"Mas."
"Mas Braja!"
"Hah?" Braja terperanjat dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Caca yang tengah menatapnya dengan raut penuh heran. "Apa?"
Memincing curiga. "Mas melamun yaa?" tanya Caca.
"Tidak, saya tidak melamun," sanggahnya lalu kembali fokus pada buku yang tengah di pegang.
"Kalau tidak melamun, kenapa di panggil beberapakali tidak menyahut begitu?"
"Kamu cuma panggil Mas dua kali."
"Tetap saja, tidak biasanya Mas Braja seperti itu," kekehnya masih merasa heran.
"Pasti ada-ada ini. Jangan-jangan Mas lagi bayangin Mb_"
"Jangan suka menimbulkan praduga, Mas hanya terlalu fokus akan buku yang sedang di baca," sautnya tak membiarkan adiknya itu melanjutkan perkataannya.
Melirik mengintip kearah buku yang ada di pangkuan kakaknya, Caca masih merasa ada yang ganjal dengan gerak-gerik kakaknya ini. Sebab kentara jelas jika sosok ini tadi tengah melamun, sedangkan selama ini Braja adalah tipikal orang yang selalu serius dan arang hilang fokus.
Terdengar helaan nafas serta tepukan buku tertutup, Braja meletakkan bukunya dan beralih menatap gadis bongsor di sebelahnya yang kini masih memincing curiga.
"Ada perlu apa kamu kesini?"
Melesakkan tubuhnya di ranjang sang kakak, Caca menggendikan dagunya sebagai isyarat menunjuk sesuatu di atas nakas.
"Laptop?"
"Huum,"
"Ada apa?"
"Ck masih pakai di tanya, ya jelas mau pinjam lah," decaknya sewot. Mengerling kan mata ke atas, tumben-tumbennya orang satu ini lemot? Biasanya tanpa di kode pun dia sudah paham. Seperti mesin tak perlu main kode-kode an tapi auto paham!
"Memangnya laptop kamu kenapa?" tanya Braja acuh tak acuh.
"Ya allah, mas. Ya jelas gak bisa ihh, mati. Masa kaya gitu aja gak paham? Caca juga gak sekali dua kali pinjam begini." mendekat sambil menatap lekat wajah kakaknya. "Mas sembunyiin sesuatu yaa?" lanjutnya bertanya sekali lagi sambil menaik turunkan alisnya.
Braja lantas menghindari tatapannya dan beranjak berdiri. Ia menangkup laptop di telapak tangannya sambil menarik gadis itu untuk keluar.
"Ihh, lepasin! Kok di tarik gitu sihh," keluhnya karena kakaknya itu menarik Hoodie yang ia pakai hingga di ambang pintu.
Braja kemudian menyerahkan laptopnya dan segera menutup pintunya.
"Besok harus sudah di kembalikan. Jadi cepat kerjakan tugasmu dan jangan membuang waktu!" ketus pria itu nan selanjutnya menutup pintu.
"DASAR GALAK! AKU GAK MAU KEMBALIIN, NANTI KU ADUIN KE IBUK KALAU MAS PELIT!"
Teriak Caca dari balik pintu, sementara ia hanya mendengus geli mendengar ucapannya.
Melirik jam yang menempel di dinding, ia kemudian baru sadar jika belum menunaikan sholat isya', pun Braja segera beranjak ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
~
Di dalam dapur terdengar suara gadis yang tengah bersenandung ria menyanyikan lagu secara asal, sambil mencuci piring ia terus bernyanyi tanpa mempedulikan seseorang di belakangnya yang sedari tadi mengernyit tak nyaman.
Mbok Darmi yang saat itu sedang mengupas bawang, sedikit terganggu mendengar suara Ranti yang jauh dari kata merdu, mirip-mirip suaranya lebih seperti tikus tercekik dari pada seseorang yang sedang bernyanyi.
"Ranti."
"Huh, iya Mbok," sautnya di sela senandungnya.
"Bisa minta tolong ambilkan baju kotor Den Braja di kamarnya?"
Terdiam sejenak, Ranti sempat berpikir. Bukannya tidak mau, cuma hanya saja ia kan belum pernah masuk ke kamar pria itu.
"Ranti, kamu tidak mau?"
Tersadar, Ranti lantas mengangguk. "Ehh, mau kok Mbok. Tapi bentar yaa, aku selsaiin cuci piring dulu," di lihat kasian juga si Mbok jika harus naik turun tangga segitu tingginya, usianya sudah sepuh pula.
"Ya sudah, ingat saat mau masuk ke kamarnya ketuk pintu dulu, takut orangnya sedang melakukan sesuatu dan tidak mau di ganggu," ujarnya, mengingat kebiasaan Ranti yang selalu sembrono dan cenderung usil.
"Iya Mbok, iyaa."
Setelah di rasa semua cucian telah tandas, Ranti segera mengelap tangannya dan beranjak naik ke lantai atas.
Berjalan sedikit meloncat-loncat riang, Ranti berdiri di depan kamar Braja dan mengetuk dengan pelan.
Tok ... Tok ...
"Pak!"
Hanya cukup satu kali seruan, pintu itu langsung terbuka dan menampilkan sesosok pria yang tengah memakai baju koko putih lengan pendek serta sarung berwarna kontras, terlebih Surainya nampak basah namun tertata rapi.
Masyaallahh ... Kalau begini Pak Braja kaya gus-gus cakep yang lagi viral!
"Ada apa?" ucap Braja datar nan senantiasa ketus.
Mengerjap sambil mendongkak sempurna, Ranti sempat terbengong sampai bariton berat pria itu terdengar di gendang telinganya.
"Mau ambil baju kotor di suruh si Mbok."
Membuka pintunya sedikit lebar, Braja lantas memberi izin untuk gadis itu masuk. "Ambil saja, ada di dalam kamar mandi," terpaksa ia menginzinkan gadis itu masuk, sebab dirinya yang baru saja wudhu, bisa batal wudunya nanti jika ia memegang najis di baju yang kotor.
Ranti lantas masuk ke dalam dan tak berapa lama ia kembali dengan keranjang baju yang terisi setengah.
Melangkah ke arah pintu, Ranti tidak memperhatikan langkahnya dengan benar. Alhasil ia tersandung pinggiran karpet yang tertekuk dan jatuh tersungkur tepat di kaki Pria itu.
Bugghh!
Namun, tanpa sengaja jemarinya menarik sesuatu hingga benda itu jatuh teronggok di atas kaki sang empunya. Sejurusnya ia langsung duduk bersimpuh sambil mendongkak dan tepat di hadapannya, Ranti melihat sesuatu yang berukuran besar hingga membuatnya refleks berteriak kencang.
"Mbokkk! Burung Perkutut nya Pak Braja ucull Mbok ....!"
"Huaaaaa!"
...----------------🍁🍁🍁----------------...
Jangan lupa like serta komen yaa🙏😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Nur Koni
sumpah ngakak otomatis thor bacanya
2024-12-17
0
Maisarah Nabila
😀😀😀😀😀😀😀😀😀ngakak Thor bacanya 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2024-04-04
4
𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ
astogeeee Ranti pasti GK sengaja narik sarung Braja yaaaaa 🧐🤔🤭😁🤣🤣🤣🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🙈🙈🤫
2024-03-20
0