Dengan langkah gontai, Charlie kembali ke apartemen adiknya, Alia, sesuai saran Dokter Syahril. Dia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa adik kesayangannya itu telah dihancurkan oleh seseorang sebelum meninggal.
Charlie berkeras ingin memeriksa ulang rekaman CCTV di apartemen tersebut, meyakini bahwa ada hal yang terlewatkan olehnya saat pertama kali melihat rekaman tersebut. Setibanya di apartemen, Charlie langsung menuju ruang kontrol CCTV yang terletak di lantai dasar.
Dia melihat layar monitor yang menampilkan berbagai sudut ruangan apartemen Alia. Matanya mencari-cari titik kejanggalan yang mungkin terlewatkan sebelumnya. Dalam hati, Charlie merasa penasaran dan bingung.
Apartemen Alia memang dilengkapi dengan sistem keamanan canggih dan CCTV yang terpasang di setiap sudut. Bagaimana mungkin pelaku yang merenggut kesucian adiknya itu bisa lolos tanpa terekam oleh kamera? Beberapa jam berlalu, Charlie terus meneliti rekaman demi rekaman.
Keringat mengucur deras di keningnya, tangan gemetar, dan jantung berdebar kencang. Hingga akhirnya, matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Di sudut salah satu ruangan, tampak bayangan orang yang seolah-olah bersembunyi dari pandangan kamera.
Charlie langsung mengambil tindakan dengan memperbesar rekaman tersebut. Dia mencoba mengenali sosok orang yang bersembunyi di balik bayangan itu, namun belum bisa memastikan siapa pelakunya. Dalam hatinya, Charlie bersumpah akan menemukan dan membawa keadilan bagi adiknya yang telah dianiaya sebelum meninggal. Dia tak akan berhenti sampai kebenaran terungkap dan pelaku dihukum seberat-beratnya.
"Pak, Saya ingin mengambil potongan rekaman ini,"ucap Charlie sembari menunjuk ke arah layar monitor. Meksipun ada yang janggal tak ada yang menyadari jika rekaman CCTV tersebut telah diedit dan direkayasa oleh seseorang hingga jejak pelaku tak tertinggal meskipun hanya secuil.
Handphone Charlie berdering. Itu adalah panggilan dari Bosnya, Pak David. Charlie bergegas mengangkat. Ternyata, pria ini telah pergi begitu lama dari perusahaan hingga membuat Pak David harus menghubunginya.
"Baik, Pak. Saya segera ke sana,"Pak David memutuskan panggilan sepihak Charlie menyimpan kembali handphonenya setelah itu mengambil flashdisk yang dia berikan kepada petugas tadi. Charlie pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Berdasarkan panggilan mendesak dari Pak David. Dia bergegas melintasi lobi, tetapi tak sengaja menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari lift. Akibat tabrakan itu, pria tersebut tersungkur ke lantai dengan keras.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Charlie sambil membantu pria itu berdiri. Charlie terkejut saat menyadari bahwa pria yang ditabraknya adalah Rifki.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah jaket yang dikenakan Rifki. Sebuah jaket yang sama persis dengan yang dikenakan oleh orang misterius dalam rekaman CCTV di lokasi kejadian pembunuhan Alia di apartemennya.
Kemarahan bergejolak dalam diri Charlie saat dia menyadari kemungkinan keterlibatan Rifki dalam kasus pembunuhan Alia.
Tanpa sadar, genggaman Charlie pada lengan Rifki semakin erat.
"Apa ini, Charlie? Lepaskan!" protes Rifki, mencoba melepaskan genggaman Charlie. Charlie menatap tajam mata Rifki, mencari tahu apakah dia benar-benar terlibat atau tidak.
Namun, sebelum Charlie sempat mengungkapkan perasaannya, Pak David muncul di lobi dan memanggil Charlie untuk segera datang ke ruangannya. Dengan berat hati, Charlie melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mengikuti Pak David, meninggalkan Rifki yang masih bingung dengan perlakuan Charlie. Pikiran Charlie kini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang keterlibatan Rifki dalam kasus pembunuhan Alia dan dia bertekad untuk mencari kebenaran secepat mungkin.
"Apa yang terjadi? Kami tak saling kenal sebelumnya. Tetapi, kenapa dia menatap aku seakan kami sudah mengenal begitu lama?"gumam Rifki, si pria culun yang sering menyendiri di dalam kantor itu.
"Rifki, Pak Nico memanggil kamu ke ruangannya,"ujar Juwita dengan malas dan berlalu begitu saja. Rifki memang bukan idaman banyak wanita. Penampilannya yang culun membuat Rifki dijauhi banyak orang. Setelah mendengar perintah Juwita, Rifki bergegas pergi ke ruangan Nico yang ada di lantai atas.
Charlie mengetuk pintu ruangan lebih dulu. Setelah itu baru masuk. Pak David duduk dengan tenang di balik meja kerjanya. Lalu, Charlie menghampiri pria itu.
"Charlie, kamu bertugas untuk menyiapkan konsep dan tema untuk iklan besok. Artis akan tiba di sana pada malam hari. Jadi, sisakan satu kamar terbaik villa untuk artis kita,"Pak David berkata tanpa melihat ke arah Charlie. Tetapi, Pak David lebih fokus pada laptopnya. Charlie melihat di atas meja Pak David ada amplop coklat di mana dia hari sebelumnya amplop tersebut yang dibawa oleh pihak kepolisian.
Namun, sampai hari ini Charlie belum tahu apa alasan Pak David menutup kasus kematian Alia.
"Eem, Pak. Maaf, kalau saya lancang. Beberapa hari lalu saya melihat pihak kepolisian datang ke mari apa itu ada kaitannya dengan kematian anak magang itu?"Charlie bertanya dengan hati-hati. Mendengar pertanyaan dari Charlie. Pak David menghentikan aktivitasnya yang sejak dari tadi fokus mengetik keyboard.Wajah pria itu dingin dan menusuk menatap Charlie dengan tajam. Hal itu juga membuat Charlie sontak terkejut dengan sorotan netra Pak David.
"Charlie, jika sudah selesai. Silakan keluar!"Pak David seakan ingin mengusir Charlie cepat-cepat dari ruangan itu. Karena, pertanyaan Charlie membuat Pak David kehilangan mood seketika.
"Ma-maaf, Pak. Saya permisi dulu,"nyatanya Pak David memegang kendali atas semua karyawan. Charlie tak bisa menuduhnya begitu saja. Charlie harus bisa menemukan bukti yang memberatkan pelaku.
Charlie pergi meninggalkan ruangan Pak David. Di luar ruangan Charlie melihat Nico memegang sebuah paket dengan bungkusan yang sama yang dia lihat pada malam di mana Nico datang ke gedung sekolah terbengkalai.
"Nico? Apa yang mau pria itu lakukan dengan paket tersebut?"Charlie memutuskan untuk mengikuti ke mana arah perginya Nico saat itu juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
mochamad ribut
up
2024-04-11
0
mochamad ribut
lanjut
2024-04-11
0
mochamad ribut
up
2024-04-10
0