Tetapi, setelah beberapa lama memejamkan mata, Ranti tak merasakan hantaman keras apapun di balik punggungnya. Sebaliknya, ia malah merasakan dekapan hangat nan kuat serta aroma maskulin yang menguar lembut hingga, tunggu-tunggu!
Saat Ranti membuka mata seraya menggerak-gerakkan sedikit lubang hidungnya, raut wajah terkejut nan terkesan garang memenuhi seluruh atensinya.
Hingga, sejurusnya suara seseorang menyahut.
"Ya allah Ranti ... Den Braja!"
Apaa! Duh ... Mampus akuhh!
~
Malu, mungkin itu yang di rasakan Ranti kali ini. Tapi ketimbang malu ia lebih merasa takut, terhitung sudah kedua kalinya ia tertangkap basah oleh majikannya tersebut, apalagi dalam situasi yang membagongkan!
Berkali-kali ia mendesah panjang seraya meremat surainya. Ia berguling kesana kemari di atas ranjang karena merasa begitu malu hingga berharap ia di tenggelamkan.
Apalagi, mengingat tadi dia sempat menjatuhkan sendal jepit kesayangannya di kepala pria itu. Bisa di bayangkan pasti sorotnya melotot tajam menahan amarah dengan otot yang menyembul keluar. Haishh ... Sungguh sial!
"Kenapa juga, harus Pak Braja!"
Andai saja Mbok Darmi tidak memberitahu perihal tragedi sendal jepit, mungkin dirinya tak kan setakut ini hingga mengurung diri di dalam kamar. Beda cerita kalau adegan tentang dirinya yang di tangkap dan di dekap dengan begitu hangat oleh tubuh kekar sang majikan. Kalau yang itu rezeki namanya! Hihihi ... Harus selalu di kenang dan di impi-impikan.
Jangan bilang Ranti terlalu lebayy, saya yakin kalian pasti juga begitu.
Mau bagaimana lagi, dia masih gadis normal. Melihat paras tampan sang majikan yang melebihi kadar normal di tunjang dengan postur tubuh yang aduhai, masyaallah .... auranya sungguh ugal-ugalan. Membuat raga ini serasa ingin di timang-timang.
Menepuk pelan pipinya sendiri. "Aihh ... Jadi ngebayangin yang iya-iya," celetuknya di sertai tawa cekikikan, merasa geli akan bayangkan encumnya.
"Tok ... Tok ..."
"Ranti! Ayo keluar, sarapan dulu."
Terdengar seruan dari balik pintu. Ia kontan sedikit terhenyak mendengar seruan lantang sang bude, Ranti lantas segera beranjak dan keluar kamar. Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menyisir surainya dengan jari kiranya terlihat berantakan.
Pun, kalau di pikir-pikir dirinya sudah terlalu lama mengurung diri, merutuki kecerobohannya sendiri. Meskipun, terhitung Masih sekitar 10 menit sihh.
"Iya Mbok!" menyaut segera.
Ranti Berlari dan membuka pintu dengan tergesa. Ia berjalan mengekor di belakang Darmi, selama melangkah ke ruang makan Ranti tak sekalipun berani menengadah atau sekedar menoleh kedepan. Sampai tau-tau jempol kakinya kembali menubruk kaki meja hingga berdecit. Ia barulah berhenti sembari meringis ngilu.
"Aduhh!" pekiknya untuk kesekian kali.
Berbeda dengan dirinya yang manahan sakit, tiga orang yang sedari tadi duduk di meja makan malah terkekeh samar haha hihihi melihat perilakunya, tapi tidak dengan sosok kekar yang duduk di ujung meja. Ia hanya melirik sekilas tanpa ekspresi.
"Nduk, makanya hati-hati." Tegur Mbok Darmi mengingatkan.
Mengangguk singkat karena merasa tidak enak telah membuat majikannya menunggu, Mbok darmi menarik salah satu kursi untuk sang keponakan.
"Gak apa-apa, udah santai aja," ujar Bu Indira mencairkan ketegangan. "Ayo kita makan!" Ajaknya kepada seluruh penghuni ruangan.
"Terimakasih, Bu!" ucap Ranti penuh keseganan. Sedangkan Indira hanya menimpalinya dengan senyum manis yang terpatri.
Duduk satu meja dan sarapan bersama-sama dengan majikan budenya. Ranti merasa begitu canggung nan segan. Nasi di atas piring yang porsinya jauh lebih sedikit dari biasanya, kini terasa nampak menggunung hingga susah ia habiskan.
Ranti meraih sendok di atas piring, Suap demi suap ia telan dengan susah payah. Sampai-sampai Mbok Darmi yang duduk tepat di sebelahnya menatap heran. Tumben-tumbennya ini anak makan malas-malasan, tidak seperti kemarin. Tadi malam saja seingatnya ia sampai tertangkap basah Den Braja saat mengendap-ngendap mengambil makanan. Padahal sebelum itu, Ranti sudah makan dengan porsi yang lebih dari cukup.
Meneguk satu gelas penuh air putih, Braja yang berada di ujung meja langsung beranjak berdiri dan berlalu meninggalkan meja makan. Hingga seruan ibunya yang tiba-tiba seketika menghentikan pergerakannya.
"Mas, tunggu!"
Menoleh datar, Braja bertanya dengan sikap tenang seperti biasanya.
"Iya, ada apa Bu?"
"Bisa duduk sebentar!"
"Tentu."
Kembali ke kursinya, Braja menegapkan duduknya seraya menatap datar ke arah ibunya. Sedikit tatapan sumir namun terlihat samar nampak sekilas di parasnya yang garang. Hanya praduga, ia mengira ibunya kali ini akan membicarakan tentang kandidat calon istri seperti yang sudah-sudah. Tetapi melihat ada sosok asing yang ikut dalam obrolan kali ini, sepertinya ada perihal lain yang akan di sampaikannya.
"Ibu mau minta tolong sama kamu, tolong berikan pekerjaan untuk keponakan Mbok Darmi di tempat kamu."
"Uhuukkk!" Ranti yang tak menduga akan ucapan barusan, seketika tersedak nasi hingga menarik perhatian semua orang di meja itu, tak terkecuali Braja yang melirik nya sekilas.
"Ehh, pelan-pelan kamu makannya," gumam Mbok Darmi hampir tak terdengar. Ia pun sama, juga tak menduga dan merasa tidak enak atas ucapan Bu Indira barusan.
Bergeming, seraya beradu pandang dengan ibunya. Braja tetap bersikap tenang tak beriak.
"Kenapa harus di tempat kerja Braja, Bu? Apa tidak bisa di tempat lain? Di tempat saya tidak bisa main masukin sembarang orang," jelasnya datar.
"Tapi kamu kan seorang perwira Mas, masa masukin satu orang aja gak bisa," sanggah Bu Indira tak mau kalah.
"Bukan begitu Bu, hanya saja di tempat Braja ada aturan serta ketentuan yang harus di terapkan untuk menjaga keamanan serta kepentingan negara, jadi tidak sembarang orang bisa masuk kesana," pungkasnya panjang lebar sesuai dengan kenyataan yang ada.
Dan entah mengapa, begitu mendengar penuturan tersebut. Sedikit rasa tidak nyaman merambat samar di dalam hati Ranti.
"Mungkin Pak Braja enggan membantuku karena aku yang sembrono," batin Ranti pesimis dan tak berani beradu pandang dengan pria tersebut meskipun hanya sekilas.
"Tapi kan kamu seorang Laksda, masa gak bisa masukin seorang aja. Taruh lah dia di bagian bawah saja, yang penting hitung-hitung Ranti ada pengalaman kerja di tempat yang bagus," desaknya lagi dan masih kekeuh akan permintaannya.
"Kerja di bagian apa aja, mau kan Nak?" lanjutnya lagi seraya bertanya kepada gadis tersebut.
Terhenyak kaget karena pertanyaan yang tiba-tiba. Ranti hanya mengangguk samar seiras dengan ekspresi lempengnya.
"Hahh?"
"Huum," sautnya ragu.
Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, Ranti merasa begitu canggung dalam situasi ini. Sementara Darmi yang sedari tadi ingin bersuara, seketika terdiam kala mendapat delikan tajam dari sang majikan. Maksudnya supaya tidak ada drama bantah-bantahan lagi.
Sejenak Braja menarik nafas dalam seraya menatap sebentar ke arah gadis itu. Sampai, pria itu membuka mulut dan berkata.
"Lusa kamu ikut saya. Jam 5 tepat kamu sudah harus siap, lewat dari waktu tersebut kamu saya tinggal."
Beranjak berdiri nan melenggang pergi dengan sikapnya yang acuh tak acuh. Semua orang yang berada di meja makan sontak mendesah lega dan tersenyum lebar.
"Alhamdulillah!" seru mereka bersamaan.
"Kan, apa saya bilang. Braja pasti bisa bantu." seru Bu indira membanggakan diri.
"Tapi ingat lohh, jangan sampai telat! Kalau Mas bilang jam 5 berarti 15 menit sebelum waktu itu kamu harus udah siap. Jangan sampai meleng! Mas paling gak suka sama orang yang gak disiplin," celetuk Caca tiba-tiba, mengingatkan akan dirinya yang sering kali meleng jika berurusan dengan kakaknya satu itu.
Ranti seketika tergelak mendengar ucapan Caca barusan, di tambah dengan raut wajahnya yang bertutur begitu serius tanpa mengada-ngada. Kontan membuat senyumnya yang beberapa saat lalu merekah kembali meluruh lesu.
Matilah aku, setelah ini pasti hidupku tidak akan sedamai seperti hari-hari sebelumnya.
"Bismillah, Ranti. Bismillah!"
...----------------🍁🍁🍁----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜🅼ιяα🅷ˢ⍣⃟ₛ 🔰π
Maap kan ga sengaja juga
2024-08-10
2
🧡𝐀⃝🥀уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤Ꮶ͢ᮉ᳟
pak Braja, gimana sandal jepit nya
rasanya mantap kan😅
2024-03-06
3
🧡𝐀⃝🥀уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤Ꮶ͢ᮉ᳟
hahaa ada hikmah dibalik apesnya 🤣🤣
2024-03-06
1