Special pov Braja

Bhadrika Braja, artinya gagah berani. Sudah jelas dari arti nama tersebut jika Ayah dan juga Ibu mengidam-idamkan sosok putra yang demikian. Namun, kendati begitu beliau tidak pernah memaksa saya untuk menjadi sosok yang sedemikian rupa.

Tapi, berbekal didikan keras ayah saya serta watak beliau yang cenderung serius dan selalu berkata telak. Selang waktu hal tersebut dengan sengaja membentuk dan menjadikan saya seperti sosok yang di sematkan lewat nama Bhadrika Braja Perkasa.

Mulai berkembang dan menjadi terobsesi akan nama saya sendiri. Saya memilih mengikuti jejak beliau sebagai Apatur negara, Bertekat merealisasikan makna menjadi sebuah tujuan hidup. Bukan semata untuk bergaya tapi untuk itensi cita-cita yang mulia. Bermula dari seorang taruna bertitel tamtama, bintara hingga bisa menjadi perwira tinggi seperti saat ini. Terhitung sudah 16 tahun lamanya saya berdedikasi.

Dan tentunya hal itu tidak saya lewati dengan mudah. Banyak pengalaman menarik yang sudah saya cecap. Berulang kali saya harus di hadapkan dengan maut demi berdedikasi untuk negara. Berpindah tempat karena tugas dinas pun tak luput. Banyak pulau di bumi pertiwi yang sudah saya singgahi, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun pun sudah saya lakoni.

Orang bilang saya adalah pribadi yang keras dan juga tertutup. Saya tidak menampik akan hal itu. Memang benar saya demikian, tapi semata-mata untuk mendisiplinkan diri saya dan sebagai contoh yang baik untuk keluarga.

Perihal kehidupan pribadi pun saya memang tergolong sosok yang tertutup. Sebab memang pada dasarnya saya tidak suka orang lain terlalu ikut campur atas kehidupan saya.

Memang benar pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup.

"Jadi gimana? Ranti bagus tidak selama bekerja?" tanya Ibu yang saat ini tengah sibuk memperhatikan saya bekerja.

Saya tersenyum simpul. "Sejauh ini saya tidak mendengar ada hal yang salah. Sepertinya dia cukup mampu."

Membicarakan gadis itu, entah kenapa tiba-tiba saya teringat akan kejadian beberapa hari belakangan ini. Tentang gadis itu, yang sejak awal bertemu selalu membuat ulah dan menarik atensi saya.

Tingkahnya yang ceroboh, sifatnya yang keras kepala serta karakternya yang menurut saya begitu absurd berbanding terbalik dengan gadis sebayanya.

"Ibu titip Ranti ya, Mas. Kasihan loh dia, udah sebatang kara. Ibu sama bapaknya sudah meninggal, makanya sama Mbok Darmi di bawa kesini. Di kampung gak ada sanak saudara dia."

"Hmmm."

"Kok, hmm aja? Jawab apa gitu?" Indira lama-lama gemas bicara dengan anaknya satu ini, terlalu cuek. Pantas saja setiap perempuan mendekat selalu berakhir dengan penolakan. Anaknya ini kurang greget, kurang uuhhh! Sangat berkebalikan dengan postur tubuhnya yang bikin mata merem melek.

Braja lantas melirik sekilas tanpa menjeda pekerjaannya. "Memang Ibu maunya Braja menjawab seperti apa?" tanyanya dengan nada santai seperti biasanya.

"Ya jawab apa gitu, Mas. Kasihan atau gimana gitu, kamu tuh gak ada peka-peka nya persis ayah kamu!" sahut Bu Indira dengan wajah cemberut.

Braja yang melihat itu pun hanya tersenyum kecil tanpa mau menoleh atau sekedar menjawab. Sebab ia sudah paham betul akan perangai ibunya.

"Mas!"

"Hmmm?"

"Besok temen Ibu mau main kerumah,"

"Lalu?"

"Dia punya anak gadis cantik, berwawasan pula," cicitnya sedikit ragu.

Sejenak Braja menjeda pekerjaannya, ia menarik nafas panjang dan beralih menatap ibunya.

"Bu," serunya lembut.

"Kamu udah lebih dari cukup umur untuk berumah tangga, Mas," sergah Bu Indira sambil beradu pandang dengan anaknya.

"Lalu bagaimana kalau saya belum menemukan sosok yang pas?" Braja bertanya dengan pelan. Dalam hal ini ia memang paham bagaimana posisi ibunya, ia tau betul jika ibunya menginginkan kebahagiaan untuk dirinya. Tapi apa mau di kata? jika dirinya masih belum menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hatinya, dan terlebih ada alasan lain yang selalu menjadi batu hambatan untuk dirinya melangkah.

"Memang yang pas menurut kamu itu yang seperti apa? Banyak perempuan sudah ibu kenalkan sama kamu tapi selalu berakhir dengan penolakan," jawabnya lelah dan mulai terisak.

Braja yang mendengar isak tangis Indira, lantas berangsur mendekat dan duduk di sisinya.

"Saya minta maaf, Bu. Beri saya waktu sedikit lagi." ia berkata tak kalah sendu. Di genggamnya jemari itu dan di tepuk penuh sayang. Ia menangkap gurat lelah yang begitu kentara di paras ibunya.

Indira yang mendengar itu pun seketika tak kuasa menahan sedih. Ia tatap lembut anaknya tersebut sembari tersenyum teduh.

"Ibu cuma pingin kamu gak sendirian, Mas. Ibu pingin kamu bahagia, Ibu pingin nimang cucu kaya temen-temen Ibu."

Seolah ada hantaman kuat tepat di dadanya, Braja merasa sakit yang begitu mendera mendengar pinta ibunya.

~

Ranti menatap lemah budenya yang berada di sudut ranjang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, menuntaskan urusan perutnya yang sedari tadi terus mengganggu.

Tepat setelah makan makan malam, Bu Indira memberinya sebuah obat herbal yang langsung ia tandaskan saat itu juga, dan hasilnya pun cukup mujarab. Barang 10 menit ia meminumnya, efeknya langsung terasa.

"Perutmu sudah enakkan?" Tanya Mbok Darmi sambil melipat baju.

"Sudah, Mbok. Tapi badanku jadi lemas," jawabnya pelan sembari menahan kantuk. Ia menguap dan mengerjab cepat.

"Ya sudah, istirahat saja kalau begitu."

"Nanti dulu, Mbok. Sini ku bantuin," ia beranjak duduk dan meraih sehelai baju yang berada di depannya, namun belum sempat menyentuh tangannya langsung di tepis oleh Mbok Darmi.

"Gak usah! Kamu tidur saja, mata kamu sudah gak kuat melek begitu."

"Hehehe," Ranti hanya meringis mengiyakan, ya memang betul kalau dia sudah mengantuk berat. Namun sebelum itu, ia ingin bertanya sesuatu.

"Mbok."

"Kenapa?"

"Ranti mau tanya sesuatu,"

"Tanya, apa?"

"Mbok kalau punya teman jutek, judes, galak gak mau senyum kaya kesambet setan, itu biar mau mesem dikit biasanya Mbok ngapain?"

Terbengong, Sejenak Mbok Darmi terdiam berpikir, lalu. "Mbok kasi sesuatu yang enak, biar dia suka terus mau senyum," dan kembali melipat pakaian.

"Ohh, yang enak itu ... Seperti makanan ya Mbok?"

"Bisa saja," sautnya. "Memang nya kamu mau kasi siapa? Bukannya kamu masih baru di sini, Hehh ...! Kamu ada kepincut sama anak buahnya Den Braja yaa?" selidiknya dengan tatapan curiga.

Yang lantas di tepis mentah-mentah oleh Ranti.

"Ihh, ya endak lahh Mbok!"

"Lah terus siapa?"

"Bukan siapa-siapa," sautnya cepet.

"Hmmm," Mbok Darmi menatap serius dengan netra memincing curiga. "Orangnya ganteng yaa?"

"Pastinya."

"Tinggi?"

"Huum."

"Kulitnya gosong, senyumnya manis?"

Ranti menyentuh dagunya. "Ehmm, gak gelap-gelap banget sih, tapi iyaa ada manisnya."

Menggebrak kasur seketika, Ranti lantas terjengkit hampir terjengkang ke belakang.

"Mbok tau siapa orangnya!"

Menatap was-was, Ranti menelan ludahnya kasar sembari menunggu jawaban Mbok Darmi.

"Pasti Kang Junaidi bakul ayam depan rumah kan, Nduk?"

Mengerjap cepat, Ranti lantas mendesah lega. Selamet ora ketahuan.

"Ya bukan atuhh Mbok, masa iya Kang Juned aku taksir."

"Lah terus siapa?"

"Ya ada, yang jelas bukan bakul ayam si Mbok, ihh!"

Tertawa renyah, Mbok Darmi kemudian beranjak berdiri dan menata baju di dalam lemari.

Sementara Ranti, gadis itu berbalik memunggungi dan bersiap untuk tidur. Tapi sebelum itu, ia sempat memikirkan usul si mboknya.

Ia pun kemudian mengambil ponsel bututnya yang di atas nakas, dan di ketiklah sesuatu di beranda pencarian. Sekian menit ia menscroll layar pencarian hingga beberapa kali menemukan suatu menu yang kurang pas, sampai di menit kesekian saat sorotnya mulai terpejam. Tiba-tiba ia lantas membuka mata ketika menemukan satu judul menu unik yang menarik atensinya.

"Nastar bergetar!"

...----------------🍁🍁🍁----------------...

Terpopuler

Comments

Nadia

Nadia

baca nastar bergetar aku langsung ngakak 🤣🤣🤣🤣🤣

2024-04-26

3

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

info aja Author mitcan masih banyak typo di bab ini 🧐🤔😁

2024-03-20

0

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

ihhhh nastar bergetar itu yang kayak bijimana😆😆🤔😂😂

2024-03-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bhadrika Braja Perkasa
2 Siapa kamu? Ularrr!
3 Tragedi sendal jepit
4 Nyengirr
5 Itu punggung apa batu?
6 Spesies kaku lainnya
7 Tidak ada kapok-kapoknya!
8 Tugas pertama
9 Harap-harap cemas
10 Hampir pingsan
11 Special pov Braja
12 Mood acak adul!
13 Ehh? Uhh!
14 Kamu!
15 Hiiiyyy!
16 Tante biduan
17 Si tidak bisa diam
18 Gadis imut jaga imej
19 Burung perkutut
20 Lagi dan lagi!
21 Hari kurang beruntung
22 Balada suara aneh
23 Imbas mbak biduan
24 Kue Nastar bikin hati bergetar
25 Tak terduga
26 Sesuatu yang ambigu
27 Pak Braja menakutkan
28 Gosip tentang Pak Braja
29 Kerewelan Ranti 1
30 Kerewelan Ranti 2
31 Kecolongan
32 Cemburu nihh yee
33 Yang sesungguhnya
34 Si posesif
35 Pacar pengertian
36 Masuk ke kamar Pak Braja
37 Coklat, besar dan keras!
38 Siapa dia?
39 Antara dua pria
40 Ranti menang banyak
41 Braja hilang kendali
42 Yakin gak mau?
43 Kedua kalinya
44 Pak Braja kesurupan
45 Gugup
46 Saya pria dewasa, Ranti.
47 Kecupan
48 Bagai di tusuk sembilu
49 Ungkapan Braja
50 Ranti pundung
51 Sentuhan selembut beledu
52 Apa maksudnya ini?
53 Menuntut jawab
54 Sakit
55 Bapaknya atau Ayank nya?
56 Boleh tidak, Bu?
57 Berakhir Sekarang?"
58 Keputusan
59 Alhamdulillah
60 Kamu diam Tapi manis
61 Maunya Ranti
62 Healing
63 Jaga hati kamu untuk saya
64 Risalah rindu
65 Dia
66 Sosok itu, Ayu
67 Rasa familiar
68 Aku rindu, serindu-rindunya
69 Mumgkinkah dia?
70 Rasa yang sama
71 Kita kembali berjumpa
72 Hati yang semakin resah
73 Imbasnya kepada Ranti
74 Dua wanita menangis
75 Ranti tetaplah Ranti
76 Meniti rindu
77 Lembayung senja
78 Goresan Lara
79 Haruskah?
80 Aku pergi karena aku lemah
81 Gemuruh riuh
82 Di balik semua itu
83 Omoooo!
84 Nikah?
85 H-1
86 Sah!
87 Deg-degan
88 Braja frustasi
89 Braja Ingkar
90 Ukuran di atas rata-rata
91 Jangan ya Dek, yaa
92 Beringas dalam bertempur
93 Honeymoon tipis-tipis
94 Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95 Ugal-ugalan
96 Kamu seksi, Dek!
97 Pesangon dari Ibu
98 Tempat baru, Betina!
99 Mba-mba depan rumah
100 Menolak Braja
101 Ngambeknya Braja
102 Kepergok
103 Braja Mode ngambeg
104 Huaaaaaa!
105 Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106 Dilanjut yang tadi, yaa?
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bhadrika Braja Perkasa
2
Siapa kamu? Ularrr!
3
Tragedi sendal jepit
4
Nyengirr
5
Itu punggung apa batu?
6
Spesies kaku lainnya
7
Tidak ada kapok-kapoknya!
8
Tugas pertama
9
Harap-harap cemas
10
Hampir pingsan
11
Special pov Braja
12
Mood acak adul!
13
Ehh? Uhh!
14
Kamu!
15
Hiiiyyy!
16
Tante biduan
17
Si tidak bisa diam
18
Gadis imut jaga imej
19
Burung perkutut
20
Lagi dan lagi!
21
Hari kurang beruntung
22
Balada suara aneh
23
Imbas mbak biduan
24
Kue Nastar bikin hati bergetar
25
Tak terduga
26
Sesuatu yang ambigu
27
Pak Braja menakutkan
28
Gosip tentang Pak Braja
29
Kerewelan Ranti 1
30
Kerewelan Ranti 2
31
Kecolongan
32
Cemburu nihh yee
33
Yang sesungguhnya
34
Si posesif
35
Pacar pengertian
36
Masuk ke kamar Pak Braja
37
Coklat, besar dan keras!
38
Siapa dia?
39
Antara dua pria
40
Ranti menang banyak
41
Braja hilang kendali
42
Yakin gak mau?
43
Kedua kalinya
44
Pak Braja kesurupan
45
Gugup
46
Saya pria dewasa, Ranti.
47
Kecupan
48
Bagai di tusuk sembilu
49
Ungkapan Braja
50
Ranti pundung
51
Sentuhan selembut beledu
52
Apa maksudnya ini?
53
Menuntut jawab
54
Sakit
55
Bapaknya atau Ayank nya?
56
Boleh tidak, Bu?
57
Berakhir Sekarang?"
58
Keputusan
59
Alhamdulillah
60
Kamu diam Tapi manis
61
Maunya Ranti
62
Healing
63
Jaga hati kamu untuk saya
64
Risalah rindu
65
Dia
66
Sosok itu, Ayu
67
Rasa familiar
68
Aku rindu, serindu-rindunya
69
Mumgkinkah dia?
70
Rasa yang sama
71
Kita kembali berjumpa
72
Hati yang semakin resah
73
Imbasnya kepada Ranti
74
Dua wanita menangis
75
Ranti tetaplah Ranti
76
Meniti rindu
77
Lembayung senja
78
Goresan Lara
79
Haruskah?
80
Aku pergi karena aku lemah
81
Gemuruh riuh
82
Di balik semua itu
83
Omoooo!
84
Nikah?
85
H-1
86
Sah!
87
Deg-degan
88
Braja frustasi
89
Braja Ingkar
90
Ukuran di atas rata-rata
91
Jangan ya Dek, yaa
92
Beringas dalam bertempur
93
Honeymoon tipis-tipis
94
Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95
Ugal-ugalan
96
Kamu seksi, Dek!
97
Pesangon dari Ibu
98
Tempat baru, Betina!
99
Mba-mba depan rumah
100
Menolak Braja
101
Ngambeknya Braja
102
Kepergok
103
Braja Mode ngambeg
104
Huaaaaaa!
105
Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106
Dilanjut yang tadi, yaa?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!