"Oh Tuhan! Ini yang namanya Giana!?" seru wanita itu dengan penuh antusias, "Kamu benae-benar mirip...."
"Mom!" teriak Ello memotong pembicaraan wanita cantik nan energik itu, siapa lagi kalau bukan Raline, Mommynya Ello.
"Ah, ya! Kamu pasti sangat mirip dengan Mommymu waktu masih muda, cantik sekali kamu, sayang." Raline seperti mengalihkan pembicaraan, seolah tahu isyarat dari putra bungsunya itu untuk tidak membahas tentang orang tua Giana.
Raline memang sudah mendapatkan kabar dari Ello kalau Giana sudah ditemukan dalam keadaan hamil hampir 6 bulan dan ternyata hamil kembar laki-laki, sang calon Oma itu tentu saja sangat bahagia mendengar kabar tersebut, dan dengan segera terbang dari China menuju Noreland, sekaligus berbelanja banyak barang untuk calon cucunya.
"Kak El, ini...." Giana tampak bingung
"Ini Mommyku, sekarang jadi Mommy kamu juga," kata Ello sambil tersenyum, "Aku harap kamu mampu bersabar dengan kehebohan Mommy."
"Nyonya...."
"Eh, panggil Mommy juga, dong, sayang!" protes Raline, wanita itu lalu memeluk wanita cantik yang sebentar lagi akan sah menjadi menantunya.
"Mom, ini apa-apaan? Kenapa belanja perlengkapan bayi segini banyaknya? Memangnya aku nggak mampu beli untuk anak-anakku nantinya?" Bibir Ello tampak mengerucut melihat begitu banyaknya barang yang di beli aang Mommy.
"Kak, nggak boleh gitu. Itu berarti Mommy sayang sama calon cucunya," tegur Giana
"Nah!Tuh!Pinter ternya menantu Mommy! Suruh pelayan menata barang-barang ini disebelah kamar kalian, jadikan kamar itu kamar bayi-bayi kalian nantinya!" seru Raline
Akhirnya Ello hanya mengalah, melawan Mommynya itu percuma. Para pelayan kemudian sibuk memindahkan barang-barang belanjaan Raline ke kamar yang dulunya digunakan oleh Giana. Mereka dibuat sibuk dengan mendekor kamar bayi kembar.
"Kalian sedang apa tadi?" tanya Raline
"Giana sedang mau makan, Mom," jawab Ello
"Oh, ya sudah! Ayo makan kalau begitu! Jangan sampai cucu-cucu Mommy kelaparan!" seru wanita itu sambil melangkah kearah dapur, "Mommy mulai sekarang akan memastikan bahwa Giana harus makan makanan bergizi supaya nanti si kembar lahir dengan sehat!"
Giana memandang Ello dengan tatapan bingung, sementara Ello hanya senyum-senyum tidak jelas.
"Sabar ngadepin Mommy ya, sayang," kata Ello sambil mengusap lembut puncak kepala Giana, "Ayo! Kamu harus makan, kan tadi bilangnya lapar."
Giana hanya menganggukkan kepala saja, mengikuti langkah tegap pria jangkung itu menuju dapur juga. Terlihat Tatia tengah sibuk menyiapkan makanan di meja makan sambil mendengarkan kecerewetan Raline seperti biasanya.
"Kamu Tatia, kan? Adiknya Hover?" tanya Raline, "Sudah besar kamu rupanya!"
"Iya, Nyonya. Saya Tatia," jawab gadis itu tampak gugup sendiri.
Mirai keluar dari arah dapur besar sambil membawa mangkok berisi sup ayam lalu meletakkan di meja.
"Nyonya, wah rumah ini jadi ramai kalau ada nyonya," kata Mirai. Sementara Mirai sudah datang, Tatia segera undur diri menuju dapur kotor.
"Mirai! Kamu sehat kan!?" tanya Raline
"Tentu saja, Nyonya!" jawab Mirai dengan tersenyum
"Mirai, apakah Tatia itu anak dari perempuan itu?" tanya Raline dengan suara dipelankan, "Artinya Tatia itu tidak sekandung dengan Hover kan? Karena setahuku Hover itu anak tunggal."
"Betul, Nyonya," jawab Mirai, "Tapi Tatia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, begitu juga Hover juga sangat menyayangi Tatia."
"Luas sekali hatimu, Mirai. Aku kagum dengan kebesaran hatimu merawat anak dari wanita yang dulu nyaris membuat rumah tanggamu hancur," kata Raline
"Mau bagaimana lagi, Nyonya. Ibunya juga sudah meninggal dan ayah kandungnya entah dimana, saya mana tega meninggalkan anak sekecil itu di panti asuhan," balas Mirai
"Giana! Ayo makan, nak!" seru Raline ketika melihat Giana melangkah pelan menuju meja makan, dengan dibantu Ello, wanita itu dengan susah payah duduk di kursi yang kosong.
"Iya, Mom. Ini juga mau makan," balas Giana. Wanita itu masih tampak canggung.
Selama ini Giana tidak pernah mendapatkan kasih sayang secara utuh dari seorang ibu, karena sejak kecil lebih banyak tinggal dengan Anthony, ayah yang selalu merawat Giana, sedangkan ibunya sudah kabur entah kemana meninggalkan suaminya yang miskin dan tidak mau merawat putrinya itu.
Giana makan dengan lahap karena memang benar-benar lapar, Ello memandangi Giana dengan senyum manisnya, merasa senang Giana tampak nyaman berada dirumah besarnya kali ini.
"Kak, kamu kenapa nggak mandi?" tanya Giana yang melihat Ello sedari tadi masih saja bertelanjang dada
"Mandi, El!" seru Raline yang duduk disebelah Giana, "Giana nggak akan mommy culik, kamu tenang saja."
Ello akhirnya beranjak pergi dari ruang makan, menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
"Giana, Mommy mau minta maaf atas kelakuan anak Mommy selama ini," kata Raline, "Kamu pasti tersiksa dengan perlakuan Ello selama ini ke kamu, kan?"
"Enggak, Mom. Semua sudah berlalu, Kak Ello menyayangiku, hanya kemarin salah paham saja sebenarnya," balas Giana
"Mommy akan tinggal dirumah ini sampai cucu-cucu Mommy lahir. Bulan depan Daddy dan kakak iparmu akan datang juga," kata Raline, "Mulai sekarang Mommy yang akan mengurus semua kebutuhan kamu. Ello biar sibuk dengan pekerjaannya."
"Terima kasih, Mom," balas Giana
Ello tampak sudah turun dan berpakaian rapi, meski semua serba hitam, tapi tetap saja terlihat tampan. Pria itu seakan memang terlahir untuk menjadi pria nan tampan, sehingga banyak wanita yang menginginkan untuk memilikinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Raline, "Ini sudah malam dan kamu malah keluyuran!"
"Aku ke club sebentar bersama Kairo dan Hover," jawab Ello, "Ada urusan yang harus aku selesaikan."
Mendengar kata club, tenti saja Raline langsung melotot kearah putra bungsunya itu. Raline tahu kebiasaan Ello jika ke club pasti akan berakhir dengan mabuk.
"Aku nggak akan minum sampai mabuk, Mom." Ello cepat-cepat memberikan pernyataan, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Mommynya.
"Ingat, kamu sebentar lagi akan jadi ayah dari dua anak sekaligus," kata Raline, "Jangan menemui Mommy Bonita lagi!?"
Ello hanya terkekeh saja, "Mana mungkin aku tidak bertemu Mommy Bonita, Mom. Ayolah, aku hanya mengurus beberapa pekerjaan saja disana."
"Ya, sudah! Awas kalau kamu macam-macam!" ancam Raline, "Giana akan Mommy bawa ke China kalau kamu nggak berubah!"
"Jangan dong, Mom! Baru juga ketemu, nyarinya aja udah setengah mampus aku," balas Ello
Pria itu kemudian mendekati Giana kemudian mencium kening Giana dengan lembut, "Aku pergi dulu. Tidurlah dahulu jika kamu lelah, aku pasti pulang, mungkin agak larut malam. Aku janji aku nggak akan mabuk, sayang."
Giana hanya menganggukkan kepala saja, wanita itu mencoba belajar untuk mempercayai laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, sekaligus Daddy dari anak-anaknya.
Ello kemudian meninggalkan rumah bersama Kairo dan Hover, sementara untuk urusan keamanan rumah, Ello masih tetap mempercayakan pada Frans, pria itu meski sudah berumur 40 tahunan namun intuisinya selalu tajam dan akurat ketika berhadapan dengan musuh.
Giana lalu ngobrol ini dan itu bersama Raline dan tanpa terasa wanita itu mulai mengantuk, sehingga Raline meminta Giana untuk beristirahat di kamar.
"Sialan! Kalau ada nyonya besar, bakalan tambah susah aku menarget anak Giana mati!" gerutu seorang wanita sambil membereskan beberapa pakaian kotor yang hendak dicuci besok pagi, "Kenapa sih, Giana seberuntung itu mendapatkan Ello!? Pokoknya aku harus bisa membuat Giana terusir dari rumah ini!"
.
.
.
Sementara itu, Ello tengah berada di club malam miliknya bersama Hover dan Kairo. Sebuah club malam besar, diberi nama Linuz Club, merupakan club malam terbesar di Noreland, dimana menjadi tempat tujuan para penikmat dunia malam, entah untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja atau mencari kesenangan lain, berkencan dengan kekasihnya atau berkencan dengan wanita-wanita malamnya Mommy Bonita.
"Hai, hansom. Lama kamu tidak kesini, kemana saja?" tanya seorang wanita yang terlihat sudah berumur, namun tampak masih kencang badannya, wanita itu menghisap rokoknya dengan gaya sensual, dialah Bonita, sang mucikari yang selalu ada di Linuz club untuk mengelola para wanita malam di club tersebut.
"Aku sedang banyak urusan, Mom," jawab Ello sambil tersenyum
"Kamu mau mencoba wanitanya Mommy? Banyak yang baru dan masih beberapa kali pakai saja," tawar Bonita, seperti biasa, Ello memang selalu mencari wanita-wanita yang jam terbang dunia ranjangnya masih rendah, demi bisa menikmati sensasi kencang dalam menggapai kenikmatan bersama sampai pagi menjelang.
"Tidak, Mom. Aku tidak butuh mereka lagi, berikan saja pada yang lain, atau mungkin Hover dan Kairo buruh hiburan," balas Ello.
Yang disebut namanya hanya menggelengkan kepala saja. Baik Hover dan Kairo, meski sering menemani Ello ke club malam, tetapi mereka tidak tertarik dengan wanita-wanita malam yang selalu menggoda hasrat laki-laki.
Pria itu sejak bersama Giana memang sudah tidak pernah menyentuh wanita manapun, bahkan pria itu rela tidak melakukan kegiatan malam panas dengan wanita sudah hampir 6 bulan ini.
"Wow, ada angin apa kamu tiba-tiba berubah, hansom?" tanya Bonita dengan nada terkejut
"Nanti Mommy juga akan tahu sendiri alasannya," jawab Ello, "By the way, terima kasih karena telah menghadirkan Giana dalam hidupku."
"Ello, jangan bilang kamu jatuh cinta pada Giana?" tanya Bonita tidak percaya
"Dan nyatanya aku jatuh cinta, dan buah cinta kami tengah berkembang didalam perut Giana," jawab Ello, "Anakku akan lahir 3 bulanan lagi, bayi kembar laki-laki."
"Astaga! Jadi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Daddy!?" seru Bonita dengan nada lebih terkejut lagi
"Tolong jangan sebarkan informasi apapun soal Giana, Mom. Bagaimanapun aku harus menjaganya," balas Ello
Bonita tahu selama ini Ello adalah pria yang anti memakai perasaan jika dekat dengan wanita. Hal itu dia lakukan karena kehidupannya sebagai seorang pebisnis sekaligus seorang mafia menyebabkan dia memiliki banyak musuh. Ello tidak mau terikat dengan wanita karena menganggap itu akan melemahkannya nanti ketika berhadapan dengan musuh.
"Lalu kenapa kamu masih kemari? Club bisa diurus Kairo atau Hover bukan?" tanya Bonita.
"Aku butuh bertemu dengan seseorang, Mom. Bantu aku untuk bertemu dia," jawab Ello.
"Siapa yang sedang kamu cari?" tanya Bonita.
"Cameron Miller," jawab Ello, "Aku butuh bertemu dengan wanita itu untuk mencari informasi atas kematian orang tua Giana."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Nana Lusiani
kok blm up sih thor
2024-02-20
0
Kistyy
lanjut Thor
2024-02-20
0