Cahaya jelaga senja telah sirna di telan bumi, tergantikan oleh nuansa legam yang menandakan telah berganti hari. Sayup-sayup terdengar adzan isya' di sela keramaian lalu lalang kendaraan.
Braja menyetir dengan tatapan lurus menghunus padatnya jalanan jakarta. Tadi sore saat ia siap bergegas pulang, tiba-tiba Ranti berlari ke arahnya dengan langkah tergesa serta deru nafas yang memburu.
Ia mengatakan jika dirinya tidak bisa pulang tepat waktu, di karenakan ada beberapa prajurit yang terluka sehabis melakukan aksi pelatihan pertahanan.
Dan karena keberadaan tim medis yang saat itu tengah bertugas di lain ruangan serta hanya tersisa beberapa orang saja. Alhasil, mau tak mau tim kesehatan harus ikut serta andil menangani para tentara sebagai wujud solidaritas serta loyalitas.
Braja pun mau tak mau harus menunggu gadis itu, meski sedikit lelah tapi ada rasa bangga yang ia rasakan, kala melihat ambisi Ranti yang nampak kooperatif dan juga loyal dalam tugasnya. Meskipun dengan grundelan serta keluhan ini itu yang kerap kali terdengar rewel. Tapi, nyatanya gadis itu tetap melakukan tugasnya sampai selesai.
Dan alhasil mereka pun harus pulang terlambat dan berlama-lama terjebak macetnya Jakarta.
Mengetuk-ngetuk setir mobil sambil melirik spion. Braja menggerakkan lehernya, meregangkan otot yang terasa kaku akibat terlalu lama terjebak kemacetan. Melirik arlojinya, terhitung sudah satu jam lamanya ia bergerak lamat di balik kemudi, terlebih jarak yang ia tempuh masih separuh perjalanan.
Braja mendesah samar seraya memejamkan mata, ia bersandar di kursi seraya melepas kemudi sebab kendaraannya yang tak bergerak seinci pun.
Sejurusnya, ia beralih menoleh kesamping, menatap lelah sosok gadis yang seharian ini nampak sibuk akan tugasnya. Gadis itu tertidur pulas, bersandar di sisi jendela dengan bibir menganga, namun tak mengurangi kadar manisnya. Raut penat begitu kentara di garis parasnya yang mungil. Alisnya yang terpatri indah nampak mengernyit, tanda jika ia tidak terlalu nyaman akan posisinya.
Sedikit menarik sudut bibirnya, samar-samar nan hampir tak terlihat, Braja tersenyum simpul kala memperhatikan gadis itu.
"Manis."
Untuk pertama kalinya, seorang Braja yang notabennya selalu berlaku ketus nan gahar kembali tersenyum, meski hanya sekedipan mata.
Mengangkat lengannya ke arah gadis itu, Braja bermaksud ingin membenarkan posisi kepalanya sampai_
"Ehmmmm ..."
Ranti melenguh dan menggeliat dalam posisi tidurnya sambil mencondongkan pantatnya ke arah Braja dan_
"Pyuuuuut!"
Keluarlah letupan dari nitrogen perpaduan dengan gas metana yang lebih dominan. Menghasilkan sebuah bau yang khas, cenderung pait, tengikk hingga berpotensi bikin semaputt jadinya.
Sekonyong-konyongnya raut Braja terdiam seketika. Berkedip lamat dengan wajah pias, ia berbalik dan segera membuka kaca mobil di sampingnya.
"Ya tuhan, barusan itu bau apa?"
~
Ranti mondar mandir di depan kamar mandi. Sejak tiba di rumah beberapa saat lalu, ia mengeluh jika perutnya terasa sakit dan begitu nyeri, seperti di tusuk-tusuk tapi tak ada wujudnya.
Menepuk-nepuk perutnya yang sedikit menggembung, terdengar bunyi nyaring hingga ia meringis tak nyaman.
"Dung ... Dung."
"Duhh, kok perutku kembung ya?"
Diam sejenak, ia merasakan perutnya yang semakin melilit, rasa sakitnya hilang timbul tidak terus-menerus ada. Tapi cukup mengganggu.
"Sedang apa kamu, Ranti? Mbok Darmi tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Ehh, Mbok. Perut Ranti mulas."
"Sudah minum obat?"
"Belum."
"Ya sudah kalau gitu makan dulu saja, di cariin Ibuk, kamu gak ada muncul di bawah."
"Ehh?"
"Ya sudah Mbok, ayok cepet kebawah!" lantas gadis itu berlari kecil dan turun ke ruang makan.
Di meja makan, semuanya sudah berkumpul. Bu indira saat itu sudah mulai menyantap makanannya sementara Braja hampir menandaskan makanan di piringnya.
Berjalan sembari mengangguk sungkan, Ranti meraih salah satu kursi di ikuti dengan Mbok Darmi di belakangnya.
Clingak-clinguk, Ranti mencari keberadaan satu orang yang beberapa hari ini jarang ia temui.
"Cari siapa, Ran?" tanya Bu Indira di sela makannya.
Tersenyum simpul. "Mbak Caca ndak ada Bu?"
"Ohh, Caca. Dia lagi study tour sama temen kampusnya." meraih gelas di sebelahnya. "Besok kayanya dia pulang," lanjutnya sambil meneguk air dalam gelas.
"Ohh," Ranti mengangguk saja. Ia lantas mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit makanan.
Mulai menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Ranti meringis samar merasakan mulas di perutnya.
Mbok Darmi pun yang berada di sebelahnya, menangkap gelagat aneh gadis itu. Ia seketika mendekat dan berbisik.
"Masih mulas?" Mbok Darmi berbisik sambil melirik ke arah juragannya, takut jika ucapannya terdengar dan di anggap tidak sopan karena berbicara sesuatu yang jorok di saat makan.
Sedikit mecucu sambil mengulum nasi, Ranti mengangguk lamat.
"Tahan sebentar, habis kan dulu nasi mu!" bisiknya lagi.
"Huum," gumam Ranti.
Ia kemudian kembali makan suap demi suap. Mengambil kuah sup untuk membatunya mempermudah menelan nasi supaya cepat tandas, sekian menit Ranti semakin tidak tahan merasakan mulas yang semakin menjadi. Alhasil tanpa bisa di tahan, ia mendesis nyeri merasakan sakit di perutnya.
"Ssshhh," desisnya tak dapat di tahan lagi.
Sontak semua orang yang berada di meja makan menoleh kepadanya.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Bu Indira.
"Cuma mulas Bu, perut Ranti sakit sepulang kerja tadi," jawabnya pelan.
"Ohh, kamu udah buang angin belum?"
Ranti terhenyak, bisa-bisanya Bu Indira bertanya dengan kalimat sefrontal itu, padahal sedari tadi dia setengah mati menahan rasa mulasnya. "Belum, dari tadi kebelet tapi tidak keluar-keluar," ia pun menjawab sama halnya sambil meringis malu.
Yang sejurusnya Braja melirik sengit namun hanya sepersekian detik.
Tanpa sepengetahuan mereka, tidak tau saja kalau Braja tadi mati-matian menahan nafas akibat gas kentut gadis itu. Rasanya seperti mau mati! Baunya over tengik hingga mencemari hidungnya, namun_
"Satu kentut tidak akan membunuhku," gumamnya tidak sadar.
"Apa?"
"Hahh, apa?" Braja balik bertanya.
"Barusan kamu ngomong apa? Bunuh-bunuh apa?" kekeh Indira penasaran.
Mengerjap seraya menelan ludahnya kasar, Braja baru sadar jika ia mengucapkan sesuatu tanpa sadar.
Mengelap bibirnya menggunakan tisu, ia lantas beranjak berdiri dan bergegas pergi.
"Tidak ada, Ibu sepertinya salah dengar." kemudian ngacir pergi.
Mendengar akan hal itu, Indira hanya diam dan kembali makan. Braja yang yang irit bicara dan tak mau memperpanjang omong itu sudah biasa baginya, maka dari itu ia tak mau ambil pusing.
Namun, berbeda dengan Indira. Ranti memincing curiga dengan gelagat lelaki itu.
"Sepertinya Pak Braja tau sesuatu."
Jangan mencibir Ranti yang suka melempar praduga, begini-begini dia ada bakat sebagai detektif layaknya tokoh conan di komik. Tidak usah tanya bakatnya dari mana? Yang pasti dan sudah jelas bakatnya dari nonton tipi sambil menghayal, hahaha!
...----------------🍁🍁🍁----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ
astaga Ranti kentut sambil tidur gak bisa bayangin wajah Braja kena boom busuknya Ranti wkwkwkwkwkw 🤣🤣🤭
2024-03-20
2
Nurhayati Nia
😅😅😅😅😅 astogeeee gantii ndk sopan kamuhh sama p Marinir
2024-03-06
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
wkwkwk astaghfirullah, Ranti dalam tidur pun gak ada jaim nya, kentutt sembarangan 🙈🙈🙈🙈
2024-03-06
1