Sudah seminggu ini Giana bolak-balik ke klinik kecantikan milik Mommy Gricella. Gadis itu semakin pintar bersolek, namun demikian Giana dari dulu memang malas berdandan, jadi dia hanya memoles wajah tipis-tipis saja selama ini, itupun sudah membuat dia menjadi cantik luar biasa. Ello bahkan sering tidak berkedip matanya ketika melihat Giana.
Hari ini adalah hari pertama Giana kuliah, dan kali ini karena Giana belum bisa menyetir mobil, maka Ello meminta Frans, merupakan salah satu anak buahnya untuk mengantar jemput Giana ke kampus.
Hari pertama kuliah Giana dipertemukan dengan teman-teman baru, dan dia memiliki satu teman baru bernama Lucia, seorang anak dokter yang cukup terkenal di Noreland.
"Giana, kamu tinggal dimana?" tanya Lucia
"Aku tinggal di Rover Street," jawab Giana
"Wow! Itu perumahan mewah Giana, dan hampir separuh komplek dikuasai oleh keluarga Abraham!" seru Lucia, "Kamu tinggal dimana nya?"
"Ya aku tinggal di rumah keluarga Abraham, Kak Ello adalah kakakku, masih saudara," jawab Giana
Lucia tentu saja tidak menyangka, akan berteman dengan salah satu kerabat dekat dari keluarga Abraham. Apalagi Giana tampak terlihat sederhana dan tidak sombong.
Sementara itu, Ello masih dibuat bingung dengan siapa dia tidur saat dia mabuk. Pagi itu Ello tidak ke perusahaan, dia memilih tinggal di rumah dan mengerjakan apapun di rumah. Seperti biasa dia melakukan workout untuk tetap mempertahankan bentuk tubuhnya, dan tanpa disadari ternyata Tatia memperhatikan Ello sedari tadi.
"Tuan, apakah perlu saya siapkan air mandi untuk anda?" tanya Tatia. Gadis itu hampir tidak mengedipkan matanya ketika melihat lekuk-lekuk tubuh Ello yang tengah bertelanjang dada dan berkeringat.
"Tidak perlu," jawab Ello dengan nada datar, "Orang yang hanya boleh menyiapkan air mandi aku hanyalah Giana."
Ello meninggalkan Tatia begitu saja. Bagi Ello, Tatia hanyalah adiknya Hover, artinya sama seperti yang lain, posisinya sama dengan pelayan rumah tangga dirumahnya.
"Tuan Ello, maaf jika saya saya lancang. Saya ingin bertanya," kata Tatia
Pria itu menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan dan memandang Tatia, "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apakah Tuan Ello ingat waktu mabuk dan pulang ke rumah tidur dengan siapa di kamar tuan?" tanya Tatia
Ello cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Tatia, dari mana dia tahu jika dia pulang dalam keadaan mabuk dan meniduri seorang wanita didalam rumahnya sendiri.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Ello
Tatia tidak menjawab, dia hanya menundukkan wajahnya. Ello justru berpikiran jangan-jangan wanita itu adalah Tatia. Kalau benar itu Tatia, sungguh sangat keterlaluan dirinya, adik dari anak buahnya malah jadi sasaran mabuknya.
"Eee... Saya ..."
"Saya apa?" tanya Ello
"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja waktu saya ikut ibu membersihkan kamar Tuan, spreinya ada noda darah," jawab Tatia, "Maaf jika saya lancang bertanya. Saya permisi!"
Tatia segera meninggalkan Ello yang sedari tadi memandanginya dengan tatapan tajam. Ello lalu kembali ke kamarnya, lalu berendam didalam bathtub. Pikirannya seketika kacau,ana mungkin gadis itu adalah Tatia. Tapi kenapa Tatia menanyakan soal itu? Apakah dia takut jika dia bilang bahwa gadis itu adalah dia?
Pikiran Ello semakin kacau saja. Selesai mandi, Ello langsung menggunakan pakaian kerjanya dan terlihat rapi, dia berangkat ke perusahaan agak siang. Di perusahaan, dia bertemu dengan Hover.
"Hover, aku mau tanya. Kamu kan punya adik perempuan. Seandainya, ada laki-laki yang menodai adik kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ello
"Tergantung situasinya, Tuan. Jika itu terjadi karena kekerasan maka saya akan menghabisi pria itu, tetapi jika itu terjadi sebenarnya karena atas dasar suka sama suka, maka saya akan meminta pria itu untuk menikahi adik saya," jawab Hover
Ello hanya menganggukkan kepala saja. Wajar jika Hover berkata seperti itu, sebagai seorang kakak laki-laki tentunya Hover pasti akan melindungi adiknya, apalagi ini adik perempuan, dan mereka sudah tidak memiliki sosok ayah lagi karena sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Pekerjaan yang begitu banyak membuat Ello lupa sejenak dengan masalahnya, sementara itu di kampus, Giana tampak sudah bersiap untuk pulang, dan Frans sudah menjemputnya.
"Paman, boleh antarkan aku ke suatu tempat sebelum kita pulang?" tanya Giana
"Tentu saja, Nona. Tuan Ello sudah meminta saya untuk mengawal anda kemanapun anda ingin pergi," jawab Frans. Giana memanggil Frans dengan sebutan Paman karena pria itu sudah tampak berumur, mungkin sekitar 40 tahunan, sama seperti Jino.
"Aku ingin ke tempat latihan yoga, sudah lama aku tidak ke sana," kata Giana
Frans lalu mengantarkan Giana ke tempat yang dimaksud gadis cantik itu. Ternyata selama ini Giana rajin melakukan Yoga, pantas saja bentuk tubuhnya bagus. Giana berlatih di sebuah pusat pelatihan Yoga yang bernuansa alam. Disana Giana suka berlama-lama hanya untuk menikmati pemandangan alam secara langsung.
"Lama kamu tidak kesini, sayang," kata Joana, instruktur Yoga yang melatih Giana selama ini.
"Aku mengurus kuliahku Miss Joana," balas Giana
"Ohya, dan kamu benar kuliah di kedokteran?" tanya Wanita itu
"Iya," jawab Giana, "Orang baik telah menguliahkan aku di jurusan kedokteran."
"Kamu anak baik, hidupmu tentu akan selalu beruntung sayang," kata Joana
Gian hanya tersenyum, dan seperti biasa, Giana melakukan Yoga seorang diri disebuah Gazebo. Giana memang sudah terlatih, sehingga tidak membutuhkan instruktur, dia hanya butuh tempat yang tenang untuk melakukan Yoga.
"God! Aku harus menjadi wanita kuat, meski aku sudah tidak memiliki mahkota berharga lagi sebagai seorang wanita!" kata Giana dalam hati, "Aku anggap kejadian kemarin sebagai imbalan karena aku juga sudah dikuliahkan oleh Tuan Ello."
Giana kemudian duduk termenung dipinggiran Gasebo. Gadis itu memejamkan mata, membayangkan setiap sentuhan yang telah dilakukan Ello kala itu, membuatnya terasa berdesir, aliran darah rasanya begitu cepat memompa jantungnya.
"Andai saja Tuan Ello benar kekasihku, pasti dia akan memanjakan aku sekali," kata Giana, "Ah, sudahlah! Aku tidak boleh terlalu berharap lebih pada Tuan Ello. Aku harus selesai kuliah sebelum waktunya, agar aku bisa cepat bekerja dan bisa membalas budi pada Tuan Ello."
Gadis itu kemudian meninggalkan sanggar yoga dan pulang kerumah. Rumah masih tampak sepi karena sepertinya Ello belum pulang. Giana lalu melangkah naik ke lantai 3 menggunakan lift untuk kemudian menuju kamarnya.
Ketika melewati kamar Ello, terlihat pintu kamar Ello sedikit terbuka, dan Giana mengintipnya. Terlihat seorang gadis tengah berbaring di ranjang itu, ranjang dimana Ello telah menggagahinya.
"Untuk apa dia disana?" tanya Giana dalam hati
.
.
.
Giana tampak baru saja selesai mandi, dan keluar dari kamarnya, bersamaan dengan munculnya Tatia entah dari mana.
"Hai, Tatia!" seru Giana
"Oh, Giana," balas Tatia dengan nada malas
"Kamu jarang sekali naik kelantai tiga, harusnya kamu sering-sering naik ke lantai tiga, kamu bisa main ke kamarku," kata Giana
"Ya ampun, Giana. Aku sibuk membantu ibuku di dapur, mana mungkin ada waktu untuk mengobrol dengan kamu, yang ada nanti malah ibu menjewer ku karena aku malas bekerja," balas Tatia sambil terkekeh
"Jujur aku kesepian dirumah sebesar ini, Tatia," kata Giana, "Jika di kampus mungkin aku terhibur karena ada banyak teman, tapi setelah di rumah jadi sepi rasanya."
"Giana, kamu mungkin bisa turun dan membantu di dapur jika kamu kesepian," balas Tatia
Tatia kemudian berpamitan undur diri dahulu, dan kembali Giana berada di lantai tiga sendirian, kesepian.
Ello baru saja pulang sore hari, dan seperti biasa, Giana menyiapkan air mandi untuk Ello dan segelas teh hangat. Pria itu sama sekali tidak suka kopi, sehingga dia tidak pernah minum kopi apapun.
" Bagaimana kuliahmu?" tanya Ello
"Menyenangkan, Kak," jawab Giana
"Baguslah kalau merasa nyaman, tapi ingat satu hal jangan sembarangan bepergian mulai sekarang, juga pintar-pintar memilih teman." Ello memberikan nasehat pada Giana.
Ello lalu menatap gadis itu dengan sedikit tajam, dan Giana dibuat salah tingkah dibuatnya.
"Kalau kata Hover dan Kairo saja, kamulah yang ada dikamar ku malam itu, kenapa kamu harus bilang bahwa malam itu kamu tidur di kamar kamu sendiri?" tanya Ello dalam hati, "Atau dia takut kalau aku marah? Harusnya dia yang marah kalau betul aku malam itu menidurinya dalam keadaan mabuk."
"Kak Ello kenapa menatapku aku seperti itu, sih!?" tanya Giana dalam hati, "Ya Tuhan, matanya benar-benar menakutkan, tapi wajah itu, juga bibir itu, mengingatkan aku pada..."
Giana tidak kuasa menahan bayangan-bayangan bagaimana buasnya Ello malam itu. Gadis itu segera berpamitan untuk masuk ke kamarnya dengan alasan ada tugas yang harus dia kerjakan.
Ello tampak duduk sendirian di ruang makan, karena Giana sudah pergi lebih dulu masuk ke kamarnya. Kairo yang melihat tuannya seperti orang melamun lalu menghampirinya.
"Tuan, kenapa?" tanya Kairo
"Aku masih kepikiran saat aku mabuk saja, Kai. Siapa yang tidur denganku," jawab Ello, "Kamu tahu aku tidak akan sampai berat memikirkan ini jika saat aku mabuk ada di hotel atau apartement, karena aku tahu wanita yang biasa menemaniku tidur seperti apa."
"Apa Tuan tidak bisa mengingat bagaimana wajah gadis itu?" tanya Kairo
"Setiap kali aku mengingatnya, aku hanya mengingat kalau dia menangis, menjerit dan memohon aku untuk menghentikannya, tetapi aku tetap melakukannya," jawab Ello, "Fuck! Ini benar-benar membuat aku gila!"
"Tapi menurutku, tetap Giana yang ada dikamar Tuan," kata Kairo
"Masalahnya pagi tadi, Tatia juga tiba-tiba membahas soal malam itu, tapi dia juga langsung kabur dari hadapanku, seperti menyembunyikan sesuatu," balas Ello
"Tatia?" tanya Kairo agak bingung, "Untuk apa dia menanyakan hal seperti itu Tuan?"
"Entahlah, dan dugaanku hanya diantara dua gadis ini. Giana atau Tatia. Jika benar Tatia, entah bagaimana aku bersikap pada Hover. Aku tidak enak hati dengan Hover," jawab Ello
"Sepertinya mana mungkin Tatia, selama ini, dia tidak dekat dengan Tuan, saya tetap berkeyakinan Giana yang ada dikamar Tuan," kata Kairo
"Tapi kenapa Giana pintar sekali menyembunyikan rasa hatinya?" tanya Ello, "Kalau itu benar-benar dia, kenapa bisa setegar itu. Bahkan kuat seperti tidak terjadi apa-apa."
"Itulah sulitnya menghadapi wanita, sulit ditebak pikirannya," jawab Kairo
Keduanya terdiam, sementara sepasang mata ternyata sedari tadi sudah mendengarkan percakapan mereka dari balik dinding. Hal yang seharusnya tidak boleh dia lakukan didalam rumah besar itu.
"Huh, aku harus melakukan acting meyakinkan untuk membuat Tuan Ello percaya bahwa aku wanita yang malam itu ada bersamanya," katanya dalam hati, "Kalau dia sudah percaya akulah wanita itu, tentu dia tidak akan lari dari aku."
Sepasang mata itu kembali memperhatikan percakapan antara tuan dan anak buah kepercayaannya itu.
"Tuan, apakah anda sudah menge cek CCTV saat malam kejadian itu?" tanya Kairo dengan suara lirih, hingga tidak terdengar oleh orang yang ada dibalik dinding itu.
"Astaga! Kenapa aku tidak kepikiran soal itu!" seru Ello seketika, "Kamu memang selalu bisa diandalkan, Kai! Ayo segera kita periksa!"
"Apa yang mau Tuan Ello periksa?" tanya pemilik sepasang mata itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments