Pukul 11 malam, selepas bangun tidur Braja turun ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang berteriak minta asupan. Jarang-jarang ia melakukan hal ini, kebiasaannya yang selalu disiplin akan segala hal, secara tidak langsung mengharuskannya untuk makan malam tepat waktu dan tak lewat dari jam 7.
Tapi berbeda seperti biasanya, karena dirinya yang tertidur pulas selepas membasuh diri, Braja sampai lupa waktu. Namun, teringat akan janjinya kepada sang ibu beberapa waktu lalu perihal makan malam. Braja lantas turun ke bawah dan menepati ucapannya jika ia akan menghabiskan apa saja yang telah ibunya siapkan di atas meja makan.
Di ruang makan, sunyi senyap nan juga gelap terasa mendominasi kala itu, di tambah lagi pendar cahaya lampu yang menyorot sendu layaknya di film horor semakin membuat suasana terkesan sintrung.
Tak terusik akan hal itu, Ia melangkahkan kakinya ke arah dapur dengan santai. Tubuh tegap itu berjalan dengan begitu lihai di tengah kegelapan, seperti sudah hafal setiap letak benda sekalipun tanpa penerangan.
Derap kakinya tak terdengar, deru nafasnya pun terdengar samar. Tanpa menambah sedikit pencahayaan, ia menarik sebuah kursi makan yang berjejer rapi di sisi tubuhnya. Namun, belum sempat ia menggapai benda tersebut. Suara benda berdecit serta pekikan seorang gadis yang terdengar asing di indera pendengarannya menarik atensinya.
"Awww!" pekiknya.
Kontan ia segera melangkah gesit dan menangkap sekelibat bayangan yang tertangkap netranya.
"Siapa kamu?" serunya tajam seraya menggapai sosok itu.
"Ahh, lepas. Sakit," keluh gadis itu merasakan sakit di jempol kakinya karena terbentur kaki meja serta pergelangan tangannya yang di genggam erat oleh pria itu.
Tak menghiraukan protes dari gadis tersebut. Braja tetap memegang erat sembari menarik tubuhnya untuk menyalakan lampu di sudut ruangan. Dan seketika terpampanglah, sesosok gadis muda berparas ayu yang jika di lihat dari parasnya, usianya tak jauh berbeda dengan adiknya.
Menatap tajam sosok asing yang berada di hadapannya. Sekali lagi ia bertanya dengan tatapan lekat yang menghunus tajam.
"Sekali lagi saya tanya, siapa kamu?" tanyanya dengan bariton gahar nan juga tegas.
Menatap tajam sosok di hadapannya, Braja tentu tidak bodoh, ia sudah tau jika sosok yang berada di hadapannya saat ini bukanlah seseorang yang berbahaya. Terkesan bodoh dan juga sama saja cari masalah jika ada seseorang yang berani masuk ke dalam tempat tinggal seorang perwira di tengah malam begini, apalagi dengan tangan kosong tanpa senjata satu pun.
Namun, karena keberadaanya yang asing serta kemunculannya yang terkesan mengendap-ngendap. Braja tetap menaruh curiga pada gadis itu.
Berbeda dengan Braja yang menatapnya tajam. Sebaliknya, Ranti malah terpaku dengan sorot yang enggan berkedip, merasa terpesona ke arah pria di hadapannya serta meringis nyeri memegang pergelangan tangannya.
"Sa-saya ... Ranti," jawabnya terbata.
Braja yang mendengar itu seketika memincingkan sorotnya enggan bergeming, merasa tak puas akan jawaban gadis itu.
Sementara Ranti yang menangkap gestur wajah masih menuntut jawab lantas, mengulangi ucapannya.
"Saya keponakannya Mbok Darmi dari desa," lanjutnya di sertai ringisan samar sarat akan takut.
Braja lantas melepaskan genggamannya sedikit kasar. Ia kemudian berdiri angkuh di depan gadis itu sembari menatapnya barang putus.
"Maaf, saya tidak sopan masuk ke dapur tengah malam. Perut saya lapar, Pak," cicitnya dengan kepala tertunduk menahan malu sekaligus takut.
Braja yang mendengar itu seketika mendesah singkat.
"Kalau ingin mengambil makanan, ya ambil saja. Tapi jangan lupa menyalakan lampunya terlebih dahulu. Jangan mengendap-ngendap dengan gelagat seperti pencuri, semua orang bisa salah paham jika melihat kamu seperti itu" tuturnya datar yang entah mengapa terdengar seperti tuduhan untuk gadis di hadapannya.
Kontan Ranti yang mendengar itu, memanyunkan bibirnya dengan bahu yang merosot lesu.
Berlalu acuh, melewati gadis di hadapannya. Braja beranjak ke meja makan dan menyantap makanan yang beberapa waktu lalu telah di siapkan oleh ibunya. Tak perduli dengan sosok mungil di sebelahnya, yang saat ini mati-matian merutuki akan kecerobohannya.
Ganteng tapi ketus!
~
Pagi harinya saat cahaya jingga masih menelisik malu. Seorang Braja telah siap dengan outfit olah raganya. Ia berdiri meregangkan otot-ototnya di pekarangan rumah. Celana sport pendek serta kaos hitam polos, melekat erat di tubuh kekarnya. Berpadu padan dengan sepatu kets hitam, ia berlari kecil kesana kemari sebelum mengayunkan kakinya keluar rumah.
"Maaass! Tunggu akuu!" seru seorang gadis muda dari arah balkon. Gadis itu tak lain adalah Caca, adik satu-satunya yang mempunyai usia terpaut jauh dengannya. Postur tubuhnya nya yang gempal dengan tinggi badan yang berbanding terbalik dengan Braja sering kali membuatnya menjadi bahan olokan.
Oleh karena itu, gadis tersebut kini bertekad merubah gaya hidupnya dengan rajin berolahraga serta mengurangi asupan micin sesuai anjuran sang kakak. Hidup sehat, body goal pun di dapat! Hahahaha...
Tapi, lain lagi ceritanya kalau dirinya sedang galau. Di pastikan seharian penuh ia akan menghabiskan waktunya berselonjor ria sembari menghabiskan makanan micin yang tak sedikit jumlahnya. Wkwkwkwk ....
Melirik sekilas ke arah balkon, Braja tak menggubris seruan adiknya. Sesuai janji yang sedah mereka buat, jika pukul 5 tepat gadis itu tidak turun, maka ia akan meninggalkannya sendiri tanpa mau menunggu.
Dan seperti sekarang, memasang earphone di kedua telinganya serta topi hitam yang menutupi surai yang terpangkas rapi. Braja berlalu pergi tanpa menghiraukan gadis itu.
Caca dengan kecepatan penuh, bergerak gesit yang jika di lihat lebih mirip bola bekel yang memantul tak beraturan. Hanya mencuci muka tanpa mandi serta menggunakan Hoodie besar dan juga celana training, ia bergegas menyambar sepatu sekenanya dan berlari keluar.
Di lihatnya Braja yang sudah tidak ada, seketika ia mendengus kesal sembari berlari.
"Bisa-bisanya Mas ninggalin aku! Gak sayang apa yaa sama adeknya yang gemoy satu ini!" gerutunya sebal dengan bibir manyun 5 centi.
Berbeda dengan dua orang yang tengah berlarian di luar sana. Di dalam rumah, Darmi serta Ranti tengah sibuk bersih-bersih. Di rasa bagian dalam sudah selesai, Ranti beralih ke pekarangan dan menyapu dedaunan yang rontok dari semua pohon. Ia menyapu memutari semua bagian.
Berdiri dengan tubuh sedikit mencondong kedepan seraya kedua tangan yang berada di pinggang. Ia mendesah lega sekaligus lelah.
"Ini rumah kok besar banget, sampe sakit pinggangku! Padahal, baru aja nyapu sekali," desahnya merasa letih.
Mendongkak ke atas sembari memperhatikan pepohonan yang terkena bias cahaya pagi. Samar-samar ia melihat dan baru sadar jika pohon-pohon yang sedari tadi mengitarinya, nyatanya berbuah lebat.
Dengan decak kagum serta sorot yang berbinar dahaga, ia melangkah ke salah satu pohon dan memperhatikannya.
"Kalau di desa jarang-jarang ada pohon ini, selalunya cuma pohon mangga sama jambu air. Tapi kalau ini..." matanya berbinar menatap pohon kelengkeng di hadapannya. "Pasti laris di serbu maling, hihihi..." lanjutnya di sertai riingisan lebar menahan tawa.
Sejurusnya, Ranti langsung naik ke batang pohon. Tak perlu waktu lama, ia sudah berada di atas dan memetik buah tersebut. Asik memetik buah, Ranti menjatuhkan beberapa tangkai kelengkeng ke tanah. Dirasa buah yang ia ambil sudah cukup, ia berancang-ancang untuk turun, sebelum kemunculan seekor ular pohon mengejutkannya hingga ia refleks berteriakk.
"Ulaaarrrr!"
"Mbokkk!"
Darmi yang saat itu tengah sibuk di dapur seketika panik kala mendengar seruan keponakannya tersebut. Ia kemudian berlari panik ke asal suara.
"Mbokk Darmi .... Tolongg ... Ada ularrrr!"
"Ya allah, Ranti!" seru Mbok Darmi terkejut kala melihat keponakannya menungging di atas pohon.
"Hwaaa ... Mbokk! Tolongin mbokk!"
Bingung harus meminta tolong kepada siapa karena kondisi rumah yang sedang sepih, Mbok Darmi hanya berputar-putar seperti jaranann.
Sementara saking paniknya, Ranti terus beringsut menjauh ke dahan pohon yang rantingnya lebih kecil dan hampir tak mampu menahan bobot tubuhnya. Sambil terisak Ia tidak sadar jika sendal jepit yang sedari tadi dia pakai, tau-tau sudah jatuh dan menimpa kepala seseorang.
Melihat ular tersebut yang terus merambat mendekat, wajahnya berubah pias tak mampu berucap. Lantas, saat itu juga ia meluncurkan tubuhnya ke bawah. Tak perduli dengan patah tulang, gagar otak atau hati remuk redam sekalipun. Ranti menjatuhkan diri dari ketinggian pohon yang lumayan.
"Bismillah hirrohman nirrohim!" teriaknya membaca kalimat basmallah seraya menjatuhkan diri.
...................🍁🍁🍁...................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
lanjut kak
2024-08-11
0
🍁💃Katrin📙📖📚❣️
di antara ular 🤦♀️
2024-08-11
0
𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜🅼ιяα🅷ˢ⍣⃟ₛ 🔰π
geli bener kalo liat ular aku mah
2024-08-10
2