Tidak ada kapok-kapoknya!

Semilir angin malam menelisik masuk melewati sela kelambu jendela. Bertiup lembut namun terlewat sejuk, Ranti lantas mendekat ke arah jendela dan menarik simpulnya.

Tetapi, belum sempat ia meraih kelambu itu. Perhatiannya terpaku akan legamnya malam yang terlewat kelam. Tak ada satupun bintang yang nampak, bahkan rembulan pun enggan menampakkan wujudnya. Hanya terlihat awan gelap tebal sejauh mata memandang.

"Sepertinya akan turun hujan." lantas ia menumpukan kedua lengannya di atas teralis besi. Ranti lalu memilih diam sejenak, termangu menatap keluar jendela. di saat tengah melamun begini ia jadi teringat akan kilas balik hari pertamanya bekerja seharian tadi.

Kalau di pikir-pikir, untuk permulaan pertama tadi tidak lah buruk. Meskipun ada satu dua hal yang sedikit mengusik sihh. Ahh! Bukan mengusik tepatnya tapi sulit! Ya, suuulitt! Bayangkan saja dirinya yang tidak pernah tau menau perihal medis tiba-tiba langsung bekerja sebagai asisten pelayan kesehatan. Terlebih ini berbasis kemiliteran.

Alhasil dia tadi sampai mati kutu tak berani bergerak karena begitu awam nan tabu perihal masalah seperti itu. Di tambah lagi dengan kemunculan kak Dina, kowal muda yang dari raut wajahnya, ia taksir usianya sekitan 27 tahun ke atas. Sosok itu sungguh bikin ketar-ketir untuknya, persis dan mirip sekali dengan Pak Braja, ketus dan juga irit bicara!

Ranti mengetuk-ngetuk dagunya berfikir, matanya berputar ke atas. "Apa semua orang kemiliteran seperti itu yaa? Tapi, rasa-rasanya tidak deh. Lihat saja kak Jeva, taruna satu itu cenderung humoris dan suka menggoda. Yang lain pun juga ada beberapa yang seperti itu. Jadi teringat tadi sempat berkenalan dengan beberapa taruna muda, ganteng lagi! Uhuyyy, hihihi," kelakahnya nan cengengesan sendiri.

Menoleh keluar, memperhatikan jalan di luar sana yang nampak sepih tak berpenghuni, Ranti baru sadar jika malam di tempat ini terasa begitu sunyi nan tenang. Tidak ada lalu lalang pedagang sliweran atau sejenisnya. Hanya mobil-mobil mewah serta mobil ekspedisi yang lewatnya sekali dua kali. Maklum, perumahan cluster mahal.

"Coba saja kalau di kampung, pasti banyak abang-abang bakso atau cilok yang sliweran di depan rumah, hmmm ..."

Mendesah lesu, ia meringkuk sambil menengadah menatap langit malam dan memeluk erat kedua kakinya. Sampai kemudian.

"Kruukk!"

Ranti mengernyit tertahan.

"Astaga, lagi!"

Seperti yang sudah-sudah dan hal paling ia rutuki, perutnya berbunyi nyaring kala malam menjelang.

"Aihh, padahal baru saja makan, tapi kenapa sudah berbunyi lagi! Apa karena kebiasaan ku yang suka nyemil malam-malam ya? Makanya aku selalu kelaparan saat malam hari."

Menarik nafas panjang seraya mengelus perutnya yang datar, Ranti beranjak berdiri dan mulai melancarkan aksi di otak kecilnya.

"Tahan perut, karena pemilik mu ini tersohor akan kearifan nan juga dermawan. Tanpa di paksa pun aku akan mengisimu dengan makanan-makanan enak nan juga bergizi," ucapnya pelan seraya terkikik geli akan ucapannya sendiri. Sontak ia segera menuju ke dapur.

Lain kemarin lain sekarang. Jika tempo hari Ranti makan di tengah kegelapan dengan cara mengendap-ngendap layaknya pencuri, berbeda dengan kali ini. Sebelum masuk ke dapur, ia menyempatkan diri untuk meminta ijin kepada Mbok Darmi.

Pun tentu saja wanita paruh baya itu mengizinkan. Terlebih pemilik rumah yang memberi kebebasan perihal masalah makanan. Sungguh-sungguh dermawan juragan satu ini.

Membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa makanan, Ranti teringat akan pesan Mbok Darmi beberapa saat lalu.

"Ambil saja makanan yang ada di kulkas, kamu panasi terlebih dahulu. Setelah itu jangan lupa mencucinya jika sudah selesai."

Yup!

Kira-kira seperti itulah Mbok Darmi berpesan.

Mengambil 2 kotak makanan yang berisi tumis cumi dan sambal hati sapi, ia menghangatkan makanan tersebut di atas teflon panas. Tak lupa ia juga mengambil 1 munjung piring nasi, tak perduli jika berat badannya bertambah. Toh, sekian lama ia melakukan kebiasaan makan malam, buktinya badannya tak pernah melar tapi hanya bertambah padat namun masih sedap di pandang.

Mencium aroma sedap nan gurih yang menguar kuat dari atas teflon, segera ia mangangkat makanan itu dan meletakkannya di atas piring.

"Uhh, sedapnya kamuhh," padahal belum mencicipi.

Duduk di meja makan dan siap melahapnya, tiba-tiba ia teringat.

"Kemaren malam bukannya jam segini ya, spesies kulkas itu muncul? kok sekarang tidak? Tapi, ya biarlahh ... Kalaupun muncul nanti malah bikin aku keki!" mecucu sambil mengaduk-aduk nasi di piringnya.

"Ingat saja mukanya yang selalu di tekuk dan mulutnya yang berkata ketus. Lama-lama ia lebih mirip dedemit dari pada manusia! Tapi untung saja tampan. Besok pagi saat berangkat aku usilin ahh, siapa tau moodnya sedikit berubah dan mau tersenyum manis. Itung-itung membantunya supaya cepat kawin, huhuhu ... Kawin!" Ranti mesam-mesem dan siap menyuap satu sendok penuh.

Tapi, pucuk di cinta ulang pun tiba. Sosok yang sedari tadi ia pikirkan, tiba saja muncul berlalu di hadapannya dengan muka lempengnya.

Dengan netra sedikit membola nan mulut terbuka siap melahap sendok di depannya, Ranti menatap terkejut akan kemunculan lelaki itu.

Panjang umur, baru juga di pikirin langsung nungul!

Sedangkan Braja yang mengambil sesuatu di lemari pendingin, mengernyit samar melihat gadis itu.

"Ada apa?"

"Huh?" ia bertanya bingung.

"Ada yang salah?" Braja lebih bingung lagi.

Bagaimana tidak bingung, sementara Ranti bengong melihatnya enggan berkedip seperti itu.

Kontan Ranti mengibaskan tangannya sambil tertawa.

"Ahh, tidak Pak, tidak ada. Cuma itu, uhh ... Anu!"

"Anu?"

"Anu, maksudnya Bapak mau di bantu? Mau di bikinin teh atau kopi gitu, biar saya bantuin," lanjutnya di sertai ringisan lebar.

Berjalan tenang dan berlalu kebagian belakang rumah.

"Bikinin saya kopi, tanpa gula," ucapnya dengan suara berat sembari berlalu pergi.

"Oke Pak, siap! Tapi saya makan bentaran yakk?"

Tak ada sautan, Ranti lantas tetap melanjutkan makan malamnya. Masa bodoh lahh, Pak Braja nunggu lama, yang pentingkan ia sudah ijin.

Clingak-clinguk sembari membawa kopi panas di atas nampan kecil. Ranti mencari keberadaan Braja yang tadi melangkah ke arah belakang rumah. Pendar lampu yang menyorot sendu membuat sedikit kesulitan menemukan sosoknya, maklum Pak Braja kan kulitnya gelap tadi pun juga memakai pakai gelap seingatnya.

Hingga kemudian ekor matanya tanpa sengaja menangkap sosok gagah yang tengah menyesap rokok di halaman belakang.

Duduk tegap dengan sebelah tangan yang bertumpu di lengan kursi serta sebelahnya mengapit cerutu yang ia hisap lamat, pendar asapnya nampak membumbung tinggi memenuhi pekatnya malam.

Dari belakang sosok itu nampak begitu gagah, lihat saja bisepnya yang tercetak jelas serta bahu lebar nan seakan siap untuk di terjang, tipe-tipe pelukable sekali!

"Benar-benar seksi, uhh ... Hei! Astaga, otak kecilku."

Mengerjap beberapa kali serta mendesah kasar. Ranti mendekat ke sosok itu dan berhenti di sisinya.

"Ini Pak, kopi pait special buat Pak Braja," serunya dengan senyum manis semanis gelatin.

Menoleh serta sempat terpaku sejenak, Braja lantas berdehem singkat dan mengalihkan tatapannya.

"Terimakasih," sautnya datar.

"Ada lagi Pak yang mau di bantu?"

"Tidak."

"Oke, kalau gitu saya permisi dulu Pak, mau tidur dulu biar besok gak telat, biar gak di tinggal sama bapak, nanti kalau di tinggal kan Bapak juga yang berabe," selorohnya panjang kali lebar dan terdengar begitu berisik di telinga Braja.

"Hmmm." Braja lantas hanya bergumam malas, tanpa melihat.

Sedangkan Ranti segera berlalu dengan langkah centil yang di buat-buat, berjalan melenggak-lenggok layaknya peraga busana.

Lelaki itu pun sempat melirik sekilas dan geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

Namun, alih-alih tidur kembali ke kamarnya. Ranti malah berbelok ke sisi rumah. Berjalan cepat menuju sesuatu yang menarik atensinya. Ranti mengambil satu bangku kursi dan meletakkan nya di bawah pohon kelengkeng.

Nyatanya ada satu ranting kelengkeng yang menjuntai rendah menarik minatnya. Berdiri di atas bangku dan berjinjit menggapai buah itu. Sialnya sekalipun telah di bantu kursi, dirinya masih juga tidak sampai menggapainya.

Mungkin karena tubuhnya yang terlalu pendek.

Menggeram kesal, Ranti lantas meloncat ragu di atas kursi. Hingga loncatan yang kesekian kalinya tiba-tiba.

"Gedebugg!"

"Huuuaaaa ... Mbokk!"

Braja yang tengah santai menyesap kopinya seketika terperanjat kala mendengar seruan gadis itu. Ia seketika berlari panik mencari asal suara.

"Anak ini tidak ada kapok-kapoknya!"

Tau-tau gadis itu sudah nyungsep dengan posisi tiarap di atas tanah. Memang dasar Ranti nya yang suka pecicilan!

^ Yang request potonya Pak Braja, nohh 😌, yg neng Ranti sabar duluu yakk, masih di cari. 🙏🤗

Ohh, iya. Btw jangan lupa like sama komen yakk, kaga pakek gipp aing kaga ngapa² 🙏🤭😆

...----------------🍁🍁🍁----------------...

Terpopuler

Comments

Nabil Az Zahra

Nabil Az Zahra

wkwkwkkkk,,,, Ranti ibarat api yg siap melelehkan es ya dan?

2024-08-31

2

Rita susilawati

Rita susilawati

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-07-17

2

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍾⃝ͩ ᷞᴛͧʀᷡɪͣ𝗚ˢ⍣⃟ₛ

wow wow berarti dada Braja bidang yaaa karena pelukable katanya🤭😁😛

2024-03-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bhadrika Braja Perkasa
2 Siapa kamu? Ularrr!
3 Tragedi sendal jepit
4 Nyengirr
5 Itu punggung apa batu?
6 Spesies kaku lainnya
7 Tidak ada kapok-kapoknya!
8 Tugas pertama
9 Harap-harap cemas
10 Hampir pingsan
11 Special pov Braja
12 Mood acak adul!
13 Ehh? Uhh!
14 Kamu!
15 Hiiiyyy!
16 Tante biduan
17 Si tidak bisa diam
18 Gadis imut jaga imej
19 Burung perkutut
20 Lagi dan lagi!
21 Hari kurang beruntung
22 Balada suara aneh
23 Imbas mbak biduan
24 Kue Nastar bikin hati bergetar
25 Tak terduga
26 Sesuatu yang ambigu
27 Pak Braja menakutkan
28 Gosip tentang Pak Braja
29 Kerewelan Ranti 1
30 Kerewelan Ranti 2
31 Kecolongan
32 Cemburu nihh yee
33 Yang sesungguhnya
34 Si posesif
35 Pacar pengertian
36 Masuk ke kamar Pak Braja
37 Coklat, besar dan keras!
38 Siapa dia?
39 Antara dua pria
40 Ranti menang banyak
41 Braja hilang kendali
42 Yakin gak mau?
43 Kedua kalinya
44 Pak Braja kesurupan
45 Gugup
46 Saya pria dewasa, Ranti.
47 Kecupan
48 Bagai di tusuk sembilu
49 Ungkapan Braja
50 Ranti pundung
51 Sentuhan selembut beledu
52 Apa maksudnya ini?
53 Menuntut jawab
54 Sakit
55 Bapaknya atau Ayank nya?
56 Boleh tidak, Bu?
57 Berakhir Sekarang?"
58 Keputusan
59 Alhamdulillah
60 Kamu diam Tapi manis
61 Maunya Ranti
62 Healing
63 Jaga hati kamu untuk saya
64 Risalah rindu
65 Dia
66 Sosok itu, Ayu
67 Rasa familiar
68 Aku rindu, serindu-rindunya
69 Mumgkinkah dia?
70 Rasa yang sama
71 Kita kembali berjumpa
72 Hati yang semakin resah
73 Imbasnya kepada Ranti
74 Dua wanita menangis
75 Ranti tetaplah Ranti
76 Meniti rindu
77 Lembayung senja
78 Goresan Lara
79 Haruskah?
80 Aku pergi karena aku lemah
81 Gemuruh riuh
82 Di balik semua itu
83 Omoooo!
84 Nikah?
85 H-1
86 Sah!
87 Deg-degan
88 Braja frustasi
89 Braja Ingkar
90 Ukuran di atas rata-rata
91 Jangan ya Dek, yaa
92 Beringas dalam bertempur
93 Honeymoon tipis-tipis
94 Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95 Ugal-ugalan
96 Kamu seksi, Dek!
97 Pesangon dari Ibu
98 Tempat baru, Betina!
99 Mba-mba depan rumah
100 Menolak Braja
101 Ngambeknya Braja
102 Kepergok
103 Braja Mode ngambeg
104 Huaaaaaa!
105 Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106 Dilanjut yang tadi, yaa?
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bhadrika Braja Perkasa
2
Siapa kamu? Ularrr!
3
Tragedi sendal jepit
4
Nyengirr
5
Itu punggung apa batu?
6
Spesies kaku lainnya
7
Tidak ada kapok-kapoknya!
8
Tugas pertama
9
Harap-harap cemas
10
Hampir pingsan
11
Special pov Braja
12
Mood acak adul!
13
Ehh? Uhh!
14
Kamu!
15
Hiiiyyy!
16
Tante biduan
17
Si tidak bisa diam
18
Gadis imut jaga imej
19
Burung perkutut
20
Lagi dan lagi!
21
Hari kurang beruntung
22
Balada suara aneh
23
Imbas mbak biduan
24
Kue Nastar bikin hati bergetar
25
Tak terduga
26
Sesuatu yang ambigu
27
Pak Braja menakutkan
28
Gosip tentang Pak Braja
29
Kerewelan Ranti 1
30
Kerewelan Ranti 2
31
Kecolongan
32
Cemburu nihh yee
33
Yang sesungguhnya
34
Si posesif
35
Pacar pengertian
36
Masuk ke kamar Pak Braja
37
Coklat, besar dan keras!
38
Siapa dia?
39
Antara dua pria
40
Ranti menang banyak
41
Braja hilang kendali
42
Yakin gak mau?
43
Kedua kalinya
44
Pak Braja kesurupan
45
Gugup
46
Saya pria dewasa, Ranti.
47
Kecupan
48
Bagai di tusuk sembilu
49
Ungkapan Braja
50
Ranti pundung
51
Sentuhan selembut beledu
52
Apa maksudnya ini?
53
Menuntut jawab
54
Sakit
55
Bapaknya atau Ayank nya?
56
Boleh tidak, Bu?
57
Berakhir Sekarang?"
58
Keputusan
59
Alhamdulillah
60
Kamu diam Tapi manis
61
Maunya Ranti
62
Healing
63
Jaga hati kamu untuk saya
64
Risalah rindu
65
Dia
66
Sosok itu, Ayu
67
Rasa familiar
68
Aku rindu, serindu-rindunya
69
Mumgkinkah dia?
70
Rasa yang sama
71
Kita kembali berjumpa
72
Hati yang semakin resah
73
Imbasnya kepada Ranti
74
Dua wanita menangis
75
Ranti tetaplah Ranti
76
Meniti rindu
77
Lembayung senja
78
Goresan Lara
79
Haruskah?
80
Aku pergi karena aku lemah
81
Gemuruh riuh
82
Di balik semua itu
83
Omoooo!
84
Nikah?
85
H-1
86
Sah!
87
Deg-degan
88
Braja frustasi
89
Braja Ingkar
90
Ukuran di atas rata-rata
91
Jangan ya Dek, yaa
92
Beringas dalam bertempur
93
Honeymoon tipis-tipis
94
Rayuanmu kurang totalitas, Sayang!
95
Ugal-ugalan
96
Kamu seksi, Dek!
97
Pesangon dari Ibu
98
Tempat baru, Betina!
99
Mba-mba depan rumah
100
Menolak Braja
101
Ngambeknya Braja
102
Kepergok
103
Braja Mode ngambeg
104
Huaaaaaa!
105
Pas lagi enak-enaknya, ehhh ...!
106
Dilanjut yang tadi, yaa?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!