlie menyamakan tulisan di surat dengan di buku catatan sekolah. Sekilas nampak sama jika di perhatikan tetapi nyatanya itu berbeda tak sama persis.

"Pasti ada sesuatu yang terjadi,"gumam Charlie. Lalu, Charlie berusaha menghubungi nomor handphone Alia. Sebuah nada dering muncul di ruang tamu dan Charlie mulai mencari sumber suara itu. Hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah sofa ruang tamu. Terlihat handphone Alia yang tergeletak di sana.

Charlie tahu betul, jika dia ingin bunuh diri tidak mungkin Alia punya waktu untuk mengisi baterai handphonenya hingga penuh dan terasa begitu jelas. Handphone Alia masih hangat. Sedangkan, kejadian itu tadi malam dan ini sudah waktu menjelang subuh.

Charlie berlari keluar dari kamar apartemen milik Alia dan kini Charlie pergi ke tempat resepsionis di mana para tamu yang datang wajib melapor.

"Permisi, Mbak. Saya mau nanya, apakah sebelumya ada orang yang datang menemui Alia?"tanya Charlie kepada wanita yang bertugas hari itu.

"Mohon maaf, Tuan. Saya semalam tidak di sini. Giliran saya berjaga hanya di jam 04.23, subuh. Hingga pagi hari ini dan belum ada yang datang kemari selain pihak yang berwajib. Tetapi, semalam Mela yang berjaga di sini kebetulan dia sudah mengambil cuti untuk pulang kampung tadi sebelum saya berganti shif,"wanita itu berkata dengan suara gemetar saat melihat raut wajah tegang milik Charlie.

Charlie meremas rambutnya dengan kasar. Tersirat begitu jelas raut wajah yang frustrasi saat mengingat kejadian yang menimpa sang adik. Surat yang ditinggal Alia masih ada di tangan Charlie. Pria ini mengingat sesuatu dan kemudian kembali berlari ke kamar apartemen Alia.

Suara dobrakan pintu kamar apartemen terdengar cukup jelas. Charlie kembali menggeledah kamar tersebut dan mencari tahu sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti olehnya.

"Surat ini dituliskan dengan sebuah pulpen dengan tinta bewarna merah. Sedangkan, Alia jarang sekali menggunakan pulpen dengan tinta bewarna merah sejak kecil,"gumam Charlie masih menatap surat itu dengan raut wajah penuh kebencian.

Charlie tak menemukan apapun yang dicari olehnya. Tetapi, Charlie tak sengaja menemukan sebuah jam tangan yang terjatuh di lantai kamar Alia. Jam tangan itu terletak di sisi sudut lemari pakaian Alia.

Charlie membungkuk dan mengambil jam tangan tersebut. Jam tangan mahal yang mungkin hanya bisa dibeli oleh seseorang dengan gaji yang cukup tinggi. Tidak mungkin itu milik Alia.

"Jam tangan cowok? Tidak mungkin milik Alia dan selama ini Alia tak pernah bercerita jika dia punya kenalan seorang pria?"gumam Charlie kemudian yang masih memperhatikan jam tangan bermerk yang ada di dalam genggamannya itu.

Beberapa bukti sudah digenggam oleh Charlie. Sebuah nota pembelanjaan dan juga sebuah surat yang ditinggalkan Alia untuknya. Lalu, sekarang Charlie menemukan jam tangan cowok di kamar adiknya. Charlie sangat yakin sesuatu telah terjadi beberapa hari lalu sebelum hari di mana kematian Alia tiba.

Charlie meletakkan semua barang bukti itu di atas meja belajar Alia dan memeriksanya dengan seksama. Menurut Charlie, Alia bukanlah tipe wanita yang suka membeli perhiasan mewah atau jam tangan mahal untuk dirinya sendiri atau orang lain. Semakin yakin bahwa kematian Alia bukanlah akibat bunuh diri, Charlie merasa bahwa barang-barang yang ditemukannya ini memiliki kaitan erat dengan kematian adiknya. Mungkin saja ada seseorang yang telah mengatur semua ini dan membunuh Alia dengan menyamar sebagai bunuh diri. Kini, tugas Charlie adalah mengungkap misteri di balik kematian adiknya dan membawa keadilan bagi Alia.

Terpopuler

Comments

Tati Hayati

Tati Hayati

serius tegang thor

2024-07-18

0

Herlina Lina

Herlina Lina

seru nih lanjut thor

2024-05-14

0

Al Fatih

Al Fatih

hmmmm,, penasaran....

2024-04-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!