Sosok itu tak lain adalah sang laksamana muda, Bhadrika Braja Perkasa. Berdiri di ambang pintu dengan tubuh tinggi tegapnya. Ia melangkah kemari, berjalan tenang dengan langkah tegas serta sorot tajam yang mempertegas jika dirinya memang layak di segani nan di hormati.
Auranya nampak begitu dominan, berbeda dengan seluruh tentara yang sedari tadi ia temui, seperti ada daya tarik lain yang begitu menggerus hingga esensinya mampu menggetarkan sanubari.
Lihat saja parasnya yang begitu sempurna, rahang tegas sorotnya nan tajam di sertai bulu mata lentik, tulang hidung yang tinggi serta bibir tebal sedikit gelap layaknya aphrodit. Uhh ... Sungguh perpaduan yang sempurna! Rasanya-rasanya tuhan terlalu berlebihan kala menciptakan wujudnya.
Andai Ranti bisa mengulang kejadian tempo hari saat dirinya di dekap hangat oleh dada bidang itu, wahhh pasti aduhai rasanya! di gigit pun Ranti juga rela, mau banget malah! Hihihi .... Kan jadi kepikiran yang iya-iya.
Haduhh ... Lama-lama bisa stroke mendadak kalau terus di suguhin begini. Stroke karena overdosis pesona ugal-ugalann.
Senyum-senyum sendiri sambil berkedip lamat, Ranti tidak sadar jika sosok yang tengah ia pikirkan telah berdiri menjulang di hadapannya.
Braja memperhatikannya dengan seksama.
"Dan, ingin medical check up sekarang?" tanya salah satu dari mereka dengan sopan sembari tersenyum segan.
Sementara Ranti, gadis itu masih senantiasa senyum-senyum sendiri sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tak sadar jika sang empunya tengah menatap lekat dengan tatapan menghunus tajam nan serius.
Braja menoleh ke salah satu dari mereka, "Dia sering seperti ini?" maksudnya Ranti yang cengengesan dan melamun seperti sekarang.
Lantas mereka bersamaan menoleh kepo ke arah gadis itu, dan astaga! seketika ketiganya tertawa tertahan melihat perangainya.
"Tidak juga Dan, tapi dia ini sosok yang kerap bertingkah gemas dan selalu menarik perhatian kami para taruna," Niko menjawab dengan pelan sembari melipat bibirnya rapat sesuai dengan kenyataannya.
Memang seringkali gerak-gerik gadis itu selalu mengundang minat para taruna yang ada di sini. Sebab sosoknya yang paling berbeda serta perangainya yang layaknya anak kecil. Tak hayal para taruna berbisik-bisik saling lempar tatapan tertarik akan kehadirannya.
Mendesah singkat, Braja lantas menggapai satu bolpoin yang ada di meja sisi tubuhnya. kemudian mengetuk tepat di pusat kening gadis itu dan.
Tuuk!
"Aduhh!"
Ranti seketika tersadar dan menggosok-gosok keningnya.
Sontak seisi ruangan itu tertawa lebar terkecuali dengan sang laksda tentu saja.
Ranti mecucu, "Kok di pentung sih!" dengusnya merasa kesakitan.
Braja bersidekap datar. "Kamu disini kerja atau melamun?"
"Saya terlalu lapar makanya sampai melamun!"
Jawab Ranti asal dengan alasan yang sayangnya terdengar tak masuk akal.
"Saya lihat tadi kamu sarapan cukup banyak, seharusnya kamu masih cukup kenyang sampai saat ini."
"Porsi makan saya banyak, jadi harus sering makan dan di isi sering-sering!" timpalnya tak mau kalah.
Lantas semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ranti yang di tatap sedemikian rupa pun segera berseloroh.
"Badan saya memang kecil, tapi asupannya banyak. Tidak usah heran begitu kalau makan saya banyak tapi tubuh saya montel, dan perlu di ingat saya juga tidak cacingan!" ketusnya sengit.
Kontan Teddy, Niko dan juga Dio terkikik geli namun segera ia tahan karena melihat seniornya masih bersikap datar dan serius.
Ranti menunduk sebal seraya meremat ujung outernya. Pikirnya, Bisa-bisanya pak Braja menggetoknya di depan para seniornya. Kan malu parah atuhh!
Berbeda dengan Ranti yang menunduk kesal, Braja lantas mendengus samar. Tidak akan ada habisnya jika dia terus berdebat dengan satu mahluk random ini, terlebih anak ini keras kepala nan cenderung terus membantah, benar-benar jiwa yang masih labil pikirnya.
Braja menarik kursi yang tersedia, ia duduk tegap dengan kaki menyilang di sertai tangan yang bertumpu di atas meja. "Ya sudah, saya ingin cek kesehatan. Saya mau kamu yang melayani dan ingin melihat, sejauh mana kamu sudah berkembang!" ucapnya datar sambil menekan di akhir kalimat.
Lantas, Ranti yang mendengar bariton berat tersebut seketika menciut.
"Baru juga dua hari," gumamnya harap-harap cemas.
Melirik ke arah seniornya kak Niko, ia berkedip beberapa kali sambil menggerak-gerakkan bibirnya.
"Kak Niko ...."
~~
Berbeda dengan Ranti yang tengah dag dig dug der melakukan tugasnya. Di rumah Indira tampak begitu bersemangat berbicara dengan Mbok Darmi. Hampir satu jam lamanya wanita paruh baya yang masih tak kehilangan pesonanya itu, nampak antusias menunjukkan satu demi satu foto para perempuan cantik kepada Mbok Darmi.
"Yang ini cantik juga kan, Mbok?"
"Tentu saja cantik, Bu!" sautnya pelan sarat akan lelah nan juga bosan. Jika di hitung, mungkin ada lebih dari 10 foto wanita yang telah di tunjukkan kepadanya.
"Mbok dari tadi bilang cantik semua! Terus yang paling cantik dan cocok buat Braja itu yang mana? Kalau semua Mbok bilang cantik." tukasnya sedikit sebal.
Tersenyum teduh, Darmi lantas berujar pelan. "Kalau Ibu tanya yang terbaik? Sepertinya yang terbaik itu hanya Aden sendiri yang tau, Bu. Sebab Den Braja yang menjalani. Tapi kalau Ibu tanya yang sesuai dengan kriteria Den Braja, maka saya akan menjawab sebaliknya."
Mendesah pasrah nan tersenyum lembut, Indira menoleh ke arah Darmi.
"Saya cuma ingin Bhadrika segera menikah Mbok. Mbok tau sendiri kan dia sudah tidak muda lagi? Terlebih saya kasihan melihat dia terlalu diam begitu, seperti tidak ada semangat untuk hidup."
Ia berpaling, menatap foto suaminya. "Hari-harinya cuma di habiskan untuk bekerja. Libur pun dia juga tidak pernah keluar rumah, sekedar menghibur diri dengan bersenang-senang dia juga tidak pernah Mbok. Saya sudah kenalkan dia dengan banyak wanita karier dan berwawasan tinggi, tapi hasilnya sama."
"Braja menolak dan beralasan jika dirinya belum siap. Padahal rekannya seumuran dia sudah memiliki momongan semua, bahkan juniornya juga tak sedikit yang telah berkeluarga," pungkasnya tersenyum miris.
"Dari pada kita terus meratapi jalan takdir yang ada, sebaiknya kita dorong dengan doa saya Bu, usaha itu perlu tapi ada kalanya kita juga harus mengikuti skenario yang punya kehidupan."
Mengangguk setuju sambil tersenyum. Indira lantas memeluk tubuh renta itu dan berucap penuh rasa syukur.
"Saya bersyukur ada Mbok disini, saya harap Mbok senantiasa terus bersama saya dan menjaga keluarga saya," tuturnya sedikit terisak.
Mbok Darmi pun tak kalah terharu, ia juga membalas pelukan sang majikan.
"Insyaallah, Bu. Insyaallah."
...----------------🍁🍁🍁----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ
Ranti suka melamun di sembarang tempat jadinya kena ketuk itu keningmu 😁😂😂🤭
2024-03-19
2
🧡𝐀⃝🥀уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤Ꮶ͢ᮉ᳟
haha bisa bayangin gimana expresi Ranti pas melamun pst lucu
2024-03-08
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
nah bener yang di omongin si mbok, hanya doa ibu yang bisa semua terlaksana dgn baik
2024-03-06
1