Si tidak bisa diam

Menghela nafas, Ranti bosan jika sudah berdiam diri begini. Menatap kosong jalanan di depan, ia berdecak sambil memikirkan kira-kira kesibukan apalagi yang dapat ia kerjakan? nyapu, ngepel sudah, cuci-cuci juga sudah sekarang apa lagi yaa?

Biasanya kalau sedang bosan begini ia kan ngrecokin mbok Darmi, tapi mengingat wanita renta itu tadi yang mewanti-wanti agar tidak mengganggunya karena tengah sibuk mengolah gaplek, sejenis makanan dari singkong yang di jemur lalu di goreng, mirip-mirip kecimpring.

Ranti jadi tidak berani mau usil, biar sudah tua begitu, Mbok Darmi kalau marah nyeremin. Mirip-mirip pelakon mak lampir di drama kolosal jaman duluu, hihihi ...!

Perihal gaplek pun juga begitu, kendati sudah lama tinggal di kota, tapi si Mbok tak jarang juga masih membuat makanan khas desa. Bu Indira sempat bilang kalau makanan dari desa ku itu rasanya lumayan, maka dari itu si Mbok bikin terus.

Andai saja sekarang ada Mbak Caca, pasti mereka sudah bermager ria di depan laptop nonton drakor. Sebenernya sihh biarpun mbak Caca tidak ada, beliau menginjinkanku pakai barangnya. Tapi aku lebih memilih tidak, karena masih tau batasan bagaimana seharusnya bersikap.

Tapi beda lagi kalau sama Pak Braja si spesies judes bin kaku satu itu. Entah kenapa aku tak bisa bersikap jaim. Cenderung apa adanya dan selalu ngeyel jika bersamanya. Tapi masa bodo sihh, tohh Pak Braja juga santai saja tuhh.

"Ck, begini amat nasib jomblo kalau weekend," gumam Ranti menopang dagu. Mata menatap jauhh entah kemana? Berangan-angan memikirkan sesuatu yang tidak jelas endingnya.

Tubuh Ranti menegak, ketika ia tiba-tiba mendapat ide untuk membunuh waktu senggangnya. "Aha!"

Cepat-cepat ia masuk kedalam rumah. Kaos oblong serta celana leging masih melekat saat ia mengambil satu rompi yang tergantung bebas di belakang pintu. Entah itu rompi apa yang ia gapai, sebab bentuknya sedikit berbeda dari yang biasa ia lihat. Ranti berlari ke dapur, dan beberapa saat ia kembali dengan topi besar dan alat pancing.

Mengambil sebungkus roti, Ranti juga membawa sebuah ember sebelum ia berlari ke sisi rumah untuk mengambil sepada yang biasa di pakai Mbak Caca saat bersepedahan.

Sepeda mahal yang nampak begitu oke, mulus kinclong, berseri mirip pemiliknya hihihi! Ia hanya perlu menaikinya dengan santai di sepanjang jalan perumahan, mengingat dia berada di kawasan elit, tentu kenyamanan setiap penghuninya selalu di unggulkan.

Sudah siap akan menggoes sepeda, tiba-tiba Mbok Darmi berseru kencang di belakang sana.

"Ranti, kamu mau kemana?"

"Mau mancing bentaran Mbok!" ia lantas langsung ngacir pergi, melajukan sepedanya.

Bersepeda di jalanan perumahan ternyata begitu asikk, terasa lebih asik lagi kalau ia sedang berboncengan. Duduk di bagian belakang sambil berpegangan tubuh bidang dengan punggung pelukable, wahh pasti aduhai rasanya! Hihihi ... Ranti sampai terkikik geli cengengesan sendiri.

Ia terus menggoes sepeda, mendorongnya ketika hampir sampai dan memarkirkannya di balik semak tinggi tepat di bawah pohon palem.

Lokasinya memancing saat ini adalah, sebuah hilir sungai buatan atau kalau di lihat-lihat lebih mirip danau buatan kecil. Ia sering melihat danau beginian di pilem yang biasa sliweran di stasiun tipi.

Mencari tempat yang pas, Ranti berjongkok dengan posisi yang sekiranya nyaman.

Ia optimis jika kali ini ia akan mendapat banyak ikan dan ia bawa pulang.

Ayolah, Ranti pasti bisa dengan mudah menangkap mereka, dia kan cantik dan menarik. Semua orang tentu suka kan dengan gadis cantik nan menarik? Tak terkecuali dengan ikan sekalipun, pasti mereka enggan berkedip jika sudah mendapat lirikan manis dari dirinya.

Hihihi, percaya diri sedikit tidak apa-apa bukan? Hitung-hitung menghibur diri sendiri meskipun saat ia mematut diri di depan cermin, keluhan tentang wajah pas-pasan kerap terjadi. Tapi akui dirinya menang karena berkulit putih.

Celingukan tidak ada orang, sesekali ranti menjiwit roti untuk ia makan sendiri. Belum ada tanda-tanda kail pancingnya bergerak dalam air. Bermenit-menit ia menunggu sampai rasa kantuk tiba menyapa.

Menguap sambil menopang dagu, ia masih bersabar dan percaya jika akan mendapat ikan meskipun tidak dengan jumlah yang banyak.

Ranti jongkok hampir stengah jam sampai kaki nya kebas. Tapi ia tak menyerah hingga samar-samar suara orang yang sedang berbincang mendekat.

Segerombolan orang yang Ranti taksir adalah beberapa pria, karena mendengar dari suata mereka yang terdengar ngbass dan juga gahar. Mereka melintas tanpa menyadari kehadirannya di tepi danau.

Baguslah, Ranti berharap tidak ada satupun yang mengganggunya. Tapi saat ia menoleh ke belakang sambil menyuapkan roti dengan berlebihan, Ranti terperanjat tiba-tiba mata bersitatap dengan salah satu dari mereka.

Opa-opa ganteng, bermata sipit dan tinggi badan menjulang, persis layaknya aktor korea.

Pandangan mereka hanya berlaku sesaat, karena pria itu setelahnya kembali fokus dengan obrolan bersama rekannya.

Fyuhhh...

Masa bodo lah, Ranti kembali mengunyah roti meski sebelumnya ia sempat di landa malu karena nampak memakan roti dengan berlebihan, mulutnya terasa sesak dan mecucu tak elok di pandang.

Hampir satu jam Ranti duduk, dan yang ia dapat hanya satu biji ikan keciil yang ukurannya hanya sebesar jari kelingking. Lantas, ia membuangnya karena tidak tega.

"Hihh, sana ahh. Kamu bukan kriteria ku, item jelek kaya mang pai di desa wetan," gerutunya random

Ranti membereskan peralatannya dan menghabiskan sepotong roti yang tinggal sedikit. Bungkusnya ia bawa pulang karena tidak mau membuang sampah sembarang terlebih itu di kawasan elit.

Bisa di denda nanti kalau dia ketahuan membuang sampah di sembarang tempat.

Mendorong sepeda ke tepi jalan, Ranti celingukan melihat beberapa orang yang mulai sliweran, memakai baju olahraga dan juga sepatu. Ia tebak, pasti orang-orang baru saja selsai joging.

Menaiki sepedanya, ia lantas menggoes dengan santai.

"Ikan-ikan disini matanya siwer, tidak suka yang cantik dan menarik seperti akuhh!" kesalnya seraya melengos pergi.

...----------------🍁🍁🍁----------------...

Terpopuler

Comments

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

makin kesini makin kocak ikannya gak tertarik lagi sama kamu Ranti😂😂😂😛

2024-03-20

2

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌

wkwkwk Ranti narsis 😂😂😂

2024-03-06

1

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌

menghayal saja kerjaan mu Ranti🙈

2024-03-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bhadrika Braja Perkasa
2 Siapa kamu? Ularrr!
3 Tragedi sendal jepit
4 Nyengirr
5 Itu punggung apa batu?
6 Spesies kaku lainnya
7 Tidak ada kapok-kapoknya!
8 Tugas pertama
9 Harap-harap cemas
10 Hampir pingsan
11 Special pov Braja
12 Mood acak adul!
13 Ehh? Uhh!
14 Kamu!
15 Hiiiyyy!
16 Tante biduan
17 Si tidak bisa diam
18 Gadis imut jaga imej
19 Burung perkutut
20 Lagi dan lagi!
21 Hari kurang beruntung
22 Balada suara aneh
23 Imbas mbak biduan
24 Kue Nastar bikin hati bergetar
25 Tak terduga
26 Sesuatu yang ambigu
27 Pak Braja menakutkan
28 Gosip tentang Pak Braja
29 Kerewelan Ranti 1
30 Kerewelan Ranti 2
31 Kecolongan
32 Cemburu nihh yee
33 Yang sesungguhnya
34 Si posesif
35 Pacar pengertian
36 Masuk ke kamar Pak Braja
37 Coklat, besar dan keras!
38 Siapa dia?
39 Antara dua pria
40 Ranti menang banyak
41 Braja hilang kendali
42 Yakin gak mau?
43 Kedua kalinya
44 Pak Braja kesurupan
45 Gugup
46 Saya pria dewasa, Ranti.
47 Kecupan
48 Bagai di tusuk sembilu
49 Ungkapan Braja
50 Ranti pundung
51 Sentuhan selembut beledu
52 Apa maksudnya ini?
53 Menuntut jawab
54 Sakit
55 Bapaknya atau Ayank nya?
56 Boleh tidak, Bu?
57 Berakhir Sekarang?"
58 Keputusan
59 Alhamdulillah
60 Kamu diam Tapi manis
61 Maunya Ranti
62 Healing
63 Jaga hati kamu untuk saya
64 Risalah rindu
65 Dia
66 Sosok itu, Ayu
67 Rasa familiar
68 Aku rindu, serindu-rindunya
69 Mumgkinkah dia?
70 Rasa yang sama
71 Kita kembali berjumpa
72 Hati yang semakin resah
73 Imbasnya kepada Ranti
74 Dua wanita menangis
75 Ranti tetaplah Ranti
76 Meniti rindu
77 Lembayung senja
78 Goresan Lara
79 Haruskah?
80 Aku pergi karena aku lemah
81 Gemuruh riuh
82 Di balik semua itu
83 Omoooo!
84 Nikah?
85 H-1
86 Sah!
87 Deg-degan
88 Braja frustasi
89 Braja Ingkar
90 Ukuran di atas rata-rata
91 Jangan ya Dek, yaa
92 Beringas dalam bertempur
93 Honeymoon tipis-tipis
94 Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95 Ugal-ugalan
96 Kamu seksi, Dek!
97 Pesangon dari Ibu
98 Tempat baru, Betina!
99 Mba-mba depan rumah
100 Menolak Braja
101 Ngambeknya Braja
102 Kepergok
103 Braja Mode ngambeg
104 Huaaaaaa!
105 Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106 Dilanjut yang tadi, yaa?
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bhadrika Braja Perkasa
2
Siapa kamu? Ularrr!
3
Tragedi sendal jepit
4
Nyengirr
5
Itu punggung apa batu?
6
Spesies kaku lainnya
7
Tidak ada kapok-kapoknya!
8
Tugas pertama
9
Harap-harap cemas
10
Hampir pingsan
11
Special pov Braja
12
Mood acak adul!
13
Ehh? Uhh!
14
Kamu!
15
Hiiiyyy!
16
Tante biduan
17
Si tidak bisa diam
18
Gadis imut jaga imej
19
Burung perkutut
20
Lagi dan lagi!
21
Hari kurang beruntung
22
Balada suara aneh
23
Imbas mbak biduan
24
Kue Nastar bikin hati bergetar
25
Tak terduga
26
Sesuatu yang ambigu
27
Pak Braja menakutkan
28
Gosip tentang Pak Braja
29
Kerewelan Ranti 1
30
Kerewelan Ranti 2
31
Kecolongan
32
Cemburu nihh yee
33
Yang sesungguhnya
34
Si posesif
35
Pacar pengertian
36
Masuk ke kamar Pak Braja
37
Coklat, besar dan keras!
38
Siapa dia?
39
Antara dua pria
40
Ranti menang banyak
41
Braja hilang kendali
42
Yakin gak mau?
43
Kedua kalinya
44
Pak Braja kesurupan
45
Gugup
46
Saya pria dewasa, Ranti.
47
Kecupan
48
Bagai di tusuk sembilu
49
Ungkapan Braja
50
Ranti pundung
51
Sentuhan selembut beledu
52
Apa maksudnya ini?
53
Menuntut jawab
54
Sakit
55
Bapaknya atau Ayank nya?
56
Boleh tidak, Bu?
57
Berakhir Sekarang?"
58
Keputusan
59
Alhamdulillah
60
Kamu diam Tapi manis
61
Maunya Ranti
62
Healing
63
Jaga hati kamu untuk saya
64
Risalah rindu
65
Dia
66
Sosok itu, Ayu
67
Rasa familiar
68
Aku rindu, serindu-rindunya
69
Mumgkinkah dia?
70
Rasa yang sama
71
Kita kembali berjumpa
72
Hati yang semakin resah
73
Imbasnya kepada Ranti
74
Dua wanita menangis
75
Ranti tetaplah Ranti
76
Meniti rindu
77
Lembayung senja
78
Goresan Lara
79
Haruskah?
80
Aku pergi karena aku lemah
81
Gemuruh riuh
82
Di balik semua itu
83
Omoooo!
84
Nikah?
85
H-1
86
Sah!
87
Deg-degan
88
Braja frustasi
89
Braja Ingkar
90
Ukuran di atas rata-rata
91
Jangan ya Dek, yaa
92
Beringas dalam bertempur
93
Honeymoon tipis-tipis
94
Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95
Ugal-ugalan
96
Kamu seksi, Dek!
97
Pesangon dari Ibu
98
Tempat baru, Betina!
99
Mba-mba depan rumah
100
Menolak Braja
101
Ngambeknya Braja
102
Kepergok
103
Braja Mode ngambeg
104
Huaaaaaa!
105
Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106
Dilanjut yang tadi, yaa?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!